
" So Yun, kenapa muka kamu cemberut? Masih pagi juga.. " kata Vania menghampiri So Yun.
" Entahlah, aku bingung saat ini.." jawab So Yun menyendarkan dagu diatas meja.
" Bingung kenapa? Cerita deh.." kata Vania.
" Itu lho papa sama mama aku nyuruh aku cepet nikah. Padahal aku belum mikirin itu. " jawab So Yun.
" Oh jadi itu masalahnya. Trus siapa yang jadi calonnya? " tanya Vania penasaran.
" Itu dia yang aku bingungkan, orang tuaku hanya memberiku waktu 3 bulan untuk menemukan pilihanku. Jika tidak mereka akan menjodohkanku dengan anak teman papa.." jelas So Yun.
" Bukankah itu bagus jika kamu menikah dengan anak pengusaha, atau jangan-jangan sudah ada seorang pria yang kamu suka? " kata Vania menggoda.
" Pria yang aku suka? Sepertinya tidak.." kata So Yun.
" Jawabannya sangat mudah, coba kamu pikirkan siapa orang yang membuatmu merasa senang, bahagia, atau khawatir! Dan yang pasti itu seorang pria. Jika ada, maka itulah orang yang berhasil membuatmu jatuh hati " kata Vania.
So Yun tak merespon jawaban dari Vania tersebut tapi justru ia memikirkan perkataan dari temannya itu.
" Kamu pikirlah baik-baik ya, aku akan lanjut kerja dulu.." kata Vania berlalu.
Pria yang membuatku bahagia? Siapa? Setelah putus dengan Justin aku tidak pernah lagi dekat dengan pria manapun. Gumam So Yun dalam hati.
Tetapi ia tak memusingkan hal itu, ia masih melanjutkan pekerjaannya dengan santai. Lagi pula 3 bulan waktu yang cukup panjang pikirnya.
Lelah seharian bekerja, So Yun berniat untuk pulang dan beristirahat. Tapi dirumah papanya sudah menunggu untuk mengajaknya ke sebuah pameran yang diadakan oleh perusahaan rekan bisnis papanya.
" Nak kamu sudah pulang? " kata Jian yang melihat putrinya masuk kedalam rumah.
" Iya pa, papa jam berapa pulangnya? Kok udah ada dirumah." kata So Yun bertanya balik.
" Sudah dari tadi. Cepat kemari sebentar.." ucap ayahnya itu.
" Ada apa pa? " tanya So Yun mendudukkan diri disebelah ayahnya.
" Malam ini temani papa ya ke acara pameran.." jawab papanya dengan raut wajah memohon.
__ADS_1
" kenapa nggak sama mama aja pa? Aku udah capek soalnya.." kata So Yun.
" Tapi mama harus pergi kerumah bibimu malam ini, jadi tidak bisa. Kamu temani papa ya.." bujuk papanya.
Setelah dipikir-pikir akhirnya So Yun setuju untuk menemani papanya untuk pergi ke pameran tersebut.
" Pa aku sudah siap..." kata So Yun yang terlihat cantik dengan gaunnya.
" Wah anak papa cantik sekali.. Ayo kita berangkat." kata Jian memuji putrinya dan mengajaknya berangkat ke pesta.
" Oh iya nak, nanti disana akan banyak teman papa yang hadir dan beberapa diantara mereka memiliki anak laki-laki. Jika kamu bisa.... Hehehe " kata Jian tertawa kecil.
" Maksud papa aku harus kenalan sama mereka gitu? " tanya So Yun.
" Ya kan hanya berkenalan, tapi siapa tahu kamu bisa mendapatkan menantu yang baik untuk papa...hehehe " kata papanya lagi.
" Apakah papa mengajakku datang ke pameran untuk kencan buta? " tanya So Yun penuh selidik.
" Tidak tidak.. Bukan begitu maksud papa. " jawab Jian.
" Aku tidak mau pa, aku hanya akan menikah dengan pria pilihanku sendiri." jawab So Yun cemberut.
