
Happy Reading.
Beberapa Minggu kemudian.
Hubungan Dian dan Arie semakin dekat.
Sekarang keluarga tante Dea pun sudah mengetahui tentang hubungan mereka. Bahkan tante dan Omnya tidak melarang karena memang sudah sangat mengenal baik keluarga Airlangga karena Bunda Andara dan tante Dea adalah teman satu arisan.
Maka dari itu Bunda Andara sering berlangganan di butik Tante Dea. Setelah mengetahui hubungan keduanya, akhirnya Axelo dan Andara juga tahu jika Dian adalah putri dari sahabat Axelo sendiri.
"Jadi kali ini kamu sudah langsung merestui hubungan mereka, sayang?" Axelo memeluk istrinya dari belakang. Mencium tengkuknya lembut dan menggesek nya dengan hidung mancungnya.
Andara yang merasa geli hanya tertawa kecil. "Iya, Dian sangat cocok sama Arie, untung saja putramu sudah putus dari Serli, karena Bunda pernah lihat dia jalan sama cowok lain dan masuk ke hotel. Bunda tidak ingin suudzon, tapi kalau dua orang pasangan masuk ke dalam hotel sambil rangkulan itu ya pasti mengarah ke sana," kali ini Andara menceritakan permasalahan kenapa dia tidak setuju Arie bersama Serli.
"Feeling Bunda memang the best," Axelo mencium kembali leher sanh istri. Andara yang paham apa yang diinginkan suaminya akhirnya menarik Axelo ke atas ranjang.
Pagi ini, Arie menjemput Dian dirumah tantenya. Sudah menjadi rutinitasnya menjemput dan mengantar pulang sang kekasih.
Semua orang juga sudah mengetahui hubungan keduanya, sehingga tidak banyak yang berani mendekati Dian apabila di kampus.
Setelah sampai di kampus, Arie mencium pucuk kepala Dian dan meraup bibir Dian sepersekian detik.
Membuat Dian melotot sempurna dan mendorong tubuh Arie sambil mencebikkan bibirnya.
"Nyosor mulu," ucap Dian masih dengan bibir mengerucut.
"Aduh gemes nya pacar aku ini, mau dilahap habis tuh bibir, di monyong-monyongin," Arie tergelak sambil mencubit hidung Dian.
"Apaan sih yank, sakit tau," ujar Dian memegang hidung nya yang memerah akibat ulah sang kekasih.
Arie yang masih tersenyum tiba-tiba berubah jadi sendu. Dia menatap Dian dalam dan matanya menyirat suatu keinginan.
"Yank..!" panggil Arie
"Hmmmm."
"Yank, jadi pengen ngerasain yang lain,di halalin yuk!" ucap Arie ingin memegang sesuatu, dan sesuatu itu hanya boleh dipegang kalau mereka sudah halal. Namun dasarnya otak messum, tangan Arie sudah jelalatan saja.
Belum sampai tangannya memegang sesuatu, Dian langsung menepisnya.
"Awas aja ya kalau kamu macem-macem!" ancam Dian.
Arie hanya meringis, jiwa mudanya yang memang sedang menggebu-gebu hanya ingin melakukan itu dengan wanita yang begitu dia cintai.
"Nikah yuk yank, biar halal dan bebas mau nyentuh sana sini," ujar Arie menghela nafas.
"Katanya wisuda dulu, cari kerja mapan baru nikah," meskipun Arie keturunan Airlangga, tapi sang Ayah ingin putranya mandiri dan bisa mengelola perusahaan dengan baik.
"Iya-iya, lagian tinggal beberapa bulan lagi aku wisuda," jawab Arie melemah.
Dian menyentuh lengan kekasihnya itu, mengelus perlahan agar tidak loyo.
"Semangat donk yank, jangan lembek kaya gitu! ya udah aku ke kelas dulu ya," ucap Dian.
Cup!
Sebuah kecupan sekilas di bibir Arie membuat matanya berbinar. Senangnya dapat ciuman langsung dari sang kekasih. Padahal biasanya dia yang memulai duluan.
