
Happy reading.
"Jadi?"
"Jadi, lo dijebak sama sepupu lo itu Ar, lagian selama ini apa lo nggak mikir kalau Tiya tuh suka sama lo! Dalam artian suka sebagai seorang perempuan kepada laki-laki!" Ujar Aldo yang sebenarnya sudah curiga cukup lama dengan gelagat Tiya pada sahabatnya itu.
Arie hanya bisa menggeleng tidak percaya, tepatnya dia tidak percaya jika Tiya seperti itu. Selama ini Arie sangat tulus menyayangi Tiya sebagai saudara, karena memang sejak kecil mereka sudah main bersama. Usia mereka yang hanya berbeda beberapa bulan saja membuat keduanya juga bersekolah di sekolah yang sama hingga sampai saat ini.
Arie memang merasa jika sikap Tiya semakin hari semakin bertambah posesif, manja dan berbeda. Namun, Arie tidak sampai mengartikan tingkah Tiya yang seperti itu dengan kata 'SUKA' terhadap lawan jenis.
"Ya itu masalahnya lo gobl*k, ogeb! Gue sama Bily tuh dah nyadar sejak lama sama sikap Tiya, apalagi sama cewek-cewek lo yang dulu-dulu itu, terlihat banget kalau dia ingin misahin lo sama cewek lo!"
Arie tersentak, dia jadi ingat jika dulu Tiya memang selalu bermusik dengan para kekasihnya. Terkadang Tiya menjelekkan para wanita-wanita itu agar dia benci dan tidak suka.
"Sial!" Arie langsung berlari menuju mobilnya. Dia barus membuat perhitungan dengan sepupu luknutnya itu.
*****
BRAAAKKK!!!
"Tiya! Gue butuh penjelasan!!" Arie berteriak setelah membanting pintu kamar sepupunya itu.
Tiya yang sedang rebahan di ranjang kaget dengan pintu kamarnya yang dibuka kasar.
"Cepat katakan! apa yang lo masukin ke minuman gue tadi malam!!" Tiya terkejut melihat Arie yang terlihat sangat marah padanya
"Gue gak masukin apa-apa, itu cuma minuman beralkohol biasa," jawab Tiya sedikit takut.
Arie mendekat dan mencengkram dagu Tiya dengan keras.
"Lo bohong, gue gak ingat apa-apa setelah minum itu dan tiba-tiba gue bangun udah ada lo di samping gue!!" Seru Arie tepat di depan wajah Tiya. Entah kenapa hal itu membuat Tiya merasa hatinya begitu sakit. Selama ini Arie tidak pernah membentaknya ataupun berkata kasar.
Kali ini juga, Arie sampai menyakitinya dengan cengkraman yang kuat.
"Hiks.. jadi lo nyalahin gue Rie, padahal tadi malam lo yang maksa gue buat ngelakuin itu..hiks!" Tiya meringis karena cengkraman di dagu nya semakin kuat. "Sakit!" Lirih Tiya yang kali ini bukan akting. Dia benar-benar merasa kesakitan.
"Aaarrrgghhhh!!"
Brakkkk!
Pyar!
Arie berteriak dan membanting semua barang yang berada di meja belajar Tiya.
Arie menjambak rambutnya frustasi. Dia benar-benar tidak ingat apapun malam itu.
"Gue gak mau lihat muka lo lagi!!" Arie menunjuk ke wajah Tiya.
Dia benar-benar gak nyangka Tiya melakukan hal menjijikan itu. Tapi Tiya menolak, dia tidak mau Arie menjauhinya.
"Oke, gue ngaku sama lo Rie!" ucap Tiya.
Dia sekarang tidak merasa takut tapi lebih bertekad untuk mendapatkan bati Arie. Dan mungkin ini waktu yang tepat menyatakan perasaan nya terhadap sepupunya itu.
"Gue emang naruh obat perangs*ng di minuman itu, dan tadi malam kita udah tidur bareng, akibat dosis obat yang sangat kuat dan dalam keadaan mabuk berat, jadi lo lupa semuanya!" jelas Tiya.
"Kenapa lo ngelakuin itu ke gue!" ucap Arie datar karena menahan emosi nya.
"Karena gue suka sama lo Rie. Gue sayang sama lo melebihi rasa sayang sebagai sepupu, gue cinta sama lo dan ingin menjadikan lo milik gue."
