Suami Bayangan

Suami Bayangan
Kita Tunda


__ADS_3

" Hmm " Lenguh Bian ketika perlahan matamya terbuka, waktu menujukkan pukul 6 pagi sedang Renata masih tertidur pulas dalam pelukannya.


Bian perlahan melepaskan pelukannya dari tubuh Renata, khawatir istrinya itu terbangun dan akan berakhir dengan drama drama lainnya. Bian bangkit meraih handuk dan masuk ke kamar mandi menuntaskan mandi paginya. Syukurnya hari ini Bian tidak terlambat bangun lagi hingga dengan sigap Bian bisa menyiapkan sarapan, teringat kemarin Renata ingin sarapan buatannya.


" Biar saya aja Tuan .. "


" Gak papa Bi, kerjain yang lain aja. " Titah Bian yang membuat ART nya itu segera mundur dari dapur.


Simple saja yang Bian buat hanya nasi goreng seafood. Lalu menyiapkan susu juga untuk Renata.



" Mas .. " Renata datang lalu memeluk Bian yang saat itu baru selesai menyiapkan sarapan dan sedang menata piring di meja makan.


" Hmm " Jawab Bian masih fokus dengan piring piringnya.


" Mas masak hari ini ? "


" Iya, udah duduk terus sarapan dulu " Titah Bian yang melepaskan pelukan Renata.


" Huh dasar manusia gunung es " Renata melipat bibirnya kesal.


" Udah saya masakin masih aja cemberut. " Bian menarik tambut Renata lembut ke belakang lalu mengambil ikat rambut di tangannya, Bian membuat kunciran sederhana agar rambut Renata tidak mengganggu sarapannya.


" Ko di iket ? " Renata menengadahkan kepalanya, menatap wajah Bian yang ada di atasnya.


" Udah cantik, biar kamu leluasa sarapannya hmm " Bian mengusap usap pipi Renata.


" Pengen cium " Ucap Renata polos, membuat Bian tertawa seketika.


Gadisku yang tak lagi jaim ..


Bian mencium bibir Renata sekilas, melepasnya dengan lembut. Ibu jari Bian kini berada di bibir Renata membersihkan bibirnya.


" Mas hari ini mau kemana ? " Tanya Renata ketika mereka sama sama menyendok nasi goreng.


" Ke kampus. Udah mulai rekrutment, saya mau pantau sendiri. "


" Berarti mas bakal lama disini ? "


" Hmm .. 3 hari lagi saya pulang, boleh ? " Bian menghintakan makannya lalu menatap Renata.


Renata tak menjawab hanya menganggukkan kepalanya pelan, egois rasanya jika menahan Bian lebih lama lagi. Bian memiliki banyak kesibukkan dan urusan di luar sana. Banyak orang juga yang bergantung padanya. Renata harus puas dengan beberapa hari ini ditemani Bian.

__ADS_1


" Atau kamu mau pindah aja ? " Tanya Bian santai.


" Pindah sama mas ? "


" Hmm "


" Emang gak masalah ? Aku gak akan bisa ikutin gaya hidup mas disana. Aku yakut malu maluin " Keluh Renata jujur.


" Emang saya punya gaya hidup kaya gimana ? Saya sama aja kaya kamu. "


" Bedalah, disana mas pasti punya banyak kolega. Aku gak akan bisa setara sama mereka. "


Bian menggaruk halisnya, tak gatal. Hanya reflek karena heran.


" Kalo emang belum mau ya gapapa, tapi jangan bikin saya khawatir terus disana. "


" Maaf .. "


" Udah jangan di bahas lagi. Masalahnya udah selesai juga kan ? "


" Iya mas .. Makasih udah bela aku. Aku sekarang udah baik baik aja. "


" Bagus kalo gitu. " Bian bangkit dari kursinya, mengambil piring kotor bekas makan mereka lalu menyimpannya di tempat cuci piring.


" Katanya mas pengen cepet punya bayi, tapi ko akhir akhir ini mas kaya yang gak selera. "


" Selera apa ? " Bian menyunggingkan senyum, sebenarnya Bian mengerti maksud Renata.


" Ya selera buat lakuin itu .. Biasanya mas yang ajakin aku terus. Padahal aku kan udah sehat. "


" Kita tunda dulu aja " Jawab Bian singkat.


