
“mas, aku nasinya nggak habis,” kata Liana.
“ya sudah nggak apa-apa. Nanti mas yang abisin,” kata Joko sembari mengambil nasi milik Liana.
“ Jangan mas, eh ini apa?” tanya Liana membuka bungkusan satunya
“Itu tadi mas beli buat cemilan,” kata Joko.
Liana mulai menyuapkan nasi sedikit demi sedikit ke dalam mulutnya, dan lama kelamaan nasi itu pun habis. Liana duduk di bangku sembari ia menyandarkan tubuhnya. Joko kini berpindah duduk di samping Liana dan ia meraih tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
“Sayang, kamu belum ngantuk?” tanya Joko.
Liana mendongakkan kepala dan memandang sang suami sembari menggelengkan kepala.
“kenapa mas? Mas pengen?” tanya Liana.
“Pengen apa?” tanya Joko.
Liana semakin mendekatkan wajahnya ke wajah sang suami, ia langsung mengecup bibirnya dengan lembut, dan tetsenyum.
“Emang boleh ya?” tanya Joko.
“Boleh, asal pelan-pelan,” kata Liana.
Joko seketika tersenyum. Dan ia langsung mengendong sang istri ke kamar. Malam itu mereka kembali merasakan indahnya ibadah seorang suami istri. Setelahnya mereka terlelap dalam dekapan pasangannya.
Pagi hari, Liana bangun pagi-pagi sekali, ia langsung mandi. Setelah mandi Liana duduk di balkon sembari menikmati udara pagi hari. Joko yang terbangun dari tidurnya dan terkejut melihat sang istri tak berada di sampingnya..
“liana,” kata Joko. Namun tak ada jawaban. Joko langsung berlari ke kamar mandi, namun tak ada juga. Ia mulai panik.selurub isi rumah sudah ia cek, namun sang istri masih belum juga ketemu. Joko menjadi sangat bingung. Ia pun berjalan ke balkon, dan betapa leganya Joko ketika melihat Liana tertidur di bangku balkon.
“ya Allah sayang,kamu membuatku takut,” kata Joko sembari duduk di lantai dekat sofa balkon dan ia tersenyum melihat wajah sang istri yang terlelap.
Sinar matahari pagi menerpa wajah Liana. Liana lpu. Terbangun sembari ia mengusap kedua matanya. Setelah tersadar, ia terkejut melihat sang suami berada di depannya tertidur duduk di lantai. Liana pun mengusap tangan sang suami dengan lembut dan ia membangunkannya.
“Mas, bangun yuk.” Kata liana.
“dek, sudah bangun? Kenapa kamu pindah di sini?” tanya Joko saat ia telah terbangun.
“Tadi cuacanya sangat panas mas, aku mandi kemudian duduk di sini. Pas ngantuk aq langsung tidur aja,” kata Liana.
“lagi-lagi kamu membuatku takut, sayang,” kata Joko.
“Maaf mas,yuk mandi,” ajak Liana.
“Kamu mengajak ku mandi?” tanya Joko. Dan ji jawab anggukan kepala Liana.
Keduanya pun berjalan ke kamar mandi. Sedangkan kini Joko memenuhi bad up dengan air hangat yang akan mereka gunakan untuk berendam. Sejak hamil, Liana selaku manja dan sangat agresif sekali. Kadang membuat Joko sakit kepala. Nalurinya sebagai pria yang mengebu-gebu, hanya saja ia masih takut dengan kandungan Liana.
Keduanya pun kini berendam sembari bermanja, setelah selesai mereka pun bersiap. Liana hari ini ikut Joko ke kantor, bukan apa-apa. Joko hanya khawatir dengan keadaan sang istri bila ia tak bersamanya.
Sebelum keduanya sampai di kantor, mereka memutuskan untuk sarapan. Pagi hari, Liana lebih suka sarapan bubur ayam atau soto, dan pagi itu mereka sarapan soto. Setelah selesai sarapan barulah mereka berangkat ke kantor.
Selama di kantor Liana menunggu di ruangannya. Sedangkan Joko tengah menjalani beberapa miting. Sedangkan Liana menunggu di belakang ruang kerjanya yang terdapat kamar dengan fasilitas bak hotel.
Baru sore harinya mereka cek ke dokter kandungan. Dan mereka melakukan USG pada kandungan Liana.
Liana terlihat sangat gugup. Pasalnya itu kali pertama dirinya melakukan USG pada kandungannya. Begitu pun dengan Joko.
