Suami Bayangan

Suami Bayangan
Membuat Marah


__ADS_3

Ini hari terakhir Bian disini, Bian akan kembali siang nanti. Syukurnya urusan kampus sudah terhandle hanya tinggal menjalankan saja, itu sudah menjadi tugas kepala yayasan yang baru. Bagian rumit dan semerawut nya sudah Bian rapihkan sebaik mungkin.


Bian membuka matanya pelan, biasanya Renata masih tidur ketika dirinya bangun namun pagi ini tumben wajah istrinya itu tidak ada di hadapannya padahal waktu menujukkan baru pukul 6. Matahari pagi pun baru naik.


" Re .. " Panggil Bian yang menerka mungkin istrinya ada di kamar mandi.


Tak ada jawaban. Akhirnya Bian pun bangkit, ingin mencari kemana Renata pergi sepagi ini. Baru saja hendak keluar tiba tiba saja Renata datang dari arah balkon.



" Hmm morning mas .. " Sapa Renata yang entah kesurupan apa pagi itu dia tampak sangat menggoda atau memang sengaja menggoda Bian.


" Kamu dari balkon pake baju gitu ? "


" Iya mas, kenapa ? Aku kan pengen cari udara segar. "


" Gila kamu, gimana kalo ada yang lihatin. "


" Ya gak masalah mas. Toh sama kamu kan aku jarang di lirik jadi biarin aja di lirik yang lain. "


Bian menyumpal mulut Renata dengan tangannya, hanya dengan sekali hentakan Bian melempar tubuh mungil itu ke ranjang empuk mereka.



" Ngomong apa kamu barusan ? " Bian menarik rambut Mitha kebelakang, tidak terlalu kencang hanga ingin memastika wajah wanita yang berbicara lancang itu.


" Ahh mas " Bian naik lalu menindih tubuh Renata.


" Sh*it, kamu sadar kamu bisa membangunkan gairah lelaki di luaran sana dengan tubuh mu ini ? "


Ledakan gairah dan emosi menyatu di saat yang sama. Bian nampak menyeramkan di satu sisi namun nampak begitu menawan juga dengan otot otot nya mengerang karena amarah yang memuncak. Bian menarik tangan Renata ka atas kepala ranjang lalu mengambil sesuatu di laci hingga yang Renata rasakan kini tangannya terkunci di atas sana, ternyata Bian memborgolnya.


Bukan main ..


" Haruskah saya mengurung mu seperti ini agar kamu tidak bertindak di luar nalar terus menerus " Bian mulai meracau.

__ADS_1


Bian menarik pakaian yang sudah hampir terbuka itu hingga kini nampak polos. Bian melucuti nya dengan kasar. Bian mulai mengabsen setiap inci bagian tubuh Renata dengan lidahnya membuat si mpu menggeliat nikmat.


Bian memaksa Renata untuk membuka mulutnya lalu mencekoki sebuah obat yang entaih itu apa yang pasti berselang 15 menit tubuh Renata terasa panas.


" Mmaaassshhh " Renata meringis menahan rasa tak nyaman dalam dirinya.


" Kenapa sayang ? Kamu ingin ini ? " Tanya Bian yang kemudian memainkan jarinya di inti sensitif milik Renata.


" Please mass " Mohon Renata.


" Ini hukuman buat kamu, ayo memohon lebih keras. Kamu udah gak kuat kan ? " Bian dengan sengaja hanya mempermainkan Renata yang menggeliat tak karuan.


Bian membuat Renata memohon, mengemis, menangis hingga menjerit ingin di masuki. Melihat Renata yang semakin di luar kendali, Bian pun merasa iba. Kini Bian benar benar melakukannya, memberikan sentuhan hangat dsn lembut yang membuat Renata tanang dan hanyut terbuai.


Entah berapa jam berlalu, permainan panas mereka berakhir. Lelah dengan beberapa kali ledakan di intinya, Renata kembali tertidur sedang Bian mempertahankan ke sadarannya, mengambil kunci lalu melepas borgol di tangan Renata.


