Skandal Sang CEO

Skandal Sang CEO
Episode 73 ( Season 2 )


__ADS_3

Serli duduk di lantai, wajahnya ditutupi kedua telapak tangannya. Dia menangis sejadinya, merasakan sesak dan sakit hati yang menyayat. Dia tidak menyangka akan mengatakan putus pada Arie. Bahkan dia tidak menginginkannya sama sekali.


Tapi karena dirinya emosi karena telah dituduh selingkuh diapun kalap mengatakan hal itu. Memang benar dia menjalin affair besama Aldo, tapi mereka tidak saling mencintai.


Kali ini tidak ada lagi harapan, dia sendiri yang telah memutuskan cintanya. Apa dia tidak malu kalau sampai dia meminta balikan lagi, sedangkan dia yang memilih mengakhiri.


Aldo yang baru saja menemui Dian melihat Serli menangis sambil menyembunyikan wajahnya di lutut. Dia masih duduk dilantai.


"Ser, Lo kenapa ?" tanya Aldo sambil mengusap rambut Serli.


"Aldo..!!!" Serli menghambur ke pelukannya.


"ssttt udah gak usah nangis lagi"


"Gue mutusin arie Al, gue gak bisa dicuekin terus, sakitt..hiks hiks!"


"Kalau memang itu keputusan terbaik, biarlah gak udah disesali. Mungkin kalian memang tidak berjodoh."


"Tapi gue belum rela Al, gue masih cinta sama Arie." Serli masih terisak.


"Udah gak usah cinta sama dia lagi, kan masih ada gue," gurau Aldo


"Lo apaan sih, kita kan udah janji gak pake perasaan."


Aldo membantu Serli berdiri, mereka sedang berada dikelas Arie. Keadaan kelas memang sudah sepi. Aldo membawa Serli duduk dibangku, kemudian dia menghapus air mata Serli yang membasahi pipinya.


"Tapi misal memang ada perasaan tidak ada salahnya kan ser, gue juga punya hati kali, gue cuma gak suka lihat Lo sedih kaya gini. Lo cantik, masih banyak cowok yang antri pengen dapetin cinta Lo. Gue mau selalu jadi pelindung Lo Ser, menghapus air mata Lo, memberikan bahu dan dada gue buat Lo bersandar, gue sayang sama elo," ucap Aldo panjang lebar.


Serli kaget mendengar penuturan Aldo. Ada perasaan yang menghangat ketika mendengarnya.


Tiba-tiba dia mendekatkan wajahnya. Aldo merasakan hembusan nafas Serli, aroma mint strawberry yang tercium, sungguh segar dan menggoda. Aldo segera menarik tengkuk Serli dan langsung memagut bibir mungil itu.


Serli pun membalasnya, seakan sudah melupakan semua kesedihannya beberapa saat lalu. Selalu ada yang mengobati dikala hati terluka. Ya, itu adalah Aldo yang selalu setia dan menghapus air mata Serli.


Mungkin kali ini Aldo benar, masih banyak orang yang menyayanginya, termasuk Aldo sendiri.


***


Kali ini kelegaan memenuhi rongga hati Arie. Dia memang sudah benar-benar terbebas dari Serli.


Kemudian Arie memutuskan untuk menelpon Dian untuk mengajaknya ke rumah menemui Bunda sebagai janjinya kala itu. Dia memang kalah taruhan, tapi taruhan ini dia malah menang banyak. Karena kali ini dia memang sependapat dari Bundanya.


Tut, tut!


"Hallo yank, nanti sore habis dari butik aku jemput ya, Bunda nanyain kamu pengen ngajak kamu makam malam dirumah."


"Okeh deh sayangku."


Sepertinya kali ini banyak orang yang bahagia.


Bunga-bunga cinta bersemi dan bermekaran,


tapi kita tidak pernah tau jalan didepan masih sangatlah panjang.


Kita tinggal menjalani dan berusaha menjadi yang terbaik.


****


Sore itu sehabis pulang dari butik, Dian dijemput Arie untuk pergi makan malam dirumahnya. Bunda Andara sangat antusias dan sudah menyiapkan berbagai menu masakan istimewa, layaknya menjamu orang penting.


Arie memasukan mobilnya melewati pintu gerbang putih itu, tidak beberapa lama diapun berhenti. Dian berdecak kagum dengan apa


yang dilihat. Rumah yang besar dan indah, dua kali lipat lebih besar dari pada rumah Maya.


Arie membukakan pintu mobil untuk Dian.


"Ck.. aku sudah seperti tuan putri saja," decak Dian melihat tingkah Arie yang menyambutnya begitu hangat.


"Kamu memanglah tuan putriku," jawab Arie sambil menarik tangan Dian dan mencium punggung tangannya.


Dian bersemu merah, dia merasa perlakuan Arie berlebihan tapi juga menyenangkan.


