
Happy Reading
Sebelumnya.
Axelo tidak bisa bekerja dengan tenang, baru dua hari tidak bertemu dengan Andara rasanya sudah seperti dua tahun. Dia hanya bisa uring-uringan sendiri, hanya karena ditinggal ke luar kota oleh Andara dan sayangnya dia harus pergi mendampingi Arsya.
'Mudah-mudahan kamu nggak terpesona sama Arsya!'
'Ah, jelas nggak mungkin,, Arsya itu lelaku dewasa yang setia, Dara juga tidak mungkin karena dia mencintaiku!'
'Ahh, Dara,,, aku rindu!'
Dia sudah terbiasa dengan kehadiran Andara disisinya dan Axelo tidak bisa jika tidak lihat Andara barang sehari saja.
Axelo meremat kepalanya yang terasa pusing, pengaruh Andara ternyata benar-benar luar biasa di hidupnya.
Lihatlah bagaimana Axelo benar-benar menjadi gelisah, galau dan merana hanya karena Andara.
Berkali-kali dia mengirimkan pesan terhadap wanita yang sudah resmi menjadi kekasihnya itu, tapi masih centang satu. Axelo jadi kesal sendiri karena pikirannya jadi kemana-mana.
"Pak, bagaimana rapat nanti siang? Ini tidak bisa ditunda lagi, karena harus segera mencapai kesepakatan bersama," ujar Farel, asisten pribadi sekaligus sekretaris Axel yang baru.
Axelo memijit keningnya, dia merasa pusing. Entah apa yang dipikirkannya, tapi dia tidak bisa bekerja dengan tenang.
"Farel, kalau ke kota B itu dari sini jaraknya berapa jam?" Tanya Axelo pada pria yang usianya lebih tua darinya itu.
Bukankah seharusnya dia membahas rapat direksi siang nanti dan agendanya, tapi malah menanyakan hal-hal yang tidak-tidak.
"Kalau ke kota B menggunakan mobil bisa menempuh 4 jam perjalanan, Pak," jawab Farel kesal. Ada apa sih dengan atasannya ini.
"Ya memang harus menggunakan mobil,, Memangnya bisa ditempuh dengan pesawat,' cibir Axelo.
Semua juga tahu kalau di sana tidak ada Bandara. Jadi jalur tempuhnya hanya lewat darat saja.
"Lalu rapatnya, pak?"
"Kamu tenang saja, aku pasti menghadirinya," jawab Axelo membuat Farel bernafas lega.
__ADS_1
"Baik Pak, terima kasih," ucap Farel.
"Oh ya, nanti sore aku akan pulang cepat, kamu ikut aku ke kota B, aku harus ketemu sama kekasih ku, dia hanya berdua dengan kakakku, takutnya nanti mereka memerlukan bantuan," ujar Axelo.
Halah, bilang saja kalau Axelo takut Andara akan kepincut dengan Arsya yang notabene begitu tampan itu. Tapi masih lebih tampan dirinya, itu menurut penilaian Axelo sendiri.
"Loh, kenapa saya juga ikut Pak, saya ada acara keluarga nanti malam, maaf pak," ujar Farel.
"Ck, kamu memang tidak bisa diandalkan," Axel menyugar rambutnya ke belakang.
"Maaf Pak, saya sudah janji sama istri saya akan mengajaknya ke pasar malam."
"Pasar malam? kenapa istrimu kekanakan sekali?" cibir Axelo.
"Istri saya sedang ngidam, dia hamil 4 bulan Tuan, katanya pengen ke pasar malam yang tidak jauh dari kompleks perumahan kami," jawab Farel tersenyum ketika mengingat istrinya yang menggemaskan.
"Huh, dasar bucin, sudah sekarang siapkan presentasi untuk rapat nanti!" Axelo kesal karena Farel semakin mengingatkan nya pada Andara.
'Sebenarnya siapa yang bucin akut disini! kelakuan Pak Axel saja sudah seperti budak cinta kekasihnya!' batin Farel.
****
Andara melotot tidak percaya dengan apa yang dia lihat di hadapannya saat ini.
"Mas Axel!"
"Sayang!" Andara masih menganga lebar bahkan sampai mengucek matanya untuk memastikan jika siapa yang ada dihadapannya ini adalah Axelo.