Tangan Renata nampak merah dan sedikit membiru, Bian tidsk mengikatnya kencang hanya saja gara gara obat tadi membuat Renata berontak tak karuan.


" Maaf ya " Bian mencium pundak Renata yang terbuka.


Bian memeluk Renata erat dari belakang, kadang ada rasa bersalah pada Renata namun jika ingat saat tadi ucapan Renata benar benar menyakiti harga dirinya.


" Mau kemana ? " tanya Bian.


" Mau mandi mas. "


" Kamu gak marah ? "


" Enggak mas aku harusnya minta maaf tadi itu aku sengaja bikin kamu marah " Jujur Renata.


" Sengaja gimana ? " Bian bangkit lalu menyandarkan diri di kepala ranjang.


" Abisnya udah aku goda kaya gimana pun mas masih aja gak mau nyentuh aku. Yaudah aku bikin marah aja sekalian. Biasanya kalo emosi mas jadi mau. "


" Astaga .. "

__ADS_1


" Tapi sumpah mas tadi di luar aku pake bathrobe ko, aku lepas pas mau masuk cuman mau bikin kamu marah aja "


" Renata .. Saya gak nyentuh kamu itu bukan karena gak mau atau gak selera. Tapi saya lagi belajar buat memakanai pernikahan kita gak sekedar soal ranjang tapi juga soal hati, perasaan. Saya gak mau eksploitasi tubuh kamu terus menerus tanpa saya bisa ngebalas perasaan kamu. Itu kenapa saya tahan sampe saya ngerasa yakin kalo saya bisa buka hati buat kamu "


" Mas .. Mas mabok kayanya, ngelantur. Udah ya aku mau mandi dulu " Renata pergi begitu saja jujur jantungnya kini sedang melompat lompat.


Bian jarang berkata manis apalagi romantis, namun perkataannya yang tadi sudah bisa di katergorikan manis dan romantis di tambah lagi tulus, sudahlah paket lengkap. Wanita mana yang tak akan salting saat di hadapkan pria seperti Bian ?


" Saya jadi terlambat berangkat gara gara kamu " Gerutu Bian yang sedang merapihkan pakaiannya di depan cermin.


" Ya maaf mas, aku kira cuman sejam tau nya sampe berjam jam sampe lemes aku "


" Kamu kan tau kalo saya udah emosi gak akan berhenti sampe bener bener puas. Masih untung saya salurinnya ke itu, gimana kalo saya kebablasan nyakitin kamu ? "


" Aku rasa mas gak akan sampe setega itu " Renata memeluk Bian dari belakang.


" Mas cepet balik lagi sini ya .. Aku kayanya bakal makin kangen lebih dari biasanya "


" Kalo gak betah jauh dari saya, pindah aja. " Bian berbalik membalas pelukan Renata.


" Nanti mas, aku mau memantaskan diri dulu "


" Dasar bocah " Bian mengetuk dahi Renata gemas.


Bian tak ingin memaksa, hanya berusaha mencari solusi terbaik untuk mereka. Jujur saja meninggalkan Renata dalam keadaan seperti ini seorang diri tanpa pengawasannya ataupun Alvin, membuat Bian khawatit dan tak tenang.


Entah ini layak di sebut Cinta atau bukan, namun Bian begitu peduli pada gadis yang dulu sangat di bencinya. Bian tak ingin istrinya ini terluka apalagi sampai melukai dirinya sendiri.


" Re .. " Bian memegang kedua bahu Renata.


" Hmm ? "


" Janji sama saya ya. Seberat apapun jangan pernah terluka. Baik itu sama oranglain apalagi sama diri kamu sendiri. "


" Iya aku janji gak akan nyakitin diri aku sendiri lagi . "

__ADS_1


" Kamu harus baik baik disini, jangan bikin saya kerja gak tenang makan gak tenang tidur gak tenang karena mikirin kamu. "


Renata hanya mengangguk lalu kembali ke pelukan Bian, memeluknya erat menjalarkan seluruh kehangatan seakan tak rela untuk melepaskan Bian pergi. Namun bagaimana lagi, Renata tak bisa bersikap egois dengan menahan Bian lebih lama lagi.


__ADS_2