
Setelah beberapa hari So Yun berhasil menenangkan hatinya setelah pernyataan David, kini So Yun sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya. Satu kalimat yang bisa ia pahami adalah David melakukan sandiwara itu untuk mengungkap semua kejahatan Liora.
Pagi ini So Yun berencana untuk mengajak bibi Zhu untuk pergi ke pasar membeli beberapa kebutuhan bulanan yang memang kebetulan habis, sekaligus ia akan membeli susu untuk Ansel.
"Selamat pagi nona..." sapa semua Asisten rumah tangga dirumah itu.
"Pagi, udah nggak usah nunduk begitu. Seolah aku ini majikan yang kejam aja " sahut So Yun.
So Yun mengambil alih pekerjaan dapur hari ini, dia berencana untuk memasak makanan untuk sarapan semua orang. Meski para asisten rumah tangganya sudah melarang karena takut dimarahi, So Yun tetap ingin memasak.
Setelah semua masakannya dirasa cukup, So Yun langsung menghidangkan makanannya dimeja makan yang kebetulan sudah ada kakek dan David disana.
"Selamat pagi kakek, ini sarapannya udah jadi " sapa So Yun pada kakek mertuanya itu.
"Selamat pagi cucuku, wah ini semua kamu yang masak? " kata kakek yang melihat hidangan yang cukup menggiurkan itu.
"Iya kek, kebetulan lagi pengen masak. Kakek cobain ya " jawab So Yun sambil mengambil piring yang ada dihadapan kakek mertuanya itu, tak lupa pula ia melayani piring makan untuk David.
Suasana dimeja makan sangat tenang dan sesekali Tuan Richard memuji masakan yang dimasak oleh So Yun. Keakraban keduanya membuat rasa bahagia tersendiri untuk pria yang sedang duduk berhadapan dengan mereka.
Setelah selesai sarapan David bersiap untuk pergi ke kantornya, sudah lama sekali David tidak mengurus kantor pusatnya di Amerika ini karena selama ia berada di Cina selalu tuan Richard yang mengelolanya. Tapi hari ini Tuan Richard memilih untuk dirumah menghabiskan waktu bersama cucunya.
Melihat David seperti kerepotan sendiri akhirnya hati So Yun tergerak untuk membantunya. Dasi yang sedari tadi tidak bisa pria itu pasang karena sedang menelpon kini diambil alih oleh So Yun.
Beberapa detik David sempat terdiam karena begitu terkejut mendapat perlakuan manis lagi dari wanita yang ia cintai.
"Udah rapi nih dasinya " kata So Yun setelah selesai mengikatkan dasi milik David.
"Terima kasih, kalau begitu aku berangkat dulu ya " David berpamitan namun langkahnya kembali berhenti saat So Yun memanggilnya.
"Tunggu!! "
__ADS_1
"Ada apa? " David mengangkat kedua alisnya saat menatap wanita yang kini berjalan mendekatinya.
"Ini tas kamu nanti kelupaan " So Yun menyerahkan tas jinjing hitam yang hampir dilupakan oleh David.
Kemudian David mengambil tas tersebut dan sebuah kecupan mendarat dikening sang istri.
Ya, status So Yun masih sah sebagai istri karena David berhasil meyakinkannya bahwa dokumen perceraian beberapa bulan lalu yang sempat diajukan ternyata telah ditarik kembali oleh David. Dengan kelapangan hati So Yun berusaha menerima semua kedaan yang kini sudah terlanjur ia jalani.
"Bibi Zhu mau kemana? " tanya So Yun yang melihat salah satu asisten rumah tangganya yang baru keluar membawa sebuah tas belanja.
"Bibi mau ke pasar beli sayuran, Non. Kebetulan stok sayuran dirumah udah mau habis " jawab Bibi Zhu.
"Kalau begitu aku ikut ya, sekalian mau beli susu buan Ansel " kata So Yun.
