
" Paman, apa aku boleh menanyakan sesuatu pada mu?" tanya David meminta izin.
" Tentu saja boleh. Paman akan menjawabnya." Jawab Jian sambil merapikan dasi.
" Saat So Yun tidak sadarkan diri semalam, dia selalu menyebut nama Justin. Apakah paman tahu siapa Justin itu? " tanya David penasaran.
Jian sempat terdiam sejenak lalu menjawab, " Justin adalah kekasih So Yun dulu semasa SMA, mereka cukup dekat dan lumayan lama berpacaran "
" Kalau boleh tahu, berapa lama mereka berhubungan ? " tanya David lagi.
" Paman kurang tahu pasti, tapi seingat paman mereka berpacaran sejak awal masuk SMA, sampai So Yun kuliah diluar negeri pun mereka masih memiliki hubungan " jelas Jian.
" Oh begitu. Apa sekarang mereka masih pacaran?" tanya David yang semakin penasaran.
" Paman juga kurang tahu, tapi sejak Yun pulang, dia tidak pernah menceritakan tentang hubungan asmaranya lagi. Mungkin saja mereka sudah putus." jawab Jian sambil tersenyum dalam hati.
David yang mendengar setiap jawaban dari Jian itu pun terdiam dan sempat berpikir. Apa mungkin laki-laki itu yang pertama kali denganmu?
" Memang nya kenapa nak David bertanya tentang Justin?" tanya Jian
" Eh tudak ada paman, hanya mau tahu saja sebab malam itu So Yun terus menyebut namanya " jawab David tersadar dari lamunannya.
" Jika nak David ingin tahu lebih banyak tanyakan saja langsung pada So Yun" saran Jian
" Ya paman. Kalau begitu aku pamit dulu, masih ada pekerjaan yang harus ku selesaikan " kata David mohon pamit.
" Hati-hati di jalan. Mampirlah ke rumah jika kamu punya waktu luang " kata Jian sambil mengiringi David keluar ruangan.
Saat berada di loby, semua karyawati memperhatikan David yang memiliki wajah tampan dan tubuh yang sixpack, mata mereka tak bisa lepas darinya.
" Hey apa yang kalian lihat? Cepat kembali bekerja! Seperti tidak pernah melihat orang saja " teriak So Yun kepada para karyawati yang memandangi David.
" Ada apa nona So Yun, apakah kamu cemburu jika mereka menatapku? " tanya David yabg mendekati So Yun.
" Huh untuk apa aku cemburu padamu. Aku kemari ingin mengusirmu dari sini. Cepat pergi, atau nanti para wanita disini akan bermalas-malasan karena melihatmu yang sok tampan itu !" kata So Yun mendorong pundak David menuju pintu.
" Jika aku tidak ingin pergi kamu mau apa?" kata David sambil membalikkan badan dan merangkul pinggul So Yun.
__ADS_1
" Kau ! Apa apaan ini. Lepaskan aku! " kata So Yun memberontak.
" Dengar baik-baik nona, aku tahu siapa yang pertama kali tidur denganmu. Jadi bersikap baiklah padaku kalau tidak mau papamu tahu tentang itu " bisik David di telinga So Yun.
So Yun yang mendengar ucapan David itu pun langsung terdiam seribu bahasa tanpa jawaban.
" Aku akan pergi. Nanti siang temui aku di Restaurant tadi pagi. Kalau tidak.." kata David sambil melepaskan rangkulannya dan mengedipkan sebelah mata pada So Yun.
So Yun tidak bergerak sedikit pun, ia kaget mendengar David mengetahui rahasia yang selama ini ia simpan. Sementara David sudah berjalan keluar dan menuju kantornya.
" Yunyun. Apa apa? Kenapa diam seperti patung ?" tanya Vania teman satu ruang kerjanya.
" Eh tidak.. tidak ada apa-apa " jawab So Yun kaget
" Lalu kenapa bengong seperti itu? Atau si presdir tampan itu barusan mengungkapkan cintanya ya?" tanya Vania menggoda.
