Suami Bayangan

Suami Bayangan
Wasiat


__ADS_3


Flashback On -



Dua bulan yang lalu ..


Gunawan selaku kuasa hukum keluarga Mahesa mendatangi kediaman Bian untuk membuka surat wasiat yang di tuliskan Diana sebelum meninggal. Surat itu di buat tanpa sepengetahuan siapapun, hanya ada kuasa hukum dan saksi serta Diana selaku pembuat yang berisikan tentang pembagian warisan.


" Selamat siang Pak Bian, Pak Alvin berikut saya akan mengumumkan surat wasiat yang Ibu Diana buat sebelum beliau wafat .. " Ucap Gunawan.


Gunawan mulai menjelaskan bahwa surat wasiat itu berisikan tentang pembagian harta warisan yang diantaranya adalah warisan milik Bian yang berjumlah 70% dari seluruh aset Mahesa Group yang akan di berikan hanya ketika Bian sudah memiliki keturunan. Selama Bian belum memiliki keturunan, Bian tidak bisa memiliki seluruh aset keluarga Mahesa dan hanya bisa mengelola. Jika Bian tidak bersedia dengan persyaratan tersebut, maka aset keluarga Mahesa akan di hibahkan ke yayasan profesional dan Bian hanya bisa menjadi pekerja di perusahaan milik keluarganya sendiri.


" Saya yakin anda salah Pak Gunawan. Tidak mungkin Mami merelakan harta kerja keras Papi dan bahkan saya sendiri untuk di hibahkan begitu saja " Bian menggeleng gelengkan kepalanya tak percaya.


" Maaf Pak Bian tapi surat wasiat ini di buat oleh Bu Diana sendiri bahkan ada saksi dan bukti berupa tanda tangan dan video rekaman. Bukankah Pak Bian sudah menikah ? " Tanya Gunawan.


" Ya benar, tapi istri saya baru berusia 19 tahun dan masih kuliah. Apa yang bisa saya lakukan pada gadis sepolos dia ? Membuat dia hamil ? Itu terlalu gila .. "


" Sorry Bi gue bukan mau ikut campur, menurut gue gak terlalu gila. Toh kalian pernah berhubungan. Gue kira gak susah buat Lo bikin Renata hamil " Alvin meyakinkan Bian.


" Pak Gunawan, saya sudah mengerti. Bisa tinggalkan kami ? " Pinta Bian.


Gunawan mengangguk lalu merapihkan seluruh berkas ke tas nya dan meninggalkan ruangan.


" Gue gak bisa ! Celine, dia balik Indo. " Ucap Bian.


" So ? "

__ADS_1


" Lo tau gue cinta sama dia, gue bakal balik sama dia. "


" Lo gak waras Bi ! Dia udah ninggalin Lo dengan alasan ngejar karir dan pendidikan. Bulshit ! Tapi dia balik begitu tau Mami udah gak ada. Inget Bi Mami gak restuin Lo sama dia. " Alvin mulai meninggikan suaranya.


" Gue gak peduli Vin, kenyataan yang bikin dia pergi adalah Mami gak restuin dan dia ngalah. Sekarang Mami udah gak ada, dia balik lagi. Dan gue gak punya alasan buat ngejauh dari dia. "


" Lo punya alasan ! Lo punya Renata ! "


Alvin menggelengkan kepalanya, ingin menghajar Bian habis habisan namun model kepala batu seperti Bian meski di hajar sampai mati pun tidak akan merubah keputusannya. Alvin hanya pergi membanting pintu. Tidak setuju, namun bisa apa ? Diana sudah tidak ada, tidak akan ada yang bisa menaklukan Bian lagi.


Esok harinya, Bian menjemput Celine di bandara. Setahun lebih mereka berpisah, dan Bian tak bisa menyembunyikan betapa rindu dirinya pada sosok wanita pujaan nya itu.


" I miss you so bad " Ucap Bian sambil memeluk erat Celine.


" Me too .. "


Bian mengajak Celine untuk ke villa nya karena jika di bawa ke rumah nya maka yang ada akan terjadi perdebatan dengan Alvin. Bian benar benar membutuhkan ketenangan.


