Skandal Sang CEO

Skandal Sang CEO
BAB 56


__ADS_3

Happy Reading.


"Yang telepon Anin, mas angkat aja, siapa tahu penting," ujar Andara.


Axelo mengangkat panggilan itu dengan sedikit malas sebenarnya, dia sudah turn on loh, tapi di gagalkan dengan telepon dari adik iparnya.


Axelo menggeser icon hijau di ponsel Andara dan mengaktifkan mode loud speaker.


"Halo?"


"Halo, Kak Axel,, apakah Kakak sedang bersaman dengan Kak Dara? Tolong bilang sama kakak kalau Ayah Bagus kecelakaan."


Andara yang juga mendengar berita tersebut tentu saja sangat terkejut. Andara langsung terburu-buru berlari ke arah koper dimana pakaiannya berada.


"Astaghfirullah, sekarang keadaan Ayah gimana? ada dirumah sakit mana?"


"Ayah masih diruang operasi kak, sekarang kita ada di rumah sakit Medical Husada, maaf mengganggu ya kak, tapi kami harus segera mengabarkan berita ini."


"Iya, tidak apa-apa, aku dan Dara akan segera meluncur ke sana."


Axelo memutuskan panggilan itu.


"Mas, ayo cepat ke rumah sakit!" seru Andara.


"Iya sayang, pakai baju yang benar dulu ya?"


Axelo juga panik luar biasa, dia membantu Andara untuk berbenah dan langsung meluncur ke rumah sakit.


Di sana sudah ada Mama Siska dan Aninda, mereka menunggu di depan ruang operasi karena kecelakaan itu membuat Ayah Bagus kritis. Andara langsung memeluk Ibunya dan menangis tersedu.


"Sabar sayang, kita doakan Ayahmu agar selamat," bisik sang Ibu.


Axelo menghubungi Ayahnya dan sang kakak, mengatakan jika Ayah mertuanya mengalami kecelakaan tunggal. Di duga Pak Bagus mengendarai motornya sambil mengantuk dan dengan kecepatan tinggi menabrak pembatas jalan.


Selang satu jam Arsya dan Ayah Adam datang ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi besannya itu.


"Bagaimana keadaan Ayahmu, Dara?"


"Masih belum keluar dari ruang operasi Yah," jawab Andara lirih.


"Mudah-mudahan segera mendapatkan penanganan dan keluar dari kritisnya."


"Aamiin!"


****


Andara, meskipun selama belasan tahun harus kehilangan sosok dan figure seorang Ayah, tapi tentu saja dalam hatinya yang terdalam dia menyayangi ayahnya itu.


Di balik kebencian dan kekecewaan seorang anak, ada sebersit rasa cinta untuk lelaki yang menjadi cinta anak perempuannya. Andara tidak pernah menyangka jika Ayahnya akan mengalami kecelakaan setelah berhasil mengantarkan nya menjadi seorang istri.


Andara, adik dan ibunya juga sudah sepenuh nya memaafkan kesalahan Ayahnya dimasa lalu, meskipun Ayah dan ibunya tidak bisa bersama lagi karena sang ibu telah menggugat cerai Ayahnya, tapi Bagus telah memberikan uang untuk ketiganya dengan nominal 500 juta masing-masing orang.


Mungkin menurut Andara dan Adiknya itu memang tidak seberapa, tapi Bagus benar-benar menyisihkan sisa hartanya untuk kedua putri kandungnya serta mantan istrinya itu.


Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, sudah dua hari Andara dan Axelo menjadi suami istri, dan sampai saat ini mereka belum pernah tidur bersama kembali.


Andara masih setia menemani Ayahnya di rumah sakit dan Axelo selalu setia di samping sang istri. Hari ini adalah hari ke tiga mereka menjalani kehidupan rumah tangga. Tetapi mungkin ini akan menjadi hari terakhir mereka menginap di rumah sakit, karena tepat jam 6 pagi ini Ayah Bagus telah di panggil oleh yang maha kuasa.


Tepat dua hari Ayah di rawat karena kondisinya yang kritis hingga akhirnya beliau tidak kuat dan tidak bisa bertahan.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un!"