"Udah ah.. malu dilihatin orang," ucap Dian.


"Gak ada orang yank, cm satpam di dekat gerbang tadi," kilah Arie.


"Udah masuk aja yuk, tante pasti sudah menunggu kita,"


Akhirnya mereka masuk kedalam rumah. Bunda Andara sangat senang akhirnya anaknya bisa membawa Dian kerumahnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum tante," salam Dian mencium tangan Bundanya Arie.


"Waalaikumsalam, ayo masuk Dian, tante seneng banget akhirnya anak bandel ini berhasil membawamu ke gubuk tante."


"Gubuk kok seperti istana tan, terus rumah Dian dikampung disebut apa ya?" canda Dian. Dia senang karena Bunda Andara ternyata suka humor.


Membuat Dian tidak merasa canggung sama sekali.


"Di sebut keraton mungkin, kan yang menghuni tuan putri cantik," timpal Arie.


"Udah yuk duduk sebentar, biar bibi mengambilkan minuman untuk kamu Dian." Ujar Andara


"Iya tante, Terima kasih," jawab Dian sopan.


Setelah itu mereka bertiga mengobrol, tiba-tiba dari depan terdengar seseorang membuka pintu.


masuk sosok gadis cantik berambut curly. siapa lagi kalau bukan Tiya.


"Tiya sebentar lagi kita makan malam bersama ya," ucap Andara.


"Baik tante," jawab Tiya sambil matanya melirik seseorang yang duduk didekat Arie.


Bukankah itu Dian? batin Tiya.


"Bukan nya kamu Dian ya, mahasiswi baru di kampus?" heboh Tiya.


"Kamu Tiya? mahasiswi jurusan bisnis?" tanya Dian yang diangguki oleh Tiya.


"Apa kalian sudah saling kenal?" tanya tante Andara.


"Udah tan, dian ini kan kuliah di kampus yang sama denganku. " jawab Tiya.


"Udah masuk kamar sono, mandi dulu. baumu menyengat sampai kesini" ucap Arie menutup sambil hidung


"Enak aja bau, bau Lo tuch udah kayak kemenyan." balas Tiya tidak terima.


"Gue masuk ke kamar dulu ya Di, Bye." Pamit Tiya pada Dian.


Tidak lama kemudian bibi membawakan minuman dan cemilan.


"Terima kasih ya bi." ucap Dian


Aduh cantik nya non ini. tidak sombong lagi. beda banget sama non Serli. Batin bibi


Sebenarnya Dian penasaran dengan adanya Tiya dirumah itu.


"Tiya sepupu aku yank," ucap Arie seakan mengerti apa yang dipikir kan Dian


"Tiya itu anak nya om Arsya, kakak dari Ayahnya Arie." lanjut tante Andara.


"owh sepupu ya?"


Arie mengangguk, dia juga baru tahu kalau Dian dan Tiya sudah saling mengenal.


..... ....


Di dalam sebuah kamar bernuansa maskulin. Serli baru keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit ditubuhnya.


Aldo yang masih terlentang diatas ranjang hanya berbalut selimut itu segera melirik ke arah wanita tersebut.


Tiba-tiba dia bangkit lalu berjalan ke arah Serli yang sedang memakai pakaiannya. Aldo melingkarkan tangannya diperut serli, dagunya di letakkan dipundak wanita itu.


"Al, mandi sana. terus anterin aku pulang," ucap Serli merasa geli karena hembusan nafas Aldo mengenai ceruk lehernya.


"Ser, gimana kalau kita jadian aja, kita udah sedekat ini, meskipun belum ada perasaan apa-apa, gue udah ngrasa nyama sama loe." ucap Aldo sambil membalikan tubuh Serli menghadap ke arahnya.


"Al, gue emang belum sepenuhnya terima sama semua ini, rasa sakit ini. Tapi karena loe juga gue ngrasa gak sedih lagi, gue nyaman dipelukan loe. Mungkin kita bisa memulai semua dari Awal," jawab Serli tersenyum.


Tanpa menunggu jawaban Aldo langsung menarik tengkuk Serli dan memangut bibirnya. Serli pun membalas. Aldo semakin memperdalam ciumannya.


Hingga Serli hampir kehabisan nafas dan melepas nya. Mereka berdua saling menatap dan tersenyum. Serli benar-benar merasa sangat disayang, berbeda pada waktu dengan Arie.


****


Di rumah Arie.


Mereka berempat sedang menikmati hidangan yang dimasak langsung sama Andara sedangkan Axelo tidak ikut karena sedang keluar negeri menangani bisnisnya yang berada disana. Arie mempunyai seorang kakak sepupu yang tinggal di luar negri juga. Bernama Evan yang menjalankan bisnisnya, menggantikan Arie diluar negri sana. Evan adalah anak dari Tante Aninda, adik Bundanya.


