Suami Bayangan

Suami Bayangan
Berkunjung


__ADS_3

“ Vin bisa aturin jadwal gue ? Gue mau kunjungan ke kampusnya Renata " Titah bian pada Alvin yang saat itu tengah asik. menyendokkan nasi goreng ke mulutnya.


“ Uhuukk .. " Alvin tiba tiba terbatuk.


“ Mau ngapain ? Jangan aneh aneh ah, Renata kan minta hubungan kalian di rahasiain "


“ Emang siapa yang bilang mau gue publikasi ? Gue cuman mau lebih kenal deket sama istri gue. " Bian tersenyum smirk.


Sesaat Alvin memicingkan matanya mencari ketulusan dari perkataan Bian. Manusia seperti Bian karakter dan tindakannya sulit di tebak, Alvin khawatir Bian hanya akan menambah kesulitan dalam hidup Renata.


“ Apa susahnya tinggal aturin aja sih. Lo kan asisten gue "


“ Yaudah ok .. " Alvin menarik nafas berat.


Setelah melaksanakan kunjungan kerja selama dua hari ke rumah sakit, hari ketiganya Alvin memberikan kabar ke kampus bahwa hari sabtu Bian akan mengunjungi kampus pada ketua yayasan. Mendengar kabar itu sontak semua di buat panik karena hanya ada sisa dua hari untuk mempersiapkan segalanya.


“ Selamat pagi rekan rekan. Sesuai arahan ketua yayasan, kita akan kedatangan tamu besar yakni wakil pimpinan mahesa group Pak Bian Aditya Mahesa. " Ucap Dirly di rapat bersama pengurus BEM.


deegg .. Bian Aditya Mahesa


Renata yang baru saja bergabung dengan organisasi itu pun di haruskan mengikuti rapat dan cukup terlonjak dengan apa yang di kabarkan Dirly.


Kekecewaan yang Renata rasakan pada Bian sudah mencapai ubun ubun, bayangkan saja setelah menikmati tubuhnya lalu bersikap seperti seorang suami yang bertanggung jawab, ternyata itu hanya omong kosong. Bahkan janji manis Bian untuk menafkahi pun luput dari kenyataan.


“ Untuk anggota baru, bisa ikut bantu menjadi bagian penyambutan dan mempersiapkan meja serta kursi baik untuk VIP maupun untuk para mahasiswa. " Lanjut Dirly.


Tau bakal gini gue gak bakal ikut organisasi.


Renata hanya bisa menarik nafas pasrah, semoga saja semua acaranya berjalan lancar tanpa ada drama masalah pribadi di dalamnya. Renata menekuk wajahnya sepanjang rapat diadakan, meski hanya curi curi pandang namun Dirly tau mood Renata sedang tidak baik.


Bian menghampiri Renata yang tertunduk lesu. Kepala nya bersandar pada tangannya di atas meja, wajahnya ditutup dengan rambut yang sengaja di gerainya.


“ Ada masalah ? " Tanya Bian seraya merapihkan rambut Renata ke belakang.


“ Masalah besar .. " Ucap Renata sambil mengerucutkn bibirnya.


“ Apa ? Soal kegiatan kita dua hari kedepan ? Tenang aja .. Gue pasti bantuin Lo Re, kita fokus aja sama urusan ini. Jadi Lo sama gue gak usah ke kantor dulu. "

__ADS_1


“ Bukan itu "


“ Terus apa ? "


“ Gue gak bisa jelasin sekarang. Kalo bisa gue gak mau terlibat kegiatan ini. " Keluh Renata.


“ Kalo Lo gak terlibat, terkesannya gue pilih kasih ke yang lain "


“ Iya sih, yaudah kita sama sama profesional aja " Renata bangkit, merapihkan tas nya lalu pergi meninggalkan Dirly seorang diri.


Dirly hanya menatap heran kepergian Renata, lagi lagi dia bersikap aneh, pikir Dirly.


Renata merebahkan tubuhnya setelah sampai sore hari dirinya baru sampai di rumah. Baru saja hendak menutup mata, suara ketukan pintu membuyarkan rasa kantuknya.


“ Siapa sih orang mau istirahat tau " Gerutu Renata sambil membuka pintu.


“ Hai Re .. " Bian berdiri di hadapannya dengan senyum tanpa dosa.


