
Ceritanya yang season 2 aku bikin ala-ala anak muda ya, jadi agak santai sedikit. Tapi nanti pasti ada konflik atau skandal ðŸ¤
Happy Reading.
Serli begitu senang saat Arie menjemputnya. Wanita chubby itu langsung mencium pipi kanan sang kekasih.
Arie hanya diam saja tanpa membalas, entah kenapa dia tidak bisa bersikap mesra layaknya kekasih terhadap wanitanya.
Akhirnya keduanya masuo ke dalam mobil dan meluncur meninggalkan gedung fakultas Serli.
"Yank, habis ini jalan yuk!"
"Jalan kemana? Males ah, gue mau pulang, Ser!" Jawab cowok itu sambil fokus menyetir.
"Ihh, kok kamu gitu sih, yank! selalu nggak pernah mau di ajak jalan!" Serli pura-pura merajuk. Berharap Arie mau menurutinya kali ini. Sudah sangat lama mereka tidak pergi kencan.
"Sory, Ser! Tapi gue banyak tugas, apa lo mau gue suruh bikin tugas gue?" Serli langsung menggeleng cepat.
"Ya udah, antar aku pulang!" Putus Serli akhirnya, dia tentu tidak mau jika harus disuruh mengerjakan tugas Arie.
Arie pun melajukan mobilnya ke arah jalan menuju rumah Serli yang tidak terlalu jauh dari kampus.
****
Arie baru saja pulang mengantar Serli ke rumahnya, kemudian dia memutuskan untuk langsung masuk ke rumah.
Tiya melihat Arie masuk ke dalam rumah. Dia tahu kalau cowok itu baru ketemu sama kekasihnya.
Seperti biasa Tiya selalu tidak suka dengan Serli yang semakin manja kepada Arie.
Arie melewati Tiya yang sedang menunggunya di ruang tamu. Tanpa bicara dia langsung menaiki tangga menuju lantai atas.
Tapi Tiya tidak diam saja, dia juga berjalan menaiki tangga mengikuti Arie yang masuk ke dalam kamarnya.
"Arie, tunggu dulu!" seru Tiya.
"Ada apa? kenapa dari tadi lo cemberut terus?" Tanya Arie sambil membuka pintu kamar nya.
"Habisnya lo kalau ada Serli selalu cuekin gue, jujur gue gak suka!" jawab Tiya sambil mengerucutkan bibir nya.
"Hahaha itu bibir kenapa di monyongin?" Arie tergelak melihat sepupu nya. Tiya ini wanita yang begitu cantik, siapa yang tidak mengakui itu, tapi Arie juga bingung kenapa sepupunya ini belum pernah berpacaran. Setiap ada cowok yang mendekat, Tiya pasti menjadikan Arie tameng agar tidak ada yang mendekati.
"Lagian siapa yang nyuekin lo!"
"Gue mau gabunga sama kalian kalau lagi main musik, tapi gue nggak enak kalau harus masuk ke kamar lo!"
"Astaga, kalau mau masuk ke kamar untuk gabung sama kita ya tinggal masuk aja," lanjut Arie sambil berbaring di kasurnya.
Apa tadi katanya? aku boleh masuk ke kamarnya?
"Tapi pasti Serli nggak suka kalau ada gue!"
Biasanya memang Arie, Aldo, Bily dan Serli suka nongkrong di kamar Arie dan main gitar sama piano. Tapi Tiya tidak pernah gabung karena Serli pasti sudah memasang badan di pintu.
"Nggak apa-apa, lagian kalian kenapa sih bertengkar terus, kek kucing dan tikus tau!"
"Beneran boleh masuk meskipun ada pacar kesayangan lo itu?" tanya Tiya sambil duduk disisi samping ranjang king size Arie.
"Hemm!"
"Ya takutnya nanti gue masuk pas kalian lagi bermesraan!"
"Memang yang dipikiran lo itu apa? Lo kira gue berbuat mesum sama Serli? ya gak mungkinlah, gue bakal nyerahin perjaka gue ini sama cewek yang benar-benar tepat dan menjadi istri gue kelak. Hahaha," jawab Arie sambil tertawa.
