
" Hmm .. " Renata melenguh dengan setengah kesadarannya.
" Ren " Panggil Bian.
" Mas Bi ? " Meski matanya masihsetengah terpejam namun suara pria itu, Renata amat mengenalnya.
" Iya ini saya. Bangun Re "
" Aku di rumah sakit ? " Tanya Renata begitu semua nampak jelas.
" Iya Re, kamu overdosis "
" Overdosis ? Gimana gimana ? Ko bisa ? "
" Lah kan kamu yang minum. Ko tanya saya "
" Aku udah 2 hari gak bisa tidur tenang. Jadi aku ya minum obat " Curhat Renata.
" Berapa banyak ? "
" 1 mas "
" Masa 1 sampe overdosis gak makesense "
" 1 setiap sejam hehe abisnya gak tidur mulu aku pusing tambah kamu telpon kaya gitu, aku makin pusing. Ya aku pikir positifnya paling aku tidur lebih lama ya negatifnya aku tidur selamanya "
" Renata ! Kamu sadar gak sih kamu bikin saya khawatir ? " Bian menatap tajam.
" Kenapa khawatir ? Mas kan gak suka sama aku. Aku mati juga gak akan ada yang nangisin "
" Ngomong kamu suka sembarangan. Gimana kalo kamu lagi hamil Re ? "
" Gak ko, aku gak hamil. Aku udah dapet. Kamu emang cuman butuh anak gak butuh aku mas. "
" Udah Re, kamu makin ngelantur. "
" Oya ko mas bisa disini ? "
" Saya bilang, saya khawatir. Kalo saya gak kesini kamu udah pindah alam Renata ! "
__ADS_1
" Ya kan itu ... " Bian segera menempelkan bibirnya di bibir Renata yang membuat Renata seketika membeku.
" Kalo kamu ngomong yang enggak enggak lagi, saya cium lagi sampe gak bisa ngomong. " Bian menghapus bekas bibir nya di bibir Mitha dengan menggunakan ibu jarinya.
Mitha hanya mengangguk, seperti biasa pesona Bian selalu membuat Renata terhipnotis tak berdaya. Tatapannya yang tajam, senyumnya yang meski jarang namun tampak menawan hingga aroma tubuhnya yang begitu menenangkan membuat Renata begitu memuja suaminya itu meski Renata tak menunjukkan nya.
Malam itu hanya mereka lalui dengan bicara ringan, Renata pun tidak terjaga begitu lama karena badannya masih lemas. Menatap Renata yang sudah tidur lelap, Bian pun merebahkan dirinya di bed penunggu pasien untuk sedikit mendapatkan istirahat apalagi mereka baru pulang dari LN.
Sedang Alvin, dia kembali ke rumah Renata untuk beristirahat disana. Tentunya setelah melihat kondisi Renata yang stabil, aman dan terkendali.
Sinar mentari pagi menyoroti dari celah kaca yang tak tertutup gorden. Renata menggeliatkan tubuhnya, semalam tidurnya cukup nyenyak hingga pagi ini kepalanya pun terasa lebih ringan. Renata membuka matanya sempurna menatap sekeliling ternyata suaminya masih tertidur tak jauh dari sampingnya.
Renata berusaha turun dari bed, dirinya sudah tak tahan ingin ke kamar mandi namun enggan membangunkan Bian. Begitu maju satu langkah, Brrruukk Renata terjatuh, jalannya masih limbung dan kakinya belum bertenaga.
" Re .. " Bian langsung terbangun dan menghampiri Renata.
" Gak papa mas " Ucap Renata.
" Gak papa apanya, ini kamu jatuh " Bian mengangkat tubuh Renata hendak mendudukannya kembali di ranjang namun Renata menolak.
" Aku pengen pipis dulu mas "
" Udah keluar gih mas aku bisa sendiri. "
" Coba angkat kaki kamu. Saya mau mastiin kamu bener bener bisa sendiri "
" Aww " Renata nampak kesakitan karena jatuhnya tdi cukup keras.
" Udah biar saya bantuin " Bian mendekat, mengalungkan lengan Renata agar berpegangan pada pundaknya lalu membantu Renata melepaskan celananya.
