
Sesampainya di kedai,
“Bentar yang, aku akan turun dulu. Nanti kamu aku gendong naiknya. Mumpung kedai juga sepi, jadi bisa lewatlah sambil gendong kamu,” kata Joko sembari ia turun dari mobil. Liana hanya tersenyum melihat tingkah suaminya.
Sesampai di samping pintu, Joko langsung membukanya dan langsung mengendong sang istri. Dan ia langsung menutup pintu mobil menggunakan kakinya. Sedangkan Liana langsung mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.
Saat memasuki kedai, pak Rahmad dan Bu Rahmad tampak terkejut melihat kaki Liana di perban dan di gendong oleh sang suami.
“mbak Liana kenapa mas?” tanya pak Rahmad.
“Tadi sempat ada insiden kecil pak. Kami ke atas dulu ya pak,” kata Joko sembari menaiki tangga.
Saat sampai di depan pintu, Liana pun di turunkan sejenak. Dan Joko membuka kunci pintu.
“Sebentar yang, aku buka pintu dulu,” kata Joko. Saat pintu terbuka, Joko langsung menggendong Liana lagi. Dan ia meletakkan sang istri di ruang tamu. Sedangkan Joko langsung ke dapur dan mengambilkan air putih untuk sang istri.
“sayang, minum dulu,” kata Joko.
“Makasih mas. Sekalian kotak obat aku mas, hari ini aku belum minum obat kandungan yang seharusnya aku minum,” kata Liana.
“tentu sayang, dimana?” tanya Joko dengan sigab
“ Si atas nakas samping ranjang, mas.” Kata Liana.
Tak lama, Joko sudah muncul membawa kotak obat yang di maksud.
“Ini sayang,” kata Joko.
“terima kasih, mas.” Liana mulai membuka kotak obat tersebut, dan mengambil obat yang seharusnya ia minum. Joko dengan setia menunggu di sampingnya sembari ia melihat luka yang ada di kaki Liana.
“sayang, masih sakit kakinya?” tanya Joko.
“Masih nyut-nyut mas, kenapa perbannya nggak di buka aja? Biar lukanya kena udara, dan bisa cepet kering,” kata Liana.
Aku nggak tega melihatmu kesakitan sayang,” kata Joko
“Kalau seperti ini malah jadi lembab mas, kan nggak kena udara. Di lepas aja ya,” pinta Liana.
“baiklah, kalau memnag mintanya begitu, akan mas lepas,” kata joko sembari ia beranjak dari duduknya dan mengambil kotak p3k. Setelah kembali ia langsung duduk di samping Liana dan mulai membuka perbannya. Namun karena di bagian dalam pas di luka sebelum di tutup kain kasa malah di tutup kapas. Alhasil kapas lengket di luka. Dan itu membuat Liana kesakitan.
“mas nggak tega sayang,” kata Joko sembari ia mengusap air matanya.
“ ya sudah, siniin itu alkoholnya, biar aku basahi sendiri,” kata Liana.
Liana mulai membasahi kapas dengan cairan antiseptik, dan ia mulai mengoleskan pada lukanya. Liana dengan tenang membersihkan kapas yang menempel. Sedangkan Joko sungguh tak tega melihat istrinya kesakitan.
“sudah mas, sudah bersih. Begini lebih enak mas ,” kata Liana sembari tersenyum.
“Maaf ya sayang,” kata Joko sembari memeluk sang istri .
“mas, aku mau ke kamar, mau ganti baju.” Kata Liana.
__ADS_1
“Mau jalan ataugendong?” tanya Joko.
“gendong boleh,” jawab Liana dengan manja.
Kini keduanya berada di kamar, Liana memilih langsung menggunakan baju tidurnya dan ia langsung duduk di ranjang sembari menunggu sang suami selesai berganti pakaian.
“dek, kamu mau makan lagi nggak?” tanya Joko.
“sepertinya nggak mas, nanti kalau aku pengen makan aku bilang deh sama mas,” kata Liana.
Joko kini duduk di samping Liana dan ia meraih tubuh istrinya kedalam pelukannya.
“kamu pengen di peluk aja?” tanya Joko
“ itu mas tau, sejak hamil aku semakin manja,” kata Liana.
“Nggak apa-apa. Mas suka,” kata Joko sembari mengusap punggung sang istri.
“mas, kapan kita mau USG sekalian?” tanya Liana.
“Nanti saja. Apa pun itu, mas bahagia. Karena buah hati mas lahir dari rahim wanita yang mas cintai,” kata Joko sembari mencium kening Liana.
“Terima kasih, mas,” kata Liana.
Liana kini menyembunyikan wajahny di dada sang suami. Hari masih sore, dan Liana kini memutuskan untuk tidur sejenak di pelukan sang suami. Begitu pun dengan Joko. Ia memilih menemani sang istri sembari dirinya menyelesaikan tugas lewat ponselnya.
