
Keesokan harinya David sedang bersiap-siap akan pergi ke kantor, dan sesuai rencana mereka kemarin bahwa So Yun akan menjadi brand ambasador produk jam tangan terbaru di perusahaan milik David.
"Sayang kamu yakin mau jadi BA di kantor aku? " tanya David saat mereka sedang sarapan.
"Yakin dong, lagian ini kan demi kelancaran perusahaan suami aku. Dan ini juga bisa menghemat biaya pengeluaran dikantor kamu " jawab So Yun.
"Aku bukan masalah sama biayanya, tapi aku nggak mau nanti kemolekan tubuh kamu dilihat oleh orang lain " kata David.
"Kok kamu mikirnya gitu sih, kan perjanjiannya kemarin nggak ada pakaian terbuka. Lagi pula pasti nggak ada yang berani nyuruh istri seorang David pakai pakaian yang nggak sopan kan? " So Yun meyakinkan suaminya.
David mengangguk dan tersenyum setelah mendapat jawaban dari So Yun, jika dipikir-pikir So Yun juga tidak kalah cantik dari model yang biasa menjadi BA di perusahaanya.
Selesai sarapan mereka langsung berangkat menuju kantor, sesampainya dikantor para karyawan menyambut kedatangan istri CEO mereka dengan menundukkan kepala. So Yun agak sedikit kurang nyaman atas sikap para karyawan disana, menurutnya itu terlalu berlebihan mengingat ia juga dulu pernah bekerja diperusahaan ini.
"Pagi kak, baru dateng ya? Sudah siap buat pemotretan? " sapa Hensen tanpa memperdulikan tatapan dingin disebelah So Yun.
"Pagi, iya nih kita udah siap. Dimana ruang pemotretannya? " sahut Hensen.
"Hei kalian asik sendiri dan tidak memperdulikan aku disini ya, nggak lihat aku dari tadi berdiri disini " kata David dengan wajah datarnya.
"Hehehe maaf bos, habisnya kita terlalu bersemangat. " kata Hensen dengan cengiran khasnya.
Mereka pun langsung menuju ke ruang pemotretan sementara So Yun sedang di make up untuk pengambilan gambar. Penata rias itu terkagum-kagum melihat kecantikan So Yun yang begitu sempurna apa lagi kulitnya yang putih dan mulus membuat wanita manapun pasti iri dengan kemulusan kulit istri sang CEO itu.
"Sudah selesai nona, " kata penata rias yang bernama Lisa itu.
"Terima kasih ya kak " jawab So Yun dengan ramah dan sopan.
Mereka sama sekali tidak menyangka akan perlakuan So Yun yang begitu ramah dan sopan pada mereka, meskipun dari status sosial mereka berbeda tetapi So Yun tidak pernah merasa tinggi hati dan sombong apalagi bersikap semena-mena terhadap bawahan.
Merasa sudah siap akhirnya So Yun menghampiri David yang sedang berdiskusi dengan para tim kerjanya. Semua mata yang ada di ruangan itu terpanah melihat kecantikan wanita yang berstatus istri sang CEO itu. Menyadari bahwa semua mata sedang menatap istrinya, David berdehem memecah lamunan mereka.
"Ehemm.. Apa yang kalian lihat? Berani menatap istriku seperti itu lagi akan ku pecat kalian!! " kata David yang membuat semua karyawannya langsung menundukkan pandangannya.
__ADS_1
"Ayo sayang kemari, nanti aku sendiri yang akan mengambil gambarnya " kata David merangkul pundak So Yun.
"Ya ampun bos emangnya harus seperti itu ya saking kamu cemburu dan takut istrimu diganggu orang? " ledek Hensen.
"Berani kamu membantah aku? "
" Hehehe bercanda bos..."
So Yun yang melihat mereka hanya tertawa geli menatap suami kakunya yang cemburuan itu.
Kemudian sesi pemotretan dimulai, David mengambil posisinya sebagai photografer sementara So Yun bersiap dengan gayanya seperti seorang model didepan kamera.
