
Happy Reading.
Tiya seketika menoleh ketika ada seseorang yang memanggilnya.
"Dian! A ... ada apa?" jawab Tiya gugup. Sungguh tidak menyangka jika dia akan bertemu dengan Dian.
"Aku mau bicara sama kamu!"
Tiya melirik ke arah belakang Dian, dia melihat Evan duduk di sebuah kursi sambil tersenyum sinis.
"Baiklah, kita bicara disana saja," ucap Tiya kemudian mengajak Dian ke kursi yang berada di pojok ruangan.
Setelah mereka duduk Dian langsung to the poin menanyakan apa yang mengganjal dihatinya.
"Tiya, aku mau tanya sama kamu, apa benar kamu telah menjebak Arie?" tanya Dian sambil menatap Tiya tajam.
"Aku tidak menjebak nya, Apakah dia mengatakan bahwa aku memberi dia minum terus menjebaknya untuk tidur bersama?" dia malah balik bertanya.
"Aku cuma mau kamu berkata jujur," ucap Dian mulai menahan kesal.
"Baiklah, aku akan mengatakan yang sebenarnya!" Tiya mengambil nafas kemudian menghembuskan nya.
"Sebenarnya aku dan Arie memang telah melakukan making love, bahkan itu bukan malam pertama buat kita, aku dan Arie sering melakukan nya, bukankah kamu lihat sendiri aku juga bebas keluar masuk kamar Arie, bahkan Arie selalu mengajak ku making love hampir tiap malam," jelas Tiya panjang lebar.
Seketika dada Dian seperti di tusuk ribuan pisau. Air mata nya lolos dengan begitu mudah mengalir tanpa bisa dicegah.
"A.. apa semua itu benar Tiya, kamu bohong kan?" tanya Dian dengan tubuh bergetar.
"Tentu saja benar, aku kan serumah dengan Arie, tidak ada hal yang mustahil 'kan. Kamu tahu Arie cowok dewasa, begitupun aku. Ya itu memang sudah hal wajar bagi kami," jawab Tiya enteng.
Padahal jelas-jelas semua itu hanyalah kebohongan Tiya agar membuat Dian sakit hati, kemudian putus dari Arie.
Dian menangis sesenggukan, dadanya sesak. Sekarang hatinya tambah hancur mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Evan yang melihat itu pun tidak tega. Dia langsung menghampiri Dian dan mengajaknya pulang. Tapi sebelum itu dia menoleh pada Tiya dan berucap.
"Lihat saja nanti!! kamu benar-benar tidak tahu malu telah mengatakan hal menjijikan itu, tapi aku yakin Arie bukan cowok brengsek seperti yang ucapkan, dasar nggak waras!!" ucap Evan menunjuk ke arah muka Tiya.
Tiya hanya tersenyum sinis menanggapi, setelah itu Evan menggandeng tangan Dian dan membawa nya keluar dari restoran itu. Dian menangis tanpa bisa dicegah saat Evan membawa nya ke mobil.
__ADS_1
"Nggak usah percaya sama omongan Tiya, aku tahu Arie seperti apa, dia bukan penganut hubungan bebas seperti apa yang dikatakan Tiya," ujar Arie menenangkan Dian.
Dian hanya diam saja dan langsung masuk ke dalam mobil.
Evan memutuskan untuk mengantar Dian pulang mengingat kondisi gadis ini yang tidak baik-baik saja. Evan sedikit mendengar percakapan Dian dengan Tiya tadi.
Dian masih menangis, Evan mengangkat tangan kiri untuk mengelus rambut Dian mencoba menenangkannya kembali.
"Di, tenanglah, semua yang Tiya katakan itu belum tentu benar. Aku sangat kenal dengan Arie, sorry tadi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian," ucap Evan yang kali ini sepertinya mendapatkan atensi Dian
Gadis itu menoleh ke arah Evan. Dia memang belum begitu mengenal cowok itu, tapi menurutnya Evan memang harus tahu banyak tentang Arie. Evan sudah besar lama dengan Arie, bukan?
Akhirnya Dian memutuskan untuk menceritakan semuanya, dari awal di pesta Aldo, sampai terakhir barusan Tiya mengatakan hal yang sangat menyakitkan.
Evan tampak serius mendengarkan nya. Dia yakin kalau yang dikatakan Tiya tidak seperti kenyataan nya.
"Apa kamu percaya dengan yang dikatakan Tiya?" tanya Evan memastikan.
"Entahlah kak, ucapan Tiya dan Arie benar-benar berbeda 180%. Aku tidak tahu harus percaya pada siapa? kalau menurutmu gimana kak, kamu kan kakaknya Arie?"
