
Happy Reading.
Laura tersenyum melihat Arsya dan Putri yang sudah siap di meja makan. Dia begitu bersyukur suaminya itu masih memberikannya kesempatan kedua. Laura berjanji akan menggunakan kesempatan yang diberikan oleh Arsya untuk introspeksi diri dan lebih mendekatkan lagi pada keluarganya.
Laura akui jika dia memang telah menorehkan luka untuk Arsya, tapi dia juga mengagumi kebesaran hati sang suami yang berani mengambil resiko besar dengan keluar dari dunia penerbangan hanya untuk dirinya dan Putri.
Ayolah, apalagi yang kurang dari sosok Arsya, kenapa Laura begitu tega menduakan nya begitu saya. Laura akan belajar menjadi istri dan ibu yang lebih baik lagi, dia tidak akan menyia-nyiakan apa yang telah Arsya berikan untuknya.
"Sarapan udah siap," Laura dan asisten rumah tangganya menyiapkan sarapan untuk mereka.
Sejak memutuskan resign dari kantor, Laura mulai sering mengerjakan pekerjaan di dapur. Entah itu belajar memasak atau membuat kue bersama Putri.
"Mama, masak udang goreng ya?"
"Iya sayang, kesukaan Putri dan Papa," jawab Laura melirik ke arah suaminya.
Arsya tersenyum melihat tingkah Putri yang menggemaskan, semuanya dia lakukan juga karena Putrinya. Keputusan besar ini dia ambil karena mempertaruhkan ego untuk gadis kecil yang sanggup meruntuhkan segala macam perasaan kecewa dan sakit hati luar biasa terhadap sang istri.
"Ini mas, mau pakai udang sama tempe gorengnya?" tanya Laura.
__ADS_1
"Boleh, sekalian sambel terasinya sedikit," jawab Arsya.
Laura mengambilkan sarapan untuk Arsya dan Putri, kemudian untuk dirinya sendiri. Mereka bertiga makan dengan tenang sambil sesekali Putri berceloteh. Laura bertugas menyuapi Putri kemudian menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.
"Setelah ini kita akan ke rumah utama, aku ada yang ingin dibicarakan sama Ayah, kau mau ikut tidak?" Arsya menatap Laura.
"Ehmm,, boleh, aku juga ingin minta maaf sama Ayah, aku yakin jika Ayah juga sudah tahu semuanya," Laura menunduk.
Sungguh dia sebenarnya malu berhadapan dengan Ayah mertuanya. Tapi Laura tetap harus minta maaf karena telah menyakiti putranya sedemikian rupa.
Setelah sarapan, akhirnya Arsya, Laura dan Putri langsung ke rumah utama untuk bertemu Adam. Sepertinya kedatangan mereka sudah dinanti ketika melihat si tuan besar sudah berada di ruang tamu dengan sebuah surat kabar di tangannya.
"Hemm, aku tahu,, apakah sekarang kamu sudah siap memimpin AR Corporation?"
"Sepertinya aku siap Ayah, sudah saatnya Ayah berhenti dan pensiun, biar aku dan Axel yang mengurus dua perusahaan itu," jawab Arsya penuh kemantapan.
Ya, kedua pewaris Airlangga itu memang sudah memiliki jatah perusahaan masing-masing.
Axelo dengan AA Corporation dan Arsya AR Corporation.
__ADS_1
Laura yang sejak tadi diam menyimak akhirnya ikut membuka suaranya. Dia langsung mengucapkan permintaan maaf terhadap sang ayah mertua karena telah membuat skandal dengan adik iparnya sendiri.
"Aku tahu sebenarnya putraku lah yang terlalu terobsesi kepadamu, bahkan sebelum kamu tahu tentang perasaannya terhadapmu, aku sudah tahu semuanya, tetapi aku diam saja karna ingin melihat bagaimana kalian membuat alur ceritanya, jangan dikira aku diam saja karena tidak tahu apa-apa, " ucap Adam panjang lebar.
Laura mengangguk dan menunduk, tentu saja dia merasa malu karena semua perbuatannya telah diketahui oleh sang ayah mertua.
Tapi untung saja suaminya memberikan kesempatan kedua, jadi belum terlambat jika dia harus memberikan kesan ini baik terhadap Ayah mertuanya itu.
Sedangkan di sisi lain.
Andara sejak tadi hanya bisa bersungut kesal karena keputusan sepihak dari Axelo yang menginginkannya menjadi sekretaris pribadinya dimulai dari saat ini.
"Jangan cemberut, nanti jelek," ucap Axel sambil melirik ke arah Andara yang yang sejak tadi hanya memanyunkan bibirnya. Saat ini mereka sedang makan siang di restoran dekat kantor.
"Kenapa sih Bapak dengan seenaknya menunjuk saya sebagai sekretaris pribadi, padahal pekerjaan itu sangat saya hindari sejak masuk ke perusahaan ini, emangnya enak jadi sekretaris itu? Ya enggaklah! Yang ada malah susah, kita itu jadi pesuruh dan disuruh-suruh terus oleh atasan, apalagi harus menghandle semua kerjaan Bos, mencatat jadwal si Bos dan masih banyak lagi, jadi saya itu tidak tertarik untuk menjadi sekretaris!"
Axelo hanya bisa melongo melihat tingkah Andara yang menurutnya benar-benar ajaib. Jika dimana-mana banyak orang yang menginginkan posisi sekretaris, tapi ternyata Andara tidak menginginkannya.
Bukankah itu suatu hal yang benar-benar berbeda? Andara bagi Axelo saat ini adalah kekasihnya. Axel hanya menginginkan dia bisa terus bersama Andara.
__ADS_1
"Oke, kalau kamu nggak mau jadi sekretaris ku, hari ini juga kamu akan aku pecat, dan sebagai pesangonnya aku akan memberikan pekerjaan yang lebih layak lagi untukmu yaitu menjadi istriku!"