"Ayah!!" Andara dan Aninda memeluk jenazah sang Ayah yang sudah terbujur kaku itu.

__ADS_1


Rasanya sungguh tidak percaya bahwa Ayahnya yang baru kembali akhirnya pergi lagi untuk selamanya. Meskipun keadaan mereka juga sudah berdamai tapi tetap saja menyisakan penyesalan yang mendalam di hati Andara.


"Kenapa Yah, kenapa Ayah pergi!! Apa Ayah benar-benar nggak sayang sama Dara! Kenapa Ayah tidak bertahan, hiks!" Air mata Andara mengalir deras. Sungguh tidak akan pernah ada yang tahu umur seseorang.


Andara bisa merasakan pelukan terakhir ayahnya saat pernikahan nya kemarin lusa dan dia benar-benar tidak menyangka jika itu adalah pelukan terakhirnya dengan sang Ayah.


"Allah lebih sayang kepada Ayah, kita harus mengikhlaskan kepergiannya, sayang," bisik Axelo yang sebenarnya juga merasakan kesedihan yang mendalam.


Axelo tahu sendiri bagaimana terpuruknya Andara saat ayahnya itu tiba-tiba kembali dan dia selalu memberi dukungan terhadap istrinya.


"Tapi kenapa secepat ini mas, aku sudah menerima Ayah kembali, aku masih ingin bisa bersamanya, melihat Ayah lebih lama lagi dan menggendong cucunya dariku," isak tangis Andara tak terelakkan.


"Sssttt, semua ini sudah takdir, Ayah juga pasti sudah merasa lega dan bahagia di sana karena anak-anaknya telah menerimanya dan memaafkan," Axelo memeluk istrinya. Mengelus punggung bergetar sang istri.


Axelo bisa merasakan bagaimana kesedihan yang menimpa sang istri kala menemaninya menjaga Ayah. Terlihat penyesalan dan kesedihan yang mendalam di wajah Andara.


Axelo sendiri lebih memilih cuti lama dari pekerjaannya agar bisa fokus dengan istri dan Ayah mertuanya.


Untung saja dia adalah pemilik perusahaan itu dan dia bisa meminta tolong pada Ayahnya untuk menghandle sementara.


Axelo berjanji akan menghadapi apapun yang akan menjadi penghalang di kehidupannya, melangkah bersama istrinya tanpa harus takut terjadi sesuatu yang akan membuat rumah tangga mereka goyah.


Karena Axelo yakin kekuatan cinta nya dan Andara akan selalu kuat walau di terpa badai dan akan selalu dikokohkan dengan berlandaskan kepercayaan dan kesetiaan.


Mama Siska dan Aninda juga sama merasakan kesedihan yang mendalam, tapi keduanya lebih memilih mengiklankan kepergian sang Ayah.


***


Kabar duka masih menyelimuti keluarga Andara. Meskipun tidak banyak yang melayat karena Bagus termasuk orang tidak dikenal disana dan sudah tidak memiliki keluarga tapi Mama Siska, kedua putrinya dan menantunya dengan ikhlas memakamkan Bapak Bagus Soetomo karena masih memiliki nasab yaitu Andara dan Aninda.


Arsya dan Adam juga menyempatkan untuk melayat dan juga memberikan semangat kepada Andara dan Ibunya.


Andara hanya termenung dengan tatapan kosong, entah kenapa dia sekarang merasa menyesal karena dulu pernah membenci ayahnya.


Andara bisa mengambil semua pengalaman dan hikmah dibalik segala peristiwa itu.


"Sayang, makan dulu, ya? kamu belum makan sejak pagi," Axelo menyodorkan semangkuk bubur ayam yang di buatkan oleh Aninda.


"Aku belum lapar, mas. Nanti saja," jawab Andara menolak makan.


"Tapi kalau kamu nggak makan nanti sakit, sayang, ayo aku suapi," Axelo masih kekeh meminta sang istri membuka mulutnya. Tapi Andara sama sekali tidak berselera.


Axelo sudah membujuk berkali-kali tapi tetap istrinya masih belum mau makan, dia juga belum mengisi perutnya karena tidak mau makan sendirian.


