
Keesokan harinya aku kerepotan dengan putraku yang sejak pagi tadi menangis, hari ini David berangkat lebih pagi bahkan saat aku bangun dia sudah pergi ke kantor. Sedangkan mama sekarang lagi pergi menemani papa menghadiri acara perjamuan. Dirumah hanya ada aku dan putraku.
Entah kenapa saat bangun Ansel terus saja menangis, Bi Wati juga ikut kerepotan mengurus putra ku yang terus-terusan mengamuk.
"Nyonya, sebaiknya sekarang nyonya mandi dulu. Tuan muda Ansel biar bibi yang asuh " kata Bi Wati.
Setelah Ansel di gendong oleh Bi Wati tangisannya pun perlahan mulai reda dan aku mandi dengan tenang. Selesai dengan segala urusanku kini kulihat Bi Wati tengah menimang Ansel dihalaman belakang yang memang terasa sejuk lalu kuhampiri beliau.
"Bi, gimana Ansel? " tanyaku sedikit berbisik pada bi Wati
"Udah tenang sekarang non, sepertinya Tuan muda terkena keringat malam " jawab bi Wati.
"Apa itu keringat malam bi? " tanyaku yang kurang paham.
"Keringat malam itu sama dengan biang keringat non, biasanya akan terasa gatal pada kulit bayi.. " jawab bi Wati.
Aku hanya manggut-manggut mendengar penjelasan dari Bi Wati. Tak lama kemudian terdengar suara bel dari arah pintu. Aku yang membuka nya sementara Bi Wati masih kusuruh menggendong Ansel.
"Farah, ayo cepat masuk..." kataku menyeret tangan Farah yang belum sempat bicara.
"Hari ini aku pusing, anaakku rewel dari pagi. Dan kata bi Wati Ansel kena biang keringat " kataku mengecas sambil menarik tangan sahabatku itu.
"Terus dimana Ansel sekarang? " tanya Farah
"Itu masih digendong sama bi Wati, untung lah bi wati bisa mengatasinya. Kalau tidak bisa bisa aku repot sendiri " sahutku.
Farah menyambut Ansel dari gendongan bi Wati dan membaringkannya disofa dekat ia duduk. Saat Farah melihat Ansel...
" Ya ampun Yun, sampe merah gini lho... Ayo kita bawa dia ke dokter! Kan kasihan Ansel ngerasa nggak nyaman kalo begini " kata Farah membuatku kaget.
Kami pun segera pergi ke dokter anak untuk memeriksakan kondisi tubuh putraku. Aku menggendong putraku sementara Farah yang menyetir mobil. Sudah biasa dia jadi sopirku hihi.
Setelah melewati beberapa pemeriksaan dokter mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dan Ansel diberi bedak untuk meredakan rasa gatal pada tubuhnya.
__ADS_1
Namun saat aku keluar dari ruangan dokter anak, betapa terkejutnya aku saat aku meluruskan pandanganku kearah depan. Kudapati suamiku disana sedang merangkul seorang wanita disampingnya.
David? Siapa wanita disampingnya itu? Seperti tidak asing lagi bagiku.
Aku bertanya-tanya dalam hati penasaran akan sosok perempuan yang merangkul erat tangan suamiku itu. Segera kuhampiri mereka tanpa menghiraukan Farah yang memanggil-manggilku dari arah apotik. Saat jarak kami sudah semakin dekat, ternyata David sedang bersama dengan wanita itu.
" David! " kataku dari belakang mereka.
Mereka berdua menoleh secara bersamaan dan betapa terkejutnya aku saat melihat wanita yang sedang dipapahnya itu adalah Liora.
"Kamu! Apa-apaan ini? " kataku.
"Yun, jangan salah paham aku bisa jelaskan ini bukan.."
"Huuweekk.." Liora tampak ingin muntah saat David hendak menjelaskan.
"Jadi kalian? " kataku mengira-ngira.
"Jadi ini alasan kamu berangkat pagi-pagi, sedangkan dirumah aku sibuk urusin anak kita yang rewel. " ketusku.
"Ansel kenapa? Sakit apa dia? " tanya David.
