Skandal Sang CEO

Skandal Sang CEO
BAB 62


__ADS_3

Sebulan kemudian.


Arsya menatap sang istri yang tengah berbaring di atas ranjang, Arsya sudah menyelesaikan pekerjaan nya, kemudian menutup laptopnya dan membereskan barang-barang diatas meja. Setelah itu Arsya berjalan ke arah Laura, mendekati sang istri dan mengusap perut besarnya.


Arsya mengecup lembut perut Laura yang bersemayam calon anak keduanya yang sebentar lagi akan melihat indahnya dunia itu. Sedangkan Laura selalu terenyuh dengan sikap sang suami yang nyatanya benar-benar mencintai nya dengan tulus.


Laura merasa benar-benar menyesal karena dulu pernah melukai hati sang suami, tapi dia juga mengambil hikmah dibalik semua peristiwa dan cobaan yang Tuhan berikan. Laura semakin menjadi istri yang baik untuk suaminya dan juga ibu yang baik untuk anak-anaknya.


"Kapan jadwal pemeriksaan nya sayang?" Tanya Arsya masih mengelus perut Laura yang terlihat besar itu. Usianya sudah masuk 9 bulan.


"Seharusnya lusa kita harus ke dokter mas, kata dokter memasuki hari-hari kelahiran memang harus sering melakukan pemeriksaan," jawab Laura menatap suaminya itu.


Arsya tersenyum, "mas sudah tidak sabar untuk bertemu dengan mu nak, besok main sama kak Putri ya?" Bisik Arsya di perut istrinya.


Sudah menjadi hal rutin untuk Arsya mengajak ngobrol dengan calon Putri keduanya itu, dia juga sering melihat Axelo melakukan itu dengan calon putranya.


"Papa yang sabar ya,, besok kita pasti bertemu," jawab Laura menirukan suara anak-anak.


Arsya tersenyum dan mencium kening Laura. "Tidur yukk, udah larut," ucap Arsya.


"Sebentar mas, aku mau ke kamar mandi dulu," ucap Laura.


Saat wanita hamil itu akan beranjak menuju ke kamar mandi, tiba-tiba ada cairan yang keluar menetes melewati sela kakinya.


Dia pun merasakan perutnya yang sudah merasa mulas dan semakin sakit. Sebenarnya Laura sudah merasakan kontraksi palsu sejak tadi pagi, tapi karena pengalaman yang pertama dulu, dia tahu kalau itu adalah kontraksi palsu. Tapi kali ini rasanya lebih sakit dan sering.


Arsya yang melihat istrinya terdiam sambil merintih langsung bangkit dari duduknya.


"Ada apa sayang, kenapa berhenti?" Tanya Arsya khawatir melihat istrinya tidak beranjak dari tempatnya.


"Seperti nya aku mau lahiran mas, ini kontraksi nya makin lama dan sering," lirih Laura menahan sakit di perutnya. "Aaakkk, mas,, perutku!!" seru Laura saat merasakan kontraksi lebih besar lagi.


"Tahan dulu sayang, tahan!!" seru Arsya.


Arsya begitu panik saat Laura mengalami kontraksi, dia pun bergegas menghubungi supirnya untuk mempersiapkan mobil.


"Ayo sayang, aku gendong kamu" ucap Arsya panik.


Laura yang menahan rasa sakit hanya meringis. Tidak lama kemudian tubuhnya berasa melayang ke atas, Arsya sudah menggendong Laura dan segera keluar dari dalam kamar.


"Mas, aaakk sakit!!" rintih Laura. Kontraksi kali ini memang sudah sering.


"Tenanglah sayang, kita akan segera ke rumah sakit."


Arsya meminta pengasuh Putri untuk menjaganya karena akan ditinggal di rumah sakit.


Arsya langsung membawa Laura masuk ke dalam mobil dan menyuruh sopirnya untuk langsung melajukan menuju rumah sakit.

__ADS_1


"Sakiitt sekali, mas," rintih Laura.


Arsya sedikit bisa menenangkan diri, dia ingat ini bukan yang pertama untuknya, jadi Arsya harus bisa lebih tenang dari sang istri.


Meskipun Laura sudah pernah mengalami ini, tapi rasanya tetap sama sakitnya. Laura tidak tahan, sepanjang perjalanan dia hanya bisa berdoa di dalam hati.


Akhirnya mereka sampai dirumah sakit.


Kontraksi itu datang lagi, dengan cepat Arsya segera membawa istrinya ke ruang perawatan khusus.


"Cepat periksa istri saya!!" teriak Arsya pada semua dokter dan perawat yang ada di ruangan itu.


Dengan cepat para perawat langsung membaringkan Laura ke ranjang pasien. Dokter pun memeriksa Laura yang sudah terlihat pucat dengan keringat bercucuran itu.


"Harap tenang ya Pak, jangan panik," ucap seorang dokter kandungan.