"Hati-hati, semangat belajarnya dan awas gak boleh nakal!"
"Siaap pangeranku!" jawab Dian tersenyum.
Setelah itu Dian membuka pintu dan keluar dari dalam mobil. Arie membuka kaca mobil untuk melihat sang kekasih, Dian berjalan mundur sambil melambaikan tangan. Arie membalas dan tersenyum. Setelah itu dia melajukan mobilnya menuju fakultasnya yang berjarak dua blok dari fakultas Dian.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai, hanya 10 menit karena memang jarak kampusnya tidak terlalu jauh.
Arie sedang memarkirkan mobilnya. Disaat yang sama dari arah depan terlihat Bily yang sedang mengelus perut buncit istrinya.
Usia kehamilan Desy memasuki 5 bulan. Bily sudah bisa menerima kehadiran Desy karena dia telah mengandung darah dagingnya. Bagaimanapun juga Bily bukan lah orang yang tidak bertanggung jawab.
Dia pun berjanji untuk bisa menyayangi Desy seperti dia menyayangi anak yang berada diperut nya. Toh mereka dulu pernah saling menyayangi dan itu pun membuat mengembalikan semuanya menjadi mudah.
__ADS_1
Arie dan semua sahabatnya sudah mengetahui pernikahan Bily dan Desy, biar bagaimanapun keadaannya dia tetap mendukung sahabat nya itu. Menjadi ayah di usia muda. Ya itulah hukuman untuk hubungan yang terlalu bebas seperti Bily yang memang suka gonta-ganti cewek.
Untung dia tidak terkena penyakit mematikan yang hanya menular dari hubungan badan dan suntikan. Kan mengerikan jika itu sampai terjadi.
Desy masuk ke mobil setelah mencium bibir Bily sekilas, yah dengan alasan baby nya yang ingin mengantarkan Ayahnya ke kampus Bily tidak bisa menolak. Dia pun diantar sopir keluarga. Sedangkan Desy mengajukan cuti kuliah sampai melahirkan.
Arie turun dari mobil dan berjalan ke arah Bily. Calon papa muda yang melihat kedatangan sahabatnya itu tersenyum.
"Wah calon papa, romantis banget sampai kuliah dianter istri tercinta," ledek Arie.
Bily tidak marah, tapi dia merasa bangga.
"Baby nya yang mau nganter, katanya," jawab Bily masih dengan menyunggingkan senyumnya.
"Itu mah modus, alasan yang dipakai bumil selalu keinginan si Baby ... haha," Arie tergelak.
Bily tidak membalas ejekan sahabatnya itu dan terus berjalan menuju kelas meninggalkan Arie.
"Woy tungguin bro," teriak Arie berlari menyusul sahabatnya.
****
Dian dan Maya yang baru saja selesai kuliah mereka langsung menuju kantin. Maya sejak tadi murung dan merasa sedih karena telah dikhianati oleh kekasihnya.
Matanya masih bengkak dan ada lingkaran hitam disekitar mata. Dia pun berusaha menutupi dengan memakai kaca mata hitam,
raut wajah kesedihan masih terpancar jelas.
"Udah donk sayang, gak usah sedih lagi. Kamu beruntung bisa tahu semuanya dengan jelas. Laki-laki seperti itu tidak pantas kamu tangisi," hibur Dian.
"Gue beneran gak nyangka Di, ternyata Reva emang laki-laki brengsek..!" jawab Maya datar.
Dian hanya bisa memberikan support terhadap sepupunya itu, tentu tidak ada yang ingin di khianati oleh kekasih yang begitu dicintainya. Begitupun dengan Maya.
Flashback
Sehari yang lalu pada saat Maya belanja di supermarket bersama adik nya Eva, setelah merasa lapar akhirnya mereka memutuskan untuk makan di sebuah kafe tidak jauh dari sana.
Maya pun berinisiatif menghubungi Reva. Tidak berapa lama Reva mengangkat panggilannya dan mengatakan kalau dia sedang mengantarkan Mama nya keluar.