" Kamu ini apaan sih. Siapa yang cinta sama orang jahat seperti itu. Malah aku benci padanya " jawab So Yun sambil berjalan meninggalkan Temannya itu.
" Hei kata pepatah jaman dulu, kita tidak boleh terlalu membenci orang. Nanti rasa benci akan menjadi cinta lho " kata Vania mengejar So Yun.
" Tapi dari ekspresi wajahmu jelas terlihat bahwa kau memendam perasaan padanya." goda Vania
" Apaan sih Vania? Berhenti membicarakan dia didepanku. Kalau kau suka ambil saja."
" Wah serius.. Kalau begitu aku saja yang mendekatinya jika kamu tidak mau." kata Vania sambil cengar-cengir.
" Belum tentu juga dia suka sama kamu Van. Haha. Sudah ayo balik kerja " kata So Yun meledak.
percakapan mereka berdua pun berhenti sampai disitu lalu mereka melanjutkan pekerjaannya kembali.
☆ **Jam Istirahat Makan Siang** ☆
Ding..Ding...Ding..( suara nada dering telepon )
" Hallo.." So Yun menjawab telponnya.
" Ku harap kau tidak lupa apa yang aku katakan tadi pagi. Aku menunggu mu di luar " kata David si telpon.
__ADS_1
" Tapi aku...tuuut...." Belum selesai So Yun berbicara tapi sambungan telpon sudah di tutup oleh David.
Dasar berengsek, berani mengancam saja. Kita lihat saja nanti. Aku akan buat kamu berlutut padaku. Gumam So Yun menggerutu di dalam hati.
So yun pun bergegas keluar dari kantor, ia mencari keberadaan David yang katanya menunggu di luar. Tiba-tiba...
" Nona, mari ikuti saya. Tuan muda sudah menunggu dimobil." kata Asisten Hensen yang tiba-tiba muncul.
" Eh Asisten Hensen, kau disini juga " kata So Yun
" Tentu saja, aku adalah tangan kanan presdir, jadi kemana pun dia pergi aku akan slalu ada. hehe " Jawab Hensen tersenyum.
" Ternyata Asisten Hensen ini lebih ramah dan humoris ya di banding dengan si brengsek itu." kata So Yun dengan ekspresi wajah yang berubah menjadi cemberut.
" Sstt Nona pelankan suaramu, nanti presdir akan dengar. Ayo .." kata asisten Hensen dengan wajah merona.
So Yun pun mengikuti langkah sang asisten menuju mobil dan mereka pun menuju ke restoran tempat David mengajak So Yun sarapan tadi pagi.
Di dalam mobil suasana terasa begitu sangat dingin dan kaku. So Yun menggeser tempatnya duduk menjauh dari David.
" Kenapa geser terus? Apa kamu tidak suka duduk disampingku?" tanya David dengan nada sinis.
" Tidak. Aku hanya kurang nyaman saja " kata So Yun berpura-pura.
" Ya sudah sini. Kamu akan merasa nyaman " kata David menari So Yun agar mendekat.
Apa-apaan ini. Si Brengsek ini lagi-lagi menarikku seperti ini. Tidak ada jarak sama sekali."
" Sekarang bagaimana? Apa sudah nyaman?" tanya David merangkul tubuh Soo Yun.
" ini.. Aku tidak bisa bernafas Jika kamu memelukku seperti ini." Jawab So Yun dengan nada hati-hati.
David meregangkan pelukannya dan menyandarkan kepala So Yun di dadanya yang bidang itu.
Kenapa rasanya sangat hangat, hatiku merasa senang tiap kali dia memperlakukanku seperti ini.. Walaupun aku hanya bisa memendam perasaanku, tapi izinkan aku menikmati suasana ini sekali ini saja" Kata So Yun dalam hati perlahan memejamkan matanya.
Sepanjang perjalanan mereka duduk berdekatan menuju ke restaurant, Mereka berdua saling diam meski sudah berdekatan seperti ini.
__ADS_1