Arie memang banyak yang suka, apalagi dengan pesona dan ketampanannya yang menurun dari Axelo, sudah tidak diragukan lagi.
Dia pun termasuk anak yang baik dan rendah diri meskipun dari keluarga yang kaya. Bahkan tidak jarang teman-teman sering main kerumahnya dan mereka selalu menghabiskan waktunya di rumah Arie.
Sebagai remaja pada umumnya, Arie suka main keluar rumah kadang sampai tidak pulang, tapi dia selalu berpacaran dengan gaya sehat, meskipun teman-teman nya sudah terbiasa dengan dunia bebas, tapi tidak untuk Arie.
__ADS_1
Bukan nya dia tidak mau, tapi karena tidak tertarik sama sekali, banyak cewek yang menggoda untuk di tiduri, bahkan sampai bertubuh polos di depan nya, bukan nya merasa berhasrat yang ada malah jijik.
Meskipun sudah ada Serli sekalipun, karena hanya Serli cewek yang dianggap Arie tidak aneh-aneh dan lugu, tidak pernah menyinggung yang begituan. Makanya Arie selama ini merasa nyaman saja dengan Serli.
Tok tok tok!
Pintu kamar di ketuk, padahal kamarnya tidak tertutup rapat. Dan muncul lah dari balik pintu wajah-wajah tampan dan tidak kalah tampan sama Arie yaitu Bily dan Aldo.
Dua sengklek yang menjadi sohibnya.
"Wah ngapain loe berdua bro, pake pintunya ditutup segala, jangan-jangan ...!" belum selesai Aldo ngomong, sebuah bantal melayang tepat diwajahnya.
Bugh!
"Awww, anjir woy,, muka ganteng gue ditampok pake bantal!"
"Makanya jangan ngomong sembarangan, Tiya sepupu gue, emang mau gue apain!" ucap Arie yang tidak terima di goda Aldo seperti itu.
'Diapa-apain juga mau kok Rie, gue kan cinta sama loe.' Batin Tiya senang karena di goda Aldo.
"Wahh hari ini gue bahagia banget guys!" seru Bily sampil melompat ke ranjang king size Arie.
"Asem woyy, Bil! Geser lo!" Arie langsung duduk ketika Bily tidur disampingnya.
"Tenang, gue masih normal!" Jawab Bily cengengesan.
"Eh kenapa tuch anak?" tanya Tiya kepada Aldo.
"Gak tau tuch, katanya baru ketemu gadis pujaan hatinya, yang katanya cantik, imut bohay body goals dan apa lagi ya? Ya gitu deh pokoknya, inceran baru Bily!" jawab Aldo.
"Yups, betul!" Jawab Bily tersenyum mesam mesem.
"Ya elah loe Bil, biasanya juga sering ketemu cewek begituan, gak sampe senyum senyum kaya gitu," ucap Tiya.
Cewek itu duduk di sofa sambil makan kacang goreng yang ada di toples.
"Halah, paling sebulan lagi lo bakal bosen kaya seperti biasanya, lo kan playboy cap buaya, yang gak bisa kalau gak ganti pasangan tiap bulan," ledek Arie sambil mengambil gitar di samping ranjang.
Cowok itu memetik senar gitar dan bersenandung ria. Suara Arie memang bagus, dia hobi menyanyi, tapi kalau disuruh nyanyi di panggung pasti tidak akan mau.
Tiya selalu mengagumi sosok sepupunya itu, entah hal apa yang membuat nya khilaf perasaan. Tiya tahu jika mencintai Arie itu tidak boleh sampai melewati batas. Dia juga paham kalau perasaan nya itu salah. Namun, yang namanya hati tidak bisa di paksa, dia mencintai Arie tulus, meskipun sampai sekarang masih memendam perasaan itu sendiri.
"Udah biarin aja tuch si playboy, mungkin dia mau kena karma kebuncinan, karena selama ini dia kan selalu bikin patah hati para mantan kekasihnya," ucap Tiya sambil membuka sebuah kulkas yang berada di kamar Arie, dia mengambil sekaleng bir lalu dibuka dan langsung meminumnya.
