So Yun

So Yun
Canggung


__ADS_3

1 bulan telah berlalu dan kami berdua telah resmi berpisah secara hukum. David telah menandatangani surat perceraiannya dan kini kami menjadi saingan dalam bisnis. Sifatnya sekarang kembali lagi seperti dulu bahkan semua karyawannya banyak membujukku untuk tidak berpisah dengannya. Tetapi hal itu tidak akan pernah mungkin terjadi.


Saat jam istirahat makan siang aku memutuskan untuk kembali kerumah, entah kenapa aku ingin sekali makan siang dirumah. Saat aku tiba didepan pintu terdengar suara gelak tawa dari anakku. Aku penasaran dong sama siapa dia main. Kupikir itu mama tapi nggak taunya malah dia.


"Kamu sudah pulang? " pertanyaan pertama muncul dari mulut David.


"Emm ya kebetulan jam istirahat aku makan dirumah " jawabku sedikit canggung.


"Ya sudah makan dulu sana nanti baru main sama Ansel " ucap David.


Aku hanya mengangguk dan berlalu ke dapur untuk makan, saat hendak mengambil piring aku dikejutkan mama yang tiba-tiba menyenggol lenganku.


"Duh mama bikin aku kaget aja " kataku.


"Kamu lagi liatin David ya? Jangan diliatin aja samperin sana! " kata mama menggodaku.


"Apaan sih ma ngapain aku nyamperin dia, siapa-siapa juga bukan kok " sahutku.


Aku duduk dimeja makan melahap makan siangku dan males meladeni ocehan mama yang terus menggodaku. Sesekali aku melirik kearahnya yang tengah asik bercanda dan tertawa bersama anakku itu.


Andai saja kamu bersikap seperti ini sebelumnya, mungkin sekarang kita tidak akan menjadi orang asing lagi " batinku meracau tak jelas.


Setelah selesai makan aku hampiri kedua ayah dan anak yang sedang asik itu. Aku pun memutuskan untuk bertanya padanya daripada diam seperti patung.


"Kamu dari tadi disini? " tanyaku.


"Ya " singkat David


"Kamu sudah makan? " tanyaku lagi.


"Belum, tapi sepertinya mantan istri ku ini begitu perhatian terhadap ku " sahut David.


"Ah tidak tidak jangan salah paham, aku bertanya karena takut kamu sakit jika belum makan dan terus bermain dengan Ansel " kataku mencoba menutupi wajahku yang gugup ini.


"Nanti setelah Ansel tidur aku akan makan " jawabnya.

__ADS_1


Lalu aku meninggalkan mereka berdua lagi untuk menghabiskan waktu bersama-sama. Aku tidak mau mengganggu waktu Ansel bermain dengan ayahnya.


Aku pun kembali ke kamarku untuk merapikan tempat tidur putraku.


5 menit kemudian David nyelonong masuk ke kamar menggendong putraku yang sudah tertidur lelap. Aku sedikit terkejut tapi ku coba tahan agar putraku tidak kaget dan terbangun.


"Ansel sudah tidur, tapi aku mau bicara sebentar denganmu! " kata David.


Belum sempat aku mengajaknya keluar kamar untuk berbicara tapi David dengan cepat menutup pintu dan menyandarkanku di pintu itu. Sekarang posisi kami saling berhadapan.


"A.. apa kita tidak terlalu dekat? " tanyaku yang saat itu mulai dag dig dug.


"Memang kenapa? Apa kamu mau lebih dekat lagi? " tanya David yang semakin mendekatkan wajahnya ke arahku.


Sungguh jantungku berdebar tak karuan meski kami terbiasa berposisi seperti ini tetap saja aku merasa canggung karena dia bukan lagi suamiku.


"Biarkan aku memelukmu sebentar saja... " kata David lirih kemudian memelukku erat.


Sungguh aku tidak tahu harus berbuat apa, ingin marah tapi perlahan terdengar isak tangis darinya. Aku tak sanggup untuk mendorongnya menjauh lalu kuusap punggungnya agar ia merasa sedikit lega.