Arsya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan, dia ulangi sampai tiga kali. Arsya akhirnya bisa sedikit lebih tenang.


"Masih dalam tahap pembukaan ke dua, jadi harus membutuhkan pembukaan 10 dulu untuk kelahiran normal, tapi kalau ingin operasi Caesar kita bisa segera persiapkan" ucap Dokter wanita itu.


"Aku mau melahirkan normal, mas," ucap Laura pada suaminya. Karena di kelahiran pertama dia harus operasi.


"Apa tidak masalah untuk mu sayang, harus menahan rasa sakit selama menunggu pembukaan lengkap?" tanya Arsya.


Pria itu memang telah mempelajari beberapa artikel tentang kondisi wanita hamil atau persiapan persalinan saat kehamilan Putri dulu.


"Aku ingin melahirkan normal saja, karena ingin bisa merasakan menjadi wanita seutuhnya kalau persalinan lewat jalan itu," jawab Laura.


Arsya akhirnya mengalah, di pun tidak ingin berdebat dengan istrinya saat ini, setahu dia wanita hamil saat mengalami kontraksi itu sangat menyakitkan.


"Baiklah sayang, kamu pasti kuat."


Laura tersenyum dan mengangguk, dia begitu bersyukur dengan diberikannya suami yang begitu siapa. Laura sudah berjanji dalam hatinya, dia akan selalu berbakti pada sang suami.


Saat ini Laura sudah di pindahkan ke ruang khusus persalinan. Dokter menyarankan bahwa Laura harus sering bergerak atau berjalan-jalan.


"Ayo, mas bantu kamu berdiri sayang," ucap Arsya. Dia sudah menghubungi Ayahnya dan mertuanya jika sekarang Laura sudah berada dirumah sakit.


Laura menggeleng, rasanya dia sudah tidak bisa untuk sekedar berjalan ke kamar mandi.


"Aku udah nggak kuat, mas," ucap Laura.


Arsya merasa kasihan terhadap istrinya itu, andai saja dia bisa membantu mengurangi rasa sakit nya pasti Arsya sudah meminta sesari tadi.


Keluarga besar pun datang, Adam dan orang tua Laura datang membawakan semua kebutuhan untuk Laura.


"Bagaimana keadaan mu sayang?" tanya Mama Lina.

__ADS_1


"Masih proses pembukaan kedua Ma, tapi rasanya Laura sudah sangat lemah," Arsya yang menjawab.


"Kenapa tidak operasi Caesar saya?"


"Aku hanya ingin bisa melahirkan normal Ma," jawab Laura.


Axelo datang bersama Andara, kehamilan Andara juga sudah memasuki usia 6 bulan.


"Apa kamu tidak punya baju yang pantas Arsya, sampai tidak mengganti piyama mu?" Tanya Ayah Adam yang melihat putranya tidak memakai pakaian yang pantas.


Duh, Ayah Adam ini benar-benar tidak tahu kepanikan Arsya tadi sampai tidak sempat mengganti piyamanya.


"Tadi aku sungguh panik melihat istriku yang kontraksi Yah, jelas saja langsung membawa ke rumah sakit dengan tanpa sadar aku belum mengganti pakaian." Jawab Arsya.


"Pak Arsya sebaiknya pulang dulu ganti baju, nanti mbak Laura biar kami yang jaga," ujar Andara.


Arsya mengangguk, kemudian Arsya memutuskan untuk pulang ke rumah sakit karena Laura sudah ada yang menemani.


******


Akhirnya Laura melahirkan normal, Arsya juga lega ketika sang istri sudah melahirkan.


Laura tersenyum senang saat menatap sang buah hati yang berada di box nya.


Para keluarga besar sudah hadir di dalam sebuah kamar rawat VVIP di rumah sakit itu.


"Wah mbak Laura dan Pak Arsya, selamat ya?" ujar Andara pada sang kakak ipar.


"Sama-sama, kalian juga bentar lagi akan memiliki seorang malaikat," jawab Laura tersenyum.


"Siapa nama putri kedua kalian?" Tanya Papa Adam.


"Belum dikasih nama, Yah!" Arsya yang menjawab.


"Biar aku saja yang memberi nama," seru Mama Laura yang bernama Lina.


"Ma, biar mas Arsya aja yang kasih nama," ucap Laura.


Terpancar kebahagiaan yang menyelimuti keluarga yang sangat berpengaruh di kotanya itu.


Laura tersenyum memandang sang suami begitupun dengan Axelo. Laura mengangguk memberi kode kemudian suaminya menepuk tangan Dua kali memberi aba-aba agar semua orang menghadapnya.


"Harap jangan berisik, aku dan Laura sudah mempersiapkan nama untuk putri kami," ucap Arsya.


"Siapa namanya sayang," seru Mama Lina.


"Nama putri kami adalah Tiya Airlangga," jawab Arysa tersenyum menatap sang istri.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2