
Mohon maaf bila banyak Typo
Happy Reading.
Arsya dan Laura merasa sangat bahagia dengan kelahiran Baby Tiya secara normal. Si cantik sedang di gendong oleh ayahnya. Baby Tiya sangat mirip dengan Laura, kecantikan nya diwariskan dari sang ibu yang memang begitu menawan.
Kebahagiaan jelas terpancar dari wajah Arsya dan Laura, tidak henti-hentinya senyum merekah yang nampak di wajah mereka.
"Cantik banget, sih? Mudah-mudahan calon putraku juga ganteng seperti Papanya," ujar Andara gemas mencium pipi baby girl yang baru berusia beberapa jam itu. Mengajak bayi yang masih merah itu untuk bicara.
Axelo mendekat ke arah sang istri dan melihat keponakannya yang sangat cantik itu.
"Ya jelas ganteng donk calon Baby Boy-ku kan dari bibit unggul, lihat Bapaknya aja udah ganteng gini, apalagi di padu padan sama istriku yang sangat cantik, nanti gak kalah gantengnya sama Papanya," ujar Axelo tersenyum puas karena pujian dari istrinya.
Arsya memutar bola matanya malas, dia memberikan Baby Girl-nya yang sepertinya sudah haus karena memang sudah saatnya di beri ASI.
"Uluh-uluh, Dedek Tiya udah haus, sini sayang, mimik dulu, ya?" Laura mengambil Putri keduanya dari dekapan sang Ayah.
"Mas, ayo keluar!" Andara menarik Axelo keluar dari ruangan itu karena Laura mau memberikan ASI untuk putrinya.
"Iya sayang ku, aku juga udah haus mau beli minum dulu," ujar Axelo memeluk bahu istrinya dan keluar dari ruang rawat Laura.
Sedangkan Laur sudah fokus menyusui Baby Girl yang di beri nama Tiya itu.
****
Beberapa waktu kemudian.
Aaakkkkk!!"
Axelo mendengar teriakkan di dalam kamar mandi dan dalam sana ada sang istri yang sedang membersihkan diri.
"Andara!!" Axel langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi dan melihat istrinya sudah duduk di pinggiran bathtub.
"Mas,, sakit!" Andara memegang perutnya. Merintih kesakitan karena terpeleset dan terjatuh.
"Sayang, tenang, kamu tidak apa-apa kan?" Axelo langsung menggendong sang istri. Pada saat tubuh Andara di angkat, tiba-tiba tercetak noda merah di bawah tempat itu.
"Sayang, bajumu berdarah!" Axelo panik, dia langsung berlari keluar ketika menyadari daster Andara sudah berwarna merah di bagian belakangnya.
"Siapkan mobil!!" Seru Axelo. Para penjaga yang mendengar itu langsung bersiap-siap. Saat itu Mama Siska sedang berkunjung ke rumah Andara dan Axelo. Siska terkejut melihat daster Andara yang berwarna merah.
"Ya Allah,, apa yang terjadi sama Dara?"
"Saya juga gak tau Ma, sepertinya terjatuh di kamar mandi, sebaiknya kita pergi ke rumah sakit sekarang." Axelo langsung masuk ke dalam mobil dan langsung menyuruh sopir melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit dengan cepat.
(Kenapa persis seperti drama Laura dan Arsya)
Sesampainya di rumah sakit, Axelo langsung meminta tolong dokter Fia yang memang sudah dia hubungi pada saat di perjalanan.
"Tolong istri saya dok," seru Axelo.
"Iya pak, saya akan usahakan, sepertinya Andara mengalami pendarahan akibat terjatuh, nanti kami akan mengambil tindakan setelah memeriksa kondisi janin dan ibunya."
Andara di bawa ke ruang ICU karena kondisinya yang kritis. Tidak lama kemudian dokter Fia keluar dan menghampiri Axelo.
"Pak, sepertinya istri anda harus segera dioperasi karena kondisi janinnya yang sudah tidak baik dan harus segera dikeluarkan," ujar dokter Fia.
