Suami Bayangan

Suami Bayangan
Jangan Pulang


__ADS_3

" Saya mau bicara empat mata dengan istri saya. Bisa tinggalkan kami ? " Tanya Bian dengan tatapan menusuknya.


" Ahh begitu tentu pak Bian. Silahkan, cepet sembuh ya Re. Gue pergi dulu " Pamit Dirly yang di dalam hatinya menyimpan kekecewaan.


" Mass .. " Rengek Renata.


Bian mendekatinya lalu duduk tepat di samping Renata, Bian tak banyak bicara hanya meraih tangan Renata mengusap punggung tangan itu dengan lembut.


" Saya peduli, bukan cuman karena nama dan harga diri saya. Saya peduli karena kamu istri saya, yang harus saya bela " Ucap Bian dengan suara lembutnya.


Renata hanya menatap tak bergeming.


" Saya udah beresin semua " Ucap Bian.


" Dengan cara pecat semua orang mas ? "


" Iya .. "


" Gak gitu juga caranya mas .. Kenapa gak di tegur dulu aja. " Sesal Renata yang merasa bersalah pada mereka yang harus kehilangan sumber penghasilannya.


" Saya gak bisa toleransi hal ini, ini juga yang bikin kamu depresi sampe hampir bunuh diri. "


" Hmm itu .. Aku nya aja yang lemah mas. "


" Udahlah Re, gak usah di pikir. Kamu istirahat aja, masalah management kampus itu tanggung jawab saya sama Alvin " Bian menepuk pundak Renata lalu beralih mengusap rambutnya.


Bian pun kembali beralih ke sofa, meraih laptopnya dan seperti biasa selalu sibuk berkutat dengan seperangkat gadget miliknya. Jika dalam posisi Renata yang sakit seperti ini, Bian seringkali memilih untuk WFH. Memantau segalanya lewat sistem daring.


Mungkin pengaruh obat, Renata hanya terjaga beberapa saat lalu tidur kembali dengan tenang. Setelah selesai dengan urusan pekerjaannya Bian pun menatap iba wanita yang semenjak di nikahinya itu seakan selalu terlibat dalam masalah. Bahkan Bian harus beberapa kali menemaninya di rumah sakit ini.


Bian mengusap rambut Renata lembut, kata katanya tadi tentang kepedulian nya pada Renata memang benar. Itu kenapa Bian melakukan banyak hal sampai sejauh ini untuk membela Renata.


Tertidur di sofa, ketukan di pintu berhasil membangunkan Bian. Dokter datang untuk melakukan pemeriksaan rutin.


" Pagi Pak Bian, mohon maaf mengganggu waktunya. " Sapa dokter.


" Pagi dok, its okay "


" Pagi Bu Renata, saya periksa dulu ya " Ucap dokter ramah. Renata pun mengangguk, dirinya juga sama baru bangun.


" Dari hasil pemeriksaan lab, rontgen, dan CT syukurlah tidak ada organ yang mengalami kerusakan akibat overdosis. Hari ini Bu Renata sudah bisa pulang "


" Baguslah .. Terimakasih dok. Ini kabar baik "


" Tapi saya sarankan bu Renata untuk menjalankan terapi ke poli jiwa ya pak " Lanjut dokter tersebut pada Bian.

__ADS_1


" Baik dok, saya sendiri yang akan mengatur kontrol dan rawat jalannya. "


" Baiklah, saya permisi "


Renata menatap bingung, bisa bisa nya dengan mudah lelaki itu menyetujui untuk Renata melakukan konsultasi pada psikiater. Apakah mereka benar benar mengira Renata sudah gila. Renata merasa tersinggung untuk itu, hingga kini dirinya menekuk wajahnya.


" Kenapa hmm ? Kamu harusnya seneng udah di bolehin pulang " Ucap Bian.


" Kenapasih pake harus kontrol terus terusan ke poli jiwa segala. Aku gak segila itu mas "


" Re .. Saya gak mau ya denger kamu ngebantah terus kaya gini. Ini demi kebaikan kamu. " Ultimatum Bian yang langsung membuat Renata terdiam. Jika Bian sudah sampai berbicara dengan keras begitu maka Renata tak boleh membantahnya.