Masa iya pria itu kesini. Perjalanan ke tempat ini membutuhkan waktu 5 jam dan tidak ada pesawat menuju ke arah sini. Dan sekarang Andara melihat Axel berada di depan kamar hotel yang dia sewa. Ini bukan mimpi kan?
"Sayang, kok bengong?" Axelo menggoyangkan lengan Andar, membuat wanita itu akhirnya kembali fokusnya.
"Mas Axel kok kamu bisa sampai ke sini?" Pria itu hanya nyengir tanpa dosa, demi Andara dan agar kekasihnya itu baik-baik saja akhirnya Axelo nekat menyusulnya di kota ini.
"Sebelum ku jawab pertanyaanmu bolehkah aku masuk, aku kedinginan sayang,, tadi ke sini hujan, di perjalanan nya itu hujan deras banget," ujar Axelo sambil mengeratkan jaketnya.
"Tunggu sebentar, dari mana Mas Axel tahu aku menginap di hotel ini dan di kamar nomor ini? Jangan bilang mas membuntuti ku ya? atau mengirim mata-mata untukku!" tanya Andara sambil memicingkan matanya.
__ADS_1
Axelo menghela nafas, padahal dia tuh pengen banget meluk Andara karena dua hari tidak ketemu, dia kangen berat. Apakah
kekasihnya itu tidak merindukannya seperti dia yang begitu merindukan Andara seperti rasanya mau mati saja.
Tanpa menjawab jawab pertanyaan dari kekasihnya itu, Axelo menarik Andara masuk ke dalam dan menutup pintunya tidak lupa dia mengunci pintu itu.
"Mas kok kamu masuk ke kamarku sih?" tanya Andara garang.
"Mas capek sayang, mas mau tidur dulu,, pegel tangannya nyetir 5 jam ke sini."
"Salah sendiri siapa yang nyuruh ke sini dan juga kalau mau istirahat seharusnya Mas itu chek in kamar lagi bukannya tidur di sini, kita ini belum halal loh Mas!"
"Ya makanya ayok segera halalin, biar bisa bobok bareng," Axel mengerlingkan matanya.
Andara mencibir, mulutnya komat-kamit meledek Axelo. "Padahal biasanya juga bobok bareng sama istri orang," lirih Andara menyindir kekasihnya itu.
Axelo tidak menggubris ucapan kekasihnya, cowok itu malah merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menutup mata, sepertinya dia memang terlihat begitu lelah.
Sebenarnya Andara ingin menarik tangan Axelo dan mengeluarkannya dari dalam kamar, tetapi setelah mendengar dengkuran halus dari sang kekasih, akhirnya Andara urungkan.
"Tahu kalau ke sini tuh jauh, tapi kenapa tetap maksa mau ke sini, dasar pria posesif," gerutu Andara sambil mengambil ponsel di samping tubuh Axelo.
Andara mengirimkan pesan pada Arsya, menanyakan apakah dia memberikan alamat tempat ini dan juga hotel ini kepada adiknya.
Tidak lama setelah itu ponsel Andara berdering dan nama Arsya tertera di layar. Tidak menunggu lama Andara langsung mengangkat panggilan dari atasan barunya itu.
"Halo, Pak Arsya?"
"Halo Dara, iya saya memang memberitahu Axelo alamat tempat ini dan juga hotel tempat Kita menginap, katanya dia ada pekerjaan di daerah sini dan mau mampir, ya udah saya kasih alamatnya pada Axel."
Andara menepuk jidatnya mendengar jawaban dari Arsya. Memangnya pekerjaan apa disini sampai Arsya benar-benar percaya dengan ucapan adiknya itu.
Padahal semua itu hanya alasan Axelo agar Arsya memberikan alamatnya.
"Sekarang dia dikamar saya, Pak. Tidur, saya akan chek in lagi kalau begitu."
"Ehm,, sepertinya kamar disini sudah penuh, gak apa-apa kalian sekamar, asalkan tidak melakukan hal macam-macam, aku percaya sama kamu."
__ADS_1
Setelah itu Arsya memutuskan panggilan nya. Andara hanya bisa menghela nafas pasrah.
Bersambung