
Happy Reading.
Siska dan Bagus begitu terkejut saat melihat Andara dan Axelo yang sudah berada dirumah dan berdiri dihadapan mereka.
"Dara!" Siska langsung memeluk putrinya itu, dua hari dua malam Andara tidak pulang. Tentu dia begitu khawatir meskipun Andara sudah minta izin kepadanya menginap di apartemen Axelo.
Tapi tentu saja Siska takut terjadi apa-apa dengan putrinya.
"Dara, jangan pergi lagi ya? Mama nggak mau kamu ninggalin Mama sayang!" Siska menangis, hatinya terasa sakit melihat putrinya yang memilih pergi dari pada memaafkan Ayahnya.
Siska tahu jika Andara sangat marah terhadap Ayahnya, begitupun dirinya yang juga kecewa dengan suami yang telah tega berselingkuh dan pergi memilih selingkuhan nya dan meninggalkan nya itu.
Namun entah kenapa Siska masih tetap memaafkan Bagus, hatinya tidak kuat, dia masih memiliki cinta untuk suaminya.
__ADS_1
"Iya Ma, Dara nggak akan pergi lagi, Dara juga minta maaf karena udah bikin Mama khawatir," Andara mengelus bahu sang Ibu yang bergetar.
Dia jadi merasa bersalah kepada ibunya itu karena telah pergi dari rumah. Seharusnya Andara bisa berpikir lebih dewasa dan membicarakan masalah pelik keluarga ini baik-baik. Tapi karena menuruti egonya yang tidak bisa dikalahkan dengan rasa kecewa yang menumpuk dihatinya, akhirnya Andara memilih meninggalkan ibunya begitu saja.
"Dara, nak,,, Papa mau bicara sama kamu, apakah bisa?" Kali ini Bagus harus mengutarakan isi hatinya dengan hati yang lapang dan pikiran yang tenang.
Dia tidak akan memaksa Andara dan Siska jika mereka tidak mau kembali bersamanya. Bagus tahu kesalahannya sangat besar dan tidak akan semudah itu mendapatkan maaf dari orang-orang yang telah dia sakiti hatinya.
Andara melepaskan pelukan Ibunya dan menatap Bagus. Paras rupawan milik sang Ayah menurun kepadanya. Ya, Bagus memang tampan, mungkin karena hal itu juga yang membuatnya bermain api dengan wanita lain.
Wanita itu langsung berjalan ke arah sofa dan duduk di sana. Axelo mengikuti Andara dan duduk disebelahnya.
Sedangkan Siska dan Bagus duduk di sofa yang berhadapan dengan Andara dan Axelo.
__ADS_1
"Baiklah, sebelumnya aku ingin bicara pada Mama, Dara nggak akan maksa Mama buat milih siapa, tapi Dara akan mengikuti semua keinginan Mama, yang Dara mau adalah kebahagiaan Mama, jadi tolong jangan karena Data Mama nggak bahagia," ujar Andara menatap sendu ke arah ibunya.
Kemudian langsung beralih menatap Bagus yang juga tengah menatapnya. "Dan untuk Anda, saya memang belum menerima segala sesuatu yang telah anda lakukan pada kami, untuk membalas rasa sakit yang anda lakukan saja mungkin tidak akan pernah bisa Anda kembalikan lagi seperti semula, bagaimana pun juga peran Anda sebagai Ayah dan suami sangat buruk, saya juga tidak tahu kenapa dan apa alasannya anda kembali pada kami, karena yang jelas saya masih belum bisa menerima anda, tapi dengan hati yang tulus saya sebagai seorang anak telah memaafkan anda," ujar Andara panjang lebar.
Bagus menunduk menangis saat putrinya sendiri memanggil anda padanya, Andara seolah memberikan jarak padanya. Tapi semua itu harus Bagus terima karena memang semua itu adalah buah dari hasil perbuatannya
Dia cukup senang dan bersyukur ketika Andara sudah mau memaafkannya. Itu benar-benar sudah luar biasa.
"Terima kasih nak, Papa sangat berterima kasih, Papa juga tidak akan memaksa kalian untuk menerima Papa kembali, papa tahu ini pasti sulit untuk kalian, bisa mendapatkan maaf dari kalian saja itu sudah cukup," Bagus mengusap air matanya dan memandang putrinya dengan senyum mengembang.
Andara tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, anggun dan cerdas. Buktinya Andara bisa bekerja di salah satu perusahaan besar. Namun dia begitu menyesali karena pada waktu itu tidak pernah ada untuk mendukung kedua anaknya.
Bagus menyesal dan akan menerima semua yang akan menjadi keputusan istri dan anaknya.
__ADS_1
Andara merasa lega telah mengatakan semuanya, dia mengatakan apa yang mengganjal di hatinya dan kini semua dia serahkan pada Ibunya, apakah akan menerima sany Ayah atau tidak. Andara akan nurut saja, asalkan ibunya bahagia.