
Happy Reading.
"Boleh peluk nggak, aku butuh pelukan kamu saat ini!" Pinta Axelo dengan puppy eyes. Duh kalau gini Andara jadi gemas.
"Ya udah ayok, tapi jangan di sini!"
"Di apartemen ya, biar leluasa," Andara langsung memukul lengan Axelo membuta pria itu mengaduh.
"Itu namanya sih Mas Axel cuma modus!" Axelo terkekeh melihat Andara yang cemberut. Wanita ini memang sangat sulit di raih. Tapi yang pasti Axel tetap akan berusaha membuat hati Andara jatuh ke dalam genggamannya dan tidak akan pernah ia lepas selamanya.
"Dara, kamu tuh cantik, aku takut kalau aku nggak bisa masuk ke dalam hatimu? Jangan bilang kalau sebenarnya kamu udah ada seseorang sebelum aku?"
"Hah? Apa maksud mas Axel?" Yang ditanya hanya mengedikkan bahu.
"Ck, aku tuh jomblo dua puluh tujuh tahun, aku nggak minat pacaran, jadi nggak ada orang yang spesial di hatiku, apalagi ada seseorang dihati, mana ada mas," jawab Andara sambil menyeruput jus jeruknya.
Axelo tersenyum senang mendengar jawaban wanita itu, berarti dia adalah pria pertama yang dekat dengannya.
"Lalu gimana sama aku? Apa kamu nggak tertarik nikah sama aku, aku cinta kamu Dara, aku ingin kamu jadi ibu dari anak-anakku, gimana, mau ya?" Tanya Axel serius. Matanya menatap dalam bola mata Andara. Menyelami isi pikiran wanita itu.
__ADS_1
Andara langsung membuang wajah kesamping, memandang apa saja asalkan tidak memandang Axelo. Pipinya terasa menghangat saat lagi-lagi pria itu mengatakan perasaannya dengan terang-terangan begini.
"Sebenarnya aku juga sudah tertarik sama mas, tapi aku masih memikirkan masalah ibuku," jawab Andara jujur.
Karena dia belum bisa memikirkan kebahagiaan nya sendiri jika ibunya masih dalam bahaya. Ya, bahaya karena perasaan ibunya berhasil dikuasai Ayahnya.
"Aku tahu, aku akan membantumu untuk mencari tahu motif apa yang dilakukan Ayah mu? Apakah dia benar-benar menyesal ataukah ada motif lain di balik kemunculannya kembali," ujar Axelo membuat Andara kembali menatapnya dengan mata yang berbinar.
"Serius mas?"
"Dua puluh rius!"
Andara langsung beranjak dari duduknya dan memeluk Axelo dari belakang. "Makasih ya mas, aku seneng banget ada yang mau bantu aku keluar dari masalah ini," ujar Andara.
Sedangkan di sisi lain.
Putri sedang asyik bermain di sofa dengan boneka yang tadi dibelikan oleh ibunya. Sepertinya Putri begitu menyukai boneka itu sehingga bisa sedikit mengalihkan atensinya dari kedua orang tuanya.
Laura sejak tadi memandang Putri, tidak berani menatap Arsya meskipun dia ingin sekali menatap suaminya. Jujur Laura bener-bener rindu terhadap suaminya itu.
__ADS_1
"Apa kabar?" Tanya Arsya. Laura mengalihkan pandangannya dan menatap Arsya yang juga tengah menatapnya.
"Beginilah kabarku, tidak lebih baik, bagaimana kabar kamu mas?"
"Aku juga tidak lebih baik, bahkan bisa dikatakan buruk!"
Jawaban dari Arsya membuat Laura menundukkan pandangannya. Tangannya saling bertaut karena gugup.
"Mas, maafkan aku,, aku salah telah melukaimu," lirih Laura.
Arsya hanua diam menatap istrinya itu, sungguh hatinya begitu berat saat memikirkan nasib pernikahan nya yang sudah berjalan Lima tahun ini akan kandas sebentar lagi.
"Laura, kenapa harus Axelo? Adikku sendiri!" Pertanyaan itulah yang ingin Arsya tanyakan sejak awal.
Laura mendongak, menatap Arsya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Karena dia seperti kamu, mas. Kamu selalu pergi berbulan-bulan, aku butuh kamu dan Axel menawarkan bahunya untuk bersandar, aku merasa bisa menghilangkan kerinduan ini pada Axel, maaf!" Jawaban Laura membuat Arsya terpaku.
Jadi apakah dia juga ikut andil dalam kekosongan hati Laura sehingga mencari isi yang baru.
Bersambung.
__ADS_1
Nanti malam lagi ya 🥰
Tapi jangan lupa like, bunga dan kopinya 🫰🫰🫰