Tok, tok, tok!


Terdengar suara ketukan di pintu. Axelo menoleh dan melihat Aninda masuk ke dalam kamar dengan senyum sendu. Aninda bisa melihat jika bubur kakaknya belum dimakan sama sekali.


Axelo juga menggelengkan kepalanya tanda jika Andara masih belum mau makan. Aninda berjalan menuju sisi ranjang dimana kakaknya sedang duduk termenung.


"Kak, ayo donk di makan, nanti keburu dingin, kak Dara nanti juga sakit loh kalau gak mau makan," ucap Aninda menasihati. "Apa kakak mau terus seperti ini, Ayah akan tenang jika kakak ikhlas, kakak juga jangan merasa bersalah karena kakak juga sudah mau menerima Ayah 'kan? Jadi Anin mohon untuk kakak tidak terlalu larut dalam kesedihan."


Andara menoleh ke arah Aninda dan langsung memeluk adiknya itu.


"Anin, apa kabarnya kamu? Apa kamu baik-baik saja? Kakak mendengar kabar bahwa kamu dan Raka memutuskan bercerai?" Tanya Andara yang baru diketahui belum lama ini.


Ternyata selama ini rumah tangga adiknya tidak baik-baik saja bahkan sedikit bermasalah.


Aninda melepaskan pelukannya. Merasa sedikit sakit dan nyeri di hati kala mengingat kembali jika rumah tangganya di ujung tanduk dan Aninda baru bisa bercerita setelah Ayahnya masuk rumah sakit.


"Iya, kak. Kami memutuskan untuk bercerai," jawab Aninda tersenyum pedih.


"Loh, memangnya kenapa? Bukankah kalian saling mencintai? Kakak beneran nggak tahu kalau ternyata hubungan kalian harus kandas, apalagi sudah ada Evan?" Dan hal inilah yang juga semakin membuat Andara bersedih. Kabar rumah tangga Aninda yang tidak baik-baik saja. Padahal lusa waktu pernikahan nya, Rafa juga masih ikut ke Jakarta.

__ADS_1


Siapa yang menyangka jika sebenarnya keduanya memendam masalah seperti itu.


"Anin masih labil, kasian kak Rafa. Anin gak ingin membuat kak Rafa merasa di kekang dengan ikatan pernikahan kami kak," jawab Aninda tersenyum pedih.


Senyum yang sedikit di paksakan terlihat jelas di wajah Aninda. Andara juga hanya bisa menasihati adiknya karena masalah rumah tangga Aninda sudah bukan lagi tanahnya.


"Sabar ya, sayang. Pasti di balik semua ini ada hikmah yang besar. Kalau misal masih bisa diperbaiki, coba kalian berusaha ," ucap Andara.


"Iya, kak,, kakak juga harus kuat dan sabar, sekarang kan kakak udah gak sendirian, ada kak Axelo yang menjaga kak Dara, jadi mulai sekarang kalian harus memulai kehidupan yang baru, ini bukan akhir dari perjalanan cinta kalian, tapi sebuah awal dari kisah perjuangan rumah tangga, kalian harus bisa menjaga bahtera rumah tangga, jangan seperti Anin, yang ada nanti hanya penyesalan," ujar Aninda.


Axelo dan Andara saling memandang, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya di alami Aninda dan Rafa dalam pernikahan mereka yang sudah cukup lama terjalin itu. Yang pasti semua itu mungkin pilihan yang terbaik untuk keduanya.


###


Seminggu kemudian.


Setelah tujuh hari wafatnya sang Ayah, dan Andara juga Axelo menginap di rumah Mama Siska, kini saat Axelo memboyong Andara ke rumahnya. Bukan ke apartemen.


Andara masuk ke dalam kamar dan menatap sekeliling. Kamar yang sangat jarang tempati oleh Axelo ini sangat khas dengan aroma lelaki.


Axelo hanya beberapa kali menginap dirumah ini karena dia lebih suka pulang ke apartemen.


Kamar itu bersih, rapi dan harum aroma maskulin adalah kesan pertama yang di lihat oleh Andara.