" Tunda ? Kenapa ? "


Ekspresi wajah Bian berubah jadi serius. Bian menarik kursi di meja makan lalu duduk berhadapan dengan Renata tanpa ada jarak antara mereka.


" Kita tunda sampe kamu siap, bukan cuman secara fisik tapi psikis juga. Setelah saya pikir matang matang, ngelihat kondisi kamu sekarang gak memungkinkan. Punya anak itu gak gampang, fisik dan hormon kamu bakal sering berubah yang nantinya pengaruhin emosional kamu. Belum lagi kamu kurang istirahat, sedang saya gak akan bisa banyak bantu karena kita gak seatap. Kamu selesaiin dulu perawatan kamu, kalo psikiater kamu udah yakin kamu stabil kita bisa bahas lagi ini. Okay ? " Ucap Bian memberi pengertian selembut mungkin agar Renata tak tersinggung.


" Gimana kalo aku gak bisa sembuh mas ? "


" Jangan overthinking, usaha aja buat sembuh. " Bian mengusap rambut Renata lalu meninggalkan Renata sesaat untuk membawa tas dan bersiap pergi kerja.


Renata masih tertegun, satu sisi bahagia karena Bian memperdulikannya dan satu sisi lagi sedih karena dirinya kini belum bisa memberikan Bian keturunan karena Bian khawatir berlebihan padanya.

__ADS_1


Alvin sudah menunggu di mobil dengan ekspresi kesal karena bosnya tak kunjung keluar padahal sudah janji hanya menunggu 5 menit. Ya Bian harus tertahan sampe 30 menit karena harus menjawab pertanyaan pertanyaan yang Renata berikan.


" Tau gini gue sarapan dulu Bi "


" Ya tadi kan gue udah nawarin Lo sarapan. "


" Lo cuman bikin buat dua porsi. Terus gue makan piringnya ? " Ketus Alvin.


" Haha, nanti sampe kampus Lo boleh sarapan dulu pesen apa aja yang Lo mau terserah. " Titah Bian menebus kesalahannya.


" Mau sungkem gue ke si Renata "


" Kenapa ? "


" Udah bikin Lo 180 derajat berubah. "


" Emang dulu gue gimana ? "


" Dulu ? Kalo ada kata lebih dari bereng-sek nah itu Lo "


" Haha sialan Lo, yaudah jalan "


Mereka pun melaju menuju kampus. Semua urusan administrasi kampus harus usai dalam 3 hari ini. Bian ingin fokus pada urusan kantor jika sudah kembali nanti tanpa terbebani masalah lainnya. Satu persatu masalah Bian selesaikan.



Bian menyelesaikan meeting, menerima rekomendasi rekomendasi terbaik dan menyeleksi setiap CV yang sudah masuk dan di presentasikan agar perekrutan ini transparan dan menjaring orang orang berkualitas.


" Baik, dosen dan staff sudah terpilih sesuai dengan kualifikasi kita. Besok kita tinggal adakan interview lanjutan. Semoga semua proses berjalan lancar. Sekian saya tutup forum sore ini. Selamat beristirahat dan terimakasih. " Bian mengakhiri meeting, wajahnya sudah lusuh dan sangat lelah. Mengadakan meeting dua hari berturut turut dengan durasi 8 jam sungguh menyita banyak tenaganya.


Bian kembali ke rumah pukul 7 malam, tidak terlalu terlambat karena tadi sore pekerjaannya sudah selesai namun Bian memutuskan untuk beristirahat sejenak di ruangan. Tanpa terasa istirahatnya itu menghabiskan waktu dua jam. Jika bukan Alvin yang membangunkan mungkin Bian bisa tidur sampai pagi.


" Pulang cepet mas ? " Tanya Renata yang sedang menata rambutnya di depan cermin.


" Normalnya itu pulang jam 5 sore, ini suami pulang jam 7 di bilang cepet. "


" Ya biasanya juga mas pulang jam 8 lebih "


" Harusnya ini juga udah pulang dari tadi. Tapi saya ketiduran di ruangan. "


" Cape ? "


" Hmm .. " Bian mengangguk menarik jas nya lalu mulai melucuti pakaiannya. Bian ingin segera membersihkan diri lalu kembali tidur.

__ADS_1


__ADS_2