Tiya benar-benar tidak percaya bahwa tante Andara mengatakan kalau Dian itu pacar Arie sekarang.

__ADS_1


"Bukan kah kamu masih sama Serli? tanya Tiya.


"Udah putus," jawab Arie singkat.


"Owh!"


Apaan ini, gue gak nyangka kalau Dian sama Arie udah deket. serli si manja itu tersingkir terus kenapa ada pengganti yang lebih cantik dari dia. Batin Tiya kesal.


Setelah selesai makan malam Arie mengajak Dian masuk ke kamarnya. Lagi-lagi Dian di buat kagum. Kamar yang cukup besar dengan ranjang king size, meja belajar yang lumayan nyaman, ada kulkas kecil di pojok sana dan sebuah sofa besar yang muat buat tidur satu orang dan satu buat sofa kecil di depanya.


Dian duduk di sofa, sedang Arie mengambilkan minuman dari kulkas.


"Kamar kamu kayak kamar anak sultan," celetuk Dian.


"Kamu gak suka desain nya?" Arie malah balik bertanya.


"Ini kan desain cowok, aku lebih suka yang girly. Yang pasti kamar ini mewah buat ukuran orang kaya."


"Biasa aja kali yank, kalau mau aku bisa rubah desain nya sesuai keinginan my princess."


"Eh, apaan. gak usah dirubah kali," jawab Dian


sambil berdiri dan berjalan menuju balkon.


langit malam penuh bintang, angin berhembus sepoi menerbangkan rambut Dian yang hitam lurus. Arie mengikuti langkah nya.


Dilingkarkan tangan nya ke perut Dian sontak Dian kaget dan berbalik. Tapi Arie malah makin erat memeluk pinggang nya.


"I love you Dian," bisik Arie ditelinganya


Hembusan nafasnya membuat Dian merinding.


"I love you too sayang," balas Dian.


Arie tersenyum senang. lalu kemudian tangan Arie menyentuh pipi dan turun ke bibir Dian


"Bolehkah?" Tanya Arie sambil membelai bibir Dian dengan ibu jarinya.


"Apaan sih yank," Dian memukul dada Arie pelan, wajahnya sudah semerah tomat.


Tidak mau menunggu lama ahirnya Arie memangut bibir pink yang ada di depanya ini.


Dian merasakan gelenyer yang aneh seperti terkena aliran listrik. Arie semakin intens dengan ciuman nya.


Tiya yang datang membuka pintu kamar Arie dikagetkan dengan adegan di balkon itu. Dia membelalakkan matanya karena baru kali ini melihat adegan Arie mencium wanita dengan penuh gairah.


'Dasar cewek ini, bisa bikin Arie bertekuk lutut. aku harus memisah kan mereka berdua.'


Setelah kehabisan nafas Dian melepaskan ciumannya, tapi dia dikagetkan dengan adanya Tiya di pintu yang akan mau masuk ke dalam. Arie pun ikut menoleh, seketika rahangnya menegas.


"Ada apa.!?" ketus Arie melepas pelukannya dan berjalan ke arah pintu


"Eh.. anu.. aku mau ngobrol sama Dian," jawab Tiya terbata.


"Sory besok aja ya, gue masih ada urusan sama Dian. maaf kali ini gue cuma pengen berdua sama Dian." ucap Arie


"Ph.. baiklah, aku keluar." jawab Tiya kemudian berlalu


Arie menutup pintu dan menguncinya. Dian berjalan menunduk dan duduk di ranjang. dia benar-benar malu atas kejadian yang dilihat oleh tiya tadi.


"Ganggu aja si tiya itu." ucap Arie sambil ikutan duduk di sebelah Dian.


" aku malu banget yank, kok tiya tiba2 masuk gitu gak pakai ketok pintu?"


" dia emang kaya gitu, masuk keluar kamar aku se enaknya. udah gak usah dibahas, kita lanjutin yukk." jawab Arie mendekat kan wajahnya lagi.


" pikiran kamu itu lo yank mesum terus aku kan malu." Dian menutup wajah nya dengan tangan


Arie langsung memeluk tubuh kekasih nya tersebut dan memberi kecupan di pucuk rambut nya.


i love you.. bisik Arie


Diluar kamar, tiya benar-benar tidak terima telah diusir. dia tidak menyangka Arie yang biasanya tanpa privasi itu tiba-tiba mengunci pintu kamarnya. padahal dulu semasa bersama Serli pun tidak pernah dikunci. pikiran nya harus bekerja.


Gue harus bisa misahin mereka, gue gak suka Arie menyentuh cewek lain dengan mesra dan bergairah kaya gitu, tapi gue harus gimana? batin Tiya.


Tiya berpikir keras, dia harus merencanakan sesuatu kali ini.


bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote nya ya sayang2ku😍


__ADS_2