Skandal Sang CEO

Skandal Sang CEO
Episode 68 ( Season 2 )


__ADS_3

Happy Reading.


Tiya menatap layar ponselnya yang menunjukkan nama sang Mama. Sudah berhari-hari dia mengabaikan panggilan ataupun pesan dari Mamanya itu.


Namun, sepertinya kalau sampai dia mengabaikan lagi, Papanya pasto menarik nya pulang ke rumah. Alhasil Tiya harus mengangkat panggilan itu.


"Halo Ma?"


"Assalamualaikum, Tiya,, kamu sekarang dimana?"


"Ada di rumah om Axel Ma, Tiya nggak pernah keluar malam."


"Baguslah, apa kamu nggak pengen pulang? Kak Putri besok pulang ke Jakarta, apa kamu nggak mau ketemu sama kakakmu?"


Tiya terdiam ketika mendengar nama Putri, dia tentu saja rindu kakak satu-satunya itu. Tapi masalahnya dia tidak bisa jauh dari Arie.


"Iya Ma, besok pulang kampus Tiya mampir ke rumah."


"Kok cuma mampir? Kamu nggak mau menginap?"


"Kapan-kapan lagi Ma, sekarang Tiya banyak kerjaan, Assalamualaikum!"


Tiya mematikan panggilannya dan menghela nafas. Sudah tiga bulan dia tinggal di rumah Axelo dan Andara. Entah kenapa dia tidak bisa jauh dari Arie. Tiya terobsesi dengan sepupunya itu.


****


Sementara di kamar Arie


Aldo terlihat sedang merogoh ke saku celana Bily yang masih terlelap. Sambil cengengesan dia mengambil ponsel Bily.


"Nah ini dia, ketemu Nih," ucap Aldo sambil membuka layar ponsel yang tidak dikunci itu.


"Eh, lo ngapain?" tanya Arie penasaran.


"Gue mau nyari kontak tuch cewek," jawab Aldo tanpa rasa bersalah.


"Kontak nya siapa?" tanya Arie lagi yang kini ikutan melihat isi ponsel Bily.


"Itu, kontak nya Dian, mau gue colong nomernya, hihihi," jawab Aldo terkikik.


Arie hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah somplak Aldo.


"Wah, jangan rese lo Al, itu cewek punya Bily, mau lo serobot apa? kita kan udah janji gak akan pernah suka sama cewek sama, apalagi cewek itu sudah di incar Bily duluan.


"Perjanjian apaan itu, dia juga udah pacarin cewek yang gue suka, nyatanya dia yang ingkar 'kan?" jawab Aldo yang mengingat seorang cewek yang disukainya dulu.


Tetapi ternyata Bily malah godain dan mereka pun jadian. Namun, selang sebulan kemudian Bily malah putusin cewek itu, saat itu Aldo benar-benar marah. Tapi dia juga tidak bisa melakukan apa-apa, karena cewek itu memang tidak menyukai Aldo tapi malah menyukai Bily yang notabene adalah seorang playboy.


"Yah kan emang cewek incaran lo itu juga suka sam Bily, jadi ya bukan salah Bily lah," jawab Arie tanpa maksud membela Bily, karena kenyataannya cewek itu tidak menyukai Aldo.


"Nah, ini dia kontak nya!" Seru Aldo


"Lo mau gak nomer nya Dian, buat iseng aja Ar," ucap Aldo sambil menyimpan nomer Dian di ponselnya


"Ah gak deh, gue gak mau deketin cewek yang udah di incar temen gue sendiri," jawab Arie cuek.


"Cuma temenan kan gak papa, tapi gue jamin lo bakal suka deh kalau udah lihat cewek itu," ucap Aldo mengeluarkan smirknya.


"Ya tapi tetep aja, gue gak mau. Ntar kalau cewek itu jadi suka ma gue gimana? hahaha," ucap Arie tergelak.


Aldo mengejek Arie.


"Kalau menurut gue sih, elo yang bakal jatuh cinta sama dia!" Ucapan Aldo menghentikan tawa Arie.


"Tapi kan gue udah ada Serli kasian ntar Serli kalau gue jatuh cinta ma tuch cewek," jawab Arie tanpa maksud apa-apa.


