
Bruukk .. Bruukk
Bian mengetuk pintu kamar Alvin sekuat kuatnya membuat si empunya jelas terperanjat.
" Lo gila apa gimana sih Bi ? Jam segini bikin gaduh "
" Ikut gue nemuin Renata "
" Jam segini ? Lagian kita baru balik dari LN gue caoe banget Bi " Keluh Alvin.
" Ini urusannya sama nyawa Vin. " Jawab Bian dengan ekspresi serius membuat Alvin yakin Bian tak main main.
" Ohhh shiiittt " Alvin masuk ke kamarnya lalu bersiap sedang Bian menuju halaman meminta salah satu supirnya untuk bersiap karena sadar mereka sama sama lelah pasti membutuhkan driver.
Alvin menuntut penjelasan tentang hal mendesak apa yang berhubungan dengan nyawa itu ? Apakah Renata mengancam bunuh diri atau bagaimana ? Di perjalanan Bian pun menjelaskan tentang perselisihan mereka tadi.
" Lo cari mati sih Bi .. Ya gimana gue paham Lo emosi tapi minimalnya Lo nanya jangan langung Lo pojokin. " Gerutu Alvin.
" Pikiran gue udah gelap banget tadi "
" Nih ya Bi .. Lo lihat Renata jangan kaya Lo lihat diri sendiri. Mungkin iya Lo berengsek, Lo bisa khianatin Renata sama Celine atau khianatin Celine di belakang Renata, whatever. Tapi gak semua orang kaya Lo Bi. Lo bukan curiga ke Renata, tapi Lo ngerasa bersalah sampe takut Renata ngelakuin hal yang sama di belakang Lo. " Nasihat Alvin panjang lebar.
" Gue gak kepikiran kesana "
" Dasar gunung es, gue tau Lo emang keras kepala dan super dingin. But Bi, hubungan Lo bukan di tahap pacaran lagi tapi menikah ! Lo harus lebih peka, ngejaga perasaan istri Lo .. "
" Pusing gue .. "
" IQ Lo tinggi, Lo terkenal jenius. Tapi sayang super noob masalah hubungan. Heran si celine bisa tahan sama Lo. Apa mungkin sengaja nyari yang bego sama bisa di porotin aja "
" Sembarangan Lo ! " Bian memukul lengan Alvin.
" Udahlah Lo renungin aja sendiri. Gue mau tidur. Kalo udah nyampe bangunin gue "
Bian hanya menatap hampa selama perjalanan, jika di pikir lagi kenapa dirinya seperti yang kebakaran jenggot ketika Renata mengancam akan pergi dan kenapa juga diriinya bisa di kendalikan Renata padahal srlama ini Bian lah yang selalu mengendalikan kehidupan Renata.
__ADS_1
Merekapun sampai di rumah, di lihatnya mobil yang Bian belikan masih ada di garasi. Pada security pun Bian bertanya dan Renata tidak keluar lagi sejak pulang kuliah.
" Ck gertak sambal .. " Gerutu Bian.
" Sambal apaan Lo, lihat dulu itu bini Lo dimana kali aja kabur pas gak ada yang lihat "
" Lo bener bener deh Vin, bikin mood gue down aja "
Bian menyusuri anak tangga menuju kamar mereka, kamar terkunci dari dalam Bian sudah menngetuk beberapa kali namun tak ada jawaban.
" Ini Renata dari jam berapa gak keluar kamar ? " Tanya Bian pada pelayan.
" Sejak pulang kuliah Tuan, nyonya berpesan tidak ingin di ganggu karena akan belajar untuk ujian dan sebelumnya sudah bawa roti dan air minum jadi sejak itu tidak keluar lagi. "
" Ketiduran kali ya Vin. "
" Lo gak panik ? Lah malah gue yang panik. Pak bawain kunci master " Titah Alvin pada security.
" Siap Tuan "
Berselang dua menit kunci master sudah ada di tangan mereka dengan segera Bian memmbuka pintu, di lihatnya wanita itu masih meringkuk di ranjang. Namun tak ada tanda aktifitas bahkan roti pun masih utuh sedang air nya memang sudah habis.
