Skandal Sang CEO

Skandal Sang CEO
Episode 78


__ADS_3

Happy Reading.


Dian akhirnya pulang naik taksi online karena Arie sudah pulang duluan. Padahal tadi dia sudah akan di antar Aldo dan Bily tapi Dian menolak. Dia tidak mau membuat para kekasih kedua cowok itu cemburu kalau salah satunya mengantarkan dirinya pulang.


Perasaan Dian tidak tenang, Arie mabuk berat kata Tiya? Setahunya Arie hanya minum sedikit dan itu tidak akan membuat cowok itu mabuk yang berat.


Setelah sampai rumah, Maya terbengong-bengong melihat wajah Dian yang kusut. "Kenapa wajah kamu ditekuk?" Tanya Maya.


Dian hanya menggeleng lemah, "aku ke kamar dulu ya May, ngantuk," jawab Dian yang langsung melenggang pergi naik ke lantai atas. Maya yang memang masih belum masuk kamar dan menonton TV hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Dian yang di rasa aneh.


Maya tahu kalau Dian nggak baik-baik saja, karena Maya juga dalam fase tidak baik-baik saja dan patah hatinya masih terasa sakit. Tapi Maya tidak mau memaksa Dian untuk bercerita. Biarkan sepupunya menyendiri dulu dan pasti kalau sudah siap Dian akan bercerita dengan sendirinya.


*****


Pagi-pagi sekali Dian terlihat mengemudikan mobil Maya menuju rumah Arie. Dia sangat Khawatir dengan keadaan kekasih nya itu. Tadi akhirnya dia menceritakan masalah Arie yang pulang duluan bersama Tiya dan meninggalkan nya di pesta Aldo. Akhirnya Maya memberikan kunci mobilnya dan menyuruh Dian ke rumah Arie segera untuk mengecek kondisi cowoknya itu.


Tiya memang begitu peka kalau Dian tengah dilanda rasa khawatir.


Akhirnya setelah sampai di depan rumah Arie, satpam langsung membuka pintu gerbangnya. Dian pun segera berlari mengetuk pintu rumah setelah keluar dari mobil.


Tok.. tok.. tok...


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam, eh non Dian, silahkan masuk non," ucap bibi yang membuka pintu rumah.


"Maaf bi mau tanya, apa Arie ada bi?"


"Den Arie belum keluar dari kamar non sejak semalam, silahkan non cari saja langsung di kamar den Arie."


"Baik bi, Terima kasih," ucap Dian tersenyum


Setelah itu Dian berjalan menuju tangga dan menaiki nya, setelah sampai Dian langsung mengetok pintu kamar Arie, tetapi tidak ada jawaban.


'Bibi bilang Arie belum keluar dari semalam, apa dia masih tidur?'


Karena tidak mendapat jawaban akhirnya Dian pun membuka pintu kamar itu.


krieeekk....


Pintu terbuka setengah, Dian pun langsung masuk. Akan tetapi dia dikejutkan dengan pemandangan didepannya yang menyayat hati.


Terlihat Arie tertidur bertelanjang dada dan di sebelah nya ada seorang wanita yang tidak lain adalah Tiya. Tiya pun tidak memakai pakaian hanya selimut sebatas dada yang menutupi.


Bahkan pakaian dan dalaman pun berserakan dilantai, jelas Dian melihat hal tersebut dengan mata kepalanya sendiri.


Hatinya hancur, sakit sekali, dadanya pun langsung sesak melihat dengan mata kepala sendiri keadaan sang kekasih dan sepupunya tidur dengan sambil berpelukan. Lebih tepatnya Tiya yang memeluk Arie.


Seketika Dian langsung berlari keluar dari dalam kamar dengan berderai air mata. Pada saat dia membuka pintu keluar tiba-tiba dia menabrak seseorang.


bruukkk...


"Ah maaf, saya tidak sengaja," ucap Dian langsung pergi dan menuju mobilnya.


Seorang laki-laki yang ditabrak pun hanya terdiam melihat ada seorang gadis cantik menangis berderai air mata.


"Siapa wanita itu, kenapa dia menangis?" gumam laki-laki itu yang tak lain adalah Evan, kakak sepupu Arie, anaknya tante Aninda.


Evan baru saja tiba dari Singapore, dia langsung menuju rumah dan dikejutkan dengan seorang gadis yang menabrak nya tadi.


