
Happy Reading.
Sore itu di butik Tante Dea.
Dian sedang melayani seorang wanita yang seusia ibunya, wanita itu terlihat anggun dan cantik meskipun diusianya yang sudah tidak muda lagi.
"Tolong bungkus semua ke 8 baju itu ya? semuanya aku suka," ucap wanita paruh baya itu.
"Baik nyonya," jawab Dian.
"Kamu pegawai baru disini ya? siapa namamu?"
"Iya nyonya, saya pegawai baru disini, nama saya Dian," ujar Dian memperkenal kan dirinya sambil mencium tangan ibu-ibu itu sopan.
Ya, ibu-ibu itu adalah Andara. Andara merasa kagum terhadap gadis itu.
'Cantik sekali gadis ini, sejak pertama melihat aku menyukainya, dia sopan sekali, apakah dia mau menjadi menantuku ya?? dia ramah dan sopan sekali!"
"Nama saya Andara, panggil aja tante Dara," ucap Andara tersenyum melihat gadis didepan nya itu yang juga tersenyum.
"Oh,, iya tante," jawab Dian.
Setelah itu Dian menyerahkan baju-baju tante Dara ke kasir. Dan Andara membayarnya setelah petugas kasih mengucapkan berapa semua harga 8 baju itu, setelah itu Andara berpamitan kepada Dian.
"Dian, tante sering berkunjung kesini dan selalu menjadi pelanggan di butik Dea ini. Apalagi setelah ada dirimu, tante jadi semakin suka menghamburkan uang buat belanja di sini," ucap Andara tersenyum.
"Iya tante, Terima kasih ... jangan lupa berkunjung kembali," jawab Dian menunduk sopan.
Setelah itu Andara pulang dengan mobil yang sudah menunggunya di depan butik.
Andara merasa jika gadis itu mirip sekali dengan dirinya dimasa remaja. Bukan kecantikannya, melainkan kerja kerasnya.
'Aku suka sekali dengan gadis itu,' batin Andara.
Sedangkan dirumah Arie.
Arie sedang menenangkan Serli yang sedang marah kepadanya.
"Udah deh Ser, gak usah marah kaya gitu, gue kan dari pagi sampai siang bikin tugas kuliah, seharusnya lo ngerti donk! Lama-lama gue gak suka sama sikap posesif lo yang kaya gitu!!" Seru Arie dengan nada agak tinggi.
Serli yang sudah dibentak seperti itu tentu saja merasa takut.
"Iya-iya, maafin aku yank, tapi kan seharusnya kamu bisa bales chat sesekali," ucap Serli dengan lirih. Gadis itu menunduk takut karena Arie sedang marah sepertinya.
Arie sendiri juga entah kenapa kesal di salahkan seperti ini, meskipun dia memang salah sebenarnya. Arie tidak menyadari hal itu.
"Lagian dari tadi kamu juga online kan yank, tapi kenapa gak bales chat dari ku, kan aku jadi mikir yang enggak-enggak!" lanjutnya.
Arie menghela nafas, dia memang dari tadi sedang balas chat sama Dian, entah kenapa dia jadi mengabaikan kekasihnya tersebut. Arie pun tidak tahu, padahal dia belum pernah bertatap muka langsung dengan Dian, tapi seolah dia terkena daya magnet yang berhasil mengalikan perhatiannya kepada kekasihnya tersebut.
"Maaf, tadi gue sibuk nyari bahan dan tukar pendapat lewat chat, jadi gue gak sempet balas chat dari Lo Ser, lagian gue juga pengen cepat-cepat menyelesaikan tugas ini, gue ingin tahun depan bisa wisuda," ucap Arie tidak sepenuhnya bohong.
Karena dia memang sedang berkirim pesan dengan Edo, salah satu temannya yang pintar, selain chatting sama Dian pastinya.
"Iya-iya yank, maafin aku juga ya, seharusnya aku ngertiin kamu, kalau kamu cepet wisuda kan terus kita bisa bertunangan dan nikah,"" ujar Serli tersenyum senang.
Dia memang sudah menganggap hubungan nya dengan Arie sangat serius. Dia mau bisa menikah dengan Arie secepat mungkin. Tapi itu hanya sebatas kemauan Serli karena sejujurnya Arie benar-benar tidak suka Serli membahas tentang itu.
