
Bian tertidur semalaman di sofa, bahkan ponselnya saja low tak sempat Bian charge. Bian menatap jam dinding pukul 8 pagi. Biasanya dirinya tak bangun sesiang ini, namun gara gara harus mengerjakan sesuatu malam tadi, Bian pun kesiangan dan alarm di ponselnya tak menyala.
" Kenapa kamu senyum senyum kaya gitu ? Bukannya bangunin saya, kamu malah asik lihatin saya " Gerutu Bian.
" Aku jarang lihat mas, ya gak salah dong mau puas puasin dulu lihatin mas sebelum mas balik lagi. "
" Nye .. Nye .. Nye .. Sesuka itu kamu ke saya hmm ? Sampe saya tidur aja bikin kamu seneng " Bian bangkit lalu mengambil handuknya.
" Iya mas aku suka banget "
" Kamu terlalu jujur. " Bian masuk ke kamar mandi lalu menutup pintunya rapat.
Di pikir pikir sudah lama Bian tak berusaha menggoda dan melakukannya. Apa kah dirinya sudah tak begitu menarik di mata Bian ? Pikir Renata. Tapi Renata berfikir sisi positifnya mungkin Bian tak tega karena Renata sedang sakit. Jadi Renata tak akan berusaha memancing singa yang sedang tenang hanya untuk mengetahui sebuas apa dia.
" Mas mau kemana ? " Tanya Renata ketika melihat Bian bersiap dengan pakaian santai dan tas kecilnya. Renata yakin suaminya bukan mau berangkat pulang.
" Ke kampus, kan kemarin kamu yang mau saya ngurusin dulu masalah kampus. " Jawab Bian ketus.
" Oh, gak sarapan dulu ? "
" Gak ah nanti aja disana. Kamu mau sarapan apa ? Biar saya pesenin sama bibi sekalian saya ke bawah. "
" Kirain mau di masakin. " Renata mengerucutkan bibirnya.
" Saya buru buru, Alvin udah nunggu. "
" Yaudah, suruh bawain roti sama susu aja. " Jawab Renata pasrah.
" Ok, saya pergi dulu. " Bian mengusap rambut Renata sekilas sebelum akhirnya dirinya pergi begitu saja.
Sangat tidak romantis ..
Bian berjalan keluar dari rumah, Alvin menatap heran karena bosnya itu biasa menggunakan pakaian rapih terlebih jika dalam agenda kerja. Namun saat ini malah seperti orang yang akan pergi ke mall. Di tengah ke heranan Alvin, Bian masuk dan langsung meminta mobil untuk jalan.
__ADS_1
" Lah ? Kita ke kampus kan ? " Tanya Alvin.
" Hmm .. " Jawab Bian malas.
" Terus kenapa style Lo kaya gini ? "
" Kalo gue rapih pake jas pake kemeja, yang ada istri gue overthinking mikir gue mau kabur balik ibu kota. Semalem aja gue di suruh pake kolor doang " Keluh Bian.
" Haha serius ? Lo bisa takluk sama bocah ingusan " Ejek Alvin.
" Selain bocah ingusan, Lo juga harus inget dia istri gue. Kalo dia misut misut ngancam bundir lagi gue yang repot. "
" Iya juga sih, yang penting sekarang kita harus bikin istri Lo stabil dulu fisik dan psikisnya. "
" Itu Lo paham "
Pembicaraan mereka terhenti seiring terhenti nya mobil yang mereka kendarai karena sudah sampai di area parkir kampus. Bian yang di ikuti Alvin pun masuk ke area meeting, disana Bian mengumpukan staff yang tersisa untuk membicarakan masalah masa depan kampus ini. Keputusan besar yang Bian ambil kemarin, berdampak juga pada kegiatan belajar mengajar di kampus. Kampus harus segera mendapatkan pengganti para staff pengajar dan administratif terlebih takutnya mengganggu pada kredibilitas kampus.
" Saya sadar keputusan yang saya ambil kemarin cukup berbahaya bukan hanya untuk internal kampus namun juga untuk kredibilitas kampus kita. Oleh karena itu, sebelum tragedi yang terjadi di kampus tersorot dan terkena sanksi, maka saya meminta rekan rekan untuk merekomendasikan siapa saja yang berkompeten di bidang ini as soon as possible. " Intruksi Bian.
