
Happy Reading.
Kepalan tangan Arsya ingin sekali lagi memukul wajah adiknya yang sialan itu. Tapi Arsya sadar itu tidak ada gunanya. Semuanya harus diselesaikan dengan kepala yang dingin. Berkelahi tidak ada gunanya dan tidak akan memperbaiki masalah, yang ada hanya akan memperpanjang masalah.
"Lalu sekarang apa maumu?" Kali ini Axelo mendongak ketika mendapatkan pertanyaan itu dari Arsya.
"Bang, sekarang aku sudah tidak mencintai Laura, bahkan mungkin selama ini aku hanya terobsesi padanya, aku sudah memiliki wanita yang begitu aku cintai. Aku bahkan ingin cepatnya menikah dengannya, aku dan Laura sudah selesai bahkan sebelum aku bersama Andara, aku sudah mengakhiri semuanya."
Arsya bisa melihat kejujuran di mata Axelo, dia juga bisa melihat jika adiknya itu memang memiliki perasaan terhadap Andara. Bukan hanya perasaan bohongan, karena semua itu terlihat jelas jika Axelo memang mencintai Andara.
"Sejauh mana kamu dan Laura berhubungan?"
"Aku tidak pernah menidurinya, kami hanya jalan bersama, itu saja!"
__ADS_1
Arsya menarik nafasnya untuk memenuhi rongga paru-paru yang semakin menipis dan sesak. Ya, sejak tadi dia menahan emosinya, Arsya memang sudah menyiapkan semua ini, dia harus bisa mendengarkan penjelasan dari Arsya dan Laura dengan hati yang tenang meskipun itu sangat sulit.
"Aku akan menceraikannya, itu sudah jadi keputusan ku!" Axelo terkejut mendengar ucapan Arsya.
Sungguh dia tidak ingin jika harus ada perpisahan diantara Arsya dan Laura. Axelo ingin memohon tapi dia tidak berhak karena sumber masalahnya ada pada dirinya.
Axelo hanya menunduk, berusaha mengontrol dirinya sendiri, kalau saja memukuli diri sendiri bisa menebus kesalahannya terhadap Arsya, tentu saja Axelo sudah melakukannya sejak tadi.
Arsya berhak memutuskan mana yang terbaik untuk kehidupannya ke depan dan Axelo tidak berhak ikut campur karena dia sudah lancang masuk ke dalam prahara rumah tangganya. Sungguh Axelo benar-benar menyesali semuanya.
"Putri ikut denganku, aku akan berhenti dari dunia penerbangan, aku akan ambil alih perusahaan Ayah yang satunya, aku akan tinggalkan hobiku untuk bisa merawat anakku, aku tahu jika selama ini aku sudah melewati masa-masa kecil Putri tanpa bisa mendampingi, seharusnya aku lebih mementingkan Putriku daripada hobiku yang suka mengudara dan menaklukan burung besi itu," ujar Arsya menatap kearah Putrinya yang sedang dipangku oleh sang Ibu.
"Bang, sebenarnya aku tidak pantas mengatakan ini, tapi aku harap kamu memikirkan lagi keputusan ini, aku tahu aku salah karena sudah membuat kamu hancur dan kecewa, tapi aku sudah menyadari jauh-jauh hari sebelum kamu mengetahuinya semuanya, berharap jika semua akan baik-baik saja tanpa kamu tahu skandal yang aku buat dengan istrimu, aku sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi terhadap nya sebelum kamu tahu. Sekali lagi maafkan aku!"
__ADS_1
****
Andara melihat Axelo yang berjalan ke arahnya dengan senyum lelah tersungging dibibir pria itu. Andara hanya bisa menghela nafas, mungkin bukan sesuatu kabar baik sehingga Axelo terlihat nampak tidak bersemangat.
Saat ini Laura dan Putri yang sudah masuk ke dalam ruangan dimana Arsya berada. Cafe juga sudah buka sejak tadi dan ada beberapa pengunjung juga datang.
"Aku nyesel Dara, aku liat Arsya benar-benar kecewa padaku, aku harus bagaimana?" ujar Axelo yang sudah duduk dihadapan Andara.
Kenapa saat seperti ini Andara ingin sekali merangkul Axel, memeluknya dan memberitahukan semangat. Tapi Andara juga tahu tempat karena tidak mungkin dia memeluk Axelo sembarangan. "Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya, yang penting Mas sudah menyesal dan mengakui semua perbuatan yang mas buat, aku yakin pak Arsya pasti ngerti kok," ujar Andara lembut.
Mendayu di telinga Axelo.
"Boleh peluk nggak, aku butuh pelukan kamu saat ini!" Pinta Axelo dengan puppy eyes. Duh kalau gini Andara jadi gemas.
__ADS_1
"Ya udah ayok, tapi jangan di sini!"
Bersambung.