Setelah sampai ke acara tersebut, Jian pergi menyapa beberapa rekannya dan mengenalkan So Yun kepada anak mereka. Banyak diantara mereka yang tertarik dengan So Yun. Tetapi hal itu membuatnya jengah dan merasa bosan.
" Pa aku permisi ke toilet sebentar.. " kata So Yun menyela pembicaraan mereka..
" Iya jangan lama-lama.." kata papanya.
So Yun langsung bergegas meninggalkan papanya yang sedang asyik mengobrol dan ia tidak pergi ke toilet melainkan berkeliling melihat-lihat. Saat sedang asyik melihat beberapa barang dipameran tersebut, ada seorang pria menghampirinya.
" Tidak disangka kita akan bertemu lagi disini nona.." kata David yang muncul dari belakang.
" David! M-maaf maksud saya presdir David " kata So Yun tersenyum pahit.
" Kenapa melihatku seperti itu? Tidak suka? " tanya David dengan tatapan dingin.
" Tidak tidak, senang bertemu dengan anda hehe" kata So Yun dengan sejyum dibuat-buat.
__ADS_1
" Ya sudah karena kita bertemu disini, maka aku akan ajak kamu berkeliling dan melihat bagian terpenting di pameran ini." kata David.
" Benarkah? Baiklah aku ikut denganmu, lagipula aku merasa sangat bosan " kata So Yun menyetujui.
David pun mengajak Gadis itu berkeliling untuk melihat-lihat bagian lain dari pameran tersebut. Dan tibalah di sebuah ruangan khusus di sana terdapat beberapa macam perhiasan mewah dan juga beberapa berlian.
" Wah ternyata masih ada ruangan di sini, dan isinya perhiasan semua? " kata So Yun kagum.
" Iya ini adalah beberapa perhiasan yang akan dijual saat pelelangan " jawab David.
" Eh lihat kalung ini! Wow desainnya sangat indah.." kata So Yun menunjuk sebuah kalung berlian yang sangat indah menurutnya.
" Kalau kamu jika aku bisa memberinya untukmu " kata David.
" Maksudmu? Kamu mau mencuri kalung ini? " tanya So Yun tak mengerti.
" Kenapa aku harus mencurinya, aku akan membelinya saat pelelangan nanti. " kata David.
" Oh begitu, ku kira seorang presdir terkenal sepertimu akan rela mencuri sebuah kalung hanya untuk gadis biasa sepertiku. " kata So Yun dengan nada bercanda.
" Aku akan membelinya jika kau suka. Aku tidak akan memberimu barang hasil curian " kata David membuat So Yun terhenyak seketika, dan merasa malu.
Saat mereka sedang asyik membahas tentang kalung itu tiba-tiba acara akan segera dimulai dan mereka pun bergegas menuju ke tempat acara tersebut.
" Nak, dari mana saja kamu? Papa sudah mencarimu kemana-mana.. " kata Jian.
" Maaf pa, aku Tadi hanya berkeliling sebentar karena merasa bosan " jawab So Yun.
" Eh ada nak David juga rupanya, " kata papanya yang melihat David berada di sebelah So Yun.
" Selamat malam paman, kebetulan sekali aku tadi bertemu dengan So Yun dibelakang " sapa David.
" Hmm kalau begitu aku harusnya berterima kasih dengan nak David telah menjaga putriku lagi hehe " kata Jian.
" Tidak perlu paman, lagi pula aku juga senang mengajak nona So Yun pergi melihat-lihat." jawab David.
" Ya sudah, acara akan segera dimulai kamu bareng sama kita saja " kata Jian.
__ADS_1
" Baiklah kalau paman tidak merasa keberatan " kata David menyetujui tawaran Jian.
Mereka pun langsung menuju ke tempat duduk yang sudah tersedia khusus untuk para tamu. So Yun merasa agak sedikit canggung saat David memilih tempat duduk di sebelahnya. Hatinya berdegup kencang ada semacam perasaan yang aneh dan tidak pernah ia rasakan sebelumnya.