Saat sore harinya, pukul 17 Liana baru bagun. Ia merasakan perutnya lapar, Liana pun mengusap dada bidang sang suami dan membangunkannya.
Joko langsung membuka mata, dan ia langsung memandang ke arah Liana.
“Mau makan apa sayang?” tanya Joko.
“Beli nasi Padang sama martabak ya mas. Sambel dan daun singkong di pandangnya yang banyak,” kata Liana
“jam segini mana ada bartabak, sayang?” Tanya Joko.
“ya sudah nasi Padang saja,” kata Liana
“oke. Kamu pengen mas pergi sendiri atau lewat online?” tanya Joko lagi.
“Online saja mas,” kata Liana.
“oke siap sayang,” jawab Joko sembari ia mngeutak Atik ponselnya. Dan ia memesan nasi Padang lewat online.
“Sesuai apk ya kak?” bunyi chat driver ojolnya.
“Iya pak. Bisa minta tolong? Belikan chicken stick di ayam kriuk ya, istri saya sedang ngidam soalnya,” pesan Joko.
“ Siap,” jawab driver itu.
Liana beranjak dari tempat tidurnya. Ia memutuskan untuk mandi sejenak, sedangkan Joko duduk di ruang tamu sembari menunggu orderannya datang. Tak lama kemudian Liana selesai mandi, dan ia langsung duduk di samping sang suami dan mengelendotinya.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Joko.
“Mas nggak usah mandi ya. Enak baunya kalau belum mandi, “ kata Liana sembari menciumi leher sang suami dan membuat ia kegelian.
“ih geli, sayang,” kata Joko.
Liana langsung menggeser duduknya dengan cemberut. Joko jadi merasa bersalah, dan ia langsung memeluknya.
“maaf sayang, sebentar orderan sudah sampai. Mas ke depan dulu,” kata Joko sembari menyambar dompet di atas meja dan ia berlari ke bawah.
Sesampainya di bawah, ia sudah melihat driver itu di depan kedai. Joko menghampirinya, dan menanyakan totalnya.
“total berapa mas? Semua 60.000 mas,” kata pria itu.
“oke pak, ramai hari ini pak?” tanya Joko.
“Alhamdulilah, baru masnya,” kata driver itu dengan sumpringah.
“Oh iya? Masya Allah, di rumah, ada anak?” tanya Joko.
“ ada, anak 2 mas,” jawab driver itu.
“ini mas ongkosnya, kelebihannya titip buat istri, dan doakan istri dan anak saya keduanya sehat dan selamat, oh iya. Untuk anak-anaknya bisa mas bawakan ayam. Hari sudah mendung mas, lebih baik setelah ini pulang,” kata Joko sembari menepuk pundak pria yang tampaknya seumuran dengan dirinya.
Joko langsung mengambil uang dari dalam dompetnya lembaran merah berjumlah dua lembar,dan menyerahkannya kepada driver itu.
“masya Allah, ini banyak banget,” kata pria itu dengan penuh heran.
“nggak apa-apa mas, itu sebagai ucapan syukur saya, dan itu rejeki buat keluarga. Ayo, ambil ayamnya mas, buat anak-anak,” kata Joko sembari mengandeng driver itu.
Keduanya pun berjalan beriringan. Sesampainya di kasih Joko menghampiri pak Rahmad,
“pak dua menu untuk bapaknya ini ya, ini uang ya. Dan ini untuk pak Rahmad dan Bu Rahmad. Saya dan Liana beli nasi Padang tapi lupa beliin buat kalian,” kata Joko sembari tertawa, dan ia memberikan uang lembaran berwarna biru tiga lembar kepada pak Rahmad.
“Terima kasih, mas. Sering-sering saja lupa. Biar kita dapet mentahnya,” kata pak Rahmad dengan tertawa. Sedangkan Joko langsung menuju lantai atas.
“buk itu tadi yang punya kedai ini?” tanya driver itu.
“ Yang punya istrinya. Dia pengusaha, tapi karena istrinya suka tinggal di sini, jadi ia ikut dengan istrinya,” kata Bu Rahmad.
“Orangnya baik ya buk,”puji driver itu
“ Iya. Dia emang gitu pak, kalau masalah uang nggak pernah mikir mikir,” kata Bu Rahmad.
“pak, ini ayamnya sudah siap, terima kasih. Salam untuk keluarga di rumah,” kata pak Rahmad
“Terima kasih juga untuk kalian dan juga pemilik kedai ini,” kata driver itu.
Sedangkan di atas Joko sedang makan bersama sang istri. Liana makan sangat lahap. Namun ia hanya memakan sayur dan lauknya saja. Sedangkan nasinya hanya ia makan sedikit.
Melihat Liana makan dengan lahab. Membuat Joko tersenyum.
__ADS_1