"huh tidak usah berpura-pura peduli terhadap putraku. Lebih baik kamu jaga wanita ini baik-baik! Aku permisi " ucapku sambil berlalu meninggalkan mereka berdua.
Ya Tuhan, cobaan apa lagi yang kau berikan padaku.. Kenapa tiap kali kami akan bahagia selalu ada saja perempuan itu diantara kami.. Batinku menjerit dan aku pun mulai menangis masuk ke mobil.
Farah menyusulku dengan cepat.
"Yun, kamu nggak apa-apa? " tanya Farah berhati-hati.
"Aku nggak apa-apa sekarang kita pulang aja dulu " jawabku.
Farah pun melajukan mobil menuju rumah, aku masih menahan sesak didadaku yang sekarang makin menjadi. Ingin rasanya kutumpahkan air yang sudah berkumpul dipelupuk mata namun aku tidak mau membuat anakku terganggu dari lelapnya tidur didekapanku.
__ADS_1
Saat sampai dirumah, aku segera membaringkan tubuh anakku dan kusuruh Bi Wati mengawasinya. Sementara aku saat ini sedang berada taman belakang rumah bersama Farah.
"Yun, menangislah jika kamu ingin menangis.. Aku tahu apa yang kamu rasakan saat ini " kata Farah memegang tanganku.
Mendengar ucapannya aku tak kuasa menahan tangisku, aku berhambur memeluk sahabatku itu menangis tersedu-sedu tidak terbendung. Meluapkan rasa sesak yang sejak tadi kutahan..
"Yun, kamu harus kuat dan sabar! Mungkin ini adalah bagian dari cobaan yang akan kamu hadapi kedepannya " kata Farah sambil mengusap-usap punggung ku.
"Aku tidak tahu lagi Rah harus bagaimana, aku merasa sakit saat melihat suamiku bersama dengan wanita lain. Apalagi sedang menunggu didepan ruangan dokter kandungan... " sahutku yang masih menangis.
"Yun tidak peduli apa yang Liora lakukan, jika David benar-benar mencintaimu pasti dia tidak akan melakukan hal diluar batas.." tata Farah menenangkanku.
"Tapi aku sudah tidak sanggup lagi, bahkan disini mereka berani diam-diam bertemu.. Aku sungguh bodoh telah mempercayai laki-laki itu.." kataku.
"Sssstttt kamu tidak boleh bicara seperti itu, walau bagaimanapun dia adalah ayah dari anakmu. Dan kamu juga tidak sendiri Yun, masih ada Ansel yang harus kamu besarkan " ucap Farah lagi.
Aku melepas pelukanku dan mengusap air mataku yang jatuh dengan derasnya.
"Ya kamu benar, masih ada putraku. Aku tidak akan pernah membiarkan perempuan licik itu merebut ayah dari anakku! " tegasku.
"Itu bagus, mulai dari sekarang kamu dengarkan apa kata-kataku. Dan jangan beri Liora kesempatan untuk masuk kedalam keluarga kecilmu! " kata Farah.
Untunglah ada Farah yang begitu mengerti dengan perasaanku, kondisiku, bahkan disaat aku sedang mengalami hal sesulit ini dia bersedia membantuku dan mendorongku untuk bangkit. Dia adalah sahabat ku yang terbaik.
Saat Farah pulang dengan segala rencana yang sudah ia beritahukan padaku, saat itu pula aku menunggu kedatanga suamiku. Lagi dan lagi aku harus menunggunya sampai larut malam. Namun apa yang kutunggu tak kunjung pulang.
Hari sudah semakin larut, jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Mama terbangun dan menyuruhku beristirahat. Sementara David? Entah dimana dia sekarang aku tidak tahu.
Sudah kucoba menghubungi ponselnya namun tak ada satu panggilan dijawab olehnya, berapa kali kukirim pesan pun juga tak ada balasan satu pun.
Apa yang sedang dia lakukan diluar sana? Kenapa tak ada satu pesan yang masuk darinya?
Aku hanya bergulat dengan pemikiranku yang mulai merangkak jauh.
__ADS_1