"So Yun, beri aku waktu untuk memperbaiki semuanya... Beri aku kesempatan untuk terakhir kalinya.. Aku menyesal " ucap David terisak.


Mendengar jawabanku barusan David seperti terlihat kurang puas dan langsung menatapku tajam. Namun alangkah terkejutnya aku saat ia secara spontan menciumku. Adegan itu tak berlangsung lama hanya 5 menit dan aku langsung mendorong tubuhnya.


"Lain kali jangan lakukan ini lagi padaku, ingatlah aku bukan istrimu lagi " kataku yang langsung berbalik membuka pintu.


"Tunggu Yun, maafkan aku... Suatu hari aku pasti akan memberikan kebahagiaan untukmu dan putra kita.. " ucap David.


Aku memilih untuk tidak menggubris perkataannya itu, karena jika aku menanggapi ucapannya yang ada aku malah akan semakin sulit untuk melupakannya. Aku tidak ingin lagi menyakiti diri sendiri dengan memikirkan kenangan-kenangan diantara kami berdua. Semua sudah aku coba lupakan meski terbilang sulit namun aku akan terus berusaha.


Biarlah ini hubungan diantara kami seperti ini dan biarlah dia tetap menjadi ayah dari Putraku tetapi bukan suamiku. Banyak hal yang kupelajari setelah perpisahan diantara kami terjadi.


.


.

__ADS_1


.


Setelah drama dan adegan tak disengaja tadi berakhir, David pamit pulang dan aku kembali ke kantorku. Dia sempat menawarkan tumpangan untukku tetapi Aku menolaknya karena aku beralasan akan membawa mobil sendiri ke kantor. Dari pada nanti aku terbawa suasana dan tenggelam dalam balutan hasrat, lebih baik aku menghindar deh.


Saat dikantor aku kembali ke pekerjaanku namun entah mengapa aku selalu gagal fokus, bayangan akan kejadian tadi terus saja menghantuiku tiap kali aku akan mulai bekerja.


Duh ayolah... Aku harus fokus! Jangan diingat lagi yang tadi donk! Itu cuma kecelakaan " aku menggerutu sendiri di dalam hati.


Berulang kali mencoba memfokuskan diri menelan beberapa teguk air namun tetap saja fokusku hilang sampai akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja. daripada nanti aku memaksakan untuk bekerja namun hasilnya akan buruk karena bayangan itu.


"Kok pulang lagi sih? Ada yang ketinggalan ya? " tanya mama.


"Nggak kok ma, emang aku sendiri yang mau pulang. Habisnya dikantor suntuk " jawabku.


"Ya sudah kamu mandi saja dulu biar tubuhmu merasa lebih segar " saran mama.


Benar juga ya apa kata mama, aku tadi habis dicium hantu. Jika tidak segera dibersihkan nanti aku bisa sawan lagi... Duh " pikirku.


.


.


.


Belum selesai aku mengganti pakaianku tapi anakku sudah bangun dan nangis, aku sedikit kerepotan karena belum mengenakan baju. Sedangkan mama hanya tertawa diambang pintu melihatku seperti itu.


"Kok mama malah ketawa sih ma, ini bantuin dulu aku mau pake baju ma " kataku.


"Habisnya mama lucu lihat kamu seperti itu, jadi ke inget jamannya mama dulu " sahut mama


"Mama pernah ngalamin juga? " tanyaku sambil memberikan Ansel ke pangkuan mama.


"Kalo mama belum ngalamin nggak mungkin ada kamu dan kakak kamu. Kok pertanyaanmu ini ada ada saja. Bedanya mama dulu ada papa yang bantuin tapi ..." sahut mama yang sempat terhenti.


"Tapi aku tidak ada suami yang membantuku.. Gitu aja kok gak bisa sih ma " aku lanjutkan kata-kata Mama yang terputus.

__ADS_1


Kali ini kami tertawa didalam kamar karena ulahku mama bukan merasa iba tetapi merasa lucu.


Duh mamaku itu ya seneng banget ngeledekin anaknya.


__ADS_2