Maya benar-benar emosi karena dibohongi oleh Reva, meja duduk mereka memang membelakangi Maya dan Eva. Apalagi saat Reva menyuapi dan mencium kening dan pipi wanita itu, semuanya terlihat begitu jelas di mata Maya.
Seketika mata Maya memerah menahan marah, kecewa dan sakit hatinya. Sudah cukup perjuangan dia selama beberapa bulan ini dengan backstreet sama kedua orang tuanya.
Eva mengusap punggung dan lengan Maya untuk memberikan ketenangan. Dia tahu kakaknya pasti sangat sedih dan kecewa.
Daripada nanti Maya semakin sedih dan takutnya melabrak mereka berdua, akhirnya Eva membawa Maya pergi dari kafe itu.
Dan malam itu juga Maya memutuskan hubungan nya dengan Reva. Sakit, perih hati dan perasaan nya saat itu dia tekan habis-habisan, meskipun awalnya ragu dan ingin meminta penjelasan terhadap pria itu, tapi melihat kebohongan Reva dan apa yang dilihat nya sudah memantapkan bahwa laki-laki itu memang tidak pantas dipertahankan.
*****
"Aku benci penghianatan, aku tidak akan pernah memaafkan apabila sudah dikhianati!" ucap Dian menggebu ikut emosi.
"Makanya tanpa mendengar penjelasan nya dan karena semuanya sudah jelas bukti ku lihat di depan mata, aku memutuskan Reva semalam. Meskipun dia tidak terima dan mengucapkan kata-kata manis dan rayuan gombal tapi itu tidak membuatku luluh," jawab Maya mengusap pipinya yang tiba-tiba jatuh air mata.
"Yang pasti kamu harus secepatnya bisa melupakan Reva, kamu cantik dan baik dan harus mendapatkan laki-laki yang baik pula, udah yuk kita pesan makan. Aku yang traktir ya,, aku kan baru saja gajian," ucap Dian memamerkan gigi gingsulnya.
"Iya-iya, aku juga gak mau lemah. Akan aku buktikan kalau aku bisa mencari laki-laki yang lebih dari dia," jawab Maya semangat.
"Nah gitu donk, laki-laki seperti itu biasanya doyan Gonta ganti cewek dan tidak akan pernah menyesal, padahal seharusnya dia tahu apa yang salah! Tapi dia tetap tidak nyadar!"
Setelah itu mereka memesan makanan dan meneruskan obrolan dengan sendau gurau, sampai makanan mereka datang. Maya pun langsung melahap nasi goreng seafood pedasnya.
Di sisi lain, di meja belakang Maya dan Dian seorang gadis cantik berambut curly tersenyum sinis. Ya dia adalah Tiya, sedang membalas pesan dari seseorang. Dengan masih tersenyum licik mendengarkan cerita dari 2 gadis di depannya itu.
****
Di Kampus Arie.
Arie dan Bily baru saja selesai kelas. Mereka masih belum beranjak dari kursinya.
__ADS_1
"Bro, sekarang Serli sama Aldo semakin dekat saja. Bahkan mereka sudah gak mau gabung sama kita lagi, masa cuma gara-gara Serli putus sama lo, Aldo jadi ikutan menjauh?" Tanya Bily.
"Mungkin mereka udah jadi pasangan kekasih, lo lihat aja mereka nempel terus kan ... haha," jawab Arie tergelak.
Bily mencebik melihat Arie yang menertawakan hubungan Serli dan Aldo.
"Emang lo gak marah, pacar lo direbut sama sahabat sendiri ?" tanya Bily.
"Ngapain gue marah, yang ada malah seneng gue, itu artinya Serli udah move on dari gue," jawab Arie.
"Gue penasaran kenapa Serli mutusin lo, padahal setahu gue dia cinta mati sama lo bro!" Arie tersenyum miris jika ingat pengkhianat kedua orang yang pernah dekat dengannya itu.
"Gue gak bisa ngasih kehangatan kali buat dia," jawab Arie cuek.
Bily langsung menonyor kepala Arie bagian samping.
"Emang dasar lo itu sok alim, tapi bagus deh dari pada terjadi kesalahan kaya gue," ucap Bily sendu.
