Suami Bayangan

Suami Bayangan
Kebucinan mereka


__ADS_3

“pak Rahmad, Bu Rahmad, dan Santi. Malam ini bagaimana? Rame?”tanya Liana.


“Alhamdulilah mbak, ramai. Tadi menjelang isya sudah habis semua,”terang Bu Rahmad.


“Baik. Terima kasih semuanya. Bisa kita bicara sebentar, sebelum kalian pulang?” tanya Liana.


Ketiganya sekarang pun berkumpul di depan Liana. Sedangkan pintu kedai sudah tertutup, hanya menyisakan pintu kecil muat satu orang saja.  Liana pun memberikan amplop kepada ketiganya.


“pak,Bu, Santi. Ini gaji kalian bulan ini. Sudah bersama dengan bonusnya,” kata Liana.


“Alhamdulilah, terima kasih mbak Liana,” kata Bu Rahmad.


Tak berapa lama mereka pun berpamitan. Dan Liana langsung menutup pintu kemudian ia langsung naik ke lantai atas. Sesampainya di lantai atas, Liana melihat Joko sedang duduk di depan tv sembari ia memainkan ponselnya. Liana pun kini duduk di sampingnya.


“kenapa mas?” tanya Joko.


“telpon Sinta, katanya dia kangen,”kata Joko.


“kalau mas mau balik dulu ke Bali ,boleh kok mas,” terang Liana.


“Ya nggak lah. Mana bisa mas tinggalin dek Lia sendiri di sini. Nanti kalau di ambil lagi sama Yanu gimana?”goda Joko.


“la itu katanya Sinta kangen?” tanya Liana.


“Nanti Sinta akan ke sini. Mungkin besuk pagi dia akan terbang ke sini,”kata Joko.


“Ah senangnya aku. Ada Sinta,”terang Liana.


“aku yang nggak seneng.” Gumam Joko sembari memonyongkan bibirnya.


“kenapa?” tanya Liana heran.


“La, nanti kita nggak bisa berduaan dong,”kata Joko sembari ia menjatuhkan kepalany di pangkuan Liana.


Liana hanya tersenyum, dan ia mengusap kepala Joko. Sedangkan Joko memainkan jemarinya di pangkuan Liana. Dan Liana tertawa kegelian.


“mas, geli. Udah ah, aku mau mandi dulu. Mas Joko sudah mandi?” tanya Liana.


“Kamu mandi dulu saja dek. Mas mau masak air, buat kopi. Kamu mau coklat panas?” tanya Joko.


“nggak ah, aku mau langsung tidur saja. Besuk sidang pertama. Harus menyiapkan tenaga,” kata Liana sembari tertawa.


“baiklah,” jawab Joko.

__ADS_1


Liana pun beranjak ke kamar mandi, sedangkan Joko kini berada di dapur, ia bersiap membuat kopi. Saat ia berada di dapur, ponselnya terus berdering. Joko langsung mengambilnya dari atas meja. Dan ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Ada nama Alex di sana. Joko langsung mengangkatnya.


“halo, apa?” tanya Joko.


“Seputih, mengalami peningkatan Minggu ini. Penyetoran sudah aku transfer ke rekening kamu. Untuk bahan di sini semua sudah ready, dan gaji pegawai sudah aku bayarkan,” terangnya.


“Oke. Tadi transfer berapa?” tanya Joko.


“lima juta. Itu laba Minggu ini,”terang Alex.


“oke. Terima kasih,”kata Joko singkat.


“Masih lama di Jakarta? Atau kamu mau kembali ke Jakarta?” tanya Alex.


“Aku di sini sampai urusan selesai. Mungkin dalam waktu dekat aku akan menikah,”terang Joko sembari ia tersenyum.


“serius? Udah Nemu penggantinya Risa?”tanya Alex penasaran.


“sudah. Waktu itu pernah ke cafe, bareng malah sama Risa. Sudah aku mau buat kopi. Dan mau mandi dulu,” kata Joko sembari ia menyeduh kopi di cangkir.


Panggilan pun terputus, setelah selesai membuat kopi ia pun meletakkan cangkir di ruang tamu. Liana yang sudah selesai mandi langsung memanggil Joko untuk bergantian mandi.


“Mas, kalau mau mandi dulu,”kata Liana


Sedangkan Liana duduk di ranjang sembari ia mengeringkan rambutnya. Kini Joko memiliki keusilan terhadap kekasihnya itu. Seketika Joko langsung duduk di samping Liana sembari memeluknya. Liana yang terkejut langsung memalingkan wajah menatap Joko dengan heran.