Sedangkan Dian langsung mengemudikan mobilnya kencang. Sakit, sakit sekali rasanya.


Dian memukul dadanya berkali-kali, diapun sesenggukan karena menahan sakit yang menyayat hati.


Hatinya seperti di tusuk ribuan belati dan mengoyak nya hingga hancur lebur. Akhirnya dia sampai di butik dan langsung masuk.


Maya melihat Dian berlari ketangga menuju ruangan atas, dia pun langsung menyusul sepupunya itu.


"Ada apa Di, kenapa kamu terlihat kacau seperti ini," tanya Maya.


Dian langsung menghambur kepelukan Maya, dia menangis dan menjerit, rasa kesakitan nya karena telah di khianati oleh sang kekasih membuat hatinya hancur, sunggung menyesakan.


"Arie May,, Arie.."


"Kenapa dengan Arie?" Tanya Maya.


"Dia... dia... telah tidur dengan Tiya May, hatiku sakit banget.. hiks!!" Tiya yang mendengar itu langsung melotot sempurna.


"Apa!! apa katamu Di, apa kamu gak salah lihat?"


"Enggak may, aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, mereka tidur sambil berpelukan dan telanj*ng.. huaa!!" tangis Dian pecah.

__ADS_1


Maya tentu saja shock mendengarnya, dia pun hanya bisa mengelus punggung sepupunya itu.


"Ssttt udah Di, kamu tenang dulu, baru nanti cerita," lirih Maya masih mengelus punggung Dian yang bergetar hebat.


"Aku gak sanggup May, kalau di khianati seperti ini,, aku gak sanggup .. hiks!" Dian masih terisak di pelukan Maya.


Mengeluarkan segala rasa sakita hatinya


Sedangkan di kediaman Arie..


Tiya membuka matanya dan tersenyum, dia memandang wajah tampan yang ada dihadapan nya itu.


Kamu akan menjadi milik ku Rie, selamanya. aku gak peduli meskipun semua orang menentang karena kita adalah saudara, tapi aku nggak mau kamu menjadi milik orang lain, karena hanya aku yang pantas menjadi milikmu. Batin Tiya.


Wanita itu sama sekali tidak peduli bagaimana tanggapan keluarga besarnya nanti, dia sudah menyusun sedemikian rupa agar bisa mendapatkan Arie.


cup..


Arie membuka matanya ketika dia merasa ada yang mengecup bibirnya. Matanya langsung melotot sempurna saat melihat wajah sepupunya didepannya saat ini.


"Tiya! apa yang lo lakukan!!" teriak Arie mendorong Maya yang menempel padanya.


Arie membulatkan matanya ketika dia menyadari telah tidur seranjang berdua dengan Tiya tanpa memakai sehelang benang pun.


"Hiks, apa kamu gak ingat semalam kamu ngelakuin apa ke aku Rie," ucap Tiya menangis. Dia kesal karena Arie mendorong nya kuat dan hampir terjatuh ke lantai.


Arie sungguh masih merasa bingung dengan apa yang terjadi. Tapi dia juga cukup sadar dengan keadaan mereka yang seperti ini.


"Memang kita ngelakuin apa?!" tanya Arie yang kemudian menjadi datar dan dingin. Sorot mata kebencian tiba-tiba hadir untuk perempuan yang bergelar sepupu yang dia sayangi sepenuh hati itu.


"Kita telah melakukan hubungan, apa kamu gak ingat!" Teriak Tiya.


"PERGI!!! keluar dari kamar GUE!!" teriak Arie yang kini diliputi kemarahan.


Tiya merasa takut melihat wajah Arie yang seperti ini.


"Oke, aku akan keluar tapi aku pakai bajuku dulu."


"Nggak perlu disini pakai nya, sekarang lo keluar dari kamar gue atau gue aku paksa dan gue seret kelua!!" Seru Arie tajam, dia jijik melihat penampilan Tiya yang sudah mirip seperti wanita penggoda itu.


Tiya memunguti pakaiannya dan kemudian memakai dengan cepat, Arie benar-benar terlihat sangat marah.


Setelah itu diapun berlari keluar dari kamar Arie dan masuk ke dalamnya.


dia benar-benar tidak mengingat apapun semalam.


