
Keesokan harinya aku pergi ke kantor catatan sipil untuk mengurus surat perpisahanku. Sudah ku putuskan bahwa aku akan berpisah darinya. Aku tidak mau terluka lagi untuk yang ke sekian kalinya. Biarlah kejadian kemarin menjadi pengalaman pahit sekaligus obat yang harus ku telan agar kuat menjalani kehidupanku selanjutnya.
Kedua orang tuaku sangat menyayangkan keputusanku, tapi aku sudah memikirkan hal ini jauh dari hari sebelumnya. Sudah cukup aku merasa diabaikan oleh suamiku sendiri apalagi anakku.
Tapi saat tiba dikantor catatan sipil aku bertemu seseorang yang tak lain adalah Liora, entah ada urusan apa dia datang aku pun tidak mau ambil pusing.
"Tak disangka ya kakak ipar, kita akan bertemu disini " Liora muncul dari arah belakangku.
"Ya mungkin hanya kebetulan " jawabku singkat.
"Justru ini adalah takdir, oh iya ngomong-ngomong kamu kesini ada urusan apa? " tanya Liora.
"Tidak ada aku hanya berkunjung saja " kataku malas meladeni.
Sesaat kemudian ada David yang tiba-tiba muncul yang membuatku sedikit terkejut.
"Semua sudah ku urus.. " ucapan David terhenti saat melihatku ada bersama Liora.
"Yun kamu disini? " tanya David
"Iya aku disini, karena kamu juga kebetulan ada disini sekalian saja kita urus surat perpisahan kita " jawabku.
"Perpisahan? Apa maksudmu? " tanya David lagi.
"Ya aku ingin berpisah denganmu, kuharap kita bisa berpisah secara baik-baik " kataku lagi.
"Kenapa kita harus pisah? Semua kan bisa kita bicarakan baik-baik. Aku tidak mau pisah " kata David .
"Sudahlah aku lelah dengan semua kebohonganmu itu, lebih baik kamu tanda tangani surat ini! " Aku menyerahkan sebuah amplop berisi surat perceraian yang harus ditanda tangani oleh David.
Setelah dia tanda tangani maka kami resmi berpisah.
__ADS_1
Aku langsung pergi meninggalkan David dan mantan tunangannya itu, bukan karena aku cemburu tapi karena aku sudah muak melihat Liora yang terus menempel pada mantan suamiku itu.
Semoga ini adalah keputusan yang terbaik untuk kita..
Setelah dari kantor sipil aku bergerak menuju ke kantor untuk melanjutkan aktivitasku seperti biasa. Aku tidak ingin terus menerus berada dalam lingkar keterpurukan. Aku harus lebih semangat lagi menjalani hidupke kedepannya.
"Maaf bu, ini ada kiriman bunga untuk ibu " kata sekretaris ku.
"Bunga dari siapa? " tanyaku heran.
"Saya juga tidak tahu bu, karena tadi kurirnya langsung pergi terburu-buru " jawab Vio.
"Oke baiklah, taruh saja dimeja saya ya.."
Setelah Vio pergi aku melihat ada secarik kertas diantara rangkaian bunga tersebut.
*Mungkin aku telah banyak berbuat kesalahan yang telah menyakitimu, aku bodoh sudah menyia-nyiakan kamu. Tapi ku harap kita bisa memulai kembali dari awal.
David*.
Sampai akhirnya aku muak dan ingin menemui David secara langsung.
David setuju untuk bertemu denganku ia meminta bertemu disebuah caffe pertama kali kita ketemu.
"Yun, akhirnya kamu bersedia bertemu denganku.. Aku rindu padamu dan juga pada anak kita " kata pertama David saat memelukku.
"Ya sudah lepaskan, malu jika dilihat orang. " kataku melepas pelukannya.
"Aku kesini hanya untuk menanyakan surat yang harus kamu tanda tangani kemarin " kataku berterus terang.
