Suami Bayangan

Suami Bayangan
Liana trauma.


__ADS_3

Liana kini sudah tampak sangat lemas dan ketakutan. Ia sangat takut kalau kehilangan bayi yang di kandungnya. Sedangkan  kini Melati duduk di samping Liana sembari mengusap punggung Liana dan berusaha menenangkannya. Sedangkan Liana menggenggam erat tangan Melati, hanya pada melatilah ia merasakan dirinya aman.


“sayang, kamu aman sekarang,” kata Joko sembari memeluk sang istri.


“bayiku, bayiku,”gumamnya.


“Tenang sayang. Tenang, bayi kita aman,” terang Joko.


Sedangkan Danu, terus mengamati Liana. Sepertinya ada trauma yang sangat berat pada diri Liana.


“jack, mending kamu bawa ke atas istri kamu. Dan ingat, jangan tinggalkan isrmtfimu dalam keadaan apa pun,” pesan Danu.


“oke,”Kata Joko dan ia langsung mengendong Liana ke kamar. Sedangkan Danu, kini beralih memandang Vivi. Ia takut kalau Vivi akan berpikiran yang bukan-bukan.


“Sayang, kamu percayakan kepadaku?” tanya Danu sembari menggenggam kedua tangan Vivi.


“Aku percaya mas, apa mbak Liana baik-baik saja?” tanya Vivi tampak sedikit panik.


“ ini nggak sesimpel kelihatannya dek. Tante, kalau misalnya kalian ada dokter keluarga, mending segera panggil dek. Sepertinya Liana sempat mengalami trauma,”kata Danu.

__ADS_1


“Bagaimana kalau kamu yang cek?” tanya melati yang ingin mempersingkat waktu.


“oke, untuk penanganan pertama, jangan ada pembahasan tentang kecelakaan barusan. Dan kalau bisa buat Liana senyaman mungkin,” kata Danu.


“aku akan menemani mbak liana,”kata Vivi. Sedangkan putranya saat ini sedang di pangku oleh Ira. Ia pun merasa panik, namun ia tak bisa berbuat banyak.


Sesampainya di kamar Liana, Vivi langsung duduk di samping ranjang dan menggenggam tangan Liana.


“Mbak tenang ya. Kita semua ada untuk mbak,”kata Vivi sembari menenangkannya.


“Vivi, kali lihat, tadi dia berteriak kecoak, padahal nggak ada. Dan apakah mungkin dia ingin mengambil bayiku?” tanya Liana.


“mbak, bayi mbak aman kok. Tenang saja,” kata Vivi.


“dulu waktu sama mas Danu, aku setiap hari di kasih pil anti hamil, trus sekarang saat aku sudah hamil, ia mau mengambil bayiku. Nggak, itu nggak boleh terjadi,” kata Liana.


“nggak mbak. Mbak baik-baik saja kok. Tenang ya. Mbak percaya sama mas Jack? Mas Jack nggak akan nyakitin kamu mbak. Tenang ya,” kata Vivi.


Liana pun memandang ke arak sang suami, dan ia langsung memeluk suaminya.

__ADS_1


“jangan tinggalkan aku mas,” kata Liana sembari menangis.


“tenang sayang. Aku nggak akan meninggalkanmu. Aku janji,” kata Joko.


Liana pun kini berangsur tenang dan ia terlelap di dalam pelukan sang suami.


setelah Liana tenang, Vivi keluar dari kamar, dan ia menghampiri sang suami. dan kini ia baru tau seberapa kritisnya Liana. kini Liana yang di serang bukan fisiknya. melainkan spikisnya.


"Tante, aku akan mencoba mencarikan terapis yang aman untuk Liana. sementara kalian jaga agar dia tak mengingat kecelakaan itu," kata Danu sembari ia mengutak Atik ponselnya untuk menghubungi terapis yang ia kenal.


Melati hanya menganggukkan kepala dengan pasrah. ia kini sudah kehilangan akal bagaimana caranya menghadapi Liana.


Kini Sinta muncul dari dapur, dan ia langsung berteriak kepada Danu.


"cukup. mbak Li nggak butuh terapis atau pun spikiater. dia hanya membutuhkan keluarganya. jadi aku minta kalian lebih baik pulang," kata Sinta


"Sinta," kata Melati dengan nada tinggi


"aku tau ma, apa yang aku lakukan,aku juga ingin mbak Li baik-baik saja," kata sinta

__ADS_1


 


__ADS_2