Evan yang melihat Tiya keluar dari kamar adik nya itupun hanya mengangkat sebelah alisnya. Setelah itu dia mendengar suara gaduh dari dalam kamar Arie.


"Ada apa lagi? Niatnya balik kesini karena kangen sama Bunda, huh!" Aninda meninggal delapan tahun yang lalu karena kecelakaan. Setelah berpisah dari suaminya, keadaan psikis Aninda memang tidak baik. Akhirnya Evan di asuh oleh Andara dan Axelo karena hanya dia yang Evan punya setelah nenek Siska juga meninggal.


Evan ditugaskan untuk mengelola perusahaan Axelo yang berada di luar negeri, sebelum nanti Arie yang akan memegang kendali ketika sudah siap nanti.


Arie membanting semua barang yang ada di kamarnya. Dia terlihat sangat marah dengan kelakuan Tiya yang menurut nya sungguh keterlaluan dan menjijikan.


Evan pun tidak jadi masuk ke kamar adik sepupu nya tersebut.


"Sepertinya keadaan nya sedang tidak baik," gumam Evan.


"Eh bi, mending jangan masuk dulu, biarin reda dulu marahnya," ucap Evan kepada bibi yang terlihat ketakutan mendengar suara didalam kamar tuan mudanya itu.


"Iya den Evan, saya hanya khawatir kepada den Arie," ucap bibi.


Selanjutnya Evan hanya berlalu dan tersenyum masuk ke dalam kamarnya yang sudah lama dia tinggalkan.


Bunda Andara masih berada di Amerika menyusul Axelo yang katanya rindu tapi belum bisa pulang. Dasar bucin. Sampai-sampai mereka tidak tahu apa yang terjadi di rumah.


****


"Mending kamu minta penjelasan dulu sama arie Di, apa yang sebenarnya terjadi," bujuk Maya.


"Penjelasan apa lagi May, udah jelas semuanya kan, gak ada yang perlu di jelaskan lagi," jawab Dian sendu. Air matanya memang sudah tidak keluar, tapi hatinya masih terasa sakit.


"Y-ya mungkin saja tadi malam Arie dalam keadaan mabuk berat, jadi mereka ngelakuin itu tanpa sadar." Dian hanya diam tidak menanggapi ucapan Maya. Meskipun memang benar kalau Arie mabuk berat, tapi kalau yang dilakukan mereka seperti itu, sungguh membuat hati Dian hancur.


*****


Tiya tertawa senang di dalam kamarnya. Akhirnya apa yang di inginkan terjadi juga, diapun yakin akan bisa mendapatkan Arie sepenuhnya kalau dia mengandung anak nya.


Entah kenapa Tiya benar-benar terobsesi dengan Arie yang jelas-jelas sepupu nya sendiri. Apa jadinya kalau terjadi pernikahan sesama saudara?


Tapi Tiya tidak menghiraukan semua itu, bahkan dia akan bangga apabila bisa mengandung benihnya Arie.

__ADS_1


Tiya sama sekali tidak menyesali perbuatannya yang mungkin akan menghancurkan dua keluarga besar sekaligus. Keluarga besar Airlangga.


Sedangkan Arie yang baru saja membersihkan diri, langsung pergi keluar rumah. Karena setelah mendapat kan banyak chat dari kekasih dan terakhir pagi tadi, setelah Arie membuka ponselnya yang tiba-tiba mati. Sekarang nomer Dian tidak aktif.


Dia teringat tadi malam pergi ke acara pestanya Aldo bersama Dian, tapi kenapa tiba-tiba pagi ini dia dikejutkan dengan keadaan nya yang tanpa busana tertidur bersama Tiya, sepupunya.


"Aargghh sial, apa yang terjadi sebenarnya!!"


Arie menyalakan mobilnya dan langsung menuju ke butik. Tujuan nya sekarang adalah ke tempat itu, tidak mungkin jam segini Dian masih berada dirumah.


Setelah 15 menit akhirnya Arie sampai di depan butik. Setelah itu dia langsung masuk dan menanyakan keberadaan Dian kepada karyawan disitu.


"Apa Dian ada di dalam?" tanya Arie kepada Sinta salah satu pegawai di butik Tante Dea.


"Tadi mbak Dian ada di atas mas, silahkan naik saja," jawabnya.


"Oke, Terima kasih!"


