Skandal Sang CEO

Skandal Sang CEO
BAB 66 ( Season 2 )


__ADS_3

Happy Reading.


Andara melihat Arie yang melenggang pergi setelah mengantar pulang Tiya, "nak, mau kemana?"


"Mau kerja kelompok Bun, Arie pergi dulu ya," pamit cowok itu sambil menyalami sang Bunda.


"Itu diluar rame banget, ada siapa?" Andara penasaran karena terdengar suara berisik di depan rumah.


"Itu Bund, temennya Tiya, Arie pergi dulu ya Bund, Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumsalam!"


Setelah itu Arie keluar dari rumah dan Andara hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.


"Apa kamu persis seperti Ayah Nak?" Gumam Andara.


****


Bily memandang ponselnya yang sudah redup itu, detikannya juga sudah berhenti yang artinya Dian mematikan panggilannya.


"Wah Wah, lancang banget berani matiin telepon nya, dasar gadis aneh, untung dia cantik,, pake banget," Bily ngedumel karena tidak terima telepon nya di matikan sepihak oleh Dian.


"Tapi gue suka sama cewek yang kek gini!" Seulas senyuman tercetak di bibirnya.


"Lo ngapain sih bro, ngedumel gak jelas kaya gadis di tinggal pacarnya," ucap Arie yang berada di sofa kamar tidur Bily.


Arie langsung ke rumah Bily setelah tadi sore ada drama hebat antara Serli, Tiya dan dirinya. Serli yang tiba tiba datang ke rumah Arie karena tidak sabar menunggunya, akhirnya bertengkar dengan Tiya.


Mereka memang selalu begitu. Arie yang tidak mau ambil pusing dan hanya meninggalkan mereka berdua di halaman rumah nya. Membiarkan mereka bertengkar berdua karena dia langsung meluncur ke rumah Bily.


"Tadi di restoran gue ketemu cewek cantik bro, kayak nya gue tertarik sama dia, tapi dia sok jual mahal gitu, udah gue telepon tapi dia kayaknya gak suka gue telepon deh, langsung dimatiin padahal kan gue belum selesai ngomong," ucap Bily panjang lebar menceritakan tentang percakapan nya tadi sama Dian.


"Rekor baru donk, berarti ada cewek yang nolak lo!" jawab Arie tertawa sambil berlalu pergi ke luar kamar menuju dapur mengambil minuman nya.


Bily bersungut-sungut. "Lihat saja, gue pasti bisa dapetin tuh cewek," ujar Bily sambil tersenyum. Dia merasa tertantang karena selama ini tidak ada yang bisa menolak pesona seorang Bily.


"Lo emang gak bisa merem kalau liat yang cantik-cantik," Arie duduk kembali ke sofa membawa minumannya.


"Kalau lo yang lihat nih Ar, pasti lo juga bakal suka sama tuh cewek, dia nggak kaya cewek lo, tapi dia tuh cantik alami tanpa polesan!"


"Etdah, gue ngantuk! Numpang tidur gue!" Arie langsung merebahkan dirinya di sofa dan langsung menutup mata.


Bily hanya bisa komat kamit karena sahabatnya itu selalu seenaknya saja. Padahal Bily tahu kalau Arie sedang menghindari duo cewek yang selalu merebutkan nya.


****


Keesokan paginya.


Disebuah rumah bergaya minimalis berlantai 2, dua orang wanita cantik sedang sibuk berkutat di dapur sedang memasak sarapan nya. Dian dan Tante Dea sedang sibuk dengan olahan masakan mereka.


"Dian, hari ini kamu masuk kuliah, Tante harap kamu bisa cepat beradaptasi, nanti kamu berangkat bareng Maya ya, tumben nih anak jam segini belum nongol," ucap Tante Dea sambil menata masakan di meja makan.


"Iya Tante, ehmm mungkin Maya belum bangun, kalau gitu Dian mau mandi dulu ya Tan, sambil nunggu yang lain," pamit Dian sambil berlalu menuju kamarnya untuk mandi, memang jam masih menunjukan pukul 06.00 tapi Dian sudah terbiasa bangun pagi ketika tinggal bersama orang tuannya di Jogja.


Dian kuliah sudah semester 4. Di Kotanya dulu dia kuliah di salah satu universitas terbaik. Dia mahasiswi yang cerdas dan baik. Dia selalu aktif masuk kelas tanpa pernah membolos kecuali kalau sedang sakit.


Maka dari itu tidak susah untuk nya bisa langsung melanjutkan study nya di salah satu universitas di Jakarta ini. Ya, Dian memutuskan untuk pindah kuliah karena masalah di masa lalu.


Dian mengambil jurusan designer. Sama dengan Maya, karena keluarga mereka termasuk yang menekuni bisnis dalam membuat pakaian.


Ibu Dian juga seorang yang handal dalam membuat rancangan nya. Begitu pula dengan Tante Dea.Tapi dia lebih memilih membuka butik nya sendiri.


