Suami Bayangan

Suami Bayangan
Permintaan Terakhir


__ADS_3

“ Permintaan terakhir " Lanjut Diana.


Renata tak menjawab hanya mengangguk pelan memberikan kesempatan pada Diana untuk mengutarakan keinginan nya.


“ Jadilah pengantin untuk Bian agar kalian bisa saling menjaga ketika Mami tiada nanti. " Permintaan yang singkat namun berhasil menusuk dada Renata.


“ Bu .. Apapun yang Ibu minta Rere akan upayakan asal jangan itu Bu. Rere bahkan belum genap 19 tahun, Rere masih kuliah. Rere takut tidak bisa jadi istri yang baik " Jelas Renata.


“ Menjadi istri yang baik bisa di pelajari setelah menikah Re, Mami cuman mau lihat Rere punya keluarga begitu juga Bian. Rere udah gak punya siapa siapa sedangkan Bian pun kalo Mami udah gak ada bakal sama kaya kamu Re .. Mami mohon Re "


Perkataan Diana tidak salah, mungkin karena janjinya pada Tama untuk merawat Renata membuat Diana terlampau khawatir saat dirinya nanti tiada maka janjinya pada Tama tidak akan tuntas. Karena itulah Diana ingin Bian yang menuntaskan janjinya.


“ Mami udah janji sama Almarhum Tama buat ngerawat Renata Bi .. Kalo Mami gak ada siapa yang mau rawat Renata ? " Isak Diana memohon pada Bian setelah beberapa saat lalu berbicara dengan Renata.


“ Menikahi bocah ingusan ? Ayolah Mi Bian sudah 29 tahun ! Bian bisa merawat Renata tanpa menikahinya. " Tolak Bian tegas.


“ Siapa yang akan menjamin itu ? Mami tau bagaimana watak mu, pasti nanti kamu akan menelantarkan Renata. "


“ Lantas jika Bian menikahinya apa Bian tidak bisa menelantarkan nya ? Ck .. Gadis itu pasti sudah mempengaruhi pikiran Mami. Bian gak akan pernah menikahi dia " Bian berdecak kesal.


Baru saja menyelesaikan perkataannya tiba tiba saja Diana kehilangan keseimbangan. Kepalanya berputar, kaki nya terasa lemas lalu akhirnya roboh tak sadar kan diri.


“ Mi .. " Panggil Bian.


“ Tolong panggil ambulans " Bian berteriak dari dalam kamar Diana.


Seketika maid dan pengawal berhamburan masuk, salah satu dari mereka sigap menghubungi ambulans. Renata yang saat itu tengah di tepi kolam bergegas naik ke lantai dua begitu mendengar keributan.


“ Ibu .. Kenapa gini ? " Tanya Renata dengan sorot tajam pada Bian.


“ Saya tak tau. Mami tiba tiba ambruk "


“ Saya sempat dengar percekcokan antara kalian tadi, ayolah mas ! Ibu mu sedang sakit keras harusnya kamu tidak bersikap terlalu keras padanya " Keluh Renata jengkel.


“ Sudah ! Ayo kita bawa ke bawah ambulans akan segera tiba. " Alvin berusaha melerai Renata dan Bian.


Perselisihan pun terhenti.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, Diana langsung masuk IGD. Kondisinya kritis, penyakit yang di derita nya semakin menggerogoti tubuhnya selain itu di dalam pikirannya berkecambuk banyak hal.


Lama menunggu sekitar 6 jam, Diana baru sadarkan diri dan bisa di temui.


“ Mami maaf .. maaf Bian terlalu keras sama Mami " Bian langsung bersimpuh di kaki Diana.


“ Gak papa Bi, Mami yang terlalu menuntut berlebihan. Maafkan Mami ya Bi, Re . Kalian bisa melanjutkan hidup kalian masing-masing. Jangan terbebani oleh Mami. " Dari sudut mata Diana mengeluarkan air mata.


“ Gak bu, Renata mau menerima permintaan Ibu jika mas Bian juga bersedia. "


Jawaban Renata sontak membuat seisi ruangan kaget, terlebih Bian yang awalnya bersikeras menolak kini rasanya tak punya kuasa untuk tidak mengiyakan permintaan Ibunya yang tengah sekarat itu.


“ Baiklah Bian pun akan menerimanya Mi .. Demi Mami "


“ Benarkah ? Bisakah kalian menikah secepatnya ? Mami takut Mami tidak bisa bertahan lebih lama lagi. " Diana memohon sambil berlinangkan air mata bahagia.