“ Mau apa kamu ? "


“ Suami ? Suami kamu bilang ? Omong kosong "


“ Kenapa sih sayang ? Kamu marah aku gak ngasih kabar ? Aku sibuk banget, maaf ya "


“ Maaf ? Semudah itu minta maaf. Sesibuk apa memangnya sampai 3 bulan gak pernah ada pesanku yang kamu jawab. Kamu juga gak pernah pikirin perasaan aku " Mata Renata berkaca.


“ Aku udah gak butuh kamu mas ! Aku minta surat cerai. Itu udah cukup buat nebus semua dosa kamu ke aku. "


Braaakkk .. Renata membanting pintu lalu menguncinya dari dalam.


“ Ayolah Re gak usah berlebihan begini " Ucap Bian dari luar.


“ Pak Bian ! " Suara Anya lumayan memekik telinga.


“ Apa sih ? Saya gak budek ya ! "


“ Mau ngapain bapak kesini ? Belum puas bikin temen saya sengsara ? "

__ADS_1


“ Sengsara ? Haha kalau bukan saya yang menanggung biaya kuliah Renata mungkin Renata lebih sengsara daripada sekarang. "


“ Jadi menurut anda sengsara hanya terkait materi ? Apa anda gak pernah sedikit pun pikirin perasaan sahabat saya yang udah terlanjur jatuh hati sama anda bahkan memberikan segalanya untuk anda ? Anda masih waras ? " Ucap Anya pedas.


“ Perasaan ? Bukankah kami menikah tanpa ada perasaan ? Berbicara soal perasaan, saya sudah punya wanita yang saya cintai. "


“ Anda benar benar gila ! Lalu untuk apa lagi anda kesini ? "


“ Ya bagaimana pun Renata istri saya, tentu sesekali saya harus menengoknya. " Bian tersenyum smirk.


“ Dosa apa yang telah Renata perbuat hingga di takdirkan menikahi pria sinting seperti anda. Lebih baik anda pergi atau saya panggilkan pemilik kost ! "


“ Calm down .. Sampaikan salam saya pada Renata ya ? Katakan, sampai saya melebur dengan tanah pun saya tidak akan menceraikannya. " Ucap Bian tegas lalu pergi meninggalkan Anya.


Anya hanya bisa menggelengkan kepala.


“ Sakit jiwa ! " Maki Anya.


Anya lalu mengetuk pintu kamar kost Renata sambil meyakinkan bahwa Bian sudah pergi.


Renata membuka pintu perlahan, tak nampak ada air mata yang membasahi wajahnya. Tidak seperti biasanya, karena jika sudah menyangkut Bian biasanya Renata bisa menangis terisak. Namun tidak kali ini.


“ Lo baik baik aja ? " Tanya Anya.


“ Gak papa .. Gue udah gak peduliin dia lagi. Gue cuman marah "


“ Syukurlah, udah gue usir cowok brengsek itu. Lo tau dia bilang dia punya cewek lain ? "


“ Gue denger sampe akhir, sampe dia bilang dia gak bakalan cerein juga sekalipun dia udah melebur jadi tanah. Gue gak ngerti apa yang dia mau. "


“ Lo punya salah apa sih sama tuh cowok ? Kayanya dia dendam sama Lo. Gak kebalik apa ya ? Harusnya Lo yang dendam sama dia. Euh kesel gue, lelaki selalu playing victim. Ngomong aja mau manfaatin Lo doang. Bastard ! " Anya memukuli bantal yang di pegangnya.


Renata mengangkat kedua bahunya memberi tahu bahwa dirinya pun tidak mengerti apa apa. Hubungannya dengan Bian selama enam bulan ini memang naik turun, terakhir bertemu mereka layaknya pengantin baru pada umumnya. Namun entah apa yang terjadi hingga tiba tiba Bian berubah lebih buruk dari pada pertama mereka bertemu.


Wanita ? Apakah wanita itu yang membuat Bian segila sekarang ?


Renata hanya bisa menduga duga, sudut hatinya pedih dan terluka. Harus di akui, perasaannya tidak lagi bisa di tahan untuk tidak jatuh hati pada Bian. Namun haruskah sesakit ini ? Apa salahnya jika jatuh hati pada lelaki yang sudah sah menjadi suaminya. Lalu mengapa Bian tidak ingin menceraikan nya jika selama ini sudah memiliki wanita lain ?

__ADS_1


__ADS_2