" I Love you " Ucap Bian dengan nada sensual di telinga kekasihnya itu.


Bian menarik tubuh Celine jatuh ke ranjang, dengan semangat menarik kaos putih tipis yang menutup tubuh Celine hingga yang tersisa hanya bra berwarna merah muda dengan dada berukuran lumayan besar yang menyembul menegang dan menantang. Bian meremasnya lembut namun penuh naf*su lalu mulai mengulumnya bergantian hingga memberi beberapa tanda merah disana.


Dulu mereka memang sudah terbiasa melakukan ini, kehidupan yang bebas di luar negeri sana membuat mereka lupa akan adat ketimuran yang harusnya mereka junjung.


" Faster baby .. " Ucap Bian ketika Celine sedang bermain di atas nya, menggoyangkan pinggulnya memutar memberikan sensasi nikmat yang luar biasa.


" Aku sampai Bi aaa " Celine bergetar di atasnya lalu tubuhnya mulai melemas. Bian mengganti posisi menjadikan Celine berada di bawah kekuasaannya.


Dengan tempo yang cepat Bian menggerakkan miliknya kedepan dan belakang, hingga akhirnya dirinya pun mencapai pelepasan. Bian tersengal lalu ambruk di samping tubuh Celine. Berbalik menghadap Celine dan memeluknya.

__ADS_1


" Sayang tidak kah kamu ingin menikah lalu memiliki seorang bayi ? " Tanya Bian yang memejamkan matanya.


" Hmm bayi ? Usiaku baru 25 tahun Bi. Aku masih ingin berkarir, tidak ingin di repotkan dengan mengurus seorang anak. "


Bian membuka matanya lalu melepas pelukannya dari Celine. Bian tersenyum seraya merapihkan anak rambut yang menghalangi wajah mulus Celine.


" Honey ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. "


" Ya ? "


" Aku tak tau ini waktu yang tepat atau bukan. Tapi Cel, maafkan aku. Aku sudah menikah, Mami yang memaksa aku menikahi seoranga anak ingusan "


Seketika Celine bangkit, menatap tak percaya dengan apa yang di ucapkan lelaki yang baru saja menyentuhnya tadi.


" Kamu gila Bian ? Ceraikan dia kalau kamu memang ingin bersamaku .. "


" Maaf sayang, tapi ini paksaan Mami. Dan sekarang mami membuat surat wasiat yang berisikan seluruh warisan untukku tidak akan di berikan sebelum aku memiliki keturunan. Itu kenapa aku memintamu untuk menikah dengan ku lalu lahirkan lah seorang anak untukku. " Ucap Bian.


Sejenak Celine terdiam, entah apa yang ada dalam pikirannya namun tentu saja soal menikah Celine akan menolak itu mentah mentah.


" Aku gak bisa Bi, aku belum siap. "


" Lantas bagaimana ? "


" Kalau begitu, ceraikan gadis itu setelah dia melahirkan anak mu. Aku gak tau apa yang terjadi di sini sebelum aku datang. Tapi aku gak mau terlibat dalam drama yang kalian buat, aku sudah punya plan sendiri untuk hidupku. Dan jika kamu mau bersama ku lagi, aku gak mau kamu mengganggu rencanaku " Celine bangkit lalu menuju kamar mandi.


Bian menatap kepergian Celine, kepalanya mulai berdenyut. Bian mengira Celine akan bersedia untuk segera menikah, namun dugaannya salah. Ya harusnya Bian sudah pertimbangkan ini, Celine merupakan wanita ambisius tidak mungkin merelakan hidupnya yang nyaris sempurna hanya untuk terkurung di dalam rumah dengan seorang bayi. Bian mengacak kepalanya bingung.


Jika merelakan warisan nya maka bisa di bayangka berapa harta yang akan melayang, belum lagi dirinya harus memulai segala sesuatu dari 0. Dan jika memilih untuk memberikan keturunan pada keluarga Mahesa, maka hanya Renata lah harapannya karena Celine dengan tegas menolak ide tersebut.

__ADS_1


" Renata sialan ! Semenjak bertemu dengamu hidupku penuh dengan kesialan " Gerutu Bian yang kini dada nya terasa bergemuruh tak menerima kenyataan.


__ADS_2