
Happy Reading.
Andara merasa sangat mengantuk, seharian dia belum istirahat karena kesibukan yang harus segera dituntaskan. Arsya juga pasti tidak ingin berlama-lama di tempat ini karena itu mereka bekerja dengan keras agar semuanya cepat rampung dan tinggal pembangunan nya saja.
Tapi anehnya kenapa malah Axelo yang menyusul mereka kesini, sebenarnya apa sih mau dia? Kenapa juga langsung merecokinya dan kenapa tidak menemui Arsya saja. Andara hanya bisa menghela nafas, masa iya hanya karena kangen, Axelo sampai nekat menyusulnya ke sini.
Memang Andara juga rindu, tapi karena pekerjaannya dia harus LDR untuk sementara waktu dekat sang kekasih, nggak sampai seminggu kok, tapi Axelo sudah uring-uringan di telepon, bahkan chat nya di penuhi oleh pria itu.
'_Aku ngga ngerti jalan pikiran mu mas, apa iya kamu se-kangen gitu sampai nekat ke sini??_ batin Andara.
Wanita itu melihat di atas ranjangnya dan Axelo yang masih terlelap, sungguh dia tidak tega jika membangunkan pria itu. Terlihat sekali jika Axelo sangat kelelahan, buktinya dia langsung tidur begitu saja.
Andara memutuskan untuk tidak di sofa saja, dia tentu tidak mau jika harus seranjang dengan Axel, meskipun percaya jika pria itu tidak akan pernah berani melakukan apa-apa terhadap dirinya, tapi Andara tahu batasan.
Akhirnya Andara merebahkan tubuhnya di sofa yang lumayan besar itu, dia tidak mengambil bantal karena sudah ada bantal sofa. Akhirnya tanpa menggunakan selimut, Andara masuk ke dalam alam mimpi dengan sangat mudah karena lelahnya tak terhingga.
Axel terbangun saat tengah malam, tidurnya begitu nyenyak sampai-sampai dia tidak tau kapan tepatnya tertidur. Maklum dua malam ini Axelo benar-benar tidak bisa tidur dengan tenang, tapi sekarang dia seperti orang semaput saja.
Tiba-tiba Axel melihat sekeliling, dia ingat jika semalam dia menyetir sendiri ke tempat Andara, dan dimana wanita itu sekarang?
Mata Axelo tertuju di atas sofa, Andara tidur meringkuk di sana. "Ck, kenapa dia keras kepala sekali!" Axelo terbangun dan berjalan menuju sofa dimana Andara meringkuk seperti bayi.
Kemudian pria itu meletakkan tangannya di leher dan kaki Andara, mengangkat wanita itu seperti mengangkat guling saja. Setelah membaringkan Andara di atas kasur, Axelo memutuskan untuk ke kamar mandi.
Sedangkan di sisi lain.
Laura juga sama gelisah nya dengan Axelo, dia juga takut kalau-kalau Arsya melakukan hal yang sama dengan nya. Yaitu main hati dengan sekretarisnya. Dua hari ini Arsya begitu sulit dihubungi, kadang tidak terhubung sama sekali.
__ADS_1
Perasaan Laura was-was, seperti malam ini, dia juga tengah melakukan panggilan biasa dengan Arsya, nanti kalau sudah diangkat dia akan mengalihkan ke mode video call. Laura hanya ingin tahu malam itu Arsya tidak tidur dengan siapa-siapa.
Satu kali, dua kali, tiga kali dering panggilan itu baru di angkat.
"Halo sayang, maaf tadi sedang ke kamar mandi, di sini sinyal juga terkadang tidak bagus, bagaimana harimu dengan Putri?"
Laura merasa terharu dengan perhatian Arsya, sebelum menjawab pertanyaan suaminya, Laura kemudian mengalihkan panggilan ke mode video call. Tidak butuh waktu lama untuk Arsya mengangkat nya.
"Aku kangen mas," lirih Laura setelah melihat wajah sang suami. Kenapa sekarang dia jadi seperti ini, kangen terus dan ssmakin posesif. Dulu saja sering ditinggal tapi tidak pernah serindu ini.