“Kenapa?” tanya Liana.


“nggak apa-apa. Pengen mencium aroma setelah mandi saja,”katanya sembari tersenyum.


“dasar, sudah sana mandi dulu. Lengket tau,” Liana berkata sembari ia mendorong Joko.


 Joko terkekeh dan ia langsung masuk kamar mandi. Lian berniat membuat mie instan. Karena tadi sewaktu pulang ia lupa tak membeli makan malam. Untung ia masih memiliki stok mie instan dan ayam giling yang sudah di bumbui. Liana pun dengan sigap menggolah mie instan menjadi model mie ayam goreng dengan toping pangsit dan daging ayam giling. Tak lupa ia menyertakan bubuk cabai dan daun bawang di atasnya.


Saat itu Joko keluar dari kamar mandi. Ia langsung merasa sangat lapar mencium aroma masakan Liana. Joko langsung bergegas ke dapur, benar saja ia melihat Liana tengah menyiapkan dua piring mie ayam tak lupa dengan dimsam yang memang masih ada stok di freezer.


“Wah, enak banget ini. Kamu tau aja dek, kalau mas sangat suka mie ayam,” gumamnya sembari tersenyum dan menggosokkan kedua tangannya


“Mas suka mie ayam?” tanya Liana.


“iya. Apa lagi pangsitnya,” Joko berkata sembari ia mencomot pangsit yang ada di atas piringnya.


“Pakai bubuk cabai, mas?” tanya Liana.

__ADS_1


“kalau yang sambel ada? Mas nggak kuat kalau bubuk cabai,” kata Joko.


“ada mas. Sebentar.” Liana pun bergegas mengambil botol berisi sambal.


Keduanya kini makan dengan lahap. Liana memang sangat merindukan dimsam yang sedang ia makan. Ini adalah dimsam terenak yang di buat oleh Bu Rahmad.


“dimsamnya enak. Siapa yang buat? Atau kamu beli dek?” tanya Joko di selsa-sela kunyahannya.


“Ini buatannya Bu Rahmad mas,”terang Liana.


“Wah, mas nggak tau bisa se enak ini. Kalau begitu, kita kerja sama aja sama Bu Rahmad. Nanti mas yang akan pasarin. Menu mie ayam kamu ini juga bisa masuk sebuah cafe,dek.” Joko kini jadi berpikiran ingin memasukkan mie ayam ke dalam menu seputih.


“jangan melebih-lebihkan mas, semua ini masih wajar kok,” kata Liana sembari tersipu malu.


“Iya serius. Ini benar-benar enak dek,” puji Joko lagi.


Merek selesai makan, Liana langsung meletakkan perkakas kotornya di wastafel, sedangkan Joko tengah duduk di balkon sembari ia menghisap sebatang rokok yang berada di tangan.


Joko sebenarnya sudah tak sabar untuk segera menikahi Liana, namun ia harus menahannya sebentar lagi sampai sidang perceraiannya selesai. Setelah selesai dengan peralatan masak, kini Liana menghampiri sang kekasih yang ada di balkon. Ia langsung duduk di samping Joko sembari menatap indahnya langit malam.


“Dek, kamu beneran mencintai mas?” tanya Joko.


Liana langsung memalingkan wajah dan ia menatap Joko dengan perasaan yang entah, dak dapat di artikan.


“Mas, cinta itu datang perlahan. Nggak bisa kalau langsungseratus persen cinta. Dan sekarang ini aku memang sudah jatuh cinta padamu. Walaupun mmbelum seratus persen,”terang Liana.


“mas hargai kejujuran mu, dek. Apa mas boleh meminta satu hal?”tanya Joko.


“Apa?”tanya Liana.


“bolehkah aku menciummu?” tanya Joko.


“tentu saja,” jawab Liana dengan tersenyum.


Joko langsung saja mendaratkan kecupan indahnya di kening Liana. Belum waktunya ia meminta yang lain, karena kalau sudah begitu akan semakin berkelanjutan. Dan Joko tak ingin itu.


“terima kasih.” Setelah mencium kening Liana, ia pun tersenyum.


“aku pikir di sini?” tanya Liana sembari menunjuk bibirnya.


Joko langsung terkekeh sembari memeluknya.


“Belum waktunya sayang. Tunggu sampai semuanya halal,”kata Joko.

__ADS_1


__ADS_2