“Kandungannya sehat. Hanya saja kelaminnya belum di katahui. Karena masih tertutup,” kata sang dokter.
__ADS_1
“baik dok. Terima kasih. Yang penting anak kami sehat. Itu sudah cukup. Mau laki atau perempuan, itu sama saja,” kata Joko sembari ia mengenggam tangan sang istri.
“terima kasih, mas,” kata Liana.
“dan ini ada beberapa obat yang harus di tebus ya pak,” kata sang dokter memberikan resep.
“Baik, terima kasih. Kalau begitu kami permisi dulu,” kata Joko sembari mengandeng sang istri.
Keduanya kini sudah berada di dalam mobil. Liana dan Joko memutuskan untuk mampir ke rumah Melati lebih dulu. Hati ini Liana merasa sangat bahagia, begitu pun dengan Joko.
Liana kini memfoto hasil USG dan ia memposting di akun media sosialnya. Dengan caption berbunyi “terima kasih ya Allah, sudah mengizinkan aku merasakan ini semua, setelah tertunda selama bertahun-tahun,”
Setelah memposting, Liana pun tersenyum. Senyum sangat indah mengembang di wajahnya. Joko yang melihat sang istri tengah tersenyum sendiri membuat ia sedikit penasaran.
“Kenapa sayang?” tanya Joko
“nggak apa-apa mas, aku hanya memposting foto cinta kita di Ig,” kata Liana.
“Sebahagia itu kamu, dek?” tanya Joko.
“jelas mas. Aku sudah menunggu selama bertahun-tahun untuk merasakan keajaiban ini,” kata Liana sembari tersenyum.
“Aku pun sangat bahagia, bisa memiliki kalian,” kata Joko sembari mengusap pipi sang istri.
“Mama masak apa ya?” tanya Liana
“Mana aku tau, dek. Kamu lapar?” tanya Joko.
“lebih tepatnya aku ingin makan masakan mama,” kata Liana sembari tersenyum.
“ya sudah. Kita makan siang sekalian di rumah mama,” kata Joko sembari ia membuka pintu mobil. Karena memang saat ini sudah sampai di depan rumah mamanya.
Liana seperti biasa, menunggu sang suami membukakan pintu, bukan karena manja, tetapi memang Joko selalu memintanya untuk menunggu. Joko membukakan pintu untuk sang istri dan menggandengnya menuju rumah megah milik Melati.
“hey, anak dan mantu mama, apa kabar sayang?” tanya melati setelah melihat kedatangan Joko dan liana.
“kami baik ma, Liana katanya mau makan siang di sini. Mama masak apa?” tanya Joko sembari tertawa setelah mengerjai istrinya.
“mama hanya masak biasa, nak. Hanya bikin cabcay goreng sama sayur kangkung,” kata melati dengan sedikit kecewa. Karena di saat menantunya ingin makan di rumahnya ia malah nggak masak yang penuh gizi.
“mama, tenang saja. Cabcay ini salah satu makanan faforit aq. Makannya sambil lalap cabe. Weeeh, enak ma.” Kata Liana sembari mengusap mulutnya yang sudah sangat ingin menikmatinya. Sedangkan Melati dan Joko hanya melonggo.
“jeck, istrimu unik,” kata melati sembari tersenyum.
“Ya begitulah ma, dulu sebelum hamil, Liana sangat suka memasak ini memang. Tapi sejak hamil katanya males, padahal pengen,” kata Joko.
Sedangkan Liana dengan lahap makan sayur kangkung dan cabcay, Liana jarang makan nasi kalau dirinya tak begitu menginginkannya. Liana lebih suka ke yang sayuran daripada nasi.
“Mama, boleh aku minta tolong?” tanya Liana.
“apa sayang?” tanya Melati. Sedangkan Liana yang di tanya hanya menundukkan kepala.
“hey, kok nangis?” tanya Joko sembari mengusap punggung Liana.
“Mama, sejak dulu aku ingin makan mangut kepala lele. Dulu almarhum ibu sering masak itu. Dan aku sangat merindukan masakan ibu. Bisakah mama masak untukku?” tanya Liana.
“tentu sayang,” kata Melati sembari ia berpikir dimana ia mendapatkan kepala lele yang ukurannya besar?
“terima kasih mama. Tapi di sini memangnya ada yang jual kepalanya aja ma?” tanya Liana.
