Suami Bayangan

Suami Bayangan
Titik 0


__ADS_3

Renata sampai di kamar kost yang sederhana begitupun Anya sekitar pukul 10 malam. Tidak terlalu larut namun cukup membuat lelah.


Sempat begitu sampai Renata mengabari Bian melalui pesan singkat.


- Renata -


Mas .. Rere udah sampe


Namun sunyi tak ada jawaban. Mungkin Bian sudah tidur, pikir Renata.


Setelah selesai merapihkan barang bawaannya, Renata merebahkan tubuhnya, menatap langit langit di kamarnya lalu tiba tiba saja tersenyum. Apa yang terjadi dua hari kemarin memberikan banyak perubahan pada Renata terutama perasaannya yang tumbuh begitu saja pada Bian.


Sebenarnya terlalu dini mengatakan jika dirinya jatuh cinta, namun apalagi namanya jika saat jauh seperti ini Renata merasa rindu dan mendamba suaminya itu ada di sampingnya ?


Asik dengan buaian nya, Renata pun terlelap dengan alam mimpinya.


Pagi harinya alarm berbunyi memekik kan telinga. Renata memaksa matanya untuk terbuka meski begitu lengket. Sembari mematikan alarm ponsel, Renata pun membuka pesannya semalam ..


Belum dibaca Batin Renata mulai gelisah, apakah harapannya ternyata tidak sesuai dengan kenyataan ? Apakah dirinya salah mengira ketulusan Bian ? Banyak pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Renata, namun waktu menyeretnya untuk sejenak melupakan Bian karena hanya tinggal 30 menit lagi kelasnya akan di mulai.


Seperti biasa, Renata dan Anya akan berlarian untuk mencapai kelas dengan nafas yang nyaris habis..


“ Lagi lagi terlambat " Celoteh Dirly saat Renata melewatinya di koridor.


“ Gak telat kak ini tepat " Jawab Renata sambil berlari menjauh


Dirly mengangkat tangannya untuk melihat jam tangan memastikan perkataan Renata, dan benar saja waktu menunjukkan pukul 07.59. Dirly hanya bisa tersenyum heran bagaimana gadis itu mengatur waktu hingga tak pernah merelakan barang satu menit pun waktu lebih untuk di kampus ?


Suara bel berbunyi, menandakan mata kuliah kedua selesai. Sudah saat nya memasuki jam makan siang.


“ Kantin ? ” Tanya Anya.


“ Yuk .. " Renata segera bangkit dan meraih dompet beserta ponselnya.


Di kantin, Renata tak bisa menyembunyikan ekspresi nya yang nampak khawatir.


“ Kenapa Re ? " Tanya Anya.


“ Hmm ini .. Mas Bian "


“ Kenapa ? Jangan bilang dia tetep maksa Lo buat tinggal disana. "

__ADS_1


“ Gak gitu. Mas Bian malah gak jawab chat gue dari semalem. " Jelas Renata jujur.


“ Emang Lo chat gimana ? "


Renata memperlihatkan layar ponselnya pada Anya.


“ Owalah, ya wajar sih. Lo juga kan gak ada nanya atau nyapa gitu. Lo cuman ngasih tau dia. Ya mungkin dia mikirnya yang penting Lo udah baik baik aja. Coba aja sekarang Lo chat lagi. " Titah Renata.


“ Chat gimana ? "


“ Ya ampun Noob banget sih Lo masalah chatan aja bingung, masalah ranjang mah langsung pro gak banyak nanya juga " Sarkas Anya yang segera di bungkam dengan roti oleh Renata.


“ Berisik deh astaga, Lo mau sekampus tau ? "


“ Haha ampun Re .. yaudah Lo chat aja mas lagi apa ? Mas udah sarapan belum ? Mas sibuk gak ? Ya basa basi kaya gitu. "


“ Gak murahan banget apa Nya gue kaya yang caper gitu .. "


“ Alah dua hari aja sama dia Lo udah murahan banget gak malu haha " Anya terkekeh.


“ Ih ngeselin banget sih Lo " Akhirnya Renata mengurungkan niatnya untuk menghubungi Bian.


Renata lebih memilih meluangkan waktunya untuk hal lain yang akan mengalihkan pikirannya dari Bian.


“ Rere .. " Dirly tiba tiba saja duduk di depan Renata.


“ Apaan dah kak ? Perasaan tiap gue sendiri pasti dateng gangguin "


“ Gue gak mau ganggu Lo. Gue mau nawarin buat gabung ke BEM yuk neng .. " Ucap Dirly santainya.