"Mas juga kangen, ini mungkin besok kalau selesai sorenya langsung pulang, makanya Andara aku suruh kerja keras agar semual segera terselesaikan."
"Emm,, Andara memang pekerjaan keras ya? Dia sekarang dimana?"
Duh, Laura ingin sekali memukul bibirnya yang keceplosan bertanya. Kan nanti dikira dia yang tidak percaya atau curiga dengan Arsya.
"Axel di sana? Memangnya ada acara apa?"
Arsya terkekeh, "katanya ada pekerjaan yang dekat dengan sini, di minta alamat tempat ini dan hotel kami menginap, terus sekalian aku kasih nomor kamar Andara."
Laura kali ini melotot sempurna.
"Jadi Axel kesana mau nyamperin Andara? Segitunya ya, dia benar-benar cinta sama Andara, syukurlah."
Arsya memandang wajah istrinya, sepertinya memang sudah tidak ada lagi rasa yang tersisa untuk Axelo. Karena terlihat dari mimiknya yang tersenyum tulus ketika mengatakan jika Axelo sudah mencintai Andara. Arsya juga lega, meskipun pernah kecewa tapi dengan perubahan sikap Laura dan Axelo ini, mereka membuktikan jik keduanya benar-benar telah usai.
"Tapi kenapa mas ngasih nomor kamar Andara? Kenapa nggak kamar mas Arsya aja?"
__ADS_1
"Nggak apa-apa, kasian mereka kangen, lagian mas yakin kon kalau Axelo tidak akan berbuat macam-macam dengan Andara."
Setelah mengobrol cukup lama dan saling menuntaskan rindunya akhirnya Laura pamit untuk tidur, dia juga sudah tidak sabar untuk esok hari, katanya suaminya pulang. Dan Laura kali ini siap untuk melepaskan KB nya. Dia akan nambah anak agar suaminya juga tambah sayang dan betah dirumah.
*****
Andara merasakan tubuhnya didekap erat oleh seseorang, rasanya begitu hangat. Menjalar ke seluruh tubuhnya. Andara langsung membuka matanya lebar-lebar, dia ingat jika Axelo tadi malam ada dikamarnya.
"Aaakkk, mas Axel!! Lepas!! Huhu, kenapa kamu melakukan semua ini!! Aku nggak rela kesucian ku direnggut!! Aku kan belum siap! Huhu!!!" Axel yang masih terlelap tentu saja terkejut mendengar teriakan Andara.
"Sayang kenapa sih?? Kenapa nangis gini?"
"Mas Axel jahat!! Katanya nggak akan bertindak aneh-aneh, tapi nyatanya sekarang aku udah nggak suci, kamu udah tidur meluk aku, aku nggak mau tahu, pokoknya kamu harus tanggung jawab!!"
Axelo menggaruk rambutnya yang gatal, dia bingung harus tanggung jawab apa, lagian semalam kan dia nggak ngapa-ngapain Andara. Hanya sekedar memeluk saja.
"Tenang sayang, aku nggak ngelakuin apa-apa kok, suer!" Axel sampai mengangkat jari telunjuk dan tengahnya.
Tapi Andara masih tetap menangis, tentu saja Axelo merasa khawatir kemudian dia membawa Andara kedalam pelukannya.
"Sstt, tenang ya, maafkan aku kalau aku salah," bisik Axelo ditelinga Andara.
"Hiks, pokoknya mas harus tanggung jawab, mas harus nikahin aku karena tubuhku nggak suci lagi, udah di kelonin gitu, aku mau mas nikahin aku secepatnya!"
Axel tentu saja merasa senang, seperti mendapatkan Jackpot saja. Tapi tentu saja dia harus menjelaskan secara rinci pada Andara jika wanita itu masih suci dan tidak seperti apa yang dipikirkannya.
"Ayo sayang, setelah pulang dari sini kita langsung nikah, nggak perlu acara mewah, yang penting mendapatkan restu dari Ayah saja itu sudah cukup."
__ADS_1
Bersambung