" Renata " Bian membalikkan tubuh Renata dan wajahnya sudah mulai membiru.
" Astaga " Bian segera mengecek denyut nadi dan saluran nafas Renata.
Sekilas terlihat tempat obat yang berada di samping ranjang Renata.
" Siapkan mobil ! " Bian segera mengangkat tubuh Renata yang sudah tak berdaya, denyut nadinya lemah nafasnya pun sudah tak stabil.
Mereka segera manaiki mobil sedang Renata dalam pangkuan Bian dan Alvin menyusul dengan mobil Renata.
" Re .. Kamu nekat Re kamu kenapa ? Kenapa gini ? Kamu harus bangun Re. " Ucap Bian panik.
Driver Bian bahkan cukup terkesiap melihat atasannya yang kejam itu tiba tiba begitu lembut dan nampak panik karena satu wanita yang bahkan awalnya mereia sering bersi tegang.
__ADS_1
Mobil sampai di parkiran IGD, Renata segera mendapat perawatan. Bian tak bisa menemani dan tak tau tindakan apa yang di ambil, Bian hanya meminta untuk istrinya di selamatkan. Bian berjalan mondar mandir di ruang tunggu tangannya bergetar, rasa sakit saat kehilangan seorang Ibu membuat Bian begitu ketakutan Renata pun akan pergi sama hal nya seperti Ibu nya.
" Tenang Bi .. Tenang .. Lo bikin seisi rumah sakit panik " Alvin menepuk pundak Bian.
" Jelas mereka harus panik. Gue bayar mahal mereka kalo gak bisa nyelamatin Renata gue pecat semua ! "
" Mohon maaf pak. Kami akan berusaha semaksimal mungkin " Kepala Rumah Sakit yang saat itu memang mendampingi Bian pun terkejut mendengar ucapan Bian itu.
" Jangan di pikirkan dok .. Dia cuman lagi emosi "
" Udah Bi biarin mereka fokus ngurus istri Lo. Tadi aja Lo acuh sekarang jadi yang paling panik "
" Lo gak tau traumanya kehilangan seseorang dalam hidup. Makannya Lo bisa ngomong gitu ! "
" Sorry Bi gue gak maksud .. Hmm udah Lo duduk dulu tenang dulu semua pasti baik baik aja Bi "
Berselang satu jam dokter yang menangani Renata pun keluar dan menghampiri Bian.
" Pak Bian, syukurlah istri anda selamat hanya saja kondisinya masih sangat lemah. Beliau sedang beristirahat. Beberapa saat lagi anda boleh menemuinya " Ucap dokter.
Bian tak bisa berkata kata hanya hembusan nafas nya yang begitu berat itu seolah menjadi tanda melepas sesak yang luar biasa dan kini terasa lega. Bian duduk lalu menunduk, tangannya menopang kepala. Perasaan aneh ini sulit untuk di ungkapkan.
" Udah Bi, Renata udah selamat. " Alvin menepuk nepuk punggung Renata.
" Gue bingung cara nghehadapin dia gimana "
" Cara Lo yang keras dan kasar udah gak mempan sama Renata. Berarti Lo harus pake cara lain, jaga sikap, tahan emosi. Lo bisa kan ? "
" Kenapa juga gue harus gitu "
" Ya karena dia istri Lo, suka gak suka hati Lo aja nerima kenyataan itu. Tinggal pikiran Lo yang harus di benahin "
" Dasar bocah aneh "
Bian pun masuk ke ruangan Renata dan duduk di samping ranjangnya. Entah dorongan dari mana namun tangan Bian reflek menggenggam tangan Renata seakan ingin memastikan bahwa wanitanya itu benar baik baik saja.
__ADS_1
" Kenapa harus sampai kaya gini Re ? Padahal kita bisa omongin baik baik " Bian mengusap punggung tangan Renata.
" Lo gak ngasih dia kesempatan buat berkeluh kesah ke Lo Bi .. Jadiin ini pelajaran ya ? Gue keluar dulu " Pamit Alvin yang langsung keluar memberikan mereka waktu lebih lama untuk berdua.