__ADS_1
“Entahlah, nanti mama cari di peternaknya. Cari yang ukurannya jumbo-jumbo,” kata Melati sembari tertawa.
Joko menyadari kegalauan sang mama, namun ia juga bahagia karena Liana bahagia. Joko memutuskan melanjutkan makan siangnya. Sedangkan Liana kini sudah duduk bersandar di ruang tv sembari ia mengutak Atik ponselnya.
Tak berapa lama ponselnya bergetar, tanda ada panggilan masuk. Liana melihat nama sang pemanggil. Ternyata dari Danu, dan ia memutuskan memanggil Joko untuk mengangkatnya.
“mas Jack, ponselku ada telpon,” kata Liana.
Melati yang ada di samping Liana terkejut, kenapa sampai telpon pun harus Joko yang mengangkatnya?
“Kenapa nggak kamu angkat Li?” tanya Melati.
“Kalau gitu mama saja yang angkat. Ini dari mas Danu. Aku nggak nyaman kalau harus mengangkatnya,” kata Liana sembari menyerahkan ponselnya.
Melati yang paham dengan jalan pikir sang menantu pun tersenyum. Ia merasa malu karena telah memiliki prasangka yang bukan-bukan terhadap menantunya.
Kini melati mengambil alih ponsel Liana dan menggeser tombol hijau tanda membuka panggilan Vidio itu. Sementara Liana langsung menyandarkan kepalanya lagi, seolah ia tengah terlelap.
“halo, ini siapa?” tanya melati basa basi.
“Halo, Tante. Saya Danu. Liana ya ada?” tanya Danu. Kemudian melati mengarahkan kamera ke arah Liana yang tengah terlelap.
“liana ada, tapi sedang tidur, ada pesan?” tanya melati sembari mengarahkan kembali kamera ke arahnya.
“ Nggak Tante, nanti katakan pada Joko juga, selamat atas kehamilan anak pertamanya,” kata Danu.
Joko yang sudah selesai makan langsung duduk di samping Liana dan tersenyum. Ternyata istrinya memang tak ingin dengan mantan suaminya, kecuali ada Joko maupun mertua ya.
“Baik, nanti akan saya sampaikan.” Kata melati sembari menutup panggilan telpon.
Bersamaan dengan itu Liana membuka mata dan tersenyum melihat Melati.
“Dia tau kamu hamil?” tanya melati.
“Iya ma, karena aku pasang kabar bahagia di Ig,” kata Liana.
“oh iya. Kapan kalian mengadakan syukuran empat bulanan?” tanya melati.
“iya ya ma, lebih baik kapan?” tanya Joko.
“Mungkin lusa ya, mau di sini atau di kedai?” tanya Melati.
“Di sini saja ya, mas?” tanya Liana.
“boleh, mau di rumah kita yang satunya juga nggak apa-apa,” kata Joko.
“Iya, nanti setelah lahiran kamu mau tinggal di mana? Dan kalau bisa setelah syukuran empat bulan itu kamu tinggal di rumah yang sama,”kata Melati.
“Gitu ya ma? Ya sudah, nggak apa-apa kita pindah ke rumah aja mas. Sedangkan kalau di kedai sepertinya aku kurang nyaman juga. Bukan apa-apa. Kita nggak tau orang yang datang itu bawa apa,” kata Liana.
“oke, mama akan buat persiapan kepindahan dan syukuran buat kalian. Kalian terima beres aja,” kata melati.
“terima kasih mama,” kata Liana sembari tersenyum.
"tentu sayang," kata Melati.
kini semuanya sibuk menyiapkan acara tasyakuran. sedangkan Liana minta pulang sekarang, karena ia sudah lelah dan merasa ngantuk. Joko pun berpamitan kepada sang mama. tak lupa Melati membawakan cabcai bikinannya untuk Liana makan malam nanti. sedangkan Liana yang merasa sangat bahagia, ia langsung memeluk dan mencium kedua pipi Melati.
"mama, adalah mertua terbaik. Mertua rasa mama sendiri. Mama paham dan tau apa yang aku butuhkan tanpa aku mengucapkannya," kata Liana.
__ADS_1
"Karena kamu sama halnya dengan putri mama. nanti sore kalau Sinta pulang, mama minta antar dia beli kepala ikan lele, biar besuk pagi bisa mama antar ke kedai," kata Melati sembari tersenyum.
"Terima kasih mama." Liana dan Joko pun berpamitan untuk pulang.