
Mendengar perkataan Santi, Danu dan keluarganya pun langsung berpamitan. Melati merasa tak enak hati dengan mereka atas sikap Sinta.
Namun berbeda dengan Sinta, ia langsung bergegas menuju kamar Liana. Saat berada di kamar Liana, ia melihat sang kakak ipar sedang terlelap di dalam pelukan sang suaminya.
"Mbak Liana, kamu laut. Kamu hebat. Ada kami yang akan selalu menjaga mbak li," kata Sinta. Dan anehnya tangan Liana merespon apa yang Sinta katakan.
"Mbak Li, orang yang baik, mbak Li di sayang semua orang. Dan kami semua akan melindungi mbak Li, dan dedek batmyunya," kata sinta
Tak berapa lama Liana terbangun dari tidurnya. Dan ia perlahan duduk sembari mengedarkan pandang. Sedangkan Joko yang merasakan ada pergerakan pada istrinya, ia pun langsung terbangun.
" Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Joko.
__ADS_1
" Mama, Sinta, mas Jack. Maafkan aku yang sudah membuat kalian khawatir. Aku hanya merasakan kecemasan yang berlebih dan aku tak ingin kehilangan bayi yang sedang aku kandung," kata Liana.
" Nggak ada yang akan mengambil anak kita sayang, kami semua ada di samping kamu. Kamu tenang ya," kata Joko menenangkan Liana
Liana kini sudah tenang dan ia pun sudah stabil. Kini Melati bisa tersenyum, sedangkan Santi pun bisa bernafas dengan lega. Joko tak henti-henti mengucap syukur.
"Mas, jangan tinggalin aku ya," kata Liana sembari mendaratkan kepalanya di dada sang suami.
Sementara itu dengan clarisa, ia harus menjalani curet. Karena ia mengalami keguguran. Yanu tak tau harus berkata apa, karena di satu sisi ia bahagia setelah ini bisa melepaskan Clarisa. Namun di sisi lain, ia pun tak tega kalau Clarisa hidup sendirian.
Sementara Lina merasa bersyukur setelah tau kalau Clarisa keguguran. Karena memang pada dasarnya Lina tidak menginginkan bayi itu, setelah ia tahu kalau itu bukan anak Clarisa dan Yanu.
__ADS_1
Clarisa pun merutuki kebodohannya karena ia memiliki pikiran untuk mencelakai Liana. Namun sejujurnya ia sungguh sangat iri dengan keberuntungan yang Liana miliki.
'seharusnya Liana yang berada di sini, bukan aku,' kata Clarisa di dalam hati.
'kenapa aku yang selalu sial. Sekarang aku kehilangan bayiku. Aku kehilangan alat yang bisa mempersatukan aku dengan mas Yanu, sekarang setelah ini mas Yanu pasti akan menceraikan aku. Tidak. Ini tidak bisa terjadi,' Clarisa bermonolog.
Kini kondisi psikis Clarisa sama berantakannya dengan Liana. Ia takut di tinggalkan oleh Yanu. Karena hanya Yanu yang ia punya sekarang. Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit, fisiknya semakin membaik. Namun spikisnya semakin drop. Ia semakin takut di tinggal oleh Yanu.
Sedangkan Liana semakin bahagia hidupnya. Bahkan kini ia tengah menikmati bermanja-manja ria dengan sang mama mertua dan adik iparnya. Joko kini tak pernah ke kantor, ia lebih memilih mengerjakan semuanya dari rumah. Kalau pun ia di butuhkan di kantor maka Santi yang akan mewakilinya. Joko tak pernah sedikit pun meninggalkan Liana. Begitu pun dengan Melati. Ia sangat menjaga sang menantu dan calon cucunya.
Sementara Santi tak pernah memiliki rasa iri sedikit pun kepada Liana. Karena ia tau Liana memang pantas merasakan itu semua. Sejatinya Liana memang sejak dl selalu merasakan kepahitan hidup. Kini saatnya ia merasakan indahnya hidup.
__ADS_1