Renata hanya menarik nafas pasrah, secepat kilat Bian merapihkan segala hal yang akan di bawa mereka pulang. Bian melakukannya tanpa sepatah katapun. Jika harus jujur, Bian pun tengah lelah. Kurang istirahat, pekerjaan yang menumpuk, istri yang tidak pengertian, di tambah satu lagi masalah barunya yaitu harus membenahi management kampus.


Semua bertumpu pada Bian dan harus segera terselesaikan dan mendapat solusi. Hal hal ini sukses membuat mood Bian berantakan.


" Mas ko diem aja ? " Tanya Renata mencairkan suasana ketika mereka sedang di perjalanan pulang.


" Emangnya apa yang harus saya bicarain ? "


" Maaf mas, aku gak akan bantah mas lagi. Aku bakal kontrol dan terapi. "


" Ya emang udah seharusnya. Itu kan buat kamu juga. " Bian masih menjawab dengan ketus.


" Hari ini. "


" Ko langsung pulang sih mas ? Bukannya ada yang harus di selesaiin di kampus ? "


" Alvin bisa. Saya sibuk, kerjaan saya bukan cuman ngurusin kamu dan segala hal tentang kamu "


" Masss .. Aku kan udah minta maaf " Rengek Renata.


" Udahlah saya cape Re. Saya bela belain ini itu buat kamu. Kamu nya juga gak mau saya urusin "


" Bukan gitu mas .. "


" Stop it "


Mobil mereka memasuki halaman rumah, Bian hanya memanggil ART untuk membantu Renata masuk ke kamarnya. Sedang Bian segera membersihkan diri, mandi dan berniat untuk berkemas karena sore ini dirinya akan lamgsung berangkat.


Mendengar gemericik air, Renata sudah mengira bahwa suaminya tengah mandi. Dalam posisinya yang sehat mungkin saja Renata akan membujuk Bian dengan menggodanya. Namun dalam keadaan sakit, Renata tak bisa melakukan ritual intim itu.


Bian keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah sedang handuk melingkar di pinggangnya. Bian segera mengeringkan rambut, lalu mengenakan pakaiannya.


" Mas .. Jangan dulu pulang " Panggil Renata

__ADS_1


" Kenapa ? "


" Aku masih kangen. Sehari lagi aja mas " Jawabnya jujur.



" Sorry saya gak bisa " Ucap Bian cuek masih fokus dengan merapihkan pakaiannya.


BBUUUKKK


Renata melempar bantal ke arah Bian, Renata melakukannya seperti orang gila.


" AAAAHHH MAS TEGA MAS GAK PEDULI KE AKU " Renata berteriak histeris.


" Rere tenang Re .. " Bian mendekati memeluk erat.


" Aku cuman minta sehari lagi masss .. Kenapa sih kamu gampang banget salah paham dan gak ngertiin aku. Aku gak butuh psikiater. Aku cuman butuh kamu lebih ngertiin perhatiin aku mas. " Isak Renata.


" Iya iya saya gak akan berangkat sekarang oke ? " Bian memegangi kedu pundak Renata.


Renata hanya mengangguk lalu berganti memeluk Bian erat. Renata memang merindukan kehangatan ini, merindukan lelaki yang seringkali membuatnya sakit hati.


" Cepet ganti bajunya, aku gak mau mas tiba tiba pergi pas aku tidur "


" Ya ampun. Ga akan Re "


" Ganti mas "


" Okay Okay .. " Bian menurut lalu bangkit dan melucuti pakaian nya yang sudah rapih.


" Udah tenang ? Saya mau ngerjain dulu urusan kantor sebentar. Kamu bisa istirahat "



Bian beranjak menuju sofa yang berantakan ulah Renata, Bian memunguti barang barang lalu menumpuknya disana. Bian mulai sibuk dengan gadgetnya, sedang Renata hanya senyum senyum sendiri memperhatikan suaminya yang akhirnya harus mengalah.


" Kamu tuh ya emang kekanak kanakan " Gerutu Bian.


" Ya siapa suruh nikahin bocah mas "


" Saya kira kamu gak akan semanja ini, kelihatannya aja mandiri. Aslinya manja, bawel, ngeselin. "


" Itu udah nalurinya cewek, masih mending aku manjanya ke kamu aja mas. Gimana kalo aku manjanya ke laki laki lain ? Ke Dirly misal. "


Ucapan Renata sukses membuat Bian menatap tajam ke arahnya. Renata hanya terkekeh melihat sorot mata Bian, bukannya takut justru nampak menggemaskan.

__ADS_1


__ADS_2