"Kalau gitu Serli buat gue aja bro! hahaha!" Arie memicingkan matanya ke arah Aldo tapi sohibnya itu terus saja menggoda. "Gue tau lo sebenar nya udah bosan 'kan sama Serli, cuma lo gak tega buat mutusin dia," lanjut Aldo kemudian.


Arie hanya diam saja mendengar pernyataan teman nya itu. Sebenarnya Arie memang sayang sama Serli, tapi semenjak Serli menginginkan hubungan yang lebih jauh yaitu tunangan, tiba-tiba Arie jadi bingung dengan perasaan nya sendiri.


Dia masih belum mau berhubungan serius, tapi Serli selalu meminta Arie untuk melamar nya. Terkadang sikap Serli itu membuat Arie merasa terkekang. Arie masih belum mau memikirkan hubungan serius seperti itu. Apalagi setahun lagi dia wisuda, dan harus mulai giat belajar agar lulus.


Ting!


Notifikasi pesan Arie berbunyi. Dia pun melihat pesan tersebut yang ternyata dari Aldo yang mengirim kontak Dian ke ponselnya.


"Udah, simpan aja, siapa tau lo butuh temen curhat, he," ucap Aldo cengengesan.


"Ya, udah deh,, gue menghargai perasaan lo yang udah ngirim kontak ini," jawab Arie yang akhirnya terpaksa menyimpan nomor Dian.


Sayangnya kontak Dian memang tidak di kasih foto profil, jadi Arie tidak tahu secantik apa Dian itu.


"Ya emang lo mesti menghargai perasaan gue, hahaha!" Arie hanya diam saja dengan tingkah Aldo. Sepertinya sohibnya itu mabuk.


"Eh bro, gue pulang dulu ya, udah ngantuk nih, gue nggak nginep," Aldo berpamitan kepada Arie sambil membuka pintu kamar.


Sementara Arie masih memandangi kontak Dian, entah kenapa tiba-tiba dia jadi pengen mengirim pesan padanya. Padahal biasanya Arie tidak pernah tertarik dengan cewek-cewek incaran temannya.


Sering kali cewek yang deket sama teman nya setiap dikenalin ke Arie malah cewek-cewek itu yang jadi suka sama Arie. K


Yang terkadang membuat para sahabat nya jadi membenci nya. Maka dari itu Arie membuat perjanjian konyol yang dimana setiap cewek yang sudah menjadi target, tidak boleh ada yang deketin apalagi sampai jadian.


'Kok gue jadi tertarik sih sama nih cewek! Ah gara-gara si Aldo nih yang jadi bikin gue penasaran.'


Tanpa disengaja jempol Arie mengetik pesan di nomor itu.


[Assalamualaikum]

__ADS_1


Centang dua.


'Gak papa deh, kan cuma kenalan di chat, siapa tahu bisa jadi sahabat.' Batin Arie terkikik dalam hati.


Arie cengengesan sendiri dengan kelakuan nya. sementara Bily masih tertidur sambil tengkurap. Karena efek mabuk nya yang lumayan parah, diapun seperti orang yang mati tidak bergerak sama sekali.


"Kok gak dibuka sih? apa dia udah tidur ya?" Arie melihat jam di dinding menunjukan pukul 01.00 dini hari.


"Mungkin emang udah tidur, lagian kenapa gue jadi nungguin balesan dari dia sih! Ah sial, gara-gara Aldo aku jadi penasaran sama tuch cewek incaran Bily!"


Arie naik ke atas ranjang, "mending gue tidur, besok aja bikin tugas kuliah!" lanjut Arie yang kemudian ikut berbaring di samping Bily yang sudah ke alam mimpi.


****


Mentari pagi menyinari korden jendela yang berwarna putih itu. Dian mengerjapkan matanya yang terkena sinar disela korden kamar nya. Dia mengambil ponselnya dan melihat jam yang ternyata sudah pukul enam kurang lima menit.


Dian pun kaget dan bergegas turun dari kasur nya. Tapi sebelum itu dia melihat notif di ponselnya ada no tidak di kenal mengirim pesan.


+823748xxxx


[Assalamualaikum]


Dian mengerutkan keningnya.


'No siapa ini, aku bales gak ya? tapi dia kan berucap salam, kalau gak di bales ntar dosa.


[Waalaikumsalam]


Belum dibalas.


