
Beberapa bulan berlalu kini usia kandungan So Yun telah memasuki trisemester terakhir, ia sedang mempersiapkan diri untuk kelahiran anak ke 2 nya itu.
"Duh nyonya, jangan terlalu capek!! Pekerjaan ini biar bibi yang beresin, nyonya duduk aja nanti kami yang akan dimarahi oleh tuan " kata Bibi Zhu mengambil alih sapu dari tangan So Yun.
"Nggak apa-apa kok bi, lagian aku nggak mau duduk terus kaki aku udah bengkak. Aku juga butuh gerak biar nggak terlalu bosan bi " jawab So Yun.
"Ya sudah bagaimana kalau nyonya siram tanaman aja, ini biar bibi yang nyapu " bujuk bibi Zhu.
"Ide bagus, kalau begitu aku akan siram tamanan saja ya bi "
So Yun mengambil selang air yang sudah dihidupkan oleh bibi Zhu, dengan senang hati ia menyirami tanaman yang ada disekitar halaman rumahnya. Sementara bibi Zhu menyapu daun-daun kering yang berjatuhan.
Saat sedang asik menyiram tanaman, tiba-tiba So Yun merasa perutnya mulas dan nyeri dibagian bawah.
"Aduh... Auw " So Yun mengerang menahan rasa sakitnya.
"Nyonya ada apa? " bibi Zhu panik dan melempar sapu kesembarang arah lalu menghampiri So Yun.
"Perutku mules bi, sepertinya aku mau melahirkan... Aduuh " So Yun terlihat meringis memegang perut buncitnya.
"Saya panggilkan sopir ya non biar segera dibawa ke rumah sakit. Nyonya tunggu sebentar disini " bibi Zhu menuntun So Yun dan mendudukkannya disebuah kursi.
Setelah menunggu beberapa menit bibi Zhu datang dengan seorang sopir yang sudah menaruh mobil didekat mereka.
"Ayo cepat bantu nyonya masuk ke dalam mobil!! " kata bibi Zhu pada sang sopir.
Mereka pun membawa So Yun menuju ke rumah sakit karena sudah terlihat air ketuban So Yun yang sudah pecah.
"Nyonya sabar ya, bertahanlah sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit. Aku akan mengabari tuan muda " kata bibi Zhu yang tidak dihiraukan oleh So Yun karena menahan rasa nyeri.
__ADS_1
"Hallo tuan muda, segera ke rumah sakit sekarang tuan. Sebab nyonya Yun akan segera melahirkan !! " kata bibi Zhu bicara melalui panggilan telpon.
"Apa? Baiklah kalau begitu bibi tolong jaga istriku dulu, aku akan segera datang kesana " David yang sedang memimpin rapat saat itu juga langsung beranjak dari ruangan itu tanpa berpamitan lagi.
"Kamu mau kemana Dav? " tanya Hensen.
"Ke rumah sakit, So Yun akan melahirkan tolong kamu atur rapat ini ya " jawab David yang terburu-buru meninggalkan ruang rapat.
Sementara itu dirumah sakit sedang ada drama yang membuat para dokter harus bersabar karena So Yun hanya akan melahirkan setelah David datang. Dia tidak perduli apa yang dikatakan oleh dokter. Tak butuh waktu lama akhirnya David sampai dan langsung disuruh masuk oleh perawat untuk menemani So Yun melahirkan.
"Kamu.. sudah datang.." So Yun berbicara dengan nafas yang sudah tak beraturan.
"Iya sayang aku sudah disini, kamu harus kuat untuk melahirkan anak kita " kata David menggenggam tangan istrinya itu.
"Nyonya tolong atur nafas anda dan dorong sekuat tenaga!! " kata Dokter.
"Ayo sayang kamu pasti bisa!! Aku akan selalu disampingmu " kata David menguatkan So Yun.
"Selamat tuan, nyonya kalian mendapatkan seorang putri yang sangat cantik seperti ibunya " puji sang dokter.
"Syukurlah.. Terima kasih sayang.." David merasa lega setelah anak keduanya telah lahir dengan kondisi sehat tanpa kekurangan sedikitpun begitu juga istrinya.
"Pak sebaiknya anda keluar dulu, nyonya akan kami pindahkan ke ruangan ibu dan bayi " kata perawat itu.
"Baiklah jaga istriku dengan benar!! " kata David kemudian beralih pada istrinya "Sayang aku akan tunggu kamu diluar.." ucap David dengan menanggalkan kecupan dikening So Yun.
Perasaan haru kini menyelimuti David, ia segera keluar bergabung dengan bibi Zhu dan sopir yang sedang menunggu diluar. Kedua bawahannya itu bingung melihat tuannya keluar dengan air mata yang menetes, apa terjadi sesuatu? Begitu pikir mereka.
Namun saat David sudah dekat, tanpa aba-aba David memeluk bibi Zhu dan berkata.
__ADS_1
"Bi anakku perempuan bi.. Dia sangat cantik seperti ibunya dan lahir dengan selamat.. " kata David dalam pelukan bibi Zhu dengan nada suka cita.
"Syukurlah... Selamat tuan atas kelahiran putri kedua anda " kata Bibi Zhu.
David memeluk bibi Zhu dengan sangat erat mencurahkan segala perasaan senangnya pada sang asisten rumah tangganya yang sudah mengurusnya sejak kecil. Baginya bibi Zhu bukan hanya sekedar pelayan tetapi juga sosok pengganti seorang ibu yang mencurahkan kasih sayang yang tidak ia dapatkan. David sangat bersyukur memiliki bibi Zhu disisinya yang selalu siap memasang badan jika ada orang yang mengganggunya sejak kecil.
Bibi Zhu juga mengurus David sudah seperti anaknya sendiri, bahkan ia tidak pernah sedikitpun meninggalkan keluarga David dalam keadaan susah sekalipun. Keloyalannya pada keluarga David membuatnya sangat dihargai dan dihormati oleh pelayan lain. Karena selain berposisi sebagai pelayan, bibi Zhu adalah orang kepercayaan David untuk menjaga kakeknya.
David sendiri sudah menganggap bibi Zhu seperti keluarganya sendiri, jadi saat bibi Zhu waktu itu rela memasang badan untuk So Yun, David merasakan kesedihan yang mendalam karena telah gagal menjaga kedua orang yang berarti dalam hidupnya.
"Pak istri anda sudah dipindahkan diruang perawatan, sekarang anda sudah bisa menemuinya lagi " ucap seorang suster memecah keharuan David.
"Baik sus, terima kasih "
David merangkul pundak bibi Zhu mengisyaratkan bahwa beliau juga harus ikut melihat kondisi So Yun. Mereka pun berjalan mengikuti langkah suster tersebut ke ruangan dimana So Yun sedang beristirahat.
"Sayang.. "
Sebuah senyuman mengembang dibibir wanita berparas cantik yang sedang memeluk bayi disisinya.
"Lihatlah putri kita, dia sangat cantik.. " kata So Yun.
"Selamat ya nyonya.. " kata bibi Zhu.
"Bi kemarilah gendong cucu bibi yang cantik ini !! " So Yun menarik tangan bibi Zhu.
"Tidak non, sebaiknya tuan David saja yang pertama menggendong. Bibi akan menyuapkan makanan ini untuk anda " sergah bibi Zhu.
"Iya sayang, biar aku yang menggendongnya dulu kamu makanlah bersama bibi " sahut David.
__ADS_1
So Yun mengangguk dan menyetujui saran keduanya, bibi Zhu mengambil piring berisi makanan yang sudah disiapkan diatas nakas tepat disanping ranjang rumah sakit. Dengan lahap So Yun menghabiskan makanannya mungkin itu karena ia akan menyusui jadi walaupun rasa makanan itu hambar tidak ada apa-apa lagi baginya. Semua makanan telah masuk mengisi kekosongan perutnya.
So Yun juga tidak henti-hentinya tersenyum melihat David asik berbicara dengan putri kecil yang sedang tidur dipangkuannya itu.