
Happy Reading.
Pagi ini jam masih menunjukkan pukul 7 Andara merasakan perutnya bergejolak lagi, setelah tadi subuh sudah muntah dua kali dan tidak bisa masuk sesuap nasi pun, hanya minum susu dan secuil roti tawar.
"Jaga diri ya, kalau nggak kuat kerja kamu nggak usah kerja," ujar Axel mencium kening sang istri.
"Iya, kamu tenang aja mas, aku pasti kuat kok," jawab Andara.
Axelo menghela nafas berat, sungguh istrinya itu keras kepala sekali.
"Baiklah, aku pergi dulu, nanti kalau kamu nggak bisa ke kantor, minta supir yang nganter ya?"
"Aku bisa sendiri mas," ucap Andara.
"Baiklah, mas pergi ke kantor dulu," Andara mencium punggung tangan suaminya dan Axelo mencium kening sang istri.
Tadi malam hujan dan sekarang hujan masih rintik-rintik. Axelo membawa payung untuk sampai ke mobil. Andara melambaikan tangannya ketika mobil sang suami pergi dari halaman rumah.
Andara masuk ke dalam kamar, dia akan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
Namun tiba-tiba perut Andara terasa mual lagi.
Padahal biasanya si dedek kalau ada Ayahnya pasti anteng-anteng saja dan tidak rewel. Entah kenapa, mungkin saja anaknya itu memiliki telepati yang kuat dengan sang Ayah.
"Duh, ternyata benar yang di katakan para ibu-ibu yang lagi hamil muda kalau morning sickness itu benar-benar menyiksa," gumam Andara membasuh wajahnya di wastafel.
Menatap dirinya di cermin, terlihat pucat sekali. Andara memang tidak sakit, tapi saat perutnya mual seperti ini tiba-tiba kepalanya menjadi pusing dan badannya langsung lemas.
Perutnya masih terasa di aduk-aduk, mual itu datang lagi dan kali ini Andara sudah tidak bisa memuntahkan isi perutnya karena sudah habis tidak tersisa.
Hanya cairan bening yang keluar dari mulutnya, rasanya benar-benar pahit. Biasanya dia hanya akan mual saat pagi hari dan kalau waktu sudah menunjukkan siang mual nya sudah tidak terlalu terasa.
Padahal hari ini dia harus ke kantor karena akan ikut Arsya rapat. Axelo tidak bisa mengantar karena sedang terburu-buru juga.
"Apa aku ambil cuti dulu, ya?"
"Ah, gak-gak, mentang-mentang sekarang jabatan nya naik jadi sekretaris Presdir terus bisa cuti seenaknya, meskipun gitu tangung jawab ku tinggi," Andara bermonolog sendiri.
Terdengar suara ketukan pintu kamar dan kemudian suara Bik Sum juga terdengar.
"Nyah!! Apa anda baik-baik saja, tadi bibik denger nyonya seperti muntah-muntah!" seru Bik Sum dari luar kamar.
Andara berjalan keluar dari kamar mandi dan langsung menuju pintu.
Ceklek!
Bik Sum langsung terkejut saat pintu terbuka dan melihat keadaan wajah Andara yang nampak begitu pucat.
__ADS_1
"Nyonya sakit? Ya Allah, Nyah, kita ke dokter ya buat periksa," Bik Sum panik dan memapah Andara untuk duduk di atas ranjang.
"Gak perlu, bik, bibik lupa kalau aku lagi hamil, jadi udah wajar kalau mengalami morning sickness," jawab Andar lemah.
"Oh iya, Nyah, bibik lupa, terus bibik harus gimana Nyah?"
"Tolong bibik ambilkan kotak p3k yang ada di lemari itu, di sama ada beberapa obat dan juga tolong ambilkan tas yang besar di sana," tunjuk Andara di sebuah lemari kaca khusus dia menyimpan tas-tasnya.
Bik Sum langsung bergegas mengambil kotak p3k dan juga tas besar milik Andara yang berada di lemari khusus.
"Ini, nyah!"
"Terima kasih, bik," Andara membuka kotak tersebut dan mengambil obat pereda mual dan juga obat penambah darah, tidak lupa asam follat dan calsium yang harus di konsumsi ibu-ibu hamil.
Tadi Andara belum sempat minum obat-obatan nya. Biasanya kalau sudah minum obat pereda, mualnya menjadi sedikit berkurang.
Mungkin juga karena belum meminum obatnya, mual nya menjadi lebih sering dan juga agak sedikit pusing. Kemarin setelah di cek HB juga rendah, Andara kekurangan darah dan bisa jadi itu yang mengakibatkan nya pusing.
Sepertinya Andara tidak bisa bekerja hari ini, dia harus menghubungi atasannya.
"Halo Pak Arsya, saya sepertinya ambil cuti dulu, hari ini mual saya lebih sering dan sedikit pusing."
"Iya Dara, saya sudah mengizinkan kamu untuk berhenti kerja, Axel sudah meneror saya agar segera mencari sekretaris baru, jadi mulai hari ini dan seterusnya kamu tidak perlu masuk kerja lagi."