Dikamar Arie memang ada kulkas yang isinya tentu minuman dari berbagai merek, meskipun dia jarang minum, dia cuma mau menyenangkan teman-tema nya yang bisa langsung mengambil dan minum sesuka hati mereka.
"Biarlah bucin, yang penting cantik. Kalau deket dia rasanya jantung gue lompat-lompat, aduh jadi pengen cepat-cepat jadiin dia milik gue," ujar Bily yang juga ikutan mengambil minuman dari kulkas dan langsung meminumnya.
Cowok itu tersenyum kembali, persis seperti orang yang sedang kasmaran.
"Terserah kalian deh, mau bucin atau mau making love, jangan bawa-bawa gue, dan sekarang gue mau mandi dulu, gerah banget," Arie menaruh gitarnya dan langsung masuk ke kamar mandi.
Membiarkan teman-temanya berkumpul dengan bahasan yang tidak berguna itu.
****
Dirumah Maya.
"Aduh May, kok lo tega banget sih jadiin gue tumbal, masa lo mau ngorbanin gue sama cowok itu!" seru Dian tidak terima karena Maya malah nyuruh Dian menyetujui ajakan Bily jalan malam minggu nanti.
Padahal Dian sama sekali tidak tertarik untuk jalan sama cowok itu.
"Tenang aja cantiikkk ... besok gue juga ikut kok, kita main ber-empat, lo sama Bily, gue sama pacar, gimana?" tawar Maya karena ada alasan buat keluar malam minggu bersama pacarnya.
Dengan alasan mengajak Dian jalan-jalan pasti di beri izin oleh orang tuanya. Tiya memang masih backstreet sama pacarnya, karena Tante Dea melarang anaknya pacaran dulu sebelum lulus kuliah dan bekerja. Karena menurut Tante Dea waktu belajar tidak boleh untuk pacaran, jadi Maya hanya diam-diam pacaran dibelakang orang tuanya.
"Ya kalau lo mau pacaran gak usah jadiin gue tumbal donk buat alasan ke Tante Dea biar lo bisa pergi pacaran." Dian cemberut, bibirnya manyun. Sungguh dia sangat kesal sekali dengan sepupunya ini.
Maya memegang lengan Dian, masih berusaha membujuk sepupunya dengan jurus andalannya.
__ADS_1
"Aduh Dian sayang, maaf ya, jangan marah donk. Bukan maksud gue mau jadiin lo sebagai tameng, cuma kita kan bisa manfaatin si Bily itu, emmhh ... atau kalau lo suka kan bisa di jadiin gebetan sementara, atau bodyguard deh," ujar Maya sambil menaik turunkan alisnya.
Dian hanya menggelengkan kepalanya, sungguh Maya ini hatinya sudah tidak bersih alias terkontaminasi.
'Kalau yang ngajak jalan temannya Bily itu pasti aku langsung mau. Aduh kok gue jadi mikirin dia terus sih. Please Dian, jaga harga diri untuk tidak kepo ya, apalagi sampai tanya-tanya ke Maya tentang cowok itu, bisa malu banget di olok-olok Maya nanti!' Batin Dian yang sedang berperang dengan pikirannya sendiri.
"Dian, kok malah melamun sih? di iyain aja ya, ya please ... nanti gue beliin baju deh ... oke?" ucap Maya yang masih dalam mode merayu.
Dian menghela nafas, mungkin dia bisa membantu Maya atau bisa mendapatkan informasi tentang teman Bily kalau dia mau jalan.
"Ehmm,,, ya udah lah, terserah lo aja May, tapi janji beliin gue baju yang bagus ya?" jawab Dian yang akhirnya menyerah dengan keputusan Maya.
"Aduuh makasih sayangkuh!" Maya mencubit pipi Dian gemas.
Yang dicubit hanya nyengir saja.
Akhirnya setelah perdebatan panjang itu mereka keluar kamar dan menuju ruang TV untuk berkumpul bersama Om, Tante dan Eva yang sedang asik bercengkrama sambil menonton tv.
****
Dirumah Arie.