Bily memang belum tahu tentang Arie dan Dian karena semenjak dia menikah tidak lagi pernah main keluar seperti dulu. Setelah kuliah dia langsung bekerja di restoran milik mama nya yang berada tidak jauh dari kawasan rumah nya. Tentunya karena sekarang dia sudah memiliki tanggung jawab sebagai suami dan kepala rumah tangga.
Arie pun tidak menceritakan apa-apa sama Bily karena dia tahu Bily dulu memang menyukai Dian, dia menjaga perasaan sahabatnya itu.
****
Maya dan Dian sedang berada di butik. Tidak lama kemudian datang seorang laki-laki tinggi tampan menemuinya. Maya yang melihat kedatangan mantan nya itu langsung beranjak dan pergi, tapi Reva menahannya.
"May, aku mau ngomong sesuatu!"
"Udah gak ada yang perlu diomongin lagi!"
"Aku mau penjelasan Maya, kenapa kamu mutusin aku tiba-tiba?" tanya Reva.
Maya Bena geram dengan pria tidak tahu diri seperti Reva ini. Membuat kesalahan tapi tidak menyadarinya.
"Ciih, gak perlu ada penjelasan, pergi dan urus saja Ana mu itu!" jawab Maya ketus kemudian berlalu dari hadapan Reva.
Deg!
Reva mematung mendengar penuturan dari Maya. Apa itu artinya Maya sudah mengetahuinya? batin Reva.
"May, tunggu!"
Reva berusaha mengejar Maya namun dihalangi oleh Dian.
"Mau membeli baju mas?" tanya Dian kemudian.
"Eh anu, aku cuma mau ngomong sama Maya"
"Maaf, Maya lagi tidak enak badan, sebaiknya anda keluar kalau memang sudah tidak ada lagi urusan, permisi," ucap Dian ketus kemudian meninggalkan Reva yang masih berdiri ditempat nya.
Maya menangis didalam ruangan tempatnya. Dia masih sakit hati melihat wajah mantan kekasihnya itu.
"Dasar cowok brengsek, gak tau diri! Hiks!!"
Dian datang dan menenangkan sepupunya itu, dia memeluk Maya membiarkan nya menumpahkan air mata. "Udah May, sabar ya?"
Di luar butik Reva mengusap kasar wajahnya
Dia juga menarik rambutnya frustasi. Sungguh tidak menyangka pertemuan dengan Ana mantan kekasih sewaktu SMA nya itu kembali menumbuhkan rasa, dan dengan ajakan Ana yang terus menerus ingin bertemu, membuat Reva khilaf dan jatuh ke pelukan Ana lagi. Dia berharap Maya tidak mengetahui nya karena bagaimanapun Reva juga sangat mencintai Maya.
Tapi sekarang sepertinya semua sudah diluar pemikirannya. Ternyata Maya telah mengetahui perselingkuhan nya. Reva mencengkram kemudi nya dan memukul frustasi. Dia menghubungi Maya berkali-kali tidak bisa karena nomernya telah diblokir. Akhirnya dia pergi dari butik melajukan mobilnya dengan sangat kencang.
Pikirannya berkecamuk, disisi lain dia tidak mau kehilangan Maya, tapi dia juga bingung dengan perasaan nya dengan Ana. entah kenapa mantannya itu kembali dan menginginkan mereka bersama.
Masih adakah harapan untuk nya kembali bersama Maya, lalu bagaimana dengan Ana. Sudah sebulan ini mereka menjalin hubungan lagi.
Reva meneteskan bulir air matanya, merasa sesak di dadanya karena tidak pernah menyangka akan terjadi hal seperti ini. Sungguh dia tidak ingin kehilangan Maya. dia harus membuat keputusan. Tapi dia juga masih bingung karena bagaimanapun Ana juga sudah mengisi sisi hatinya sebulan ini.
BERSAMBUNG
Minta dukungan nya ya kakak readers untuk like dan vote nya dari kalian semuanya.๐๐
__ADS_1
Terimakasih๐๐๐