"Ingat Ser, gue belum kepikiran buat tunangan apalagi nikah, gue mau kerja dan jadi orang sukses dulu," tegas Arie agar kekasihnya tidak membahas hal itu lagi.
Ting!
Terdengar notifikasi pesan di ponsel Arie.
[Lagi apa]
Arie yang melihat pesan itu pun tersenyum. Pesan dari Dian, lalu dia membalas pesan tersebut.
Sedangkan Serli wajahnya sudah berubah tidak suka melihat kekasih nya itu membalas pesan dengan senyum seperti itu, gadis itu berusaha melihat Arie sedang berbalas chat dengan siapa, tapi Arie menyadari itu dan langsung mematikan layar ponselnya.
"Chat dari siapa yank, kok kamu kayaknya seneng banget??" tanya Serli dengan tangan besedekap.
__ADS_1
"Eh, itu dari temen gue yang ngirim tugas nya, gue minta tolong sama dia dan baru dibalas," jawab Arie kali ini benar-benar berbohong.
Serli pun mengangguk percaya dengan kekasihnya itu.
"Oh, ya udah. Aku mau ke kamar mandi dulu ya," ucap Serli kemudian berlalu ke kamar mandi yang berada dikamar Arie.
Ting!
[Sabtu sore kamu ada acara gak?]
Arie masih asyik dengan chat nya, diapun langsung membalas pesan dari Dian.
[Kayaknya gak ada, emang ada apa?]
Ting.
[Nggak apa-apa, cuma pengen ketemu dan ngobrol langsung aja] disertai emoticon tertawa ngakak.
Arie terlihat sangat senang ketika Dian mengajaknya ketemuan,
dia pun sudah melupakan Serli yang masih berada dikamar mandi nya.
[Boleh juga, kita ketemu di cafe xx kalau begitu]
Ting!
[Oke deh, ntar jam nya kamu yang atur, udah dulu ya..soalnya aku lagi kerja nie]
[Oke, semangat kerjanya ya Dian 😉]
*****
Di sisi lain.
Dian yang baru memasukan ponselnya ke saku celana nya tersenyum sumringah, sungguh dia tidak menyangka jika akan bertemu dengan seorang cowok yang awalnya dia kira tidak akan pernah bisa dia kenal.
Dian jadi tidak sabar untuk cepat ketemu sama Arie, lelaki yang dia kagumi sejak pertama melihatnya.
"Eh Maya, kapan lo datang? kok gue gak lihat ya?" Dian terkejut dengan kedatangan Maya.
"Ya, habisnya lo dari gue datang tadi cuma fokus sama hape sambil senyum-senyum, chat dari Bily ya?" tanya Maya mengedipkan sebelah matanya.
Dian melengos ketika Maya menggodanya seperti itu.
"Bukan dari Bily, cuma kenalan baru," jawab Dian tersenyum lagi.
Maya bisa melihat bagaimana raut wajah Dian saat menceritakan itu.
"Emang siapa kenalan lo? kok kayaknya terindikasi kalau lo suka ama dia, hayooo ngaku!" ucap Maya menyelidik.
Dian salah tingkah.
"Apa sih May, baru kenal juga, siapa yang suka sih, udah ah gue mau lanjutin kerja lagi," ucap Dian berlalu meninggal kan Maya dengan rasa penasaran yang bercokol di kepala sepupunya itu.
"Siapa sih orang yang bisa bikin Dian sembuh dan move on?" Gumam Maya menatap punggung Dian yang kemudian menghilang di balik pintu.
****
"Yank, keluar yuk cari makan," ucap Serli bergelanyut manja di lengan Arie.
"Gue lelah mau tidur Ser, mending loe pulang aja ya?" jawab Arie sambil merebahkan tubuhnya di ranjang.
Serli ikutan rebahan disamping Arie, tiba-tiba pintu kamar dibuka, Tiya menyelonong masuk.
"Ehhh lo gak sopan banget sih, main masuk gak ketok pintu dulu!" Seru Serli melihat Tiya yang masuk ke kamar Arie dengan tatapan tajam.
"Memangnya kenapa, siapa yang ngelarang? lagian Arie udah izinin gue masuk kok," ucap Tiya nyolot.