Setelah kurang lebih 25 menit, Dian telah selesai melakukan ritual mandi dan berdandan dengan natural. Dia memutuskan untuk langsung menuju ruang makan yang dimana sudah lengkap dengan Om dan tantenya. 4 orang itu tersenyum melihat Dian datang dan langsung menarik salah satu kursi untuk duduk.


"Semua sudah lengkap, sekarang kita sarapan. Om juga pagi ini ada meeting, jadi harus sarapan yang banyak." Ujar Om Roni yang diangguki oleh semua orang.


Akhirnya mereka semua memulai sarapan dengan tenang, tidak ada yang berbicara saat makan. Karena itu memang sudah peraturan dirumah ini.


Setelah menyelesaikan makanannya, Dian bersiap untuk berangkat ke kampus bersama Maya. Sedang Eva diantar Om Roni ke sekolah, karena letak sekolah Eva yang searah dengan kantor Ayahnya. sedangkan Maya berlawanan arah.


"Si Bily masih menghubungi lo nggak Di?" Tanya Maya.


"Nggak, males banget deh lo bahas-bahas dia, jangan-jangan lo naksir sama dia ya?"

__ADS_1


"Enak aja, gue udah punya cowok kali!"


"Hahaha, makanya nggak sok comblangin gitu lah, gue masih berusaha move on ini!" Akhirnya setelah itu keduanya diam karena Maya tahu apa yang dialami oleh Dian sebelum memutuskan untuk pindah ke Jakarta.


Setelah sampai di kampus Dian dan Maya langsung masuk ke kelas mereka karena dosen juga akan segera datang.


*******


"Rie, di fakultas sebelah ada mahasiswi baru yang lagi jadi idola," bisik Aldo di telinga Arie.


Mereka masih berada di dalam kelas saat ini.


"Hemm!"


"Kok cuma hemm doank? Buat cadangan kalau bosan sama Serli!"


Arie menatap Aldo mendelik, merasa tidak suka dengan ucapan sohibnya itu.


"Ealah, gue kira lo nggak serius sama Serli," Aldo masih berusaha menggoda Arie.


"ITU YANG DI POJOK KANAN BAJU WARNA HITAM, SILAHKAN PRESENTASI KE DEPAN!" Seru dosen.


Aldo langsung kicep tidak berani bergerak. Sedangkan Arie hanya bisa tersenyum mengejek.


****


Dian dan Maya baru saja keluar dari kelas.


"Aduh,, dosennya killer banget sih May, jadi bikin laper nie perut," ucap Dian sambil tergelak.


"Emang pak Tono dosen lumayan killer, tapi gak usah takut, sebenarnya dia baik kok. Dia kaya gitu karena membuat kita makin disiplin," ujar Maya.


Mereka masih berjalan keluar kelas menuju ke kantin.


"Eh Di, sebaiknya kita makan di warung yang deket fakultas sebelah yuk, disana masakan nya enak loh dan juga harga yang bersahabat," ucap Maya


"Oke Deh, terserah kamu aja May," jawab Dian sambil menyisir rambutnya dengan jemari kemudian mengeluarkan jepitan rambut dari dalam tasnya.


Banyak para mahasiswa disana yang terpesona akan kecantikan Maya dan Dian. Terlebih untuk Dian karena mereka baru melihat sosok gadis cantik, putih, berambut lurus itu. Dengan senyuman yang sangat mempesona bisa langsung menghipnotis mata kaum Adam ketika melihat lesung pipitnya.


'Cantik banget sih, siapa gadis itu?'


'Senyuman nya bikin hati Abang meleleh dek!'


'Gila tuh cewek, senyuman nya maut banget!'


Begitulah kira kira yang terlontar dari mulut para mahasiswa yang berada disana.


Sedangkan Dian hanya acuh saja mendengar nya. Mereka telah masuk kedalam mobil dan meluncur menuju warung makan yang menjadi favorit para mahasiswa di sana.


Saat ini Dian dan Maya sedang melahap makanan yang dipesan meraka. dengan sedikit percakapan diantara keduanya yang membahas tugas kuliah.


Tiba tiba dari arah belakang ada seseorang yang memanggilnya.


"Hai Dian, Maya kalian makan disini?" ucap seorang lelaki yang tak lain adalah Bily.


Seketika Dian menoleh ke arah belakang, tiba tiba Dian mematung sepersekian detik menatap seseorang. Bukan Bily, tetapi seorang laki laki yang duduk dimeja belakang Bily. Dia adalah Arie.


Deg deg deg!


Itulah yang dirasakan Dian saat ini, tiba tiba jantung nya berdetak kencang melihat Arie yang memang begitu tampan. Tetapi saat itu Arie tidak melihat Dian yang sedang menatap nya tak berkedip.


