Skandal Sang CEO

Skandal Sang CEO
BAB 64 ( Season 2 )


__ADS_3

Happy Reading.


19 Tahun kemudian.


Andara memeluk suaminya, menduselkan kepalaku di sada sang suami. Keduanya baru saja melakukan ibadah di atas ranjang.


"Nggak terasa ya mas, Arie udah besar, tapi maaf karena aku nggak bisa ngasih adik buat Arie," ujar Andara sendu.


Memang setelah melahirkan Arie, Andara di vonis susah untuk hamil lagi karena akan sangat berbahaya jika dia hamil. Robekan di rahimnya dulu masih sangat rawan sehingga Andara dan Axelo memutuskan untuk tidak memiliki anak lagi.


"Nggak apa-apa sayang, yang penting kamu dan Arie sehat, itu udah cukup buat mas, mas nggak tau gimana lagi jika nggak ada kalian, hidup mas hanya untuk kamu dan Arie."


"Terima kasih ya mas, udah ngerti perasaan ku," Andara semakin memeluk Axelo erat.


"Sama-sama sayang, mas selalu tahu bagaimana perasaanmu," Axelo mencium pucuk kepala Andara berkali-kali, memberikan kasih sayang dan cinta yang tak pernah surut.


******


Keesokan harinya.


Disalah satu sudut kota Jakarta, Arie dan teman temanya sedang berada disebuah tempat makan yang biasa buat mereka nongkrong. Bersama kedua sahabatnya dan juga sepupunya Tiya. Setiap diluar jam kuliah mereka memang suka kumpul bersama.


Arie Azra Airlangga adalah putra dari Axelo Airlangga dan Andara Airlangga. Memiliki garis wajah yang sangat tampan, menjadi idola di kampus dan tentunya sudah memiliki kekasih hati.


"Rie, nanti malam jadi ke rumah Jo buat kelarin tugas?" Tanya Bily, cowok berkulit putih dengan mata sipit khas Chinese.


"Gampang, nanti gue kasih tau kalau jadi kesana," jawab Arie menghabiskan es tehnya. Walaupun semuanya adalah anak sultan tapi Arie, Bily, Aldo dan Tiya suka tempat sederhana ini.


"Aelah,, lo mah selalu gitu, kalau masalah tugas aja nggak buru dikelarin, ya udah ke rumah lo aja deh?" Tukas Aldo, cowok blasteran Arab yang katanya Ayahnya memiliki tambang minyak itu.


"Gue lagi males mikir," jawab Arie cuek. Sebenarnya gampang saja buat putra Axelo ini untuk menyelesaikan tugas kuliahnya, tentunya dia memiliki kecerdasan seperti sang Ayah.


"Rie,, cobain deh cilok gue rasa keju," Tiya menyodorkan ciloknya ke mulut Arie. Awalnya Arie terkejut, tapi akhirnya di makan juga.


"Bener kan enak?" Arie hanya manggut-manggut saja.


Tiya sendiri juga selalu ikut Arie kemana-mana, putri kedua Arsya ini seperti tidak mau dipisahkan dengan Arie. Sejak remaja Tiya memang memiliki perasaan yang berbeda untuk sepupunya itu.


Perasaan yang salah.


Ponsel Arie berdering. Cowok itu melihat jika kekasihnya yang telepon.


"Halo Ser,, ada apa?" Tanya Arie setelah menggeser tanda hijau di hp nya.


"Aku kangen yank," jawab seorang gadis di seberang telepon yang ternyata adalah kekasih Arie, Serli


"Aku lagi makan ditempat biasa, lo kesini aja," ujar Arie yang langsung mendapat lirikan dari Tiya sepupunya.


'Dasar cewek gatel, sehari gak ketemu aja udah bilang kangen, awas aja lo ya, gak akan gue biarin lo bisa ketemu sama Arie hari ini.' Gumam Tiya dalam hati.


Seperti biasanya dia memang selalu tidak suka apabila Arie ketemu sama Serli, padahal mereka sepasang kekasih. Tiya memang cemburu jika Arie memiliki pasangan.

__ADS_1


"Oke sayang, bentar lagi aku kesitu, tunggu ya," jawab Serli yang langsung mematikan telepon nya.


Arie dengan cuek memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku dan kembali memakan nasi gorengnya yang masih setengah.


"Pasti Serli mau kesini ya?" tanya Bily.


"Hmmm,," Arie hanya membalas dengan berdehem.


Mereka semua memang sudah sangat paham dan tahu dengan sifat pacar Arie itu. Serli selalu gak bisa jika beberapa hari gak ketemu, tapi Arie seakan cuek dan biasa saja dengan pacarnya, entahlah perasaan apa yang Arie berikan kepada Serli, hanya saja dia selalu menuruti keinginan kekasihnya tersebut.


Tiya yang eneg jika lihat Serli ada disekitar Arie harus memiliki ide agar Serli tidak bisa berduaan dengan sepupunya itu.


"Awwww... Arie, perut gue sakit banget!!" tiba tiba Tiya meringis sambil memegangi perutnya.


"Ada apa?" Arie melihat Tiya yang seperti sedang kesakitan.


Memegang perutnya dengan meringis.


"Perut gue sepertinya kram, gue lagi Dapet. Anterin gue pulang ya, udah gak kuat nie, mana lagi harus ganti, udah penuh," jawab Tiya yang langsung merangkul pundak Arie dengan tangan kanan, yang sebelah tangan kiri masih setia diperutnya.


'Hmmm lihat aja, gue gak kan biarin Serli ketemu sama Arie hari ini!' Batin Tiya.