" Tapi kan jijik mas "
" Jijik apa nya sih ? Saya udah tau isinya kaya gimana. Ya kali saya cuman butuh pas mau sama make nya aja "
" Emangnya baju di pake "
" Yaudah namanya juga sama suami. Gak perlu sungkan " Bian membantu sampai tuntas lalu kembali menggendong Renata menuju ranjangnya.
Bian meninggalkan Renata sesaat untuk memanggil dokter memeriksa bekas jatuhnya tadi takutnya ada apa apa yang fatal.
__ADS_1
Dokter segera memenuhi panggilan Bian dan memeriksa Renata, Renata melakukan serangkaian pemeriksaan lanjutan, masih di dampingi Bian. Untunglah tak ada yang fatal hanya sedikit memar. Sedangkan rasa lemas di sekujur tubuhnya karena memang belum stabil dari overdosis itu.
" Mas lagi kerja ? " Tanya Renata saat melihat Bian duduk di sofa sambil sibuk dengan laptopnya.
" Hmm "
" Kenapa gak ke kantor aja mas ? "
" Terus yang ngurus kamu siapa ? Apa sengaja nyuruh saya ngantor biar nanti si Dirly itu yang ngurusin kamu ? "
" Masss .. " Renata menarik nafas dalam.
" Ok Ok sorry saya gak maksud nuduh kamu Re. Saya kadang gak bisa ngendaliin emosi. Jangan di pikir lagi "
Serius ? Dia minta maaf ke gue ? Biasanya dia ngerasa paling beneer sama argumennya
" Aku tuh gak pernah suka sama laki laki lain selain ke kamu mas. Umur aku belum ada 20 tahun kadang aku mikirnya mungkin ala ala cinta monyet gitu. Tapi gak salah kan kalo aku cuman punya rasa sama suami aku sendiri mas ? Siapapun di luar sana yang aku temuin, sebaik apa dia. Dia gak bisa gantiin posisi kamu. Juga sebaliknya, sejahat dan seburuk apapu kamu, di mata aku kamu tetep punya arti tersendiri " Ucap Renata tiba tiba saja sambil menundukkan kepalanya, membuat Bian seketika terdiam dari aktifitasnya.
" Aku tau mas gak punya rasa yang sama ke aku. Gak papa, aku juga cukup sadar diri buat nyimpen perasaan ini sendiri. Aku gak ngarep mas balas perasaan aku. Aku cuman mau, selagi kita nikah. Mas perlakuin aku dengan baik. Aku gak seburuk yang mas pikir. " Lanjut Renata sambil terisak.
Bian menutup laptopnya, lalu berjalan menuju Renata.
" Maaf ya ? Bikin kamu ngerasa sekacau ini " Bian mengelus rambut Renata.
" Saya emang gak sebaik Dirly Re, tapi saya suami kamu. Besar ataupun kecil, saya pasti ada perhatiin kamu. Soal rasa saya mungkin belum bisa ngejanjiin apa apa tapi saya bisa berusaha bersikap baik "
" Gak papa mas. Aku cukup kamu kaya gini aja. " Renata memeluk Bian lalu menangis lagi. Entah mengapa saat bersama Bian dirinya merasa begitu rapuh dan cengeng.
" Ok .. Udah ya Re jangan kaya gini lagi apalagi kepikiran sampe mati segala. Ini udah kali ke dua kamu hampir mati di depan saya. "
" Maaf mas repotin kamu "
" Sebenarnya apa yang bikin kamu sampe gelisah gak bisa tidur ? Saya baru pulang dari LN kemarin, 2 minggu saya memang gak pake hp pribadi bukan saya ngilang gak jelas. "
" Aku kira kamu emang gak peduli mas, aku ngerasa gak berharga buat siapapun. Banyak orang yang bully aku juga, aku gak tau harus gimana harus kemana harus ke siapa apa aku ngadu sedangkan kamu aja gak ada kabar. " Keluh Renata.
" Di kampus ? "
" Hmm .. " Renata hanya mengangguk lemah, tak ada niatnya mengadukan hal buruk hanya saja Renata butuh mencurah kan isi hati dan kegelisahannya.
__ADS_1
" Biar saya yang urus. Kamu istirahat aja dengan tenang "