Arie hanya terdiam menatap tajam Tiya. Dia benar-benar tidak menyangka sepupu yang selama ini di jaga dan disayang miliki perasaan yang lebih terhadap dirinya. Benar kata Aldo, jika dirinya begitu bodoh.
"Lo sakit!!"
Tiya menggeleng, "beneran Rie, gue emang cinta ama lo!"
"Tutup mulut lo, gue jijik dengernya!" Arie mudur sambil menunjuk wajah Tiya.
Braaakkk!!!
Arie menutup pintu kamar dengan sangat keras. Kemudian dia turun menuruni tangga dengan wajah yang memerah. Entah bagaimana perasaannya saat ini yang jelas Arie ingin sekali membunuh seseorang dan menumpahkan segala kemarahannya. Dilantai bawah bibi memanggilnya dan mengatakan sesuatu.
__ADS_1
"Tadi pagi non Dian kesini den, tapi den Arie masih tidur sepertinya. Terus saya suruh non Dian naik ke atas dan membangunkan den Arie."
"Apa bik?! tadi Dian kesini?!" tanya Arie dengan nada tinggi.
"I .... iya den.. tadi tidak lama setelah non Dian naik terus dia turun dengan keadaan menangi,s" jawab bibi terbata karena takut dengan kondisi Arie yang menahan emosi.
" Brengsekk!!!"
Arie langsung berlari keluar rumah.
saat ini yang dipikirkan adalah Dian,
dia ingin tahu keadaan kekasih nya tersebut dan apa yang dia lihat.
"Sial!! Pasti dia salah paham!"
"Arrrggghhh"
Arie memukul setir mobil nya. lalu dia menancap gas dan langsung menuju butik.
****
Dian masih tertidur di ruangan tante Dea. Maya sedang pergi membeli makanan ringan ke supermarket karena stock untuk para pegawai pun habis.
Pada saat sedang memilih makanan tiba-tiba ada seseorang menepuk pundak nya.
"Hai may, apa kabar?" ucap Reva terlihat senang karena bisa bertemu Maya
Maya yang melihat Reva berada di dekat nya seketika melengos pergi dari hadapan Reva tapi tangan Maya di cekal oleh Reva.
"Please Maya, dengerin penjelasan aku, aku mohon. Aku mau ngobrol sama kamu May."
"Maaf Va, tapi aku gak mau ngomong lagi sama kamu," tegas Maya dingin sambil menyentakan tangan nya yang dipegang Reva.
Reva tidak kehabisan akal, dia merebut keranjang belanjaan Maya dan membawa pergi menuju kasir.
"Va! apa-apaan sih kamu, aku belum selesai belanja!"
"Please VA jangan ganggu gue lagi!"
"Reva!!" seorang wanita paruh baya memanggil nama Reva.
"Eh mama, iya Ma bentar lagi Reva keluar, Mama tunggu di mobil dulu," ucap Reva.
Ternyata Reva baru selesai mengantar Mamanya belanja dan melihat Maya yang juga sedang memilih belanjaan nya di super market itu.
"Ini siapa?" tanya mama Reva yang melihat ke arah Maya.
"Ini pacar Reva ma," jawab Reva santai.
"eh.. saya bukan.."
Reva merangkul Maya yang akan mengatakan sesuatu. Maya kaget dengan kelakuan mantan kekasih nya itu.
"Ini Ma yang nama nya Maya, yang dulu pernah aku ceritain ke Mama," ucap Reva yang masih merangkul pundak Maya.
"Oalah, ini nak Maya, Reva sering cerita tentang kamu lo," ucap mama Reva sambil menyalami Maya.
Maya pun mencium punggung tangan wanita itu. Maya sedikit gugup karena harus bertemu dengan mama Reva disaat keadaan mereka yang telah berpisah.
Kenapa Reva bilang ke Mama kalau aku ini kekasih nya. Bukan kah kekasih dia Ana, dan juga mama Reva sepertinya tau banyak tentang aku, apa Reva memang benar sering menceritakan aku kepada mama nya. Batin Maya.
"Nak Maya, kapan kamu akan main ke rumah Reva? tante mengundang kamu makan malam dirumah malam ini, gimana?" ucap mama Reva.