"Eh, lo gak tau privasi ya? gue sama Arie lagi berduaan. Elo gak lihat kita baru mau tidur!" Serli gak kalah nyolot dan menatap tajam Tiya.
"KALIAN BERDUA KELUAR DARI KAMAR GUE!!! GUE MAU TIDUR!!" tiba-tiba Arie berteriak karena merasa terganggu dengan dua gadis itu.
__ADS_1
Arie pun mengusir Serli dan Tiya dari kamarnya dan tidak lupa mengunci pintu.
Braakkk!
Suara pintu dibanting keras.
"Yankk, kok lo tega sih ngusir aku yank!!" teriak Serli dibalik pintu kamar.
"Hahaha, rasain lo,, diusir kan sama Arie, emang dasar loe cewek kegatelan!" ucap Tiya terkekeh melihat Serli diusir.
Dia pun tertawa sinis, karena melihat Serli kekasih tersayang Arie yang di usir dari kamarnya.
Tiya gak nyangka, biasa nya Arie yang bersikap lembut terhadap Serli tiba-tiba bisa marah seperti itu.
"Ini semua gara-gara lo, cewek gak tahu malu. lo udah merusak suasana hati Arie jadi dia marah. Padahal tadi kita mau bobok bareng!!" ucap Serli sambil menunjuk Tiya.
"Awas aja, lo gak akan pernah bisa merusak hubungan gue sama Arie. Asal lo tau aja, Arie tuch cinta mati sama gue!!" lanjut Serli sambil berlalu dari hadapan Tiya.
'Cih.. cinta mati katanya.. lo lihat aja, gue ga akan pernah bikin lo jadi milik Arie, karena Arie hanya milik gue,' batin Tiya.
....
Pagi hari di rumah Maya semua sedang sarapan seperti biasanya. Mereka makan dengan tenang, hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring.
Setelah selesai, mereka pun langsung melanjutkan aktifitas masing-masing.
Karena hari ini jadwal kuliah Dian dan Maya jam 2 siang, mereka memutuskan untuk ke butik dulu.
***
Dian dan Maya baru saja sampai, mereka melihat Bily yang sedang bersandar di pintu mobil nya. Dia yang melihat Dian turun dari mobil langsung menghampiri nya.
"Di, lo gak apa-apa 'kan? kenapa lo gak bales chat gue? gak angkat telepon gue juga? gue takut lo kenapa-kenapa Di?" berondong pertanyaan dari Bily kepada Dian.
"Ehm ,,, Sorry Bil, gue gak apa-apa, gue cuma sibuk kuliah dan kerja," jawab Dian merasa tidak enak karena mengabaikan Bily.
"Gue masuk dulu ya Di," ucap Maya yang meninggalkan mereka berdua.
"Syukur deh Di kalau lo gak apa-apa," ucap Bily yang merasa lega karena melihat Dian baik-baik saja.
Dian hanya tersenyum tanpa menjawab.
"Gue mau ngajakin lo ke restoran bentar mau gak?" ucap Bily kemudian.
"Maaf Bil, bukannya gak mau, tapi gue mau kerja dulu," jawab Dian merasa tidak enak.
"Kan belum waktunya buka juga kan butiknya Di, cuma bentar aja kok ya, please!!" mohon Bily sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada.
"Ya udah, bentar aja ya, selagi belum buka butiknya," jawab Dian.
Akhirnya mereka pun pergi ke restoran Bily diseberang jalan dengan jalan kaki.
Setelah masuk ke restoran, Bily menarik salah satu kursi untuk Dian. Bily merasa sangat senang dia bisa berduaan dengan Dian seperti ini.
"Kita ngobrol sambil makan ya, Di?" ucap Bily sambil duduk di kursi depan Dian.
"Maaf Bil, tapi aku udah sarapan tadi," ucap Dian.
"Kalau gitu tolong temenin aku ya? sambil nunggu butik tante dea buka," ucap Bily kemudian.
Karena merasa tidak enak akhirnya Dian mengiyakan saja, tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang menyapa mereka.
"Bily, aku kangennn..!!!"
Bily dan Dian menoleh melihat seorang wanita cantik berjalan ke arah mereka.
"Bil, kamu jahat,, ku hamil Bil.. hamil anak kamu!!"
Deg...!
Bersambung.
__ADS_1