Bibi Zhu menunggu sang majikan mengambil tas yang ada didalam kemudian mereka berangkat diantar oleh sopir menuju ke pusat perbelanjaan.
Tetapi saat mereka turun dari mobil dan sedang mimilah sayuran, So Yun merasa sedang diawasi oleh seseorang. Sedari tadi ia tidak fokus karena matanya mewaspadai orang yang berada disekelilingnya.
"Ah masa' sih, Non. Nggak ada kok " sahut bibi Zhu setelah menatap sekitar yang dirasa tidak mencurigakan.
"Ya udah bi kita percepat jalannya supaya cepat pulang, aku takut soalnya " ucap So Yun.
Mereka berdua mempercepat langkah dan sedikit berlari, dan benar saja ternyata ada dua orang mengenakan hoodie berwarna hitam dan masker sedang membuntuti mereka.
Bibi Zhu dan So Yun menyadari hal itu dan mereka terlihat panik saat kedua orang itu sudah berada didepan menghadang mereka.
"Siapa kalian? Kenapa menghalangi jalan kami? " tanya So Yun yang berusaha menutupi rasa takutnya.
"Kalian tidak perlu tahu siapa kami, ayo cepat ikut kami " kata salah seorang pria berjaket hitam itu.
Kedua pelaku saling memberi kode agar menyeret Bibi Zhu dan juga So Yun ke dalam mobil yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
__ADS_1
So Yun berusaha memberontak namun usahanya itu gagal dan pelaku tersebut membekap mulut So Yun dan juga bibi Zu, sebuah sapu tangan yang ternyata sudah ada obat bius dan mampu membuat mereka berdua pingsan.
So Yun dibawa ke sebuah gedung tua yang sudah tidak layak pakai dengan keadaan masih tak sadarkan diri, begitu juga dengan bibi Zhu. Tangan keduanya diikat dengan posisi tubuh saling berlawanan. Hanya terdengar suara samar-samar berbicara melalui sambungan telepon.
"Target sudah kami amankan bos, sekarang sudah berada di markas " ucap sang pelaku.
So Yun perlahan mulai sadar dan merasa kepalanya sedikit pusing karena efek obat bius tadi terlalu kuat. Namun ia masih berpura-pura pingsan agar bisa menguping pembicaraan kedua pria yang tadi menculik mereka.
Terdengar suara mereka menyebut kata "Bos" yang berarti kedua pria itu hanyalah anak buah yang diperintahkan oleh seseorang. Tapi siapa? Kenapa harus So Yun yang menjadi target mereka? Siapa yang memiliki dendam terhadapnya? So Yun terus bepikir.
Tak berapa lama kedua pria itu keluar dan tinggallah bibi Zhu dan So Yun sekarang.
"Bi, bangun bi!! " bisik So Yun.
Bibi Zu akhirnya sadar setelah So Yun berulang kali memanggilnya.
"Kita ada dimana ini, Non? " tanya bibi Zhu yang masih berusaha menormalkan penglihatannya.
"Aku juga tidak tahu bi, sepertinya kita berdua diculik " jawab So Yun.
"Diculik? Ya ampun Non, siapa yang berani menculik kita? Apa mereka tidak tahu akan berurusan dengan siapa karena telah berani menculik Nona " kata Bibi Zhu.
"Sssstttthhh tenanglah bi, kecilkan volume suaranya nanti mereka dengar bisa bahaya " bisik So Yun lagi.
"Semoga saja tuan muda segera tahu bahwa kita diculik ya, Non " ucap bibi Zhu lirih.
Setelah itu terdengar suara langkah kaki yang menuju kemari, sepertinya ada beberapa orang yang akan menuju ke ruangan gelap itu dan pintu tersebut akhirnya terbuka lebar.
Terlihat seorang pria bertubuh tinggi mengenakan setelan jas dan sepatu yang terlihat begitu mengkilat. Namun wajahnya tidak bisa terlihat dengan jelas karena pria tersebut berdiri membelakangi cahaya matahari.
Bersambung...
__ADS_1