"Istirahat dulu, sayang, nanti setelah itu kita makan malam, ada asisten yang sudah menyiapkan," ucap Axelo menyentuh pundak istrinya, membuat Andara reflek menoleh.


"Kamarmu lumayan besar, kasurnya juga besar, muat untuk 4 orang, apa dulu mas sering mengajak teman menginap?" tanya Andara spontan.


Axelo tertawa kecil, kenapa pikiran istrinya itu selalu saja curiga. Apalagi setelah Andara menjadi istrinya, banyak wanita cantik yang tersenyum menggoda ke arah Axelo.


Pria itu juga tidak pernah membawa Laura ke rumah itu, dan memang rumah yang spesial bagi Axelo untuk Andara.


"Kok tertawa sih," sungut Andara kesal. Membayangkan Axelo yang berpelukan dengan Laura di atas ranjang itu.


Axelo memeluk Andara dari belakang, menghirup aroma vanila di ceruk leher istrinya itu.


"Kamarku ini adalah wilayah pribadi, tidak ada yang boleh masuk ke dalam sini, aku paling tidak suka kalau area pribadiku di lihat oleh orang lain kecuali asisten pribadi ku, jadi jangan berpikir macam-macam donk, sayang? Kalau kamu berpikir aku pernah mengajak Laura, jawabannya tidak pernah, dia tidak tahu tempat ini, begitupun di apartemen, aku tidak pernah mengajaknya masuk ke kamar," bisik Axelo merasa senang karena Andara cemburu.


Andara merasa malu karena dia kesal sendiri setelah mengingat hubungan suami dengan kakak sepupunya itu.


"Sayang, aku tahu aku pernah salah dan khilaf, tapi dengan semua pengalaman ku itu bisa membuat ku semakin yakin dan memantapkan diri untuk meminang mu, aku juga tidak akan berani bermain wanita dibelakang mu karena melihat mu menderita itu juga penderitaan untukku, buatlah segala macam ujian dan cobaan sebagai pengalaman hidup.


"Maaf, entah kenapa aku sekarang menjadi sedikit posesif, maafkan aku," ucap Andara menunduk.


Axelo membalikkan tubuh Andara dan menatap wajah sang istri. "Kenapa minta maaf? aku malah suka dengan sikap mu yang seperti ini, sikap posesif seorang Andara itu langka, jadi jangan merasa bersalah," ucap Axelo.


Wajahnya menunduk untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah sang istri. "Andara, aku sangat mencintaimu, aku bersyukur bisa memiliki mu, mulai saat ini kita akan mulai hidup baru kita di sini, aku yakin kita akan bisa melangkah bersama mengarungi bahtera rumah tangga ini penuh cinta, aku akan menjadi nahkoda untuk membimbing mu mencapai dermaga cinta, kamu adalah segalanya untukku," ucap Axelo sangat dekat, bahkan Andara bisa merasakan hangatnya napas Axelo menyapu bibir dan hidungnya.


"Iya mas, aku siap menjalani kehidupan rumah tangga ini, bimbing aku, suamiku," jawab Andara tersenyum.


Axelo memajukan wajahnya mencium bibir Andara. Memagut dan saling menautkan lidah, menyecapi rasa manis pada bibir masing-masing.


Axelo mendorong Andara ke arah ranjang tanpa melepaskan tautannya. Merebahkan tubuh mungil itu dan mengukung di atas tubuh sang istri dengan masih saling berciuman.


Ciuman itu semakin menuntut dan panas, Axelo merasakan sesuatu yang mendesak ingin di puaskan.


"Malam ini, bolehkan aku meminta hakku?" tanya Axelo dengan mata yang berkabut.


Andara tersenyum dan mengangguk membuat Axelo benar-benar bahagia. Selama ini dia memang belum berani meminta hak karena masih dalam masa berkabung. Tapi saat ini dia sudah tidak tahan untuk bisa menyatukan dirinya di dalam tubuh istrinya.


Malam pertama yang gagal harus bisa terealisasikan malam ini dan dia akan menjadikan Andara miliknya seutuhnya.


Bersambung.

__ADS_1


Di skip apa gak nih malam pertama nya??😁😁


__ADS_2