'Udah biarin deh, kalau penting pasti bakalan telepon.'


Dian bergegas ke kamar mandi dan melakukan ritual mandinya, sekitar dua puluh lima menit dia sudah selesai.


Dia pun keluar dari kamar menuju ruang makan yang menjadi satu dengan dapur, yang ternyata disana sudah lengkap dengan semua orang.


"Wah tumben kamu bangun nya yang terakhir, Di?" tanya Tante Dea.


"Maaf ya tan, Dian telat bangun jadi gak bisa bantuin tante," jawab Dian merasa tidak enak hati.


"Sudah gak apa-apa, sekarang kita mulai sarapan saja ya, ntar keburu telat," ucap om Roni menyuruh semua nya untuk segera sarapan.


Merekapun sarapan dengan tenang dan lahap. Setelah selesai akhirnya mereka melanjutkan aktifitas masing-masing.


Dian dan Maya langsung meluncur ke kampus untuk jam kuliah pertama.


Setelah jam pertama selesai, mereka menuju kantin untuk membeli minuman.


Disaat yang sama, Tiya yang memang kuliah di Universitas yang sama dengan Dian dan Maya maya juga tengah makan di kantin.


Dia pun menghampiri meja Maya dan Dian, karena Tiya memang sudah mengenal Maya.


"Hai May, boleh gue gabung disini?" Tanya Tiya.


Maya dan Dian menoleh ke sumber suara dan melihat seorang gadis cantik tersenyum ke arah mereka.


"Boleh kok, silahkan," jawab Maya.


Sedangkan Dian hanya tersenyum ke Tiya tanda kesopanan.


'Oh jadi ini sepupu Maya yang lagi jadi incaran dan bahan perbincangan para cowok-cowok di kampus. Sudah kayak primadona kampus aja. Eh,,, tapi dia cantik juga, senyumnya,, Waahh emang beneran cantik.' Kagum Tiya.


"Ehmm,,, kamu sepupunya Maya ya? kenalin aku Tiya," ucap Tiya memperkenalkan dirinya.


Dewi tersenyum dan mengangguk.


"Iya aku sepupu Maya, namaku Dian, kok kamu tahu?" jawab Dian sambil menyalami tangan Tiya.


"Semua juga tahu kok, para Mahasiswa dan Mahasiswi disini smua pada bicarain kamu," Dian hanya ber-oh saja.


"Emang apa yang mereka bicarain tentang Dian?" tanya Maya yang juga ikut penasaran.


Dian juga melihat ke arah Tiya, sungguh dia tidak tahu jika dirinya jadi pembicaraan di kampus barunya.


Tiya jadi salah tingkah sendiri, sepertinya kedua cewek ini salah paham.


"Mereka bilang kalau sepupu kamu itu cantik, hehe," Maya dan Dian melongo mendengar jawaban Tiya.


"Eh, masa?" Tanya Tiya.


"Yups, bener banget, temenku juga tergila-gila sama Dian, dia lagi pdkt sama kamu, Di!"


"Eh siapa-siapa? Si Bily?"


"Aduh, pada ngomong apa sih, dari pada ngmong yang gak bener mending kita pesen makanan aja yuk," Dian memotong ucapan keduanya, dia tidak suka kalau bicarakan.


Ahirnya merekapun memesan makanan sambil ngobrol dan bercanda.


****


Arie yang saat itu sedang mengerjakan tugas kuliahnya bersama Aldo dan Bily tiba-tiba dia teringat ponselnya. Dari tadi pagi dia memang belum membuka ponsel karena langsung sibuk dengan tugasnya itu.


Ada banyak pesan dan telepon dari Serli karena Arie men silent ponselnya. Jadi dia tidak tahu kalau kekasihnya itu sedang telepon.


Setelah dia membuka aplikasi pesan, matanya tertuju pada sebuah pesan dari seseorang.


[Wa'alaikumsalam]

__ADS_1


Arie pun tersenyum, lalu membalas pesan tersebut.


[Boleh kenalan gak?]


Entah kenapa Arie mendadak menjadi gugup, belum pernah dia merasakan hal ini. Arie juga tidak tahu.


Sedangkan pesan dari kekasihnya malah dia abaikan. Dia lebih antusias untuk menunggu balasan dari Dian.