"Kamu benar-benar ingin berpisah dariku? Menjauhkanku dari anak kita? " tanya David
__ADS_1
"Tidak, Siapa bilang aku ingin menjauhkanmu dari anak kita. Jika nanti kita sudah resmi berpisah aku tidak akan melarang Jika kamu ingin bertemu dengan Ansel " jawabku.
"Aku tidak mau, sampai kapanpun aku tidak akan menanda tangani surat cerai itu " sahut David.
"Terserah apa maumu, yang pasti aku sudah tidak ingin lagi hidup bersama orang yang lebih mementingkan masa lalunya. Aku cuma ingin kehidupanku tenang tanpa diganggu oleh siapa pun " tegasku.
"Aku tidak akan menyerah, sampai kapanpun aku akan terus berusaha agar kita tidak berpisah " lanjut David.
"Sudahlah tidak usah berpura-pura dihadapanku begitu. Dan satu hal lagi, berhenti mengirim bunga ke kantorku atau aku akan menuntut kamu atas tuduhan mengganggu hak privasi orang lain! Aku permisi "
Aku memberi peringatan pada David agar berhenti mengirim semua karangan karangan bunga yang ia kirim beberapa waktu yang lalu. Seberapa banyak bunga yang dia kirim pun tidak akan mengubah keputusanku yang sudah ku ambil. Meski David bersikeras tidak ingin berpisah tetapi aku sudah tidak mau lagi hidup bersamanya.
Dan sudah kukatakan padanya bahwa nanti aku tidak akan pernah membatasi pertemuannya dan Ansel.
Mulai saat ini aku aku akan menjalani kehidupanku dengan bebas dan santai tanpa pemikiran-pemikiran yang akan membuatku semakin sedih. Aku harus menjadi seorang wanita sekaligus ibu yang kuat dan tegar untuk Putraku.
Kebahagiaanku saat ini hanyalah putraku, meskipun kedepannya aku akan menjadi single parent semua sudah aku siapkan sejak saat ini. Karena aku yakin masih banyak orang-orang yang akan menyayangi Ansel.
.
2 Minggu berlalu sejak kami bertemu, David sudah tidak lagi menghubungiku bahkan tidak lagi mengirim bunga ke kantorku. Tetapi aku mendapat kabar bahwa dia secara langsung akan bersaing dengan ku untuk memperebutkan tender bulan lalu.
Mungkin dia sengaja ingin melihat bagaimana dan siapa yang akan menjadi pemenang dalam tender kali ini.
Saat bertemu para klien di ruang rapat, David juga turut hadir didalam ruangan tersebut. Kali ini ada yang berbeda darinya, sifatnya yang dingin kembali muncul dan tidak ada lagi senyuman yang menyapa di wajahnya. Tapi itu tidaklah penting bagiku, sekarang tugasku hanyalah untuk memenangkan tender kali ini.
Didalam Rapat tersebut yang paling aktif dan banyak berdebat hanya aku dan dia. Sampai semua orang terbengong menyaksikan kami berdebat.
"Mereka kan suami istri ya kenapa saling berdebat gitu " bisik pak Darmono.
"Iya padahal kan mereka satu rumah kenapa harus bersaing diperusahaan. Anak muda jaman sekarang udah nggak ngerti lagi kita yang tua ini jalan pikirannya " sahut pak Basuki.
__ADS_1
Karena hasil perdebatan kami dinilai seri akhirnya para klien memutuskan untuk memberi waktu pada kami berdua untuk membuat desain yang mereka inginkan. Tentu saja hal ini membuatku senang, karena perusahaan kami terkenal dengan desain-desain unik dan menarik. Sudah banyak perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan kami. Poin terpenting dalam tender kali ini adalah memikirkan bagaimana caranya menang dari dia.
Kita lihat saja nanti kamu pasti akan kalah dariku... Duhai mantan suamiku!!