
Setelah satu bulan bertunangan, akhirnya hari ini So Yun akan melangsungkan pernikahannya bersama David disebuah hotel mewah di China. Seluruh keluarga sudah hadir, dan kini So Yun tengah berdandan.
Setelah semua persiapan telah selesai, kini tibalah saatnya acara pernikahan dimulai. Para tamu undangan telah memenuhi ruangan tersebut. Semua bersuka ria karena hari ini pernikahan CEO terkenal di Amerika dan anak pengusaha sukses di China..
"Apa kau gugup? " tanya Farah yang sedang menemani So Yun di kamar pengantin.
So Yun mengangguk tanpa bersuara.
"Tenanglah, ini hari bahagiamu kamu harus terlihat senang.. Jangan gugup ya.. Ada aku " kata Farah menghibur So Yun.
"Trima kasih Far, kamu sudah mau mendampingiku dari awal sampai saat ini. Aku bersyukur memiliki sahabat sepertimu.." kata So Yun terharu.
"Uh ayolah.. Jangan bicara omong kosong, lagipula kamu itu sudah menjadi saudaraku bukan lagi sahabatku.. Sini sini peluk dulu.." jawab Farah kemudian beranjak memeluk sahabatnya itu.
Kedua sahabat itu larut dalam keharuan, sampai akhirnya seseorang mengetuk pintu dan mengejutkan mereka.
"Siapa sih ganggu aja. Sebentar ya aku pergi lihat dulu.." kata Farah melepaskan pelukannya lalu berjalan menuju pintu.
"Siapa? Acara kan dimulai pukul 10 kenapa mengganggu..." Farah terhenti ketika melihat sosok yang ada didepannya.
"Dimana So Yun?" tanya pria itu.
"Dia tidak ada disini, lebih baik kamu pergi dari sini! So Yun sudah bahagia sekarang.." ketus Farah.
"Aku hanya ingin bicara padanya sebentar.." kata pria itu lagi.
"Tidak bisa! Pokoknya kamu harus pergi, jangan ganggu Yunyun lagi!!" kata Farah semakin emosi.
"Siapa Far?" teriak So Yun dari dalam.
Mendengar suara So Yun, pria tersebut langsung mendorong Farah dan nekat masuk kedalam. So Yun yang saat itu sedang membenahi gaun terkejut melihat pria yang baru saja masuk secara tiba-tiba itu.
"Justin!! " mata So Yun membulat seketika melihat pria dihadapannya itu.
Tanpa banyak bicara Justin langsung memeluk erat tubuh So Yun dan berlutut dikakinya.
"Yun maaf...Maafkan aku.." kata Justin terisak.
"Maaf? Maaf untuk apa? Aku sudah melupakan semuanya.." jawab So Yun menahan tangis.
"Yun aku mohon padamu maafkan aku.. Aku masih mencintaimu Yun, aku tidak bisa melupakanmu.. Aku mohon beri aku kesempatan satu kali lagi " kata Justin.
"Kamu gila? Hari ini aku akan menikah, dan kamu datang hanya untuk minta kesempatan dariku? Lalu kemarin kamu kemana saja? Disaat aku butuh kamu, butuh penyemangat hidup, kamu kemana? Hah" jawab So Yun yang perlahan menitikkan air mata.
"Aku benar-benar minta maaf Yun, aku tahu aku salah.."
__ADS_1
"Cukup!! Aku tidak mau lagi mendengar omong kosongmu. Jauh sebelum hari ini aku sudah melupakanmu, dan hari ini adalah hari pernikahanku dengar orang yang tulus mencintaiku. Lebih baik jika kamu tidak mengganggu acaraku.." sahut So Yun.
" Yun maafkan aku.." kata Justin mencoba meraih tangan So Yun.
"Farah cepat panggil keamanan kesini. Katakan pada mereka disini ada orang gila yang menggangguku " kata So Yun sambil menepis tangan Justin.
Akhirnya Justin diseret paksa oleh security, dan So Yun berada dalam pelukan Farah mencoba menenangkan dirinya.
*Emang pantes tuh si Justin digituin.(author)
*Iya tuh ganggu aja, orang lagi bahagia juga(So Yun)
"Sudahlah Yun, berhentilah menangis. Jangan rusak hari bahagiamu hanya karna pria brengsek itu.." kata Farah menenangkanku.