****


Serli yang saat ini sedang ada jam kuliah pun terlihat gelisah karena sedari tadi pagi Arie tidak membalas pasan atau mengangkat telepon darinya.


'Arie aku kangen, kamu dimana sih.. oh iya dia kan lagi bikin tugas. Ah kenapa dia belum juga membalasnya. Batin Serli sama sekali tidak fokus terhadap penjelasan dosennya.


Sedangkan Arie yang masih menunggu balasan dari Dian pun juga gelisah, seperti orang yang sedang menunggu pesan dari kekasihnya saja.


"Eh kenapa lo bengong aja bro?" Bily menegur Arie yang sejak tadi diam saja sedang melamun.


"Oh, gak papa ... cuma lagi mikirin sesuatu buat tugas ini," jawab Arie bohong.


"Owh, gue jadi kangen sama Dian nih,, dia lagi apa ya? mendingan gue chat deh," gumam Bily mengambil ponselnya di dalam saku.


Wajahnya terlihat sumringah dan entah kenapa hal itu membuat Arie tidak suka.


"Duh, Dian,, jadi pengen ketemu lo!"


"Ehhmm!" tiba-tiba Arie bedehem. Entah kenapa dia jadi deg deg kan mendengar Bily menyebut nama Dian.


Ting!


Notifikasi di ponsel Arie berbunyi. Balasan pesan dari Dian.


[Emang kamu dapat nomerku dari siapa? kalau boleh tahu apa kita pernah bertemu?]


Arie yang membaca itupun langsung tersenyum.


[Pernah, di restoran deket kampusku, aku temennya Bily]


"Kok Dian gak balas pesan gue ya? padahal dia online," ujar Bily tiba-tiba.


Arie hanya diam saja tidak menggubris Bily. Padahal Dian baru saja membalas pesannya.


Sedangkan Dian yang sudah selesai makan di kantin pun merasa bingung, dia mendapat pesan dari teman Bily.


'Teman Bily pada waktu di restoran, apa dia Aldo?'


Dia pun mengirim balasan lagi.


[Apa kamu Aldo yang waktu itu berkenalan di restoran?]


Ting!


[Aku bukan Aldo, tapi temen nya Bily dan Aldo]


Kalau bukan Aldo terus siapa dia, teman Bily yang waktu itu kan namanya Aldo? batin Dian bingung.


"Kenapa kamu Di? dapat pesan dari siapa?" tanya Maya yang melihat Dian mengerutkan kening nya sambil melihat ponselnya.


Sedangkan Tiya sudah pergi duluan setelah selesai makan.


"Pesan dari nomer tidak dikenal May," jawab Dian.


Setelah itu Dian melihat ada pesan dari Bily juga, tapi Dian tidak berniat membalasnya.


Ting!


[Aku yang pada waktu itu duduk dibelakang kamu pakai kemeja putih jas biru navy,


namaku Arie]


Dian membaca pesan tersebut, matanya melotot tidak percaya.


Deg!


Itukan cowok yang waktu itu bikin gue deg degan. Aduh kok gue seneng banget ya? kenapa dia bisa chat gue? Batin Dian.


"Eghem!" Dian berdemeh untuk menetralkan detak jantung nya. dia pun tersenyum sendiri sambil membalas pesan tersebut.


[Owh iya aku tahu kok, nama ku Dian, aku save ya nomernya]


Huh, modus banget, tapi jujur Dian benar-benar senang.


Disisi Arie.


'Dia tahu gue?? apa dia lihat gue juga? pada waktu itu kan dia duduknya memunggungi? batin Arie.


"Wah, ini gak beres bro, masa Dian gak mau balas pesan gue sih, dia online loh padahal," ujar Bily tidak terima.


"Palingan dia lagi bales pesan dari cowok nya kali," ucap Aldo yang sedari tadi fokus mengerjakan tugas.


Mereka bertiga sedang berada dikelas, dosen sudah pergi sedari tadi.


Sedangkan Arie masih fokus pada ponselnya, Bily tidak tau saja bahwa Dian dan Arie sedang saling berbalas chat, disisi lain Bily juga sedang menunggu balasan.


'Dian dari tadi bales chat gue Bil, kasihan banget sih elo, kayaknya Dian emang gak tertarik sama lo deh, hihihi,"batin Arie senyum-senyum sendiri.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2