So Yun

So Yun
Tidur Dimana?


__ADS_3

Pagi yang cerah pun akhirnya datang, setelah lelah menunggu kedatangan seseorang semalam aku sampai ketiduran di sofa ruang tamu sampai-sampai anakku tidur dikamar mamaku. Namun yang kuharapkan semalam tidak ada satupun tanda-tanda kemunculannya.


Kecewa? Sungguh hati ini benar-benar kecewa.


Aku sedang berpikir bagaimana caraku mengetahui keberadaan suamiku saat ini. Banyak pertanyaan yang berkelut di otakku. Kemana dia semalam? Kenapa tidak pulang? Tidur dimana dia semalam?


Karena penasaran akhirnya aku memutuskan untuk datang ke kantornya dengan tujuan memastikan dia ada dikantor sekaligus bertanya padanya. Aku berangkat mengendarai mobil dan anakku dijaga oleh mamaku. Sebelumnya aku sudah meminta izin pada mama untuk pergi ke kantor David.


Setibanya dikantor aku masuk dan bertanya pada resepsionis yang ada di loby.


"Permisi, saya mencari pak David. Apa beliau ada diruang kerjanya? " tanyaku.


"Anu bu, itu.. Apa ibu sudah buat janji pada beliau? " kata resepsionis itu yang tampak gugup dengan kedatanganku.


"Saya mau bertemu suami saya yang dari semalam nggak ada kabar, masa saya harus buat janji lagi sama orang yang nggak bisa dihubungi " ketusku.


"Iya bu maaf, pak David sedang berada diruangannya silahkan ibu masuk. Perlu saya antar bu? " tanya Resepsionis itu.


"Tidak perlu " jawabku sambil berlalu pergi.


Ini kali kedua aku datang ke tempat ini, dulu aku disini untuk acara peresmian. Tapi kini aku datang mencari suamiku...


Saat tiba didepan pintu, aku berhenti sejenak mengatur nafas untuk mempersiapkan diri bertanya padanya. Perlahan aku mulai membuka pintu itu setelah tadi mengetuknya tapi tak ada jawaban. Ketika pintu itu terbuka betapa terkejutnya aku saat kulihat ada seoranglaki-laki sedang menyuapi perempuan dan laki-laki tersebut adalah suamiku sendiri.


"David! " aku berteriak membuat mereka berdua terkejut dan menoleh kearahku.


"So Yun "


"Kakak ipar.." kata David dan Liora berbarengan menatapku.

__ADS_1


" Jadi ini alasan kamu tidak pulang semalam? Tidak menjawab telponku, dan tidak mau membalas pesanku. Kamu asik berduaan disini bersama perempuan ini sementara anak kamu rewel dirumah " kataku dengan nada tinggi berteriak ke arah suamiku.


"Maaf tapi semalam aku.." David mencoba menjawab pertanyaanku namun tidak bisa diselesaikan nya.


"Apa? Mau beralasan kalau dia adik kamu? Sudah cukup aku menerima semua perlakuanmu yang seperti ini. Memang benar kata orang sekalinya berkhianat akan terus menjadi pengkhianat. " kataku.


"Tunggu dulu Yun aku bisa jelaskan..." ucap David menahanku.


"Sudah tidak ada lagi yang perlu dijelaskan, silahkan lanjutkan. Aku permisi dulu.." kataku kemudian pergi dari ruangan yang begitu menyesakkan bagiku.


Namun saat aku turun terlihat jelas semua karyawan tertunduk melihat ku. Karena kekesalan dan emosi ku yang tidak bisa ku kendalikan akhirnya aku memarahi mereka.


"Kenapa? Kenapa tidak ada satu orang pun disini yang memberi tahuku tentang wanita yang berada diruangan suamiku? Kalian sengaja menyembunyikan perselingkuhan ini hah? Ayo jawab " teriakku ditengah para karyawan yang sedari tadi menunduk.


"Maaf bu tapi ini perintah dari pak David sendiri.." celetuk seorang karyawati yang masih menunduk.


"Oh jadi kalian begitu patuh pada atasan sehingga kalian tega menyembunyikan kebenaran ini dari ku. Tunggu dan lihat saja nanti kalian semua akan berada dibawah perintahku! " ucapanku semakin tidak dapat ku kendalikan lagi saat Farah datang barulah aku diajak pergi olehnya.