Arie yang memang dasarnya tidak bisa jika tidak peduli pada sepupu nya itu, akhirnya berdiri sambil merangkul pundak Tiya.


"Oke, gue anterin lo pulang. Lo bisa kan jalan sampai ke mobil yang ada diparkiran sana?" Tanya Arie sambil memapah Tiya.


"Iya, gue masih biasa jalan kok," jawab Tiya sambil sedikit menarik sudut bibirnya.


"Bro,,, gue pergi dulu ya nganterin Tiya pulang!" pamit Arie kepada Bily dan Aldo.


"Siap bro, tapi gimana sama Serli? bukankah dia udah otw kesini?" Tanya Bily mengingatkan Arie terhadap kekasihnya yang mau datang kesana.


"Oh iya, gue lupa," jawab Arie nampak berpikir, dia hampir melupakan kekasihnya itu


"Ayo Arie, gue udah gak kuat!" rengek Tiya.


"Iya Tiya,,, bro entar bilangin ke Serli gue nganterin Tiya pulang ya, urgent!" ucap Arie pada kedua temanya tersebut.


"Okelah bro, ntar kita sampein ke Serli, lo anterin Tiya aja, kasihan dia udah kaya gitu," kata Aldo sambil mengejek Tiya yang pura pura sakit.


Memang dasarnya Arie ini tidak peka sama sekali kalau Tiya hanya pura-pura, ataukah memang dia yang benar-benar perhatian terhadap sepupunya itu.


Sebenarnya Arie tahu, tapi hanya tidak mau ambil pusing.


"Apa Lo ngatain gue kaya gitu!" Seru Tiya yang gak terima dengan ucapan Aldo, seolah Aldo tau kalau dia hanya pura pura sakit perut.


"Udah ayo pulang!" sergah Arie yang tidak mau teman teman mereka adu mulut seperti biasanya.


Aldo dan Bily memang tahu kelakuan Tiya, dia selalu mencari perhatian terhadap Arie, tetapi Arie juga tidak ambil pusing dengan segala tingkah Tiya, bahkan Arie juga tahu kalau Tiya selalu menghasut Serli didepan orang tuanya, tetapi Arie cuek aja. Toh orang tuanya tidak melarang Arie berpacaran dengan siapapun. Yang penting masih dalam tahap yang wajar.


Serli selalu mendapatkan perlakuan baik oleh Andara ketika dia berkunjung kerumahnya. Itulah yang tidak disukai Tiya, dia tetap tidak bisa memisahkan Serli dan Arie.

__ADS_1


Selang 10 menit kepergian keduanya, sebuah mobil sedan berwarna merah tiba di tempat itu. Pintu pun terbuka dan keluar lah gadis cantik, putih dan tinggi dengan rambut gelombang berwarna coklat.


Gadis cantik itu adalah Serli Maurea pacarnya Arie Airlangga.


Serli memang sangat cantik, kulit putih mulus serta pipinya yang chubby membuat dia tambah imut.


Mungkin karena itulah Arie menjadikan Serli sebagai kekasihnya. Mereka pertama bertemu di sebuah pantai, yang kala itu mereka sama-sama sedang liburan.


Akhirnya keduanya pun menjadi dekat setelah pertemuan itu, dan ternyata mereka juga satu kampus tapi beda jurusan. Dari situlah mereka sering ketemu dan akhirnya jadian.


Serli berjalan menghampiri Bily dan Aldo yang berada disebuah tempat makan langganan mereka.


"Hai guys, dimana cowok gue," tanya Serli saat matanya tidak melihat keberadaan sang kekasih.


"Arie udah pulang barusan, dia nganterin Tiya,, katanya perutnya kram," jawab Bily sambil menyedot Es jeruknya yang tinggal separo.


"What the ...?!" Seru Serli dengan nada sedikit meninggi.


"Kok bisa-bisanya sih si ulet bulu Tiya itu bikin ulah lagi, kenapa pakai alasan sakit perut segala!!" kali ini Serli berteriak.


"Kecilin volume nya Ser, gak enak diliatin orang tuh," ucap Aldo dengan berbisik.


"Gue harus telepon Arie!" Serli langsung mengambil ponselnya dan menelepon sang kekasih.


Tak berapa lama telepon pun diangkat.


"Halo Ser, maaf ya gue pulang nganterin Tiya dulu, dia sakit perut, ntar kalau udah kelar urusan gue balik kesitu lagi."


"Kamu harus balik kesini lagi Yank, Aku nggak terima ya kalau kamu lebih pentingin sepupu mu itu!"


"Iya gue usahain, kalau gitu gue tutup teleponnya dulu ya, lagi nyetir nie."


"Oke sayang, i miss u!" ucap Serli diakhiri dengan suara kecupan.


Senyum di bibir gadis chubby itu mengembang. Dia tidak sabar ketemu dengan sang pujaan hatinya.


"Aduh lebay banget ya, baru kemarin ketemu sekarang udah kangen lagi, kaya sebulan gak ketemu aja, dasar bucin! gerutu Bily dan diangguki oleh Aldo.


*****


Seorang gadis manis berparas Ayu sedang menikmati kebabnya, dia berjalan sambil melahap makanan khas Turki itu.


BRUK!


"Aww, lo jalan pake apa sih?" Seru gadis Chubby yang tubuhnya oleng karena tertabrak gadis manis itu.


"Duh, maaf ya, aku nggak sengaja," gadis manis itu langsung membantunya berdiri.


"Nggak usah pegang-pegang ya, dasar kampungan!" Gadis chubby itu langsung berdiri dan pergi dari hadapan gadis manis tersebut.


***

__ADS_1


__ADS_2