“ Gak ! Waktu gue terlalu berharga buat ngurusin orang lain. "


“ Aduh primitif banget kalo ngiranya di BEM cuman mikirin masalah orang lain atau kampus. Lo juga kan bisa nambah wawasan, pengalaman dan relasi buat modal Lo kerja nanti. " Dirly mulai berceramah panjang lebar.


“ Kak khutbahnya di mesjid gih. Gue lagi mau sendiri. "


“ Galak bener sih Re. Daripada Lo gabut bacain novel gak jelas, mikirin orang yang belum tentu mikirin Lo ya mending Lo habisin waktu Lo buat organisasi "


Mikirin orang yang belun tentu mikirin gue ? Kata kata Dirly terngiang di kepalanya meski si penceramah tadi sudah menghilang dari hadapannya.


Ya sudah hampir sebulan berlalu, dan tak ada satu pesan pun masuk ke ponsel Renata yang berasal dari Bian. Bahkan janji nya untuk mengirim uang pun seperti nya terlupakan karena hingga kini saldo di rekening Renata tidak pernah bertambah.

__ADS_1


Apa iya gue terlalu mikirin dia ? Renata mulai membatin.


Jika di pikir lagi usia mudanya sangat sayang jika hanya dia luangkan untuk belajar dan untuk pernikahan. Dia masih bisa meraih banyak hal yang luar biasa jika saja mengikuti saran dari Dirly.


Renata meraih ponselnya, dengan sedikit keberanian Renata menghubungi Bian. Renata hanya ingin memastikan waktu yang dirinya luangkan untuk Bian apakah ada artinya bagi Bian ?


Tuutt ..


“ Halo .. " Setelah nyaris Renata menutup panggilan, Bian pun mengangkat telpon nya.


“ Mas Bian ? "


“ Renata ? "


“ Iya mas, emang siapa lagi ? "


“ Sorry saya gak save nomor kamu. Kenapa ? "


Gak save no kamu .. Pantas saja selama sebulan ini dirinya di abaikan, ternyata Bian saja tidak menyimpan nomor ponsel Renata.


“ Gak papa, mas sehat ? "


“ Saya baik, maaf ya Re saya lagi sibuk. Nanti saya hubungin lagi " Bian langsung saja menutup panggilan itu sepihak tanpa menunggu jawaban Renata.


Renata hanya bisa tersenyum getir. Semua kembali ke titik 0. Harapannya tentang Bian pun perlahan memudar setelah penantian selama sebulan, dan mendapati kenyataan bahkan Bian tak menyimpan nomor hp nya dan malah memutus panggilan begitu saja. Dari sana Renata cukup mengerti, di mata Bian dirinya tak begitu penting dan berarti.


Kenapa ini ? Hey jangan jangan jangan


Renata bermonolog dalam hatinya ketika air mata tanpa sadar membasahi sudut matanya, berulang kali Renata menghapusnya namun air matanya malah jatuh semakin deras.


“ Ini Re .. " Ucap Dirly sambil membrrikan sebuah sapu tangan, meski Dirly sudah pergi dsri hadapan Renata namun ternyata Dirly tetap memperhatikan Renata dari sudut lain ruang perpustakaan yang kebetulan hari ini sedang sepi.


“ Makasih Kak " Renata sangat familiar dengan suara Dirly. Tanpa menatap Renata sudah tau siapa lelaki yang memergokinya sedang menangis.


“ Sakit banget ya ? Gak papa Re Lo nangis aja cuman ada kita disini. "


“ Kakak gak usah ikut campur deh " Ucap Renata dengan terisak.


“ Gue gak tau masalah Lo apa atau sama siapa, gue juga gak ada niat buat ikut campur. Tapi Re, gue ada disini. Setidaknya, di hadapan gue Lo gak perlu bersikap tegar. Lo bisa jadi diri Lo yang apa adanya, yang kalo Lo sedih Lo nangis dan kalo Lo seneng Lo ketawa lepas. "


Kata kata Dirly sukses membuat Renata makin terisak.

__ADS_1


“ Thanks kak, sorry gue bikin Lo lihat gue sehancur ini " Renata menangis sesenggukan di depan Dirly. Melepaskan semua rasa sesak yang menghimpit dada nya. Sedang Dirly tanpa menghakimi atau banyak bertanya setia mendengarkan dan menemani Renata hingga perasaannya terasa baikan.


__ADS_2