"Farah, aku ingin kamu jujur! Apa kamu tahu David selalu membawa Liora kekantor? Bahkan mereka berduaan diruangan itu? " tanyaku.


"Apa? Mereka berdua? Jadi itu alasan pak David mengirimku ke pabrik? " kata Farah bertanya balik.


"Maksud kamu? "


"Iya Yun, jadi seminggu ini aku diperintah olehnya untuk mengawasi pekerjaan yang ada dipabrik. Aku tidak tahu sama sekali jika alasannya mengirimku karena ini.. Maafkan aku.." kata Farah merasa bersalah.


"Sudahlah Farah, kamu tidak usah merasa bersalah. Aku tidak memikirkannya lagi, sekarang tujuanku adalah bersaing melawan suamiku sampai perusahaan itu jadi milikku " kataku berantusias


"Kamu serius? " tanya Farah.

__ADS_1


"Aku sudah bertekad dan kali ini aku tidak akan mengalah lagi. Aku harus berjuang demi putraku.. Aku tidak mau harga diri dan kepercayaanku diinjak-injak. Apalagi kepercayaan orang tuaku... " Sahutku.


Setelah semua emosiku reda dan juga sedikit lebih tenang, aku memutuskan untuk pulang. Sementara Farah harus kembali ke kantor untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dikantornya dan melaporkannya padaku. Tapi saat pulang aku melihat anakku sedang diajak main oleh seorang pria yang hanya terlihat punggungnya.


Segera kuhampiri orang itu untuk mengetahui siapa dia yang sedang asik bersama anakku.


"Kamu sia..." terkejut bukan main saat pria itu menoleh kearahku.


Plaakkk...


Aku mendaratkan sebuah tamparan dipipi orang itu yang tak lain adalah suamiku. Dia hanya diam tak berkutik memegang pipi yang baru saja aku tampar.


"Yun, ada apa ini? Kenapa kamu tampar David? " tanya mama yang muncul dari arah dapur.


"Pria ini memang pantas mendapatkannya. Pegi kami dari sini dan jangan pernah menyentuh anakku lagi !!! " kataku berteriak.


"Nak, tenang dulu. Bicarakan masalah ini baik-baik, jangan ambil keputusan terburu-buru! " kata mama memberi nasihat.


"Tidak ma, tidak ada lagi yang perlu di jelaskan. Semuanya sudah jelas sekarang aku tidak ingin melihat wajahnya lagi! " jawabku.


"Sayang, dengar dulu penjelasanku semua itu tidak seperti apa yang kamu lihat " kata David.


"Tidak perlu David, aku tidak ingin mendengar apapun lagi. Karena setiap aku mendengar perkataanmu yang ku dapat hanya rasa kepedihan dan kekecewaan. Semua ini sudah cukup jelas, lebih baik kamu pergi dan pahami semua kesalahan yang sudah kamu lakukan! " ucapku sambil membawa Putraku pergi menuju kamar.


Tak ada lagi satu kata yang terdengar dari mulut David, ia hanya terduduk setelah aku membawa Ansel pergi dari hadapannya. Kali ini hatiku benar-benar sakit dan aku merasa sangat hancur. Tidak ada lagi harapan yang sudah kubangun.


Kini hanya tinggal sebuah kehancuran dan aku harus berusaha tegar menghadapi ini. Menyerah? Tentu aku tidak akan menyerah semudah itu. Aku akan membalikkan semua keadaan dan akan memberi pelajaran berharga pada wanita yang tak tahu diri itu.


Kekuatanku saat ini hanyalah Ansel, demi Ansel aku bersedia melakukan apapun agar nanti putraku bisa memiliki sebuah keluarga yang utuh tanpa ada rasa terbagi ataupun dibagi. Saatnya permainan akan kita mulai.

__ADS_1


Sekarang aku berada dikamar menenangkan putraku dan menidurkannya. Setelah Ansel tertidur barulah aku mulai menyusun rencana untuk kedepannya. Beberapa kali suara ketukan pintu dari luar kamarku namu tidak ku gubris sampai akhirnya suara ketukan itu berhenti dan tak ada lagi suara dari luara.


__ADS_2