Arie dan Aldo lagi asyik dengan stik mereka masing-masing, mereka sedang main Playstation. Kalau Bily jangan ditanya, dia sudah mabuk dan langsung tertidur disofa kamar Arie. Sedangkan Tiya sudah balik ke kamarnya.
"Aduhh k4mpreett kalah lagi gue ... !!" Teriak Arie yang langsung membanting stik gamenya ke karpet, lalu dia mengambil bir di kulkas dan langsung meminumnya.
"Hahaha,, lo emang payah bro," ejek Aldo senang. "Eh Ar, udah tau belum gebetan Bily yang sekarang," lanjut Aldo bertanya unfaedah.
"Tadi siang pas di warung makan deket kampus, si Bily bilang kalau dia lihat gebetannya sedang makan disitu juga, tapi gue gak lihat wajahnya karena dia duduk munggungin gue, kayaknya dia teman nya Maya anak nya Tante Dea pemilik butik Dea's Collaction itu. Emang kenapa?" tanya Arie kemudian.
"Jadi lo belum lihat cewek itu?" Tanya Aldo dan mendapat gelengan dari Arie.
Aldo menerawang, "Bily bener bro, dia emang cantik dan bohay, senyum nya menawan, bikin para cowok klepek-klepek ketika melihat dia mamerin giginya yang gingsul itu, gue aja kaget banget kok ada cewek yang senyumnya nyenengin kaya gitu sih," ujar Aldo sambil mengingat pertemuan nya tadi dengan Dian pas di rumah makan, karena memang itu tempat favorit jadi sudah biasa bagi para pelajar memanjakan lidahnya di sana.
Flashback.
Siang itu Aldo yang baru selesai kelasnya langsung menuju tempat makan favoritnya. Setelah masuk dia langsung melihat Bily yang duduk bersama dua gadis cantik, langsung saja Aldo datang menghampiri Bily.
"Hai bro, lagi ngapain sama dua gadis cantik ini, jangan bilang lo mau pdkt sama Maya ya?" tanya Aldo yang langsung di pelototi oleh Maya.
"Enak aja, emang siapa yang mau sama cowok playboy kek dia,, ups!!" Maya langsung terdiam karena kakinya disenggol oleh Bily. Otomatis dia langsung menutup mulutnya dengan tangan. Bily tentu tidak mau kalau Dian sampai tahu kalau dia cap mantan playboy.
Aldo, Arie dan Bily memang sudah mengenal maya karena mereka satu SMA.
"Gue lagi pdkt sama gadis disebelah kanan gue ini, kenalin calon pacar namanya Dian," ujar Bily mengenalkan Dian sebagai gebetanya.
Sedangkan Dian langsung melotot tidak terima saat Bily mengatakan itu, tapi dia hanya bisa balas tersenyum canggung dengan Aldo.
'Gila, cantik banget nie cewek. Wah Bily menang besar nie, bisa besar kepala dia!' Batin Aldo yang memandang Dian tanpa berkedip.
"Udah jangan dipelototi terus, tuch kan Dian jadi gak nyaman kalau dilihatin kaya gitu!" Seru Bily tidak senang karena Aldo memandang gadis incarannya seperti seakan tengah memangsanya.
Tentu Bily tidak akan membiarkan hal itu terjadi, karena Dian adalah cewek yang tepat untuknya. Mungkin kalau Dian bisa balik menyukai dirinya dan mau menjadi pacarnya, Bily akan berhenti jadi playboy .
"Hai nama gue Aldo, nama lengkapnya Aldo si tampan," ujar Aldo menyodorkan tangan nya kepada Dian. Dan Dian pun menyambut tangan Aldo sambil menyebutkan namanya.
"Dian!"
"Udah sana pergi cari meja sendiri lo, gangguin gue aja!" Usir Bily pada teman nya itu.
"Huh, ape sih lo, gitu aja nggak boleh! Pelit!"
***
Aldo membayangkan kejadian tadi siang saat menceritakan pada Arie tentang pertemuan nya dengan Dian.
Tentu saja hal itu membuat Arie jadi ikut penasaran. Entah kenapa Arie jadi ingin tahu siapa gebetan Bily.
Bersambung.
__ADS_1