Ini photo abang David guys😄
Setelah sesi pemotretan berakhir So Yun dan juga David langsung pulang. Tetapi baru sampai diloby kepala So Yun terasa sangat pusing dan akhirnya ia pingsan.
David yang terlihat panik langsung buru-buru memanggil Hensen dan membawanya kerumah sakit.
"Ada apa dengan kakak ipar? Kenapa bisa pingsan begini? " tanya Hensen yang juga ikut panik.
"Aku juga tidak tahu, cepat kemudikan mobilnya menuju rumah sakit!! " perinta David.
Hensen melajukan mobil David dengan kecepatan tinggi karena sesuai dengan perintah atasannya itu. Sesampainya dirumah sakit, So Yun langsung dibawa ke UGD untuk diperuksa oleh dokter.
David dan Hensen menunggu diluar sedangkan So Yun sedang dipeeiksa oleh dokter. Beberapa menit kemudian dokter pun keluar dan menghampiri dua laki-laki tampan itu.
__ADS_1
"Apa anda suaminya? " tanya dokter tersebut.
"Iya dok saya suaminya, bagaimana keadaan istri saya? " tanya David.
"Bapak mohon tenang, istri anda baik-baik saja dan selamat atas kehamilan istri anda pak " kata Dokter tersebut menjabat tangan David.
David yang masih bingung dengan perkataan dokter itu hanya bengong seakan tak percaya apa yang dikatakan dokter barusan.
"Istri saya hamil lagi dok? " tanya David memastikan.
"Iya pak, dan usia kandungannya sudah berjalan 5 minggu " jawab Dokter.
"Benarkah? Anda sedang tidak mempermainkan saya kan dok? Apa saya boleh menemui istri saya dok? "
"Iya pak silahkan, pasien juga sudah sadar "
Dengan perasaan haru David masuk ke ruang UGD tersebut dan melihat So Yun duduk diranjang sedang menatapnya dan tersenyum begitu manis.
"Sayang, kamu hamil lagi..." David langsung berhambur memeluk So Yun yang juga dibalas dengan pelukan hangat.
"Terima kasih sayang terima kasih banyak.." David menghujani wajah So Yun dengan kecupan-kecupan mesra dan rasa bersyukur.
Sementara Hensen hanya berdiri seperti patung melihat kebahagiaan dari keluarga kecil itu. Ya secara kan Hensen memang belum ada pasangan jadi dia hanya sebagai penonton saja diruang itu.
Dan semenjak kehamilan So Yun yang kedua ini, David sangat perhatian dan juga tidak membiarkan istri kecilnya itu untuk beraktivitas terlalu berat. Ia sangat takut akan berpengaruh pada kondisi kesehatan ibu dan janinnya.Dan semenjak itu pula David mengurangi kegiatan lemburnya dikantor untuk bisa menjadi suami siaga bagi istrinya itu apalagi ia juga harus membantu menjaga Ansel yang sekarang sedang aktif-aktifnya. So Yun merasa bersyukur atas karunia Tuhan yang memberi kesempatan kedua untuk David menebus kesalahannya dimasa lalu dengan cara menghadirkan anak kedua didalam keluarga kecil mereka.
Kehamilan yang kedua ini So Yun disambut dengan suka cita dari keluarga, sahabat bahkan asisten rumah tangga mereka. Dia juga sangat manja dengan suaminya itu dan terkadang juga muncul ide jahil untuk mengerjain suami berparas tampan dan kaku itu dengan alasan bayi yang ia kandung.
Jika saja bayi dalam perutnya bisa bicara mungkin ia sudah protes karena selalu dijadikan alasan oleh mamanya untuk menjahili sang papa.
Itu menjadi hiburan tersendiri bagi So Yun untuk menikmati Quality Time bersama keluarga.
Hubungan mereka berdua semakin erat dan dan terlihat begitu harmonis. Namun siapa sangka mereka akan kembali rujuk setelah badai menerjang rumah tangga mereka.
__ADS_1
Badai itu malah makin mempererat hubungan yang terjalin diantara kedua insan tersebun.