"Iya Maya, nanti aku jemput kamu ya," ucap Reva senang.
"Eh anu.. Maya belum izin sama orang tua tante, nanti saya kabari lagi ya?" tolak Maya halus. Merasa tidak enak sama mama Reva.
"Owh, gitu ya.. ya udah kamu izin dulu, nanti kamu ngabarin Reva ya, biar tante nyiapin masakan yang enak untuk menu makan malam. Ayo va antar Mama pulang," ajak mama Reva kepada anak nya.
"May, nanti kabari aku ya, jangan mengecewakan mama lo," ucap Reva setelah kepergian Mama nya keluar super market
__ADS_1
"Hemmm" jawab Maya asal.
"Oke kalau gitu aku pulang dulu,"
cup..
Reva mencium kening Maya dan kemudian langsung menyusul Mama nya.
"Dasar laki-laki gak tahu malu.!! main nyosor sana sini! sama pacar nya juga gitu kan, cium sana cium sini.. ihh sebel gue!!" gerutu Maya sambil mengusap-usap kening nya menghilangkan jejak bibir Reva.
Dia pun masih teringat ketika Reva mencium Ana di restoran. Sontak hal itu membuat Maya jadi merasa jijik.
Setelah itu maya bergegas membayar di kasir dan pulang ke butik.
****
Sementara di butik sepeninggal Maya.
"Mbak Dian masih di atas kan?" tanya Arie kepada Lani salah satu pegawai butik.
" Iya mas, kayak nya mbak Dian belum turun. tadi cuma mbak maya aja yang pergi keluar mas," jawab Lani.
"Oh, kalau begitu saya ke atas dulu ya mbak," ucap Arie.
Arie langsung pergi menuju lantai dua dimana Dian berada.
Setelah sampai depan pintu Arie pun masuk. dia melihat Dian sedang meringkuk di atas ranjang kecil di ruangan itu.
Dia pun mendekati sisi ranjang dan melihat gadis yang sangat dirindukan. Dian masih terlelap karena kecapean menangis. Arie bisa melihat bekas air mata di sekitar mata nya.
Arie merasa sedih ketika melihat kekasihnya itu terlihat kesakitan karena salah paham.
"Sayang.." panggil Arie sambil mengelus rambut nya.
Dian menggeliat karena sentuhan itu. Arie masih dalam posisi duduk di sisi ranjang dan mengelus pucak rambut Dian.
"Sayang, aku mau menjelaskan sesuatu," bisik Arie di telinga Dian.
Dian perlahan membuka matanya karena merasa terganggu.
"Arie, ngapain kamu kesini?" Tanya Dian dengan suara serak nya khas bangun tidur
"Bangun dulu, yank! aku mau jelasin kenapa tadi malam aku ninggalin kamu di pesta Aldo."
Seketika Dian teringat kejadian tadi pagi. Apa yang dia lihat adalah hal yang sangat menyakitkan.
"Kamu gak perlu jelasin apa-apa!" Ujar Dian datar.
"Dengar dulu sayang.. aku dijebak oleh Tiya!" ucap Arie menggenggam tangan Dian, matanya menatap Dian dalam dan lembut.
Dian menepisnya, dia merasa jijik di sentuh oleh Arie.
"Apa yang kamu lihat tadi pagi tidak seperti yang kamu pikirkan yank, Tiya menjebak ku dan dia sudah mengakui nya!"
"Maksudmu dengan kalian tidur bersama itu adalah sebuah jebakan?" kata Dian dingin.
"Kami tidak melakukan apapun yank, sumpah."
"Benarkah?? padahal aku jelas melihat pakaian kalian berserakan dilantai!" ucap Dian sinis.
"Itu ulah Tiya yank, aku beneran gak ngelakuin apapun karena aku tidak mengingat nya," jawab Arie sambil berlutut di hadapan Dian.
"Apa maksudmu tidak ingat apapun? jadi kamu tidak ingat telah menidurinya?"
"Aku gak nidurin dia sayang, aku tidak mengingat hal itu, please percaya lah!"
Dian terdiam mencerna ucapan Arie, apa benar Tiya telah menjebak kekasihnya itu
BERSAMBUNG
jangan lupa like dan vote nya ya kakak2 sayang๐๐ Terimakasih ๐
__ADS_1