Skandal Sang CEO

Skandal Sang CEO
Episode 82


__ADS_3

Happy Reading.


Pagi hari di kediaman Arie.


Arie dan kakak sepupunya sedang sarapan bersama. Tidak ada Bunda Andara karena masih di Amerika menunggu Ayah Axelo yang sedang sakit. Pantes lama nggak pulang-pulang ternyata Ayah Axelo jatuh sakit di negeri orang.


Evan sendiri ditugaskan pulang untuk mengurus perusahaan Pamannya itu yang ada di Indonesia. Meskipun bukan perusahaan nomer satu di Indonesia, tapi kekayaan yang dimiliki keluarga Airlangga tidak akan habis tujuh turunan.


Sedangkan Tiya yang dari semalam ditunggu oleh Arie tidak pulang ke rumah, bahkan nomernya tidak aktif.


"Gimana keadaan Ayah, kak?" tanya Arie pada Evan. Mereka beda Enam tahun dan Evan sudah dianggap sebagai anak sendiri oleh Axelo dan Andara, sehingga diberi kepercayaan yang besar.


"Alhamdulillah sudah membaik, untung Bunda cepat datang dan langsung bisa merawat Ayah," jawab Evan.


"Syukurlah kalau sudah baik, semoga cepat sehat dan kembali ke tanah air," ucap Arie.


"Aamin!"


Evan menatap Arie, adiknya itu sebentar lagi lulus kuliah, dan sudah diberi tanggung jawab yang besar. "Setelah wisuda kamu sudah harus turun tangan menangani perusahaan Ar, biar bagaimanapun perusahaan itu akan menjadi milikmu kelak. Kalau aku harus mengembangkan perusahaan Ayah yang ada di Amerika," tegas Evan kepada adik sepupunya itu.

__ADS_1


"Hemm baiklah, wisuda tinggal beberapa bulan lagi, aku akan bersungguh untuk presentasi skripsiku," jawab Arie tenang, jelas saja jawab Arie memang memiliki kecerdasan diatas rata-rata.


Tentu dia akan mampu dan lulus di usia 21 tahun.


"Ngomong-ngomong Tiya mana Ar? kok gak kelihatan?" tanya Evan.


Tiba-tiba Arie menghentikan sendok makan yang akan di masukin ke mulutnya. Dia terlihat marah ketika teringat nama Tiya.


"Entahlah, aku benar-benar membencinya saat ini! aku sudah selesai makan. Permisi kak," ucap Arie bangkit dari duduknya kemudian berlalu dari hadapan Evan.


Evan hanya tersenyum melihat tingkah adik sepupunya itu, tetapi tiba-tiba senyumnya itu berubah menjadi seringai.


Tiya, dasar wanita murahan! aku akan membuatmu malu seperti dulu kamu mempermalukan ku, dan untuk Arie.. hemm sebenarnya kasihan dia, tapi pacarnya boleh juga. Batin Evan.


Di kampus, Aldo dan serly sedang berada di kantin. Saat hendak mencari tempat duduk tiba-tiba ada seorang cowok yang menabraknya.


"Maaf-maaf, aku tidak sengaja. kamu gak papa kan?" ucap cowok itu karena hampir membuat Serli terjatuh dan untung ada Aldo yang menahan tubuhnya.


"Ehm gak papa," ucap Serli menatap cowok itu. Merasa tidak asing tapi dia tidak ingat dimana pernah melihat.

__ADS_1


"Oke kalau gitu aku pergi dulu ya, buru-buru soalnya," ucap cowok itu kemudian berlari ke arah parkir untuk mengambil mobil. Sepertinya memang ada urusan yang mendesak.


"Yank, kayak nya aku gak asing dengan wajah cowok itu, tapi dimana ya aku melihatnya?" ucap Serli pada Aldo, yang membuat Aldo mengerutkan dahi.


"Oh ya? Seperti nya dia mahasiswa disini, emang kenapa kamu kok kaya penasaran gitu?" tanya Aldo menatap Serli curiga.


"Eh bukan gitu, jangan salah paham dulu, maksudku aku pernah lihat dia jalan sama seseorang yang aku kenal, tapi lupa itu siapa dan dimana?"


"Ah, kamu tuh ya gak biasa nya ngurusin orang, ayo cepat pesan makanan," ucap Aldo memanggil pelayan.


Tapi tentu saja Serli masih penasaran. Dia hanya penasaran dengan pemikiran nya yang belum ketemu tentang cowok tadi.


"Udah, gak usah dipikir lagi, apa kamu suka sama tuch cowok, sampai-sampai mikirnya ampe gitu amat," ucap Aldo yang terlihat gak suka dengan sikap kekasihnya itu.


"Siapa juga yang suka, udahlah gak usah dibahas lagi," ucap Serli ketus.


Aldo hanya tersenyum melihat tingkah ketus kekasih nya itu. Perasaan nya terhadap Serli pun semakin dalam. Semakin kesini dia semakin mencintai kekasihnya itu.


Sedangkan Serli hanya cemberut. Dia tidak suka kekasihnya mengatainya suka sama cowok lain, padahal memang dia hanya penasaran saja.

__ADS_1


Bersambung.


Maaf baru bisa up lagi 🙏


__ADS_2