“ Vin apa bisa bantu urus ? Upayakan sesegera mungkin. " Titah Bian.


“ Siap, Mi Alvin keluar dulu ya ? Alvin akan uruskan persyaratan menikah mereka. "


Setelah mendapatkan apa yang di inginkannya Diana merasa begitu tenang dan kembali terlelap.


Bian membawa Renata ke ruang kantor Diana untuk menjaga privasi mereka.


“ Kenapa kamu tiba tiba mengiyakan permintaan Mami ? " Bian langsung mencerca Renata dengan pertanyaan.


“ Lantas saya harus bagaimana ? Ibu mu sekarat ! " Renata mendebat Bian dengan nada tinggi.


“ Ingat pernikahan ini hanya demi Mami ! Kamu jangan berharap lebih dari itu ! "


“ Ck .. Mas Bian jangan terlalu percaya diri. Saya juga mau menikah hanya demi Ibu. "


“ Saya pegang ucapan mu ! " Bian membalikkan badannya dengan angkuh lalu meninggalkan ruangan.


Dasar manusia tidak tau diri. Di tolong malah kurang ajar .. Gerutu Renata dalam batinnya.


Esok harinya Alvin mengabarkan bahwa urusan administrasi sudah selesai. Pernikahan bisa di selenggarakan esok hari di rumah sakit karena Diana masih mendapatkan perawatan intensif. Karena pernikahan harus di selenggarkan di rumah sakit, maka Bian mempersiapkan segalanya di aula. Dekorasi sederhana namun tetap elegan menghiasi tiap sudut ruangan. Renata hanya memperhatikan dan tak tau harus berbuat apa.

__ADS_1


“ Ngelamun lagi huh ? " Tanya Alvin yang langsung duduk di samping Renata.


“ Usiaku belum genap 19 tahun tapi esok status ku sudah menjadi istri seseorang. "


“ Kamu menyesal ? "


“ Enggak mas, cuman aku tau ini akan menjadi perjalanan yang sulit. " Renata menarik nafas panjang.


“ Lantas kenapa kamu bersedia ? "


“ Mas, aku sudah tidak punya orangtua sejak kecil. Aku tak sempat membahagiakan mereka. Lalu sekarang ada Bu Diana, beliau memberikan kasih sayang yang tulus selayaknya seorang ibu kandung meski kami baru saja bertemu. Aku ingin merasakan itu mas, merasakan bagaimana menjadi anak yang berbakti dan membahagiakan orangtua. " Jelas Renata sambil menatap langit langit aula yang sedang di dekorasi dengan kain berwarna putih.


“ Terimakasih Re .. " Alvin mengelus punggung Renata lembut


Renata hanya menyambut kehangatan Alvin dengan sebuah senyuman, pria satu ini benar benar jauh berbeda dengan saudaranya. Kenyataan bahwa Bian dan Alvin bukan saudara kandung pasti mempengaruhi watak mereka yang berbeda dalam banyak hal.


...----------------...


Hari pernikahan pun tiba, Renata sudah mengenakan gaun putih yang entah siapa yang telah menyiapkannya namun Alvin datang dengan gaun itu subuh tadi.



Dengan riasan flawless Renata di buat sangat cantik dan terlihat lebih dewasa dari usianya. Bahkan mungkin Bian hampir tidak mengenali calon istrinya yang awalnya culun dan sederhana, saat ini dibuat bak ratu.



*perbedaan Renata biasa dengan saat pernikahan


“ Itu beneran si Renata kan Bi ? " Tanya Alvin pada Bian yang sibuk sendiri dengan setelan jas nya.


“ Ya si Renata terus siapa lagi ? "


“ Ish Lo lihat dulu Bi .. Itu bini Lo demi apapun cantik banget. Kalo Lo gak mau, biar sama gue aja gue mah gak papa sumpah " Akhirnya Bian pun terpancing untuk menatap Renata.


Untuk beberapa saat Bian pun membeku melihat Renata, gadis yang biasanya hanya mengenakan kaos polos dan celana jeans lusuh itu kini sangat anggun dengan gaun putihnya yang sangat cocok di sandingkan dengan kulit putihnya yang mulus bersih.


“ Mata gue kena ajian pelet kayanya Vin " Ucap Bian begitu saja tanpa sadar karena saking terpukau nya.

__ADS_1



*Bian dengan setelan putihnya.


__ADS_2