Suami Bayangan

Suami Bayangan
Liana dan ibu mertua


__ADS_3

“Mas, sudah. Aku sudah kenyang,”kata Liana.


“ya sudah nanti lagi,” kata Melati sembari ia meletakkan mangkung di atas meja. Melati sangat menyayangi Liana, kalau pun bisa ia ingin tinggal serumah dengan menantunya.


Liana duduk di sofa sembari mengusap perutnya yang sudah tampak membuncit sembari tersenyum.


“kenapa senyum-senyum?” tanya Joko.


“aku bahagia. Dan perut aku kekenyangan. Sekarang dedek bayinya pasti tidur dengan nyenyak,” kata Liana


“Kamu nggak ke kantor?” tanya Melati pada putranya.


“Mana tega, liat ibu negara kesakitan gitu aku tinggal kerja,” gumam Joko.


“aku nggak apa-apa mas, kalau mas mau ke kantor, berangkat aja mas.” Liana tersenyum pada suaminya.


“noh, denger kata istri kamu,”


Joko pun pasrah, dan ia beranjak dari duduknya dan mencium kening sang istri dengan mesra.


“Mas kerja ya, kamu di rumah mama dulu. Nanti kalau sudah selesai, mas langsung pulang jemput sayangku,” kata Joko.


“Iya mas, hati-hati ya mas,” kata Liana sembari mengusap pipi sang suami.


Walaupun berat rasanya melepaskan Joko pergi, namun Liana nggak enak hati untuk bilang karena ada Melati. Lian sejujurnya lebih suka berada di samping Joko ketimbang sendirian.


Setelah Joko pergi ke kantor, Liana merasa langsung sedikit lebih segar. Entah kenapa kini rdirinya menjadi lebih fres


“ma, kit jalan-jalan aja yuk, ma.” Ajak Liana.


“Kemana? Ke mall?” tanya Melati.


“boleh, kalau begitu sekarang mama siap-siap dan kamu mandi dulu deh,” kata Melati.


“tapi kayaknya aku nggak ada baju kan ya?” tanya Liana.


“hais, gitu aja repot. Itu di lemari mama ada baju baru, sebentar mama ambilkan,” kata Melati sembari beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Sedangkan Liana mengayunkan kakinya menuju kamar mandi. Tak berapa lama Melati kembali dengan membawa satu stel baju untuk sang menantu.


“Liana, buka pintunya nak, ini bajunya,”kalau Melati.


“Iya ma, sebentar,” kata Liana sembari membelikan handuk di tubuhnya.


Lalu, ia membuka pintu kamar mandi dan mengambil alih baju yang baru saja di berikan oleh mertuanya itu.


“terima kasih, mama. Sebentar aku selesaikan ganti baju dulu,” kata Liana.


Tanpa menjawab, Melati pun kembali ke kamarnya. Ia mersiap dan mengganti pakaiannya. Tak lama kemudian ia sudah kembali ke ruang tamu, melihat Liana sudah duduk di sana membuat Melati tersenyum.


“bagaimana Li, bajunya enak?”tanya Melati.


“enak sih ma, tapi kok Liana ngerasanya gimana gitu. Liat deh ma,” gumam Liana.


Ia merasa aneh dengan penampilannya. Memakai bawahan rok jins di padu dengan kaus berwarna merah, namun perutnya sudah tampak membuncit. Itu yang membuat Liana tak percaya diri.


“Liana, kamu cantik kok,” Puji Melati.


“sebentar ma, aku telpon mas Joko dulu, boleh nggak aku keluar dengan pakaian seperti ini. Karena biasanya saat aku keluar rumah pakaiannya panjang. Minimal celana pendek, aku juga nggak pernah pakai rok,”kata Liana sembari tertunduk.


“ Boleh ma, tapi aku hmga ti baju yang tadi aja ya. Lebih leluasa,” kata Liana.


“Oke lah, mama juga mau ganti pakaian. Masa ke taman pakai dres,” kata Liana sembari tertawa.


Setelah keduanya berganti pakaian, Liana langsung menuju ke halaman belakang yang ternyata kebun sayuran. Liana tampak takjum melihat tanaman yang subur dan hijau di dalamnya.


Sedangkan Melati, baru saja turun dari kamarnya. Ia langsung menghampiri Liana di belakang rumah.


“kenapa Li?” tanya Melati.


“Ini sangat mengagumkan, ma,” kata Liana sembari merona.


“sekarang kita mau panen apa?” tanya Melati.


“Apa aja ma,”kata Liana.

__ADS_1


Melati mengambil keranjang untuk memetik beberapa sayuran di kebun.


“ma,kalau bikin capcay sayur enak ini,”kata Liana.


“Kamu mau? Kalau mau biar mama petikkan beberapa sayuran yang bisa untuk capcay sayur,” kata melati sembari ia mulai memetik sayuran hijau.


Liana di belakang melati membawa keranjang sayurannya. Sedangkan Melati mulai memetik beberapa sayuran hijau dan brokoli, tomat, wortel serta daun bawang. Liana sungguh merasa bahagia bisa memetik sayuran.


Tak berapa lama, mereka selesai memetik sayuran. Liana menggandeng Melati untuk memasuki rumah. Namun Liana terpesona dengan kolam ikan yang ada di samping kebun.


“ma, ini untuk terapi ikan ya?” tanya Liana.


“Iya, Liana mau?”tanya Melati.


“mau dong, ma. Kebetulan bisa sembari main air,” kata Liana antusias .


“Ya sudah ayok, duduk di sini. Ini sayurannya biar nanti di di cuci sama mbak Sri.” Melati mengambil alih keranjang sayuran.


Liana duduk di pinggir kolam setelah sebelumnya ia menggulung celananya sampai di atas lutut. Melati pun kini duduk di sampingnya.


“Mbak Sri,” panggil Melati.


“Iya buk.”  Keluarlah dari dalam rumah wanita yang bernama Sri, menghampiri Melati dan Liana.


“Mbak, ini tolong di bawa ke dalam ya,” kata Melati


“baik Bu,” jawab Sri.


“mbak, bisa minta tolong? Saya ambilkan soto dan bayam ya. Nasinya sedikit saja, bayamnya yang banyak, sekalian coklat panasnya ya mbak,”kata Liana.


“Mbaik mbak. Sebentar ya,”  jawab Sri.


“terima kasih mbak,”kata Liana.


Sri pun berbalik menuju ke dapur sembari ia membawa keranjang sayuran untuk di cuci. Sri langsung memanaskan kuah soto sembari ia mencuci sayuran yang baru di petik.


 

__ADS_1


 


__ADS_2