
Hari berganti hari dan tahun telah berganti tahun, kini Ansel telah tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan dan adiknya yang bernama Zania pun sudah berumur 10 tahun.
Jika David memiliki sikap yang arogan dan dingin, berbeda dengan kedua anaknya yang mewarisi sifat ibunya yang ramah ke setiap orang.
So Yun selalu melarang David untuk mendidik anak-anaknya secara keras apalagi Ansel yang kini tumbuh menjadi seorang pemuda yang akan menjadi pewaris perusahaan yang dijalankan oleh David selama bertahun-tahun.
Apalagi jika David memarahi kedua anaknya, So Yun pasti akan menjadi pelindung bagi mereka berdua. Tetapi walau begitu So Yun juga tegas terhadap keduanya, hanya dia yang berhak memarahi anaknya.
"Sayang, kamu jangan manjain Zania terus dong!! Aku nggak mau nanti Zania jadi anak yang kurang ajar jika di didik dengan uang. " kata So Yun protes karena David selalu menuruti keinginan putrinya.
"Ya gimana ya namanya juga putri satu-satunya, jadi wajar lah aku manjain yank. Aku juga nggak sering kok nurutin kemauan dia " David mencari alasan.
"Salah sendiri siapa yang nyuruh stop punya anak, padahal aku kan mau kasih kamu banyak anak " kata So Yun sewot.
"Aku nggak mau lihat kamu kesakitan sayang, lagi pula kamu itu istriku bukan mesin pencetak anak untukku " jawab David.
Dan begitulah akhirnya, kedua orang tua itu selalu berdebat jika menyangkut masalah mendidik anak-anak mereka. Walaupun begitu hubungan mereka berdua tetap harmonis sampai diusia mereka yang tidak muda lagi.
...****...
"Ma... Mama aku pulang !! " Zania teriak memanggil mamanya.
"Iya mama ada di dapur " sahut So Yun.
__ADS_1
"Mama " gadis kecil itu berhambur memeluk mamanya.
"Dimana kakakmu? " tanya So Yun.
"Aku disini ma " sahutan itu berasal dari Ansel.
"Ya sudah sekarang kalian ganti baju nanti mama akan panggil saat makan siang "
"Iya ma "
...****...
"Sayang, anak-anak sedang apa? " tanya David.
"Aku mau tanya sesuatu sama kamu soal Ansel "
"Ada apa dengan Ansel? "
"Aku mau dia jadi CEO di perusahaanku, umurku sudah tidak muda lagi jadi aku pikir Ansel akan menggantikan posisiku " kata David.
"Ya aku ngerti tapi semua itu balik lagi ke anaknya mau apa nggak. Kita nggak bisa maksain kehendak kita terhadap anak kita, kalau Ansel nggak mau ya kita nggak bisa maksa sayang " jelas So Yun.
" Iya ma tapi kamu kan bisa bujuk dia, aku lelah jika harus pergi ke kantor terus. " kata David.
__ADS_1
"Ya sudah nanti aku coba bujuk anak kita "
Saat makan siang tiba, mereka sudah duduk di kursinya masing-masing menikmati makanan. Tidak ada satu orang pun yang membuka mulut hanya ada suara dentingan sendok dan piring.
Setelah makan siang selesai mereka berempat sedang berada diruang keluarga, Zania sedang mengerjakan tugas, Ansel sedang memainkan ponsel, sementara David sedang membaca dokumen yang harus ia tanda tangani.
"Ansel, bagaimana kuliahmu nak? " tanya So Yun memulai pembicaraan.
"Ya seperti biasa ma semua berjalan lancar " jawab Ansel yang tak mengalihkan pandangan dari ponselnya.
"Nak, apa kamu siap jika membantu pekerjaan papa di kantor? " tanya So Yun.
"Maksudnya ma? "
"Begini sayang, papa kan sudah tidak muda lagi jadi papa mu ini berharap kamu mau membantunya di kantor. Dan kamu juga masih bisa meluangkan waktu untuk lanjut kuliah "
"Tapi ma nanti aku susah bagi waktunya "
"Nak tolong pikirkan sekali lagi, papa hanya punya kamu dan Zania. Siapa lagi yang akan melanjutkan perusahaan papa kalau bukan kalian berdua " sahut David.
"Ya sudah kalau begitu akan ku pikirkan nanti pa "
Pada akhirnya Ansel akan mengambil keputusan yang begitu penting bagi keluarga mereka. Dia harus benar-benar berpikir agar tidak salah langkah dalam memilih keputusan.
__ADS_1