
Happy Reading.
Andara mencoba menghubungi nomor Arsya sekali lagi, dia berharap bisa berhasil menghubungi nomor calon kakak iparnya itu.
Kakak ipar ya?
Andara menghela nafas, apakah hubungan kontrak nya dengan Axelo masih terus berlanjut jika sudah seperti ini.
"Dara, dara!" Andara terkejut saat Mamanya meneriakinya.
Saat ini wanita itu tengah berada di kamarnya setelah diantar pulang oleh Axelo yang katanya akan menemui sang Ayah.
"Iya Ma, ada apa?" Andara membuka pintu kamarnya dan melihat sang Mama yang nampak begitu pucat sambil memegang ponsel.
"Ini,, ini coba kamu baca!" Andara mengambil ponsel Mamanya dengan mengerutkan kening.
__ADS_1
"500 juta, ini punya siapa Ma?" Tanya Andara heran karena melihat catatan masuk ke rekening bank milik Mamanya dengan nominal 500 juta.
"Da-dari Papamu," jawab Mama sambil menitikkan air mata.
Andara melotot sempurna ketika mendengar hal itu, sudah bertahun-tahun yang lalu Papanya pergi dan memilih menikah dengan wanita yang lebih muda. Meninggalkan dirinya, Aninda dan sang Mama yang saat itu masih sangat membutuhkan sosok suami dan Ayah.
"Dari mana Mama tahu kalau ini dari Papa? Siapa tahu dari calon menantu Mama yang ngirim," oopss, Andara ingin sekali memukul mulutnya karena terlalu ember.
Mama sampai memiringkan kepalanya setelah mendengar ucapan Andara. "Calon mantu Mama? Maksudnya Nak Axel?"
Mama menarik lengan Andara untuk duduk di sofa ruang keluarga. "Sebenarnya sudah sejak beberapa hari yang lalu Papamu menghubungi Mama, dia sering menanyakan keadaanmu dan Aninda, Papa ingin minta maaf pada kalian," ujar sang Mama.
"Kenapa? Apa Papa sudah mau koit sehingga ingin minta maaf?" Kebencian Andara terhadap sang Papa memang sudah mendarah daging. Sejak Papanya memutuskan untuk selingkuh dan memilih selingkuhan nya di banding keluarga kecilnya, saat itu juga Andara sudah menganggap jika Papanya telah tiada.
Bertahun-tahun pria itu tidak memberi kabar dan mungkin sudah tidak mengingat jika masih memiliki dua anak yang wajib dinafkahi. Saat awal-awal Papanya pergi, Andara selalu mendapati sang Mama yang menangis sendiri di dalam kamar. Mamanya ini sosok yang begitu kuat dan setegar karang. Berhasil menutupi kesakitan hatinya dengan senyuman di pagi hari saat menyapa dua putrinya yang berusia remaja itu.
__ADS_1
"Jangan bicara seperti itu, sebenarnya Mama udah lama mau ngomong ini sama kamu dan Anin, tapi Mama takut kalau kalian marah,, Papa sepertinya sudah mengakui kesalahannya dan benar-benar tulus minta maaf," ujar Mama dengan lirih.
Andara menghela nafas, apakah Mamanya ini masih menyisakan cinta dihatinya untuk pria itu. Apakah hati wanita yang telah melahirkannya ini sungguh berhati lapang walaupun sudah disakiti.
"Lalu, bagaimana dengan Mama? Apakah Mama memaafkannya?"
Raut sendu di wajah Mamanya semakin terlihat. "Mama sudah memaafkannya sejak lama, kalau Mama belum memaafkan Papamu, mana mungkin Mama bisa berdamai dengan keadaan, Mama hanya perlu mengikhlaskan karena Mama punya kalian, kamu dan Anin adalah kekuatan Mama, kalian berdua yang membuat Mama jadi kuat. Mama yakin jika suatu saat nanti Allah SWT memberikan Mama kebahagian dan kekuatan yang lebih, yang penting kamu dan Anin bahagia," ujar Mama sambil menitikkan air mata.
Andara memeluk Mamanya, dia juga menangis. Andara juga sakit hati, kecewa dan sedih karena harus kehilangan sosok Papa di usianya yang masih muda.
Mungkin karena rasa kecewa ini membuat Andara sama sekali tidak memikirkan untuk menikah, hingga akhirnya Mamanya sibuk mencarikan jodoh.
Pada akhir dia juga terseret dalam kemelut perselingkuhan sang atasan dan kakak iparnya.
Bersambung.
__ADS_1
Maaf Up nya sedikit, nanti siang atau sore lagi, aku mau sekolah dulu 🙏🫰🫰