"Mungkin yang dikatakan Tiya bisa jadi hanya kebohongan, karena aku tahu Arie seperti apa. Dia memang sudah dari SMA menjadi idola, tapi aku belum pernah lihat sekalipun Arie serius terhadap cewek, bahkan para cewek itulah yang selalu mengejar-ngejar Arie, ya maklum, dia memang tampan bukan?" Gurau Evan.
"Aku rasa Tiya memang menyukai Arie, mungkin dia terobsesi ingin memilikinya. Hah, untung saja dulu aku belum begitu menyukai Tiya," ucapan Evan membuat Dian kaget.
"Maksudnya kamu dulu menyukai Tiya, kak?" tanya Dian.
Evan menggaruk tengkuknya, kenapa juga tadi dia keceplosan. Mau tidak mau akhirnya dia menceritakan kepada Dian.
"Dulu pada waktu Tiya masih SMA kelas satu, dia ikut berlibur ke rumah nenekku. Waktu itu aku masih kuliah semester akhir. Saat pertama melihat sepupu Arie itu aku langsung terpesona. Jelas saja terakhir melihatnya dia masih kelas 6 SD saat Tiya main ke rumah Paman Axelo. Lalu setelah itu dia berubah menjadi gadis yang cantik, dulu Arie yang lebih dekat dengan Tiya karena mereka sering bertemu di rumah Paman Arsya, tapi kecantikan Tiya tidak lebih cantik darimu," ucap Evan sambil mengerlingkan mata nya.
Dian memukul lengan Evan karena menggodanya. Evan hanya tertawa menanggapi Dian.
Setelah itu dia meneruskan ceritanya.
"Dulu bahkan aku sudah menyatakan perasaan ku padanya, tapi kamu tahu apa jawaban darinya?"
Dian menaikan salah satu alisnya, dia penasaran dengan jawaban yang diberikan Tiya pada Evan.
"Dia malah tertawa setelah mendengar pengakuanku," jawab Evan mengedikkan bahunya.
__ADS_1
"Kenapa dia tertawa? apa dia menolakmu?" tanya Dian.
"Bukan hanya menolak ku, dia bahkan telah mengejek ku, dia mengatakan kalau aku hanya bermimpi bisa mendapatkan nya, dia menyuruhku bangun agar melihat dunia nyata. Bahwa kami tidak selevel dan tidak mungkin bisa menjadi sepasang kekasih. Dia benar-benar menyombongkan dirinya pada waktu itu. Dan akhirnya aku pun tersadar dengan yang telah aku bicarakan itu, hal yang seharusnya tidak pernah terjadi dan itu membuatku menyesal," Evan menghirup nafas kemudian melanjutkan ceritanya.
"Tapi ternyata sekarang dia malah menjadi cewek yang hilang arah, terobsesi pada sepupunya sendiri," lanjut Evan.
"Jadi setelah ini aku harus bagaimana kak?" tanya Dian.
"Yang pasti kita tidak akan menceritakan semua ini pada Arie dulu. Dia sedang fokus menghadapi sidang skripsi dan wisudanya. Nanti aku akan berbicara padanya," ucap Evan.
Dian hanya mengangguk.
Tidak lama kemudian mobil Evan sampai di depan rumah tante Dea. Dian berpamitan kepada Evan dan mengucapkan terima kasih, setelah mobil Evan pergi, dia segera masuk ke dalam rumah.
Perasaan Dian benar-benar berkecamuk, antara harus percaya dengan Tiya atau Arie.
"Kenapa rumit sekali!"
Drrrtttt .... drrttt.
Ponsel Dian berbunyi. Ternyata Arie menelfonnya. Dian pun ragu untuk menjawab, tapi jujur dia memang merindukan kekasihnya itu.
"Halo?"
"Halo yank, lagi apa? aku kangen ... bolehkah malam ini kita bertemu?"
"Ehhm sepertinya malam ini gak bisa deh, aku harus belajar karena minggu depan ujian."
"Owh baiklah, semangat ya sayang? Jangan lupa kalau aku sangat mencintaimu!"
"Aku juga sayang, sangat mencintaimu."
Tut...
Panggilan berakhir, Dian tersenyum mendengar suara Arie. Jujur dia memang sangat rindu dan juga sangat mencintai cowoknya itu, tapi saat ini dia memang belum mau bertemu dengan Arie dulu .
Bersambung.....
Jangan lupa like dan vote yang banyak ya.. dan juga pencet tombol ❤ agar selalu dapat update terbaru cerita Arie & Dian.
__ADS_1
Terima kasih 😘😍😍