Tetapi pandangan Dian tertutupi oleh Bily yang berjalan ke arah meja mereka.


"Hai, boleh gabung gak?" Sapa Bily yang seketika membuyarkan lamunan Dian.


"Owh boleh kok Bil, lagian kita udah habis kok makanannya," jawab Maya yang diangguki oleh Dian.


"Hai Dian, apa kabar?" sapa Bily, seketika Dian menoleh sambil tersenyum.


"Gue baik kok," jawab Dian.


"Jadi lo ngampus disini juga?" Dian mengangguk.

__ADS_1


"Wah, kebetulan donk, kita satu kampus!"


"Eheemm!!" Maya berdehem karena merasa diabaikan.


"Eh Maya, Lo juga apa kabar? pasti baik 'kan?" tanya Bily yang langsung dijawabnya sekaligus.


Maya hanya memutar bola mata nya malas. Dia sudah tahu maksud Bily datang ke meja mereka hanya untuk menyapa Dian.


Di sisi lain.


Arie hanya melihat temannya yang sedang menggoda gadis yang duduk didepannya. Namun, wajah gadis itu tidak terlihat karena tertutup tubuh Arie. Kalau sama Maya gak usah ditanya, mereka saling kenal karena dulu pada waktu SMA pernah satu kelas.


Maya pernah berhenti kuliah selama setahun. Dan mengulang lagi karena sakit.


Arie masih terus menatap punggung Bily, entah kenapa dia rasanya penasaran dengan gadis yang asing itu.


Ting!


Ponsel Arie berbunyi tanda pesan masuk.


'Yank, jemput aku ya sekarang, aku udah selesai kelas nie.'


'Oke Ser, bentar lagi gue jemput.'


Arie memang belum pernah memanggil Serli dengan kata sayang, entah kenapa tapi dia merasa tidak nyaman kalau disuruh memanggil begitu. Dia hanya suka memanggil kekasih-kekasih nya hanya dengan sebutan nama saja. Toh para gadis yang menjadi kekasih Arie tidak masalah dengan sebutan nama itu.


Arie bangkit dari duduk nya dan menghampiri Bily. Saat itu Dian memang duduk membelakanginya.


"Bro, gue balik dulu ya," pamit Arie kepada Bily.


"Oke bro, Lo pulang dulu aja, gue masih mau disini sama cewek cewek cantik." Jawab Bily sambil menaik turunkan alisnya menatap Dian.


Dian yang tidak bisa melihat orang yang berada belakangnya merasakan sebuah perasaan aneh. Apalagi setelah mendengar suara merdu yang berada di belakang nya.


'Aduh jantung, jangan copot dulu ya, cuma dengar suara saja kamu lemah banget.'


Dia sangat yakin bahwa itu suara teman Bily yang berada dibelakang tadi.


"Ya udah kalau gitu, gue cabut dulu," ucap Arie sambil berlalu.


Bily hanya mengangguk.


"Malam minggu jalan yuk Di, gue mau ngajak lo ke suatu tempat," ucap Bily.


Dian masih belum berhasil menetralkan detak jantungnya, tapi dia langsung tersadar karena Bily mengulangi pertanyaannya.


Maya yang mendengar nya pun hanya memicingkan mata ke arah Bily.


"Mau nggak Di?"


"Gimana ya Bil, gue gak enak sama Om dan Tante, lagian kan kita baru kenal, masa udah mau ngajak jalan," jawab Dian sambil melirik ke arah Maya.


'Aduh nie cowok kenapa sih, tiba tiba ngajak jalan. Kan aku gak enak sama Om dan Tante, di kiranya aku cewek gak bener kalau nerima ajakan dia.' Batin Dian.


"Memangnya Om dan Tante lo tinggal dimana?" tanya Bily.


"Dian itu tinggal dirumah gue, dia kan sepupu gue yang baru datang dari Jogja. Kalau lo mau jalan sama Dian harus dapat restu dari gue," ucap Maya yang langsung dipelototi oleh Dian


'Nie anak gak ngebantuin malah jerumusin.' Batin Dian kesal.


"Owh ternyata kalian itu saudara ya, pantesan dari kemarin gue lihat Maya sama lo terus Di."


Dian sungguh merasa tidak nyaman dengan kelakuan Bily yang terang-terangan ingin mendekatinya. Sebenarnya dia risih tapi tentu tidak enak kalau terang-terangan memperlihatkan rasa tidak nyamannya.


"He'em ... makanya lo harus traktir gue makan dulu sebagai awalan ... hahaha," seru Maya tergelak.


Dan disitulah mereka bertiga akhirnya mengakrabkan diri, terutama Bily pada Dian.


Tapi entah kenapa pikiran Dian masih tertuju kepada sahabat Bily itu.


Sepertinya dia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Meskipun begitu Dian tidak mau menanyakan perihal cowok tadi pada Bily. Biarlah dia dengan rasa penasarannya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2