Tentu saja Axelo terkejut mendengar berita itu, dadanya seperti dihantam batu besar, tapi kalau memang harus seperti itu jalannya, Axelo memberikan izin pada dokter Fia.
"Baiklah pak, kami akan siapkan proses kelahiran dengan operasi Caesar," ujar sang dokter.
*****
Axelo terlihat mondar mandir di depan ruang operasi, dengan rambut yang sudah berantakan dan wajah yang terlihat gelisah dengan keringat mengucur deras di dahinya.
Hatinya tidak tenang kala sang istri di haruskah melakukan operasi Caesar karena kondisinya, lampu di atas pintu ruangan itu masih menyala, menandakan kegiatan di dalamnya belum selesai.
Axelo tidak tenang, bahkan dia berkali-kali mengacak rambutnya terus. Sungguh pria itu merasa sangat kacau melihat keadaan sang istri yang ternyata harus di lakukan operasi karena kondisi janinnya harus di selamatkan akibat pendarahan itu, kalau tidak, akan sangat berbahaya dengan kondisi janin di dalam perut Andara.
__ADS_1
"Nak Axel, bagaimana keadaan Andara?" Tanya Mama Siska yang baru saja datang bersama Aninda. Kini Aninda sudah resmi bercerai dan hak asuh Evan jatuh padanya.
"Andara masih di ruang operasi Ma, kata dokter harus segera di lakukan operasi untuk menyelamatkan calon putra kami." Jawab Axelo lemah.
Kepanikan yang melanda dirinya kini sudah berangsur menghilang karena Axel terus saja melafalkan doa dan dzikir agar hatinya tenang. Axelo percaya bahwa Andara dan calon bayi mereka baik-baik saja.
"Ya Allah, mudah-mudahan Andara dan putra kalian selamat, semoga tidak terjadi hal-hal yang buruk, semoga cucuku baik-baik saja." Ucap Mama Siska yang di Aminkan Axel dan Aninda.
"Iya Ma, Aamiin. Axel mau ke mushola dulu Ma, tolong jaga Andara, Anin saya tinggal dulu," ujar Axelo.
"Iya kak, kak Axel yang tenang ya, pasti kak Dara baik-baik saja," ujar Aninda.
Akhirnya Axelo melangkah pergi menuju mushola yang ada di rumah sakit itu. Axelo sekarang lebih rajin sholat bersama Andara. Wanita itu berpengaruh banyak di hidup Axelo yang dulu sering meninggalkan sholat.
Axelo hanya ingin keselamatan istri dan calon putranya.
Kecemasan luar biasa yang Axelo hadapi saat ini adalah melihat keadaan sang istri yang tergolek lemah di ranjang operasi. Bahkan dia tidak di perbolehkan masuk hanya untuk menyemangati sang istri yang sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri itu.
Andara terpeleset di kamar mandi dan terjatuh dalam keadaan tengkurap, hal itu membuatnya pendarahan dan juga menyebabkan plasenta pecah.
"Ya Allah, tolong selamatkan istri dan putra kami, jangan biarkan terjadi hal-hal yang buruk, engkau maha segalanya, dzat pemberi kesembuhan dan kesakitan, tolong jangan biarkan istri hamba menanggung sakit lain, dia sudah cukup teramat banyak memikul beban berat dalam hidupnya dan banyak mengalami hal-hal yang membuat hatinya terluka. Maka dari itu, tolong selamatkan lah istri dan calon putra kami agar lahir dengan selamat, Aamiin." Axelo menangkup wajah nya dengan kedua tangan.
Setelah melakukan sholat, Axelo merasa hatinya sedikit lega.
****
"Oeek, oekk!"
Mama Siska dan Aninda mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruang operasi, rasa haru dan syukur karena keponakan Anin sekaligus cucu Siska sudah lahir di dunia.
"Alhamdulillah." Seru Aninda dan Mama Siska bersyukur sambil menitikkan air mata.
Tidak lama setelah itu Axelo datang bertepatan dengan seorang perawat keluar dari dalam ruang operasi tersebut.