Sebenarnya aku tidak sedih ataupun menyesal karena memilih keputusan ini, tetapi yang membuatku manangis hari ini adalah kehadiran Justin yang membuat luka lama kembali terbuka.
Setelah drama yang tidak menyenangkan itu berakhir, kali ini suara ketukan pintu dari seorang pelayan yang mengatakan pernikahanku akan segera dimulai.. Aku pun turun ditemani oleh Farah sahabat karing yang sudah kuanggap seperti saudariku sendiri.
Tampak disana seorang pria mengenakan setelan jas berwarna hitam melihat kearahku sambil tersenyum. Senyuman yang sangat indah, yang membuatku semakin berdebar kala aku dihadapkan dengannya didepan pendeta.
Janji suci telah kami ucapkan dihadapan pendeta dan disaksikan oleh para tamu undangan yang hadir. Kini aku telah resmi menjadi istri seseorang.
*Ciiyee yang udah nikah
*Apaan sih thor.. Ganggu aja ah..
.
.
.
.
Guys kita tinggalin aja author kita yang usil itu, kita balik lagi ke ceritaku ya..
.
.
.
Saat semua telah usai, pria yang kini telah menjadi suamiku itu membisikkan sesuatu ke telingaku..
"Kamu sangat cantik hari ini sayang." bisiknya.
__ADS_1
Akupun malu mendengar ucapan itu, apalagi sekarang wajahku sudah sangat memerah karena baru saja dipuji oleh suamiku.
Duh demi apa nih.. Dia yang dulu atasanku sekarang malah jadi suamiku..
"Nak, ajaklah So Yun kekamarnya dia pasti lelah seharian berdiri.." kata mama.
"Aku bisa kekamar sendiri ma.." jawabku spontan.
"Eh kamu ini gimana sih nak, dia kan suamimu. Tidak ada salahnya jika dia mengantarmu kekamar kan? " kata mama.
"Iya udah deh..hehe" kataku sambil menyengir terpaksa..
Gugup kurasakan, ada perasaan canggung kini dibenakku. Rasanya seperti mimpi berjalan beriringan dengannya lagi sebagai sepasang suami istri.
Saat sudah berada dikamar tiba-tiba...
"Eh eh eh... Mau ngapain kamu? " kataku yang melihat David membuka jas dan kemejanya.
"Aku mau ganti baju lah, emangnya kenapa?" jawabnya sambil meneruskan pekerjaannya.
"Ya tapi jangan disini, gak tau malu ya kamu!" kataku
"Kenapa aku harus malu? Kami kan istriku, jadi aku bisa saja melepas seluruh pakaianku dihadapanmu." Jawab David yang mendekat kearahku.
"STOP!! Jangan mendekat.." kataku yang gugup melihatnya mendekat dengan dada bidangnya yang Sixpack itu..
Tubuh pria ini lumayan juga.. Eh apa sih aku ini..
David semakin mendekat kearahku hingga tubuhku spontan jatuh keatas tempat tidur. Ditambah lagi saat ini si David tambah menggila dan menaiki tubuhku..
"Sayang, aku ini suamimu. Jadi jangan berprilaku seolah kita bukan siapa-siapa.." kata David lirih.
Kata-katanya itu membuatku terhenyak seketika, tanpa disadari posisi kami saat ini benar-benar intim sampai akhirnya kakakku membuka pintu dan mengagetkan kami..
" Ups.. Sory aku nggak tahu kalian sedang... Eh aku nggak liat kok, silahkan lanjutkan! Hahaha" kata kakakku yang langsung menutup kembali pintu itu.
"Cepat turun dari atasku, nanti kakak bisa salah paham.." kataku yang terlanjur malu karena kepergok oleh kakak..
*Duh itu kakak ganggu aja ya
*Iya tuh.. eh..
David tertawa geli melihat ekspresi wajahku saat itu, entah kenapa dia tertawa. Apakah saat itu wajahku terlihat jelek? Tapi sudahlah, sekarang aku mau ganti pakaianku dulu sebelum turun.
Sementara David merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur sambil menungguku mengganti pakaianku.
__ADS_1