Arie langsung naik menuju lantai dua. Di atas ada 2 buah pintu, yang satu ruangan pribadi tante Dea dan yang satu lagi tempat penyimpanan baju-baju pesanan.


Tante Dea memang tidak menjahit sendiri. Dia hanya menggambar karya baju desain nya lalu diserahkan ke cabang lain yang khusus untuk menjahit baju desain dan dikelola langsung oleh om Roni.


Setelah melihat tulisan yang ada di pintu sebelah kanan, Arie yakin kalau Dian sedang berada di dalam sana.


Belum sampai mengetuk pintu, ternyata pintunya telah di buka oleh Maya.


"Kalau kamu nyari Dian dia sedang istirahat, dan tidak bisa diganggu sekarang. Mending lo pulang saja!" ucap Maya dingin


"Apa Dian sakit? kenapa hape nya gak aktif?please gue cuma mau ketemu dia May, mastiin keadannya aja. Gue gak kan ganggu kok," ucap Arie khawatir.


"Iya, Dian sedang sakit dan dia lagi istirahat. Sebaiknya kamu pulang aja Rie, besok temuin Dian lagi," ucap Maya dan langsung menutup pintu tersebut.


Arie hanya bisa mengumpati dirinya, dia merasa sangat bodoh dan bersalah. Kenapa sampai bisa dia meninggalkan Dian tadi malam.


Akhirnya Arie memutuskan untuk menemui Aldo. Sebelum itu dia menghubungi sahabat nya tersebut.


"Halo Al, lo dimana sekarang?"


"Gue dirumah bro, lo langsung kemari aja."


"Oke, gue kesitu sekarang."


Tut..


Arie bergegas menancap gas nya menuju ke kediaman Aldo. Dia harus bertanya kepada sahabat nya itu apa yang sebenarnya terjadi.


Setelah beberapa menit akhirnya dia sampai dan langsung masuk ke rumah Aldo.


"Bro, gue mau tanya?" tanya Arie yang masih berada di daun pintu kamar.


"Tenang-tenang bro, gak usah terburu-buru, masuk dulu sini."


Arie masuk dan duduk di sofa yang terletak di kamar Aldo.


"Sebenarnya apa yang terjadi di pesta lo semalam? kenapa gue gak ingat apa-apa dan Dian gimana keadaannya bro, setelah gue tinggal sendirian?"


"Satu satu bro nanyanya. Sebelum gue jawab gue mau tanya, apa yang terakhir kali lo ingat pada malam itu?" tanya Aldo.


Arie tampak berfikir, dia mencoba mengingat apa yang terjadi pada malam itu terakhir kali sebelum dia sadar sudah tidur bareng Tiya diatas ranjang. Setelah di berpikir beberapa saat tiba-tiba dia pun ingat.


"Gue ingat pada malam itu terakhir kali ngobrol bersama anak-anak kampus, terus Tiya datang dan nawarin gue minuman, nah setelah minum itu gue langsung merasa pusing dan gak ingat apa-apa, sampai tadi pagi gue terbangun dengan Tiya berada di pelukan gue tanpa busana sama sekali. Kita berdua sama polos." Jawab Arie panjang lebar.


"Lo gak ingat tadi malam ngelakuin apa sama Tiya?" Arie menggeleng.


"Gue gak ingat apa-apa, tapi Tiya bilang kalau tadi malam kita udah ngelakuin itu!" jawab Arie dengan mengepalkan tangan nya.


Dia benar-benar merasa jijik kalau mengingat itu semua.


Aldo terlihat berfikir setelah mendengar penjelasan dari sahabat nya itu. Dia menarik kesimpulan bahwa mungkin Arie bisa saja dijebak dengan semua ini. Karena Arie tidak mengingat apapun.


Begitu pun dengan pemikiran Arie, yang merasa ganjil dengan kejadian semalam setelah meminum minuman dari Tiya.


"Apa lo punya pemikiran yang sama dengan gue bro?" tanya Aldo sambil menaikan alis nya.


"Gue dijebak oleh Tiya," jawab Arie dengan rahang mengeras.


BERSAMBUNG.


Silahkan Hujat Tiya


Mohon dukungan nya ya kakak2 sayang. jangan lupa like dan vote yang banyak 😍

__ADS_1


terima kasih😘😘😘😘😘


__ADS_2