" Apa gue bilang, repot kan ? "
Jika untuk urusan kerjaan memang Bian tidak pernah main main, saat memutuskan sesuatu Bian pun akan bertanggung jawab dengan segala resikonya. Rapat di laksanakan sampai hampir malam, Bian di bantu yang lainnya mengumpulkan sekian banyak berkas dan CV yang pernah melamar ke kampus mereka.
Bian menyaring mereka satu persatu untuk di hubungi keesokan harinya, agar mempercepat waktu karena jika membuka info lowongan kerja akan memakan waktu, untuk solusi pertama mereka akan memfilter dari CV yang sudah ada.
Waktu menunjukkan pukul 8 malam, hampir 12 jam lama nya Bian dan staff berkutat dengan berkas yang mereka pegang masing masing.
" Malem Pak Bian .. " Sapa Dirly.
" Malem Dir, belum pulang ? "
" Belum pak saya ada giat sama UKM. Pak Bian baru selesai meeting ? "
" Hmm .. "
" Gimana kabar Renata Pak ? "
__ADS_1
" Kenapa gak kamu cari tau sendiri aja ? Biasanya kamy nyelonong tanpa permisi dulu ke saya. " Ketus Bian.
" Hehe gak gitu Pak, kebetulan kan Renata juga kerja freelance di perusahaan saya. Jadi ya kemarin kemarin itu bentuk perhatian saya sebagai rekan kerja. "
" Saya punya perusahaan sendiri, kenapa juga istru saya malah kerja sama kamu "
" Mungkin nyaman sama saya Pak " Dirly menyeringai kuda lalu bergegas pamit sebelum lawan bicaranya ini murka.
" Maaf Pak saya permisi giat mau di mulai "
Alvin mengulum senyum menahan tawa, satu bocah lain kini berani mengusik Bian. Inilah efek dari menikahi wanita muda, kehidupannya akan selalu berbenturan, entah itu gaya hidup atau cara hidup. Mau tidak mau seiring waktu Bian pun berusaha menyesuaikan.
Bian pulang bersama dengan Alvin, makan malam di meja sudah di siapkan. Sejenak Bian mencuci tangan dan wajahnya lalu bergegas makan sebelum dirinya mencapai kamar. Bian terlalu lelah jika kembali turun hanya sekedar untuk makan. Berselang 15 menit makan malam yang Bian santap pun tandas. Sambil menunggu makanannya tercerna sempurna, Bian memfokuskan diri pada gadget nya, masih di meja makan.
Hingga tepat di pukul 21.20 barulah Bian naik ke kamar, istrinya nampak sudah tidur. Entah mengapa Renata sering sekali tidur awal akhir akhir ini. Apa efek obat tidur yang di minumnya masih terasa ? Bian hanya menggeleng acuh. Bian pun pergi menuju kamar mandi membersihkan diri.
Gemericik air terdengar hingga membangunkan Renata, di liriknya jam baru menunjukkan pukul 21.30
Ahh ketiduran .. Dia kayanya baru pulang.
" Baru pulang mas ? " Tanya Renata ketika Bian baru saja keluar dari kamar mandi.
" Kamu ngagetin aja "
" Ih aku nanya bukannya jawab " Gerutu Renata.
" Udah dari sejam yang lalu, tapi makan dulu baru deh ke kamar langsung mandi " Jelas Bian yang sedang mengambil pakaiannya.
Setelah selesai berpakaian, Bian pun menghampiri ranjangnya, naik dengan cuek lalu menarik selimut.
" MASS .. " Teriak Renata sambil menggoyangkan tubuh Bian.
" Apasih berisik banget Re "
" Gitu aja ? Gak mau ngobrol atau ngapain dulu gitu "
" Sini .. " Bian menarik tubuh Renata agar berada dalam pelukannya.
__ADS_1
" Saya cape, gak pengen ngapa ngapain. Cuman pengen meluk kamu terus istirahat. " Ucap Bian lembut seraya menutup matanya lengkap dengan tangan yang sudah melingkar di pinggang Renata.
Yaelah kalo gini kapan hamilnya .. Keluh Renata dalam batinnya.