Andara melongo, ternyata suaminya bergerak cepat. Setelah itu Arsya memutuskan panggilannya.
"Bik, ngidam tuh rasanya kek gini, ya? Aku sering di kasih tahu sama teman-teman ku dulu, tentang apa saja yang di alami seorang ibu pada masa-masa kehamilan, yang paling susah saat trimester pertama, bibik dulu juga seperti itu?" tanya Andara pada Bik Sum.
"Iya, Nyah, saya malah tepar sampai Lima bulan gak bisa ngapa-ngapain, Nyah! Teler bibik, untung suami bibik siaga, dia yang urus semuanya saat bibik gak bisa ngapa-ngapain, tapi Alhamdulillah sekarang anak bibik udah jadi orang yang berguna, sudah punya anak satu," cerita Bik Sum.
Bik Sum aslinya orang Jawa Timur, tapi dia mendapat suami orang Bandung dan suaminya sekarang sudah meninggal. Dulu suami Bik Sum juga bekerja di keluarga Airlangga sebagai tukang kebun.
"Katanya sih, kita harus menikmati masa-masa seperti ini, karena masa-masa ini gak akan terulang lagi kalau kita gak hamil, jadi di nikmati aja, ya bik?" Bik Sum mengangguk.
"Tapi Nyonya tidak boleh telat makan, nanti mau makan apa, nyah? Hujan-hujan gini biasanya seger yang kuah-kuah," ucap Bik Sum menawarkan menu makan siang untuk Nita.
Andara terlihat berpikir, mungkin sop ayam kampung sedikit lezat kalau di makan pas hujan-hujan seperti ini.
"Kalau sop ayam kampung gimana, bik?" tanya Andara.
"Wah, kebetulan Nyah, kemarin bibik baru belanja daging Ayam, baiklah Nyah, bibik tak masak dulu, nyonya istirahat saja," Bik Sum kemudian keluar dari kamar Andara setelah membereskan barang-barang yang tadi ada di atas nakas.
Andara sudah ngiler membayangkan kelezatan kuat sop ayam buatan asisten rumah tangganya itu.
Sedangkan di sisi lain.
Axelo baru saja mendapatkan pesan dari Bik Sum yang mengatakan bahwa istrinya baru saja muntah-muntah, setelah kepergian nya ke kantor.
__ADS_1
Sebenarnya dia ingin sekali menghubungi sang istri dan menanyakan bagaimana keadaannya, tapi urung karena Axelo akan ada rapat sebentar lagi.
Axelo hanya memberi pesan pada Bik Sum agar menjaga Andara dan tidak boleh sampai telat makan. Sebenarnya tanpa di ketahui oleh Andara, Axelo selalu memantaunya lewat Bik Sum, karena istrinya sedang hamil muda dan juga masih sering mengalami morning sickness.
Sebenarnya Axelo sudah meminta Andara untuk berhenti bekerja, dia itu istri CEO tapi mau bagaimana lagi, Axelo pasti kalah dengan argumentasi sang istri.
"Permisi, pak, anda sudah di tunggu di ruang rapat, hari ini pak Jefri datang menghadiri rapat, entah kenapa tiba-tiba orang itu hadir di perusahaan," ucap Farel.
"Jefri, mau buat ulah apa lagi, dia!" Axel segera berdiri dan berjalan keluar ruangan bergegas menuju ruang rapat karena ingin melihat ulah apa lagi yang akan dilakukan oleh sepupu jauhnya itu.
Sebenarnya Jefri dan Axel memang tidak memiliki masalah serius apalagi yang pribadi, dia memiliki 5% saham di perusahaannya. Sepertinya mungkin pria yang lebih tua darinya setahun itu ingin mengembangkan saham atau mau menambahkan lagi, Axelo tidak tahu apa yang dipikirkan pria itu.
Pada saat berjalan menuju ruang meeting, tiba-tiba ponselnya yang ada di dalam saku bergetar, Axelo memang memode silent saat akan rapat seperti ini.
Melihat istrinya yang menelepon, Axelo langsung mengangkat nya.
"Halo, iya sayang?"
"Mas, aku pengen di peluk kamu!"
Axelo melongo mendengar permintaan sang istri.
"Tapi aku sedang ada rapat penting, nanti ya setelah rapat."
"Gak mau, maunya sekarang di peluk sama kamu, aahkk!"
"Tapi ..."
"Ya udah deh, mas rapat aja, aku mau di peluk sama orang lain, aja!"
"Jangan!"
Axelo segera menutup panggilannya dan langsung berjalan dengan sedikit tergesa.
"Farel, kamu handel dulu rapatnya, aku pasti kembali setelah selesai urusan," ujar Axelo pada asisten pribadinya itu.
"Tapi Pak!"
"Ini darurat, nanti saya janji nggak akan lama!"
Pada saat Axelo akan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba dia mendapatkan telepon dari Andara.
"Halo sayang, ini mas akan pulang, kamu jangan cari pria ...!"
"Mas, aku di depan mu!"
Bersambung.
__ADS_1