"Anin, Mama, bagaimana keadaan Andara?" Tanya Axelo. Tadi dia juga sudah mengabari Ayahnya dan juga Arsya kalau Andara masuk rumah sakit.
"Suster, apakah itu cucu saya?" Seru Mama Siska pada perawat yang membawa bayi mungil yang hanya diam saja tidak menangis itu.
"Sebentar saja ya pak, saya harus cepat membawa bayi bapak ke incubator karena kondisinya yang lahir prematur, dia juga berhenti menangis saat ini." Jawab perawat itu.
"Axel, sebaiknya biar di taruh di incubator dulu, takutnya terjadi apa-apa sama cucu Mama," ucap Mama Siska.
Axelo akhirnya mengangguk dan pasrah, demi kondisi putranya yang memang terlahir sebelum hari perkiraan lahirnya itu. Saat ini usia putra Axelo dan Andara masih tujuh bulan saat berada di dalam perut ibunya, itu berarti kurang dua bulan lagi seharusnya dia lahir, tapi nyatanya Tuhan berkehendak lain.
Akhirnya perawat itu segera membawa putra Axelo ke ruang incubator setelah sebelumnya di bersihkan terlebih dahulu.
****
Axelo menatap wajah mungil putranya yang berada di dalam ruangan kaca itu, bibir merah alami, kulit putih pucat dan hidung yang mancung terlihat sungguh sangat tampan. Mata Axelo berkaca-kaca, hatinya menghangat dan bahagia tiada tara melihat putranya.
Putra kecilnya hadir di dunia dengan kondisi yang sehat, meskipun belum seharusnya terlahir di dunia tetapi nyatanya sang putra seakan ingin melihat dunia dengan cepat.
"Sayang, putranya Ayah, kenapa tampan sekali? ketampananmu melebihi Ayah, nak." Axelo berusaha mengajak putranya untuk bicara.
"Nak, apa kamu gak ingin ketemu bunda dan menyusu sama bunda, yuk Ayah ajak kamu ketemu sama bunda, ya?" Axel mengajak bicara putranya yang masih berada di dalam inkubator.
Ayah Adam dan Arsya datang ke rumah sakit sedikit terlambat karena mereka harus mengadakan meeting terlebih dahulu.
"Bagaimana keadaan Andara?" Tanya Ayah Adam.
"Andara masih belum siuman Yah, tapi putra kami lahir dengan sehat," jawab Axelo tersenyum menatap sang putra.
"Cucu kakek, sehat ya?" Ujar Ayah Adam mendoakan kesehatan cucunya yang lahir prematur itu.
Arsya mengelus bahu Axelo memberi kekuatan. "Sabar ya, pasti Andara baik-baik saja, dia wanita yang sangat baik, Allah sedang menghapus dosanya dengan cara seperti ini," ujar Arsya.
Axel mengangguk lemah, matanya tidak pernah lepas dari pandangan terhadap putrinya.
Mama Siska dan Aninda melihat baby Axel dan Dara dengan tatapan haru. Sungguh tidak pernah dibayangkan jika Andara akan mengalami cobaan seperti ini.
__ADS_1
Sudah tiga hari ini Andara belum juga sadar setelah operasi itu.
Axelo tidak henti-hentinya terus berdoa, hingga akhirnya dia meminta kepada dokter untuk membawa putranya pada sang Bunda.
"Bunda, ini Baby Arie sudah ada di sini, namaku Arie kan Bunda, seperti keinginan Bunda dulu, Arie Azra Airlangga," Axelo meletakkan putranya yang terlelap disamping sang istri.
Hal itu terus Axel lakukan sampai hari ke lima dan akhirnya Andara berhasil membuat matanya.
Axelo benar-benar merasa bahagia melihat sang istri yang sudah sadar. Ternyata membawa sang putra untuk merangsang bundanya agar bisa segera sadar sepertinya berhasil.
"Andara sayang, ya Allah kamu sadar!"
"Mas," lirih Andara
"Iya sayang, Alhamdulillah mas seneng banget akhirnya kamu sadar, berkat putra kita," Axelo mencium kening Andara. Sementara Andara yang melihat hal itu ikut menangis terharu.
"Sayang, ternyata putra kita berhasil membuatmu sadar, aku yakin ikatan batin kalian memang sangat kuat." Axel menatap sang putra yang begitu mungil berada di dekapan sang istri.
Beberapa saat kemudian dokter Fia masuk bersama dua perawat lainnya. "Saya akan memeriksa pasien dulu ya Pak, suster tolong gendong bayinya dulu." Ucap Fia tersenyum sopan.
"Selamat ya Pak Axel akhirnya mbak Andara sadar."
"Iya dokter, terima kasih atas bantuannya selama ini." Fia mengangguk.
"Sekarang tinggal melakukan pemulihan saja."
****
Seminggu kemudian.
"Mas, sudah menyiapkan nama putra kita?" Tanya Andara yang sedang menyusui.
"Sebenarnya mas sudah menyiapkan nama sendiri, tapi kalau kamu punya nama yang bagus, boleh pakai nama darimu saja, sayang." Ucap Axel mengelus bahu istrinya.
"Bagaimana kalau kita beri nama yang sudah kamu persiapkan?"
Axelo nampak menimang-nimang.
"Bagus itu, Arie Azra Airlangga, gimana mas, suka nggak?"
"Mas suka kok sayang, Arie bagus juga, baiklah nama putra kita deal Arie Azra Airlangga!" Jawab Axelo menoel pipi sang putra yang sudah terlihat lebih gembil itu.
Andara tersenyum, entah kebahagiaan apa lagi yang ia rasakan, Andara merasa sudah menjadi wanita yang sempurna ketika dia sudah di percaya mengandung dan melahirkan bayi yang sehat, meskipun lahir prematur. Tapi melihat sang baby yang sangat tampan itu membuatnya begitu bersyukur.
Akhirnya setelah hampir 8 hari di rawat di rumah sakit Andara sudah di perbolehkan pulang. Bersama putranya yang juga sudah semakin stabil. Meskipun lahir di usia 7 bulan, baby Arie semakin sehat dan sudah tidak perlu di inkubator lagi.
Berat badannya juga bertambah naik setelah mendapatkan ASI eksklusif dari sang bunda. Sungguh ASI memang memiliki dampak yang luar biasa bagi pertumbuhan bagi sang baby. Buktinya baby Arie semenjak mendapat ASI eksklusif berat badannya juga langsung bertambah dan juga semakin sehat.
Setelah sampai di rumah rencananya nanti akan di adakan Aqiqah untuk Baby Arie. Banyak tamu yang di undang memberikan doa terbaik untuk putra Axelo dan Andara.
Dan akhirnya acara malam Aqiqah pun di gelar, dua ekor kambing juga di sembelih untuk menjalankan sunnah.
Semuanya bersuka cita menyambut kehadiran keluarga baru sebagai pewaris AA Corporation.
Keluarga besar juga datang dari Australia untuk melihat cucu-cucu pertama dan kedua mereka. Terlihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Andara dan Axelo.
"Nak, terima kasih ya karena telah menjadi suami yang siaga dan memberikan kami cucu yang begitu tampan." Ucap Mama mertuanya. Axel.
"Iya Ma," jawab Axelo
"Mama harap dengan kehadiran baby Arie, bisa membuat langgeng hubungan kalian!" Ujar Mama Siska.
"Sayang, Arie mau minta susu, kayaknya udah haus." Andara menerima sang putra dan langsung menggendong nya.
"Oh ya, Andara mau memberi Asi dulu ya, Ma?"
"Iya sayang, sana ke kamar dulu dan beri ASI yang banyak untuk cucu Mama." Jawab Mama Siska
Andara pun bergegas pergi menuju lantai atas.
__ADS_1
"Nak, Mama harap kamu bisa menjadikan Andara istri satu-satunya dan tidak akan pernah menduakan nya."
"Tentu Ma!"