So Yun

So Yun
Lega


__ADS_3

Kali ini kita akan pakai sudut pandang dari So Yun ya. Soalnya Author mau istirahat dulu sambil rebahan mikirin ide selanjutnya, hehe.


.


.


.


Aku So Yun terpaku melihat pria yang kini duduk disebelah papaku sambil melempar senyum yang amat manis kepadaku.


Hatiku yang sedari tadi gusar kini sudah sedikit jauh lebih tenang. Entah kenapa tadi ada sedikit keraguan akan keputusanku menerima perjodohan ini. Tapi siapa sangka kini berubah seketika aku melihat pria itu.


" Sayang kok ngelamun sih, ayo disapa donk calon suamimu.." kata mamaku yang sedari tadi memperhatikanku.


Aku mengerjap dan menjawab " Ehm i-iya ma.."


" Ha-hay.." kataku gugup seperti orang bodoh.


Duh aku ini kenapa sih kok jadi gagu gini. Gumamku seraya mengambil nafas dalam.


Laki-laki itu adalah David, orang yang selama beberapa waktu terakhir ini selalu ia hindari. Tak disangka ternyata dia adalah orang yang akan papa pilih untuk menjadi suamiku.


Eh salah, maksudnya calon suami...


" Kok pada diem sih, ayo ngobrol. Jangan malu-malu donk.." kata papa.


" Iya dek jangan bengong gitu. Kasian tuh si David dikerumuni lalet gara-gara kamu anggurin.." kata kakakku terkekeh.


" Apaan sih kak sewot aja, " sahutku kepada kakakku yang memang suka menjahiliku.


" Ya sudah kalau begitu kalian berdua ngobrol aja diteras kalau kalian malu ngomongnya disini." kata mama yang melihatku tampak gugup.


Aku pun mengangguk dan berjalan menuju teras yang diiringi oleh David dibelakangku.


Perasaanku saat itu campur aduk, ada sedikit rasa canggung saat itu. Tapi aku juga lega sih karena pria pilihan papa itu David, sempat terpikir dibenakku membayangkan jika pilihan papa adalah pria berumur.


Duh sia-sia dong aku menggapai karirku kalau sampe nikahnya sama om-om wkwkwk..


Sesampainya diteras, suasana terasa begitu hening. Diantara kami hanya terdiam dan belum ada yang memulai pembicaraan.


" Tidak terasa kita bertemu lagi ya nona " terucap kata itu dari mulut David memecah keheningan.


" I-iya.. Aku.. Minta maaf atas sikapku yang kemarin.. " jawabku merasa tak enak.

__ADS_1


" Tidak perlu minta maaf, aku mengerti kenapa kamu begitu menghindar dariku. Sebenarnya akulah yang harus minta maaf padamu " jawab David.


Aku hanya terdiam dan tak menjawab perkataan dari David tersebut. Kemudian aku bertanya padanya.


" David, kenapa kamu mau dijodohkan denganku? Apakah papaku memaksamu? " tanyaku.


David tersenyum dan berbalik menatapku, " Perjodohan ini aku menyetujuinya, dan juga paman tidak memaksaku " jawabnya.


" Lalu bagaimana dengan kakekmu? " tanyaku yang teringat akan kakeknya yang saat itu marah melihatku.


" Soal itu nanti kamu juga akan tahu.. " jawab David singkat.


Namun jawaban itu tak membuat So Yun puas, seakan masih ada perasaan menggantung mendengar jawaban itu.


— — — — — — — — — — — — — — — — — — — —


Saat kami berdua tengah asik membahas tentang perjodohan ini tiba-tiba terdengar suara..


Dug..


Kami pun menoleh ke arah pintu dan melihat kakakku sedang memegangi kepalanya meringis kesakitan.


" Hahahaha makanya jangan suka nguping pembicaraan orang kak.." kataku tergelak.


" Kakak nggak nguping kok tadi mau keluar cari angin. Pintunya aja yang ngehalangi.." kata kakakku beralasan.


" Ada apa? Kenapa kamu lihatin aku terus seperti itu? " tanyaku menghentikan tawaku.


" Kamu terlihat sangat cantik saat tertawa..." jawabnya.


Sontak saja perkataan itu membuatku merona seketika, duh seperti melayang terbawa angin. Eh tapi kenapa wajahnya semakin dekat denganku, jangan bilang kalau dia....


" Ada daun dipundakmu.." kata David mengambil sehelai daun yang memang ada dipundakku.


Aduh aku ini mikir apa sih. Kukira dia mau itu..huhuhu.


" Ehm ya sudah ayo kita masuk, disini sudah mulai dingin.." kataku sedikit canggung.


David pun mengiyakan ajakanku dan kami oun masuk kedalam, karena memang cuaca malam itu menjadi sangat dingin.


" Kok masuk, udah ngobrolnya? " tanya mama.


" Sudah tante, So Yun bilang dia setuju menikah denganku. " jawab David.

__ADS_1


" Eh apa? Kaoan aku bilang setuju? " kataku heran.


" Duh sayang, kenapa ngomongnya seperti itu? Maaf ya nak David mungkin anak tante malu mengakuinya didepan kami.." kata mamaku.


'Eh ini mama juga apaan sih, kapan aku bilang setuju menikah dengannya. Tadi kan nggak bahas soal nikah. Kok pada ngawur sih ah..' Aku menggerutu dalam hati.


" Karena So Yun sudah setuju, jadi kapan nak David akan mengajak keluarga datang kemari untuk meresmikan hubungan kalian? " banyak Papaku seketika.


" Papa apaan sih, ngapain buru-buru? Aku juga belum jawab kok.." kataku menyela pembicaraan papa.


" Udah dong dek, kenapa harus malu. Lagipula hal baik seperti ini tidak bagus kalau ditunda. Iya kan ma? " sahut kakakku.


" Iya betul apa kata kakakmu nak, lebih cepat lebih bagus." kata mama menimpali.


" Baiklah paman, dalam waktu dekat ini saya akan berusaha mengajak keluarga saya untuk datang kemari dan melamar So Yun. " jawab David dengan penuh keyakinan.


" Nah gitu dong, ini baru pria sejati.." ledek kakakku.


Malam itu waktu seperti terasa begitu panjang, orang tuaku sangat senang atas perjodohan ini. Tetapi ada keraguan yang muncul dalam benakku.


Kenangan pahit 2 tahun lalu, saat aku pertama kali hadir dalam kehidupan David dan kakeknya sangat tidak suka padaku.


Tapi kenapa saat ini David ingin dijodohkan padaku? Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Tapi yang pasti aku berharap kali ini pilihan papa adalah yang terbaik.


Aku tidak mungkin menyakiti perasaan orang tuaku dengan membatalkan Perjodohan ini. Pasti mereka akan sangat kecewa terhadapku.


Terlebih, papa dan mama sangat senang jika David menjadi suamiku kelak. Apa ini? Kenapa takdir seakan mempermainkanku seperti ini?


Malam semakin larut, David berpamitan pulang. Dan aku, ya apalagi yang akan kulakukan selain masuk kekamar tercintaku..


Saat tengah asik membaca buku tiba-tiba ponselku berdering dang ada satu pesan masuk. Kubuka pesan tersebut ternyata dari David.


\= Sayang, kuharap kamu bisa sabar menanti kedatanganku dan melamarmu (David)


" Dih narsis bener sih ni orang, siapa juga yang nggak sabaran. Kalo emang dia gak dateng juga itu lebih bagus. " kataku menggerutu.


Ponselku berbunyi lagi dan mendapat pesan lagi.


\=Cepatlah tidur! Ini sudah larut. Selamat malam bidadariku. I Love You. ( David )


Entah mengapa setelah membaca pesan kedua darinya hatiku merasa sangat senang, semacam habis kejatuhan duit dari langit mungkin.


Maklumlah, aku sudah lama tidak berkirim pesan mesra bersama pasangan selama dua tahun hehehe.

__ADS_1


Kali ini aku menerima pesan itu kembali dan itupun dari